
"Kamu keluar sekarang juga. Jangan ikut pelajaran saya!!" teriak Bu Nur membuat seisi kelas mati kutu.
Dan kalimat itu ditujukan padaku.
Yah- aku lupa tidak mengerjakan PR matematika, karena aku ketiduran semalam setelah maraton nonton serial goblin.
Dengan muka yg ditekuk, aku berjalan keluar kelas. Radit menjambak rambutnya sendiri karena geram akibat kecerobohan ku.
Kak Arden menekan kepalanya sambil melihatku keluar kelas.
Setelah di luar kelas, aku bingung mau ke mana. Kini hanya berjalan mengikuti ke mana kakiku melangkah.
Hingga saat di dekat toilet, aku melihat Leo sedang berduaan dengan Sandra. Sandra ini satu angkatan denganku, hanya berbeda kelas saja.
Ngapain mereka di sini?
Gila emang ni anak!
Saat aku memergoki mereka, tiba tiba Leo mendorong Sandra menjauh. Lalu menatapku terus.
Aku yg merasa mengganggu mereka lalu berjalan agak cepat ke tempat lain.
Huft... Malah lihat orang mesum!
Sial banget deh.
"Aretha!!" teriak seseorang dari belakangku.
Saat aku menoleh, ternyata ada Leo sedang berlari mengejar ku.
Duh, ngapain lagi ni anak malah ngejar aku.
Otomatis aku berhenti lalu menatapnya yg berlari tergesa gesa.
"Kenapa?" tanyaku dengan menaikkan satu alisku ke atas.
"Kamu jangan salah paham. Tadi kita gak ngapa ngapain kok," jelasnya.
"Lho.. Ngapa ngapain juga situ. Peduli apa sama aku?" tanyaku jutek.
Aku kembali berjalan meninggalkan nya.
Leo terus mengejarku lalu berdiri menghalangi langkahku.
"Kamu mau ke mana?" tanyanya dengan nada lembut.
"Mau tau banget? Apa mau tau aja,"ledekku.
"Ih kamu, Tha. Iseng banget ya." Dia malah senyum senyum nggak jelas.
"Udah sana ah, masuk kelas. Jam pelajaran malah keluyuran," gumamku.
"Lah, kamu juga. Jam pelajaran malah keluyuran. Aku sih emang udah diusir sama Pak Gatot, gara-gara gak ngerjain tugas."
"Lho kok sama... hehe"
"Serius? Wah, kalau gitu kita sehati banget ya, Tha," rayu nya.
"Ish, sehati.. Ngimpi loe??" aku berjalan lagi.
"Eh, mau ke mana??" tanyanya.
"Kantin... Haus.."
Dia malah terus mengekor padaku sampai kantin.
Aku duduk lalu Leo memesankan minuman uNtukku.
Tak lama dia kembali dengan 2 teh botol di tangan nya.
"Nih, minum dulu," suruh nya.
Langsung kuteguk air itu.
Namun, pada kecapan pertama, aku merasakan aneh. Rasanya berbeda dari biasanya.
Aku menatap teh botol di tanganku dan memeriksa nya.
Ini teh botol kw apa udah kadaluarsa?
Kok rasanya aneh gini.
"Kenapa?"
"Eum... kok rasanya aneh ya?"
"Ah, masa sih? Aku enggak tuh. Udah diminum aja. Habis ini kita cabut aja.."
"Cabut ke mana??"
"Ke mana kek. Lagian ini udah jam pelajaran terakhir kan. Ngapain juga di sekolah," katanya meyakinkanku.
Bener juga ya.
Kuhabiskan minumanku.
Tiba tiba kepalaku pusing sekali.
Kurasakan hawa sekitarku menjadi panas, dan pemandangan sekitarku berputar putar tidak jelas.
Kutekan kepalaku karena sakit.
"Kamu gak apa - apa, Tha?" Leo mendekat lalu menyentuh bahuku.
Panas.
Saat dia menyentuhku terasa panas sekali. Kudorong dia agar menjauh.
"Minggir!! Jangan deket deket aku!!" pintaku. Pandangan mataku agak kabur sekarang.
Samar samar Leo menjauh lalu tak lama kembali lagi dengan segelas air putih yg dingin sekali.
"Minum dulu,"pintanya.
Kuterima gelas itu lalu meneguknya. Tapi, yg kurasakan justru lebih parah dari ini.
Bahkan sampai kujatuhkan gelas ini hingga pecah di lantai.
"Bu, ini duitnya ya!!" teriak Leo ke bu kantin.
Lalu dia membopongku pergi.
Antara sadar dan tidak sadar, dan juga aku tidak bisa berbuat apa apa.
Leo membawaku masuk ke dalam mobilnya lalu melesat pergi meninggalkan sekolah.
"Pusing," gumamku.
"Sabar ya, sayang.. Nanti pusingnya hilang kok," kata Leo.
'Sayang? Gak salah?'
Aku tidak bisa berkata apa apa. Rasanya aku seperti terhipnotis dan pasrah begitu saja atas apa yg dilakukan Leo.
Tak lama kami sampai di sebuah rumah. Leo kembali membopongku masuk ke dalam rumah itu, lalu membaringkan ku disebuah sofa.
Dia duduk di sampingku dan terus menatapku sambil menggumam sesuatu.
Tak lama pusingku hilang, dan keadaan seperti normal kembali.
"Kamu udah nggak apa-apa sayang?" tanyanya padaku.
"Aku udah nggak papa kok.."
"Kamu mau makan?"
"Enggak. Aku capek banget rasanya. Pengen tidur sebentar."
"Ya udah, di kamarku aja." Leo membopongku lagi masuk ke sebuah kamar.
Dia menyelimuti ku, lalu mengecup keningku lembut.
"Kamu istirahat ya. Kamu di sini aja. Nggak usah kemana-mana," katanya
"Iya,,m kamu jangan jauh jauh dari aku." terdengar agak manja menurutku.
Aku ini kenapa sih?
Ke Radit aja nggak pernah gini.
"Iya,, aku sayang kamu Aretha. Mulai sekarang kamu tinggal di sini aja ya. kamu milikku sekarang."
Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Leo membelai kepalaku, dan akhirnya aku tertidur.
\=\=\=\=\=\=\=\=
POV ARDEN
"Ke mana lagi nih anak," gumamku cemas.
"Gila, bisa hilang gitu adek lu, Den!" kata Dedi, membuat aku makin gugup.
"Haus.. Minum dulu yuk. Baru nanti cari Aretha lagi, masa gak ketemu," pinta Kiki.
Kami berjalan ke kantin.
ku tenteng tas Aretha yg dia tinggalkan begitu saja di kelas
"Bu, teh manis ya." pesan Kiki ke bu kantin.
"Siipp," tukasnya sambil mengacungkan jempol ke atas." lho kalian belum pulang to?"
"Belom bu, nyari Aretha nggak ketemu ketemu. Hilang ke mana yah?ibu lihat nggak?" tanya Kiki sambil menyeruput teh manis nya.
"Lho... Kan tadi pergi sama siapa itu, anak kelas 1. Yang pacarnya banyak?" tanya bu kantin terlihat berfikir keras mengingat nama orang yg pergi bersama Aretha.
"Nah iyaa. Leo.. Tapi tadi Aretha pakai di bopong segala. Ibu pikir dia sakit."
Sakit???
Kami saling pandang dengan tampang serius. Segera saja ku raih ponselku, dan menghubungi ayah agar dapat melacak keberadaan Aretha yg hilang entah ke mana.
\=\=\=\=\=\=\=\=
POV INDRA
"Oke. Ayah lacak dari sini!!''
Kuperiksa ada di mana keberadaan Aretha kini. Tidak biasanya dia pergi diam diam seperti ini. Apalagi tanpa ijin Arden.
"Ndra, nih ketemu!!" ucap Herman. Aku yg masih fokus menyetir lalu menoleh pada Herman.
"Oke"
Ku jalankan mobil ke tempat itu.
Aku dan Herman baru selesai dinas dan berencana akan pulang. Namun, belum sempat sampai ke rumah, Arden menghubungiku dan memberitahu bahwa Aretha hilang.
"Ibu sama anak, sama.. Suka banget hilang gini, "gumamku dalam hati.
Sampai lah kami di sebuah rumah.
"Ndra, Kok horor gini ya rumah nya," kata Herman sambil bergidik ngeri.
Aku mengamati rumah ini, memang agak lain.
"Bodo amat deh! Anak gue lebih penting!!" aku keluar dari mobil lalu masuk ke halaman rumah ini. Aku yakin, Aretha ada di dalam.
Herman yg awalnya ragu, lalu ikut masuk juga mengikutiku.
Aku mulai mengeluarkan pistol, dan bersiap menggrebek rumah besar ini.
Pintu tidak terkunci. Herman memandangku serius lalu mengangguk. Kami masuk dan menelusuri rumah ini.
"Gue lantai bawah. Elo lantai atas, Ndra!" kata Herman.
Aku berjalan menelusuri lantai atas. AkuĀ membuka satu persatu ruangan yg ada di sini. Semua kosong, seolah rumah ini bagai rumah tak berpenghuni. Saat sampai kamar terakhir, betapa terkejutnya aku melihat Aretha sedang tertidur dengan nyenyak, dan berada dipelukan seorang pria.
Aku benar benar geram.
Langsung saja aku masuk dan kutarik dengan kasar anak itu.
Dia kaget lalu melotot padaku.
"Mau apa kamu!! Beraninya masuk rumah saya!!" teriaknya padaku.
"Mau saya?? Saya mau jemput anak saya!! Kamu apakan anak saya!! Secuil saja kamu berbuat kurang ajar! Saya bunuh kamu!!" Aku sudah sangat tersulut emosi.
Dia menelan ludah, kaget karena perkataan ku barusan. Yah, itu bagus. Apalagi aku masih memakai pakaian dinas.
Dia menggumam sesuatu yg aku tidak paham apa. Yang jelas itu kalimat dalam bahasa Sansekerta.
Tanpa ba bi bu lagi, ku pukul saja wajahnya.
Buuggg!
Dia terjatuh ke lantai dengan darah yg keluar dari sudut bibirnya.
Kutarik lagi kerah bajunya, dan kutendang perutnya kuat kuat.
"Kamu apakan anak saya!!" bentak ku.
Dia terus saja bungkam.
"Jawab!"
Buggg!
Ku pukul lagi wajah nya hingga wajahnya lebam lebam, aku sudah kalap. Tidak akan kubiarkan keluargaku celaka.
"Ndra... Indra.. Udah, ndra. Lepasin. Bisa mati ni anak. Udah, Ndraa." Herman datang melerai kami. Lebih tepatnya menahan ku yg akan memukul nya lagi.
"Mending loe lihat Aretha. Bawa pergi dari sini!!"
Aku menoleh ke anak gadisku yg masih terlelap di sana. Lalu berlari mendekat.
"Sayang... Nduk. Bangun, nduk. Ini ayah." ku tepuk tepuk pipinya.
Tak lama Aretha menggeliat. Lalu menekan kepalanya dan meringis kesakitan.
"Lho ayah?kenapa ?" dia sudah membuka matanya, lalu dia pandangi keadaan sekitar dengan mengerutkan dahinya."aku di mana sih ini?''
"Udah, nggak usah dipikirin. Kita pulang ya."
Aretha kemudian menutup mulutnya, dan muntah muntah.
Muntahan nya kehitaman, seperti saat Nisa di guna guna oleh Wisnu dulu.
"Kamu habis makan apa?" tanyaku yang mulai paham apa yang sedang terjadi.
Aretha menggeleng dengan wajah yg pucat."aku nggak makan apa apa. Tadi cuma minum teh botol sama air putih yg dikasih Leo," terangnya.
Aku menoleh ke anak ingusan itu, lalu kuhampiri dia yg sedang diobati oleh Herman.
"Kamu apakan anak saya!! Jawab!! Pakai ilmu apa kamu!! Hah!!'"
"Ndra, Ndra.. Sabar, Ndra," bujuk Herman.
Aneh banget si Herman. Kenapa jadi lunak gini sih?
"Jawab atau saya pukul lagi kamu! Denger ya, saya tidak takut sama kamu! Bahkan saya tidak takut jika harus membunuh kamu malam ini!!" ancamku.
Dia terlihat panik.
"Kamu apakan temen saya!" tanyaku sambil melirik Herman.
"Lho kok gue, Ndra??"
"Jawab!" bentakku.
"Sa... saya.. Bacakan mantra, biar saya dilepaskan."
"Aretha kamu kasih apa?!" tanyaku sambil mencengkeram kerah bajunya.
"Maa... mmaaaf om.. Saya, khilaf. Reta saya kasih pengasihan, biar nurut sama saya," jelasnya.
Aku menggeleng padanya, lalu kuambil borgol milikku dan ku pakaikan ke dia.
Kudorong dia ke Herman.
"Bawa ke kantor!" kataku.
"Siap, Ndan!!" ucap Herman kali ini dia menuruti ku.
Kubopong Aretha keluar dari rumah ini. Di depan sudah ada Qrden dan teman teman nya.
"Lho... Adek kenapa yah?" tanya Arden panik.
"Dipelet tuh sama dia!!" kutunjuk anak tadi dengan daguku.
"Apa?" Arden terkejut dan menatap anak tadi tak percaya.
Buggg!!
Radit tiba tiba memukul anak itu keras."kurang ajar loe ya!!" teriak nya.
Reaksinya sama sepertiku tadi. Yah, itu baru calon mantuku.
"Kak, kamu ikut Om Herman, bawa dia ke kantor polisi. Dia itu punya ilmu hitam. Takut kabur. Kamu hati-hati!!" ucapku.
"Oke, yah!!" Arden mendekati Radit yg masih emosi.
Tak lama masuklah mobil sedan mewah, dan keluar seseorang yg tidak asing bagiku.
Ini adalah dukun yang pernah mengambil jiwa nya Wisnu dulu.
Jangan jangan yg kutangkap adalah anaknya.
Ku letakan Aretha di dalam mobil Radit, lalu ku hampiri dukun itu.
"Apa- apan ini?? Mau dibawa ke mana anak saya!!"teriaknya.
"Ohh. Jadi ini anak elu!! Pantesan! Kelakuan nya sama kayak bapak nya!! Sesat?!" kataku dengan nada tinggi
Dia terlihat kaget melihatku.
"Kamu!"
"Iya!! Gue! Kita ketemu lagi lao ... Sapa nama lu?? "Aku garuk garuk kepala mengingat namanya, karena kejadian itu sudah lama sekali, "Ah.. Itulah pokoknya.. Anak elu mau celakain anak gue! Dia gue tangkep!! Besok lu urus tuh!!" kataku.
"Udah, Om, bawa aja !! Nanti dia komat kamit malah kabur lagi!! " kata Radit.
"Tenang aja, Dit.. Gak bakal mempan sama Om."
Kami masuk ke mobil dan meninggalkan lao ... *Itulah pokoknya. Namanya susah banget... sendirian di rumahnya.
Pantesan aku merasa kurang nyaman dengan rumah ini, ternyata ini sebabnya. Rupanya dia sudah pindah rumah.
\=\=\=\=\=\=
Sampai di rumah, aku kabari kak Yusuf untuk menolong Aretha.
Dengan air doa Aretha diharuskan menghabiskan nya semua.
Dan kejadian dulu pun terjadi lagi. Aretha muntah muntah dengan cairan kehitaman seperti Nisa dulu.
Astaga ada ada saja manusia.