Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
Part 21 Kepergian Indra


Adzan subuh membangunkan ku dari mimpi panjang. Seperti biasanya, kegiatan rutin setiap bangun pagi adalah mengambil air wudhu.


Aku segera salat subuh, dilanjutkan berdzikir sebentar. Biasanya aku lakukan hingga fajar mulai terbit di ufuk timur.


Mukena kulipat, dan kumasukan kembali ke tas kecil, tempat biasa aku menyimpan mukena. Al quran kuletakan lagi di nakas, tempatku memudahkan menjangkaunya setiap saat. Pintu diketuk pelan, kemudian panggilan terdengar di seberang benda berwarna putih tulang itu.


"Nis, ada Indra tuh di depan."


Suara kak Yusuf yang lembut, namun khas dirinya menggema ke dalam kamar. Membuatku sedikit heran atas kabar yang diutarakannya itu.


"Indra? Tumben, pagi pagi gini dia ke sini. Apa mau ngajak joging, ya? Tapi kok nggak ngabarin dulu," gumam ku berbicara sendiri. "Iya, Kak!" jeritku agar Kak Yusuf berhenti mengetuk pintu kamar ku.


Aku segera keluar dari kamar. Segera menuju ke teras, tempat di mana Indra berada sekarang. Rupanya dia sudah duduk dan mengobrol dengan kak Yusuf. Anehnya Indra juga memakai pakaian dinas nya. Hal ini membuatku terperanjat.


"Lho, Ndra. Pagi banget? kamu mau ke mana? " tanyaku penasaran.


"Nisa, maaf ya, barusan aku dapet telepon dari pimpinan, aku sama beberapa tim disuruh ikut bantu kerusuhan di Aceh. Ada teror di sana. Jadi semua anggota dikerahkan ke sana, " katanya pelan.


Aku diam sesaat. Bayangan buruk yang selama ini kubayangkan seolah mulai tampak di depan mata.


"Nggak! Kamu nggak boleh pergi, Ndra! Aku nggak mau kamu pergi! " jeritku setengah menahan tangis.


"Nisa... Jangan gitu dong, Dek. Indra kan cuma jalanin tugasnya," bujuk kak Yusuf.


"Pokoknya nggak boleh, kak!Mimpiku .... aku nggak mau Indra kenapa napa! Kamu izin aja, Ndra. Bikin alesan apa aja, biar kamu nggak usah ikut! Jangan pergi, please, Ndra," rengekku sambil menangis, membuat seluruh penghuni rumah keluar.


"Maaf Nis, aku udah disumpah, kalau aku harus mengutamakan negara, jadi aku harus pergi. Doa'kan aku, ya. Semoga aku baik-baik aja. Dan biar bisa balik lagi ke sini."  Mata Indra berkaca kaca. Dia terlihat berat meninggalkanku sebenarnya. Tapi karena tuntutan pekerjaan, dia terpaksa pergi. Sebenarnya aku pun mengerti bagaimana posisinya. Dan sebagai kekasih, yang suatu saat nanti akan menjadi istri seorang polisi, maka ini sudah menjadi takdir ku. Ditinggalkan oleh suami, yang lebih mementingkan menjaga negerinya dari pada keluarganya.


"Dek, Jangan gini ah. Kasihan Indra, nanti di sana jadi kepikiran kamu terus. Kerjaan dia bisa kacau." kak Adam memelukku mencoba menenangkan ku.


Aku mendorong kak Adam. Karena rasanya aku tidak butuh itu sekarang.


"Nisa nggak mau Indra pergi. Perasaan Nisa nggak enak kak. Jangan pergi, Ndra. aku mohon." aku masih saja menangis sambil memegang tangan Indra.


Indra sepertinya tidak tega, lantas memelukku erat.


"Nis, aku pasti kembali. Setelah ini aku lamar kamu, ya, kita nikah. Jadi tolong ijinkan aku pergi," bujuk Indra yang sepertinya tidak akan berubah walau aku menangis terus di sini.


Dengan sangat terpaksa aku melepas pelukkan ku dari Indra, Indra pamit juga ke papah dan  semua orang yang ada di sini. Dia benar benar pergi sekarang.


                                 ***


Sejak Indra pergi, aku belum mendapat kabar darinya. Aku yakin dia sudah sampai di Aceh. Tetapi berkali kali ku tatap ponselku, tidak ada satu pun pesan atau panggilan darinya. Mungkin dia sibuk di sana. Semoga dia baik baik saja.


Pukul 21.00 kami sedang berkumpul di ruang tengah menonton TV. Ini merupakan kegiatan rutin yang kami lakukan setiap malam. Acara yang sejak tadi kami tonton, kemudian berubah menjadi siaran langsung sebuah berita penting.


Breaking news.


Diberitakan tentang teror di Aceh tempat Indra bertugas. Tentu hal ini sesuai dengan apa yang ingin ku ketahui. Juga keluargaku.


Kerusuhan terjadi di mana mana. ******* telah menguasai beberapa gedung di kota itu.


Kami semua diam, fokus dengan berita di TV. Perasaan kami was was. Berharap melihat wajah Indra di tengah gempuran pertikaian di belakang pembaca acara tersebut.


Di layar TV suasana ricuh, beberapa anggota polisi yang bertugas mulai mendekati sebuah gedung, yang disinyalir markas para *******. Namun tiba-tiba gedung tersebut meledak. Pembawa acara tadi histeris dan panik, sementara aku, lemas. Aku yang awalnya berdiri saat melihat kejadian itu, kini luruh ke bawah. Kak Shinta menjerit sambil menangis. Hingga Kak Adam juga harus memeluk untuk menenangkan nya. "Nisa?" panggil Papah. Ponselku berdering. Tertera nama Mama Indra di layar itu.


"Assalamualaikum, Tante. Indra gimana, tante?!" tanyaku sambil menahan tangis.


"Nisa, kamu melihat berita barusan? Kamu yang kuat, ya, sayang. Barusan mama dapat kabar dari orang nya papah, kalau Indra ... Indra dikabarkan terkena ledakan bom di Aceh itu. seluruh bangunan rata dengan tanah. Kemungkinan


Indra nggak selamat." Suara mamah Indra terdengar berat seperti habis menangis.


Aku menjatuhkan ponselku.. Masih dengan posisi sama, terduduk di lantai. Tatapan mataku kosong. Aku sampai tidak bisa menangis lagi.


Kak Shinta mendekatiku.


"Nis, kenapa? jawab kak Shinta." aku hanya diam saja. Tidak bisa berkata apa pun.


Hanya air mata yang terus keluar dari mataku.


Kak Shinta mengambil ponselku, karena suara Mama Indra masih terdengar riuh memanggil namaku. Terjadi pembicaraan antara Kak Shinta dan Mama Indra. Aku tau apa yang terjadi, tapi seolah olah waktu terhenti. Alu tidak tau harus berbuat apa. Aku tidak tau harus bereaksi seperti apa.


"Sabar, Nis. kamu yang kuat ya."


"Kenapa, Shin? ada apa?" kak Adam lalu mendekati kami yang sama sama duduk di lantai.


"Indra, Mas. Indra meninggal ,dia ikut jadi korban ledakan bom itu." Tangis Kak shinta meledak masih sambil memelukku.


Semua orang di sekitar ku melafalkan lafas istirja. Kabar duka ini benar benar berat dan tidak disangka sebelumnya. Aku beranjak, lalu berjalan kembali ke kamar. kak Shinta yang mengejar ku terus mengetik pintu kamar yang sudah ku kunci. Aku ingin sendiri. Aku tidak mau apa pun. Aku hanya menginginkan Indra sekarang.


\*\*\*


Sudah seminggu aku mengurung diri di kamar. Indah, Ferly, Nindi dan Feri datang menjengukku. mereka sangat sedih melihat keadaanku yang kacau seperti ini. Aku masih bisa mendengar suara orang di sekitar, tau siapa saja yang datang, dan tau apa yang mereka bicarakan. Tetapi aku tidak menanggapi mereka seperti diriku sebelumnya. Bagiku, kepergiaan Indra adalah pukulan terbesar untukku. Lebih menyakitkan dari apa yang sudah dilakukan Burhan dulu padaku.


"Nis ... jangan gini terus, Niss..


kamu harus bangkit. Indra pasti nggak suka kamu kayak gini," kata Indah sambil memelukku. Nasehat Indah membuatku tergerak untuk menanggapi


"Aku udah larang Indra pergi, Ndah. Tapi dia tetep pergi aja. Sekarang dia bener bener nggak bakal kembali lagi Ndah."


Kataku dengan tatapan kosong. Tanpa ada air mata tanpa ada ekspresi lagi. Seolah olah air mataku sudah habis selama beberapa hari terakhir. Atau memang masih bisa diproduksi, dan akan kubuang saat aku hendak tidur nanti. Mereka menatapku iba. Hidupku memang menyedihkan.


Saat makan malam, aku masih bisa duduk bersama keluargaku seperti biasanya. Makan dengan wajar walau akhirnya hanya beberapa butir nasi yang bisa masuk ke dalam mulutku. Dalam makan malam kali ini, aku mendengar pembicaraan mereka tentang kondisiku yang mulai memburuk. Mereka berencana membawaku ke pondok pesantren tempat Kak Yusuf dulu. Entahlah, mungkin aku sudah mulai kehilangan kewarasan. Sehingga pondok pesantren itu akan menjadi tempat ku mengobati semuanya. Jiwaku seolah hilang bersama kepergian Indra.


\*\*\*


Enam bulan sudah aku menjalani kehidupanku di Pondok pesantren ini.


Keadaanku mulai membaik.


Aku lebih taat sekarang. Semua hal yang ku pelajari di sini benar benar membuatku seperti bangkit dari kematian ku sendiri.


Aku sudah sedikit demi sedikit terbiasa tanpa Indra.


Dengan para makhluk astral pun aku sudah bisa menghadapinya seperti kak Arif .


Kak Yusuf pun sekarang kembali ke Pesantren guna menemaniku. Dia meninggalkan pekerjaannya di Jakarta demi kesembuhan ku. Aku seolah menemukan kehidupan lain di sini. Lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Bersama orang- orang yang memiliki nasib serupa denganku. Mereka juga sedang menjalani pengobatan jiwa. Dan aku merasa memiliki teman.


Aku mendengar kak Arif kak Yusuf mengobrol di salah satu saung di Pesantren.


Mereka berencana pergi ke Kalimantan untuk membantu pesantren di sana yang masih kekurangan tenaga pengajar.


Aku ikut duduk bersama mereka , menyimak obrolan mereka berdua. Aku sudah bangkit, dan mampu diajak komunikasi dua arah dengan normal lagi.


"Nisa ikut boleh, kak?" tanyaku yang sangat tertarik pada pembicaraan mereka.


"Ikut? kamu nggak mau nerusin kuliah kamu, Dek?" tanya kak Yusuf.


"Nggak ah. males kak. Harus ngulang juga. Nisa ikut aja ya ke Kalimantan, kan katanya di sana butuh banyak tenaga pengajar?"


Entah kenapa aku sangat ingin ikut ke sana. Padahal aku masih ingin mengejar cita cita.


Akhirnya kak Yusuf mengijinkan ku ikut serta ke Kalimantan. Karena aku bersikeras saat itu. Sebelum berangkat ke Kalimantan kami pulang dulu ke rumah.


Papah sudah menikah dengan Tante Marisa. Aku lega, akhirnya papah menemukan pasangan yang cocok dan pas.


Kak Shinta sedang mengandung. Masih hamil muda. Jadi kak Shinta harus ekstra hati hati. sehingga kak Adam tidak mengijinkannya bekerja.


Aku juga ke rumah Indra.


Melihat keadaan orang tua Indra.


Mereka menyambut ku dengan tangan terbuka. Walau aku gagal menjadi menantu mereka. mereka malah menganggap ku seperti anak mereka sendiri. Bahkan aku memanggil mereka seperti Indra memanggil kedua orang tuanya.


Besok aku akan berangkat ke kalimantan naik pesawat dengan kak Yusuf.


Bismillah.. tunggu aku.


Kalimantan Im coming!!!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=