Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
49. tamu menginap


Kami kembali ke tenda setelah berlari kencang karena kejadian pasar gaib tadi.


"Tunggu-tunggu.. Istirahat deh," pinta Kiki sambil mengatur ritme nafasnya yg tidak beraturan.


"Eh... kita di mana ya?" tanya Doni sambil celingukan.


"Hah??" Radit ikut kaget lalu ikut memperhatikan sekitar kami.


Ku bantu Kiki duduk di batang pohon yg sudah patah.


"Jangan bilang kita nyasar ya, Don." kiki mulai cemas.


"Lagi kayak gini baru manggilnya dan don dan don.. Gak inget kalau lg akur. Beuhh... mesranya,"  kata Doni sinis.


"Heh!! Malah berantem.. Ayok kita jalan lagi. Tadi ke mana sih arah jalan ke tenda? Perasaan tadi gak jauh deh dari tenda kan?" tanya Radit pada kami.


"Iya, kita coba puter lagi kali ya. Udah malem banget nih.. Gak baik, kalau keluyuran di hutan," Ucapku.


Kami kembali berjalan dengan mengingat arah kami datang tadi. Kami terus berjalan dan berjalan, hingga kaki ku terasa lelah sekali.


Aku bersandar di sebuah pohon besar sambil memukul mukul kaki ku karena pegal.


Radit mendekatiku," capek ya, Ai?" tanyanya lembut.


"Lumayan, Dit."


Walau Radit sering memanggilku dengan panggilan seperti itu, aku masih saja memanggilnya seperti biasa. Rasanya aku kikuk jika harus memanggil dia dengan sebutan lain.


"Mau aku gendong?" tanyanya.


"Eh enggak ... enggak usah. Kamu juga capek, kan."


"Gak papa kok. Aku gak capek," kata nya bohong.


Mana mungkin gak capek, kami ini sudah berjalan kurang lebih 2 jam.


"Gak usah deh, Dit. Aku beneran gak papa."


"Dit... Thaa!! " panggil Doni.


Dia mendekat,"kita ini lagi diputer puterin kali yah? Masa gak ketemu ketemu?"


"Iya kali yah. Gimana dong , Tha?" tanya Radit padaku.


Kutarik nafas dalam dalam, sepertinya memang begitu.


aku memang agak kurang fokus nih, sampai kecolongan begini.


Kupejamkan mataku dan berusaha fokus. Hawa sekitarku yg tadinya dingin sekali, berubah lebih hangat.


Dan saat ku buka mata, aku bisa merasakan arah yg seharusnya kami lewati.


"Ke sana," tunjukku ke arah depan kami.


"Yakin?" tanya Doni gak percaya.


"Insya Allah.."


Akhirnya kami berjalan ke arah yg kutunjuk tadi.


Benar saja, hanya beberapa langkah kami berjalan, tenda sudah terlihat di depan mata.


"Alhamdulillah..." kiki terduduk lemas begitu saja di tanah.


Sreeeekk..sreeeek.


Ada suara dari semak semak tak jauh dariku, dan saat aku perhatikan, di sana ada arkana yg sedang berdiri sambil menatap ku terus. Tak lama dia mengangguk, lalu menghilang.


"Ya udah, tidur yuk," ajakku ke Kiki.


Kubantu dia berjalan karena dia sudah kelelahan sekali.


Setelah masuk tenda, kami pun tidur. Lelah sekali rasanya.


•••••••


Buuugggghhh !!


Terdengar seperti ada sesuatu yg jatuh berdebam di tanah.


aku terjaga.


Kulirik jam di pergelangan tanganku, masih pukul 03.00 pagi. Tapi suara apa ya tadi.


Perasaan tidak ada pohon kelapa di sekitar sini.


Ku coba untuk kembali tidur, tapi entah kenapa malah aku tIdak bisa memejamkan mata lagi.


Padahal sudah ku bolak balik badanku mencari posisi yg nyaman untuk tidur.


"Aarrrrrgghhh!!" aku kesal.


Dan akhirnya bangun.


Aku keluar dari tenda ,mungkin dengan meneguk coklat hangat, akan membuatku bisa kembali terlelap.


Saat keluar tenda, suasana nampak sepi. Bahkan Radit dan Doni sudah tidak ada di dekat api unggun. Untung nyala api unggun belum redup. Aku mendekat sambil menghangatkan badan.


Kuambil cangkir dan kubuat coklat hangat sesuai rencana ku tadi.


Suasana malam ini sungguh sunyi. Hanya ada suara jangkrik dan binatang malam saja yg menemaniku.


Untung ada bintang bintang di langit yg menemaniku juga malam ini, eh lebih tepatnya pagi ini.


Bintang terlihat lebih banyak jika kulihat dari gunung.


Dan beberapa kali juga aku melihat bintang jatuh.


waw... Seperti hujan bintang malah jika ku lihat dari tempatku sekarang.


Setelah coklat habis, aku kembali ke tenda.


Namun jantungku kembali berdetak kencang, saat ku buka tenda dan mendapati kantung tidurku ada yg menempatinya.


Padahal Kiki dan mbak Alya masih ada di kantung tidur mereka. Lalu siapa yg ada di tempatku?


Kembali ku tutup tenda itu.


Duh, kok aku jadi takut gini ya.


Akhirnya aku kembali ke api unggun. Kugelar alas yg biasa dipakai untUk duduk tadi.


Dari samping kananku aku merasakan kehadiran seseorang.


Arkana.


Entah dia datang dari mana, tau tau dia sudah duduk di sampingku sambil melemparkan senyuman. Saat ia berjalan, dia masih berwujud macan, tapi saat sudah dekat, wujudnya berubah menjadi manusia. Seorang pria tampan dengan pakaian kerajaan.


"Kamu takut?"


"Eh.. Enggak kok," jawabku bohong.


Dia terkekeh pelan,"mau aku usir? ini sepele lho, Tha. Masa kamu gak bisa menanganinya?"


"Ih, kamu nih.. Nyepelein aku banget. Aku bukan nya takut. Cuma kasian aja sama 'dia' kayanya dia kedinginan, udah lah biarin aja." timpalku tidak mau kalah.


Arkana makin tersenyum lebar.


"Ya udah, aku temenin ya..sini.. Tidur di pangkuan ku, kasian kamu. Pasti bakal sakit nanti kepalanya kalau gak pakai alas," katanya sambil menepuk pahanya pelan.


Apa? Tidur dipangkuan dia?


Gak salah nih?


Aku terus menatap Arkana seolah tidak percaya atas perkataan nya barusan.


"Kenapa bengong?" tanyanya heran.


Aku cengengesan lalu Arkana menarikku dan akhirnya aku tidur di pangkuan nya, dia membelai kepalaku lembut sambil bersenandung tembang jawa yg aku tidak begitu tau arti nya. Walaupun aku orang jawa, tapi jika sudah menyangkut bahasa jawa krama inggil aku tidak begitu paham. Hanya tau sedikit sedikit saja.


Aku memandangi Arkana dari bawah, dia ini tampan sekali sebenarnya. Agak mirip mirip oppa di drama korea.


coba kalau dia ini manusia, kayanya aku bakal jatuh cinta deh sama dia.


"Ingat Radit, Aretha," kata Arkana bikin aku terperanjat.


Apa dia bisa baca pikiranku ya?


Aku tertawa dan mencoba memejamkan mataku, dan sebentar saja aku mengantuk dan akhirnya aku tertidur.


•••••


"Tha.. Aretha!!" suara kak Arden membuatku terpaksa membuka mata.


Sudah banyak yg bangun rupanya.


"Eh lho kak.. Udah pada bangun ya?"


"Harusnya kakak yg nanya, kamu ngapain tidur di luar?"


Aku melongo, lalu aku melihat diriku sendiri yg memang tertidur di dekat perapian dengan kondisi berselimut tebal. Tapi, ini selimut siapa ya?


Arkana!!


Dia bawa selimut juga rupanya. Waw. Manis sekali.


"Astagfirullohaladziiim' kutepuk kepalaku sendiri karena pikiranku ngelantur gak jelas.


Kak Arden menatapku heran, sambil menunjukan kerut di dahinya.


"Psssttt.." kak Arden lantas menunjuk ke belakangku denga dagunya.


Saat aku menoleh aradit sudah ada di sana sambil terus menatapku.


"Eum.. Kakak salat dulu ya"


Ini memang sudah pagi, dan waktunya salat subuh.


Aku tersenyum ke Radit untuk mencairkan suasana.


"Kamu kenapa tidur di luar?" tanyanya dengan muka serius.


"Eum.. Gerah di tenda," jawabku asal.


"Gak usah bohong, Aretha. Kucing aja tau kalo di sini dingin banget. Kalau mau bohong cari alasan lain yg lebih masuk akal deh."


Kok dia kaya marah gini ya.


"Kamu marah?" tanyaku hati hati sekali. Karena baru pertama kali ini, Radit bersikap seperti ini padaku.


"Kok marah sih?? Aku tuh kepikiran tau. Begitu aku buka tenda dan liat kamu tidur di luar, aku yakin pasti ada yg gak beres kan? kamu diganggu lagi?"


Radit terus menatap mataku dalam, dan akhirnya aku mengangguk pelan.


"Kenapa gak bangunin aku? Kan aku udah pernah bilang berapa kali sama kamu sih... Kalo ada apa apa, kasih tau aku. Lagian aku kan ada di sini..Apa susahnya sih??" dia terus aja ngomel ngomel.


"Maaf, Dit. aku cuma gak mau ganggu kamu tidur. lagian aku gak papa kok."


"Lain kali gak ada tuh kaya gini lagi, Tha. Pokoknya kalo ada hal kaya gini lagi, kamu harus kasih tau aku!!"


"Siap ndan!!" ucapku dengan mengangkat tangan ke pelipisku, menirukan gaya hormat .


"Ish.. Kamu nih," gerutu Radit,"nih.. Aku bikinin kopi. Biar mata kamu melek," tukasnya sambil menyodorlan segelas kopi yg masih panas padaku.


"Makaasihh" ku cecap kopi itu sedikit demi sedikit.


Lalu aku pamit salat subuh juga seperti yg lain.


Setelah sarapan kami melanjutkan perjalanan kami.


Sampai lah di pos 3.


Lalu terus berjalan sampai ke Plawangan sekitar 4jam.


Beberapa kali kami berpapasan dengan pendaki yg lain nya.


Jalur menuju Plawangan relatif sama dengan jalur sebelumnya hanya saja kami akan banyak bertemu pohon yang lebih rimbun dan semak-semak yang semakin tinggi.


Lalu sampailah kami di puncak Surono dengan menempuh perjalanan 2 jam.


Kabut tebal siap menghadang menuju puncak Surono.


Ada sebuah kisah kenapa puncak nya dinamakan puncak surono.


Menurut warga setempat, dahulu kala ada seorang pendaki yang bernama Surono. Pendaki itu meninggal di puncak Gunung Slamet karena terpeleset ke jurang. Untuk menghormatinya, namanya kemudian dijadikan nama puncak tertinggi gunung Slamet yakni puncak Surono. Di puncak Surono terdapat sebuah tugu penghormatan untuk mengenang almarhum Surono.


Rasanya puas sekali ,akhirnya sampai juga ke puncak. walau dengan berbagai kejadian aneh seperti semalam.


Menikmati pemandangan dari sini, membuatku berdecak kagum pada sang pencipta, Allah SWT.


MasyaAllah.