Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
26. Kondangan


Ini adalah hari minggu. Radit libur dan otomatis para pegawai nya juga sama. Hari ini Radit mengajak Aretha untuk menghadiri acara pernikahan teman satu kantor. Kebetulan karena letak tempat pernikahan yang cukup jauh dari desa, akhirnya mereka berangkat bersama sama dengan rombongan teman kantor lain. Mereka sengaja menyewa sebuah minibus elf untuk mengangkut semua orang. Kendaraan itu lebih dari cukup daripada harus menyewa bus. Karena hanya ada 15 orang saja yang ikut dalam perjalanan kali ini. Mereka berkumpul di kantor sebelum berangkat ke tempat tujuan.


"Udah semua nih?" tanya Radit sambil memeriksa semua kursi. Karena dia duduk di kursi pertama dari depan. Otomatis dia bisa melihat ke belakang dengan lebih mudah.


"Udah sih. Lagian semua kursi udah penuh, Dit. Kita jalan sekarang kan?" tanya Hendra.


"Iya udah. Jalan sekarang aja. Ayo, Pak. Kita berangkat sekarang takut kemalaman nanti pulangnya."


"Baik, Mas."


Mobil melaju menembus jalanan yang hari ini cukup padat. Tujuan mereka adalah ke kota sebelah, dengan jarak tempuh sekitar 2 jam perjalanan. Tetapi jalur yang harus mereka lalui adalah hutan hutan di sekitar. Karena kondisi daerah tersebut memang sudah masuk ke wilayah pedesaan. Jadi akan lebih banyak ditemukan kebun, hutan, dan ladang milik warga.


Aretha duduk di dekat jendela, di sampingnya tentu Radit, suaminya. Radit, Aretha, dan Hendra duduk dalam satu baris kursi yang berada di bagian paling depan. Sementara kursi di belakang mereka semua berjumlah 4 kursi tiap baris dan semua sudah penuh dengan rekan rekan kerja Radit yang juga membawa istri atau pasangan masing masing.


"Muka lo kenapa, Tha? Suntuk amat?" tanya Hendra yang ikut menyambar camilan yang ada di pangkuan Radit.


"Kurang tidur gue," sahut Aretha santai tanpa menatap Hendra, dan justru sibuk dengan pemandangan di sampingnya.


"Kenapa? Diganggu setan, ya? Gimana ceritanya?" tanya Hendra antusias.


"Ck. Apa sih, Hen. Kayaknya seneng banget ekspresinya!" sindir Aretha.


"Bukan seneng, Tha. Tapi seru. Gue demen soalnya denger cerita horor. Apalagi itu kisah nyata. Gimana, Dit? Saran gue udah lo lakuin belum?" tanya Hendra berbalik bertanya ke Radit.


"Belum. Nantilah. Gue masih sibuk, nggak sempet."


"Saran apa?" tanya Aretha lalu menatap suami serta rekan kerja suaminya itu dengan tatapan tajam.


"Ini si Hendra kasih saran ke aku kemarin. Nyuruh kita datang ke pondok pesantren yang ada di Banyuwangi."


"Ngapain emangnya?"


"Ih, pakai tanya ngapain? Ya konsultasi gitu, Tha. Soal rumah kalian itu. Gue yakin rumah kalian itu nggak beres!" bisik Hendra sambil menengok ke sekitar. Sepertinya dia takut jika ada orang lain yang mendengar obrolan mereka.


Aretha hanya tersenyum. "Makasih, ya, Hen. Atas saran kamu. Tapi Insya Allah kami baik baik aja. Oke, kalau memang nanti kami butuh bantuan, aku sama Radit bakal coba saran kamu. Tapi untuk sekarang, kami mau coba hadapi sendiri dulu."


"Hem, gitu ya? Oke deh. Hebat sih menurut gue. Apalagi kayak lo itu yang setiap hari di rumah, sementara Radit kerja. Pasti lo sering, kan, diganggu?" tanya Hendra penasaran.


"Yah, itu semua sih udah resiko, Hen. Toh, buktinya gue bisa bertahan. Yang penting Radit kalau malam di rumah. Kan kalau siang di rumah ada Pak Slamet sama Bu Jum. Jadi gue nggak sendirian juga."


"Eh, kalian tahu nggak, pas pertama kali gue dateng ke rumah itu, ada bisikan aneh."


"Bisikan apa? Kok lo nggak pernah cerita?" tanya Radit heran.


"Gue lupa mau cerita. Baru inget beberapa hari lalu."


"Terus apa yang lo denger?"


"Jadi begitu gue masuk ke halaman rumah, ini baru masuk halaman rumah lho, ya. Belum masuk ke rumah nya. Tiba tiba ada yang bisikin gue gini, 'Hati hati!'. Gue kaget dong denger itu. Sampai-sampai gua tengok-tengok ke samping kanan kiri, dan itu nggak ada siapapun di sekitar gue."


" teman-teman yang lain mungkin."


"Enggak, Dit. Posisi pas datang ke rumah lo waktu itu, gue itu ada di bagian paling belakang sementara teman-teman Yang lain udah jalan duluan di depan Bahkan mereka juga udah pada masuk ke ruang tamu."


"Suaranya cewek apa cowok?" tanya Areta.


"Cewek, Tha!"


"Ah, paling teteh."


" Masa sih. Kenapa jadi bahas Teteh lagi?"


"Lho Memangnya kenapa? Nggak boleh bahas teteh?"


" kan gue udah nggak tinggal di rumah itu lagi, Tha."


" kan sekalipun lo udah nggak tinggal di rumah itu lagi belum tentu Teteh nggak ada di sekitar lo kan?" tanya Aretha yang langsung membuat Hendra meraba tengkuknya.


"Jangan gitu kenapa sih, Aretha!"


"Ye kenapa?"


"Nakut nakutin gue aja!"


Areta justru tertawa lepas begitu melihat reaksi Hendra yang tampak ketakutan setelah menyebutkan nama teteh. Sementara Radit hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.


Setelah 2 jam perjalanan akhirnya mereka pun sampai di sebuah perkampungan penduduk. Ada janur kuning yang ditemui Saat memasuki Gerbang Desa di depan tadi.


" Inikah tempatnya?" tanya Putra. Yang duduk di bangku baris kedua.


"Iya kayaknya mah ini. Tadi ada namanya. Azam dan Vira," sahut Riki.


Akhirnya salah satu dari mereka pun menghubungi pengantin pria. Untungnya sinyal di desa ini masih bagus, sehingga tidak ada drama tersesat yang membuat emosi memuncak.


"Bener. Katanya suruh lurus aja, nanti ada yang jemput kita," tutur Menik.


"Siapa?"


"Keluarga Azam paling."


Mobil melaju dengan pelan memasuki jalanan tersebut. Jalanan di desa ini sudah di aspal, sehingga perjalanan mereka tidak begitu sulit. Hanya saja lingkungan sekitar, terutama sebelum mereka memasuki pintu gerbang masih banyak ditemukan hutan-hutan liar. Bahkan Masih ditemukan monyet-monyet yang ada di hutan tersebut.


"Itu dia!" tunjuk Menik, begitu ada seorang pria mengenakan batik yang melambaikan tangan ke mereka.


Sopir mendekat lalu membuka kaca mobil. "Dari temen kerja Azam, ya?" tanya pria paruh baya tersebut.


"Betul, Pak."


"Oh ya, ke sini saja. Itu rumahnya kelihatan dari sini kok," kata Pria itu sambil menunjuk ke arah samping.


Dari dalam mobil mereka bisa melihat adanya dekorasi tenda yang identik dengan orang-orang yang sedang mengadakan hajatan. Bahkan suara dari sound system juga sudah terdengar dengan Musik khas dangdut koplo. Mereka pun menjadi sangat yakin kalau itu adalah tempat yang sedang mereka tuju sekarang.


Karena jalan untuk menuju ke rumah Azzam sedikit sempit maka mereka pun akhirnya turun dari mobil dan memutuskan untuk berjalan kaki. Rupanya kondisi di kampung ini tidak berbeda jauh dengan desa di mana Areta dan Radit tinggal. Lingkungan sekitar tampak sepi dan jarang ada rumah penduduk. Antara rumah satu dengan lainnya berjarak cukup jauh. Jadi di sekitar kebanyakan hanya ada kebun-kebun milik warga.


Mereka disambut baik oleh keluarga Azam. Sebuah acara pernikahan yang terkesan sederhana tapi erat sekali dengan budaya. Mereka mengusung tema adat Jawa. Untungnya rombongan Radit baru saja datang saat acara hendak dimulai. Jadi mereka bisa melihat bagaimana prosesi pernikahan dengan adat Jawa.


Karena ingin melihat acara dari awal hingga akhir Mereka pun akhirnya baru bisa pamit setelah adzan Ashar berkumandang. Walau seharian ini hanya duduk sambil melihat acara pernikahan Azam dengan istrinya tetapi cukup membuat energi mereka terkuras.


"Capek banget, ya. Ngantuk aku," kata Aretha begitu mereka sudah masuk ke dalam mobil.


"Wah, kita kesorean, ya. Palingan kita sampai rumah pas magrib nih," kata Hendra.


Akhirnya mobil pun melaju dan membawa mereka kembali ke tempat tujuan semula. Sepanjang perjalanan Areta hanya bersandar di bahu Radit sambil memejamkan mata. Dia tidur tapi telinganya tidak. Sehingga setiap obrolan dari teman-teman Radit bisa dengan jelas didengar oleh Areta. Langit sudah mulai redup yang artinya hari sudah mulai masuk petang. Apalagi sepanjang perjalanan di sekitar mereka kebanyakan didominasi oleh hutan-hutan.


Tiba-tiba mobil berhenti. Beberapa kali sopir berusaha untuk menyalakannya namun selalu gagal. Para penumpang yang awalnya sedang tertidur akhirnya menjadi bangun karena merasakan ada yang aneh dengan mobil mereka.


" Kenapa Pak? Mogok?" tanya Radit saat melihat sopir sejak tadi berusaha menyalakan mobil.


"Iya, Mas. Padahal mobil ini kemarin baru saja diservis. Masa sekarang rusak," gumamnya. Dia masih bersikeras untuk menyalahkan mesin mobil tersebut.


"Mungkin kita coba lihat dulu mesinnya Pak. Damar, Coba lu periksa mesin Mobilnya siapa tahu ada yang rusak. kan lo bisa benerin mobil," titah Radit saat menoleh ke belakang dan melihat Damar baru saja meregangkan tubuhnya. Wajahnya sangat khas layaknya orang yang baru bangun dari tidur.


"Hem? Rusak? Ya udah, coba gue lihat dulu." Damar lantas turun dan memeriksa mesin mobil itu bersama dengan sopir.


Melihat dua orang itu sedang berdiskusi akhirnya Radit dan Hendra pun memutuskan untuk turun, agar bisa mengetahui apa terjadi. Areta yang awalnya tidur pun akhirnya terbangun dan memutuskan untuk ikut turun bersama dengan suaminya. Dia butuh udara segar dan tubuhnya juga sudah lelah terlalu lama berada di dalam mobil.


Areta meregangkan tubuhnya sambil melihat pemandangan di sekitar. Rupanya mereka masih berada di kawasan hutan dan sayangnya jalanan di tempat itu sangat sepi dan bahkan sejak tadi mereka tidak pernah melihat adanya mobil lain yang melintas.


"Bapak ada alat alat, kan?" tanya Damar.


"Ada, Mas. Sebentar."


"Gimana, Sayang? Masih lama? Apa yang rusak?" tanya Aretha sambil melingkarkan tangan di lengan Radit.


"Ini masih coba diperbaiki, Sayang. Tunggu sebentar ya."


"Oke."


Estimasi yang diberikan oleh mereka berdua hanya sekitar setengah jam, tapi nyatanya sudah 1 jam lamanya mereka belum juga berhasil menghidupkan mesin mobil tersebut. Alhasil semua orang pun turun dari mobil karena sudah merasa bosan dan lelah.


"Lapar!"


"Sama!"


"Coba aku jalan ke sana deh, siapa tahu ada rumah atau warung jadi kita bisa makan dulu sambil nunggu mobil selesai diperbaiki," kata Menik.


"Hati hati ya," ucap Aretha.


"Kalau gitu aku ke sana deh."


"Aku ikut!"


Teman-teman yang lain pun akhirnya berpencar untuk mencari keberadaan warung makan ataupun rumah penduduk. Apalagi hari sudah mulai gelap dan jika mereka sudah menemukan masjid pasti saat ini sudah berkumandang adzan magrib.


"Guys! Di sana ada warung!" pekik Menik sambil menunjuk ke belakangnya dengan riang gembira.


"Ah yang bener! Asyik! Kebetulan gue lagi lapar!" kata Hendra.


Tapi baru dua langkah Hendra berjalan tiba-tiba dia kembali mendengar suara bisikan. "Hati hati!"