Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
52 santet


Tinggal 4 bulan lagi kami akan menempuh ulangan kenaikan kelas. Tidak terasa sebentar lagi kami akan naik ke kelas 3. Persahabatan kami juga makin erat saja terjalin.


Seperti biasa kami selalu nongkrong di kantin setiap pagi.


Kadang cuma sekedar duduk aja atau sarapan juga.


"Eh, Arden ke mana sih, Tha?" tanya Dedi celingukan.


Aku yg sedang menyeruput milkshake jadi ikut celingukan,"eum...paling sama mba Alya.."


"Iya, ke mana lagi coba tuh anak. Kalau gak sama kita ya ujung ujungnya sama Alya," sahut Radit.


"Iya juga sih."


Kak Arden memang makin dekat dengan mba Alya akhir akhir ini.


Setiap hari selalu berangkat dan pulang bersama.


Setiap kak Arden latihan basket dan tanding basket juga pasti mba Alya ikut.


Bahkan jika ada acara keluarga di rumah kami, pasti mba Alya datang.


Mereka berdua memang cocok.


Dan sepertinya keluarga mba Alya juga setuju dengan hubungan mereka. Syukurlah kalau begitu.


Tak lama, Doni datang bersama Kiki.


"Pagi semua," sapa Kiki dengan suaranya yg cetar membahana.


"Berisik ih.. Kecilin napa suara nya," gerutu Danu.


"Iya nih.. Pagi pagi udah bikin kuping budeg!"timpal Dion.


"Ih, sirik banget kalian.. Gak suka ya aku dateng."


"Contoh tuh Doni, anteng gitu.."


Sahut Dedi.


Iya-- Doni aneh pagi ini.


Dia menjadi pendiam. Wajahnya pucat dan sering sekali menekan tengkuknya.


"Kenapa lu, Don?" tanya Radit yg seperti nya sependapat denganku. Doni -- aneh.


"Gak enak badan, Dit. "


Radit menatap Doni tajam.


"Dit, kenapa sik? Ngeliatin nya gitu amat!" tandas Doni yg risih Radit melihatnya seperti itu.


"Gak papa"


Radit melirik padaku.


"Aduh... "Rintih Doni sambil memegangi kepalanya.


"Kenapa sayang?" tanya Kiki panik.


"Sakit banget kepalaku. Kaya ditusuk tusuk." Doni terus menekan kepalanya.


"Kamu udah ke dokter?" tanyaku.


"Udah, Tha. Tapi kata dokter gak papa. Kecapean aja kali." dia terus saja memegangi kepalanya.


Teeeeetttt!!


Bel masuk berbunyi.


Kami lalu masuk ke kelas kami.


Di kelas, kak Arden sudah ada di sana rupanya.


"Woii, Deen.. Ke mana sih? Dicariin juga," gerutu Dedi yg langsung mendaratkan pantatnya ke kursi samping kak Arden.


"Biasa.. Ke kelas Alya,"sahut kak Arden santai, lalu kak Arden menatap Doni terus.


Tak lama menatapku juga. Seolah olah seperti bertanya padaku, apa yg terjadi pada Soni.


Karena hari ini dia benar benar aneh. Tidak seperti biasanya.


Dan aku hanya mengangkat bahu saja.


Pelajaran hari ini berjalan tenang seperti biasa, hingga Doni tiba tiba berteriak kesakitan.


Semua mata tertuju padanya.


Radit memegangi Doni dan berusaha menahan Doni yg hendak membentur benturkan kepalanya ke meja.


"Elu gila yah!! Berhenti, Don!! Doni!!! Astagfirullohalaadziiimm," pekik Radit, panik sambil terus memegangi tubuh Doni.


"Kenapa itu?" tanya pak Hartanto yg sedang mengajar di kelas kami.


Kak Arden lalu mendekat ke Doni sambil membacakan beberapa ayat.


Kiki menangis histeris melihat Doni yg kacau sekali, bahkan keningnya sudah lebam membiru karena sempat terkena meja tadi.


Aku hanya bisa melihatnya sambil menenangkan Kiki.


Namun Doni makin brutal saja.


Dia seperti dikendalikan oleh sesuatu.


Hingga Radit yg memegangi nya saja sampai terpental, akhirnya Dedi, Dion, Danu dan yg lainnya ikut mendekat memegangi Doni.


Sedangkan yg lain nya malah takut, bahkan banyak yg keluar dari kelas.


Pak Hartanto bahkan sampai menyuruh salah satu temanku untuk memanggil guru agama .


Tercium bau wangi yg menyengat, saat aku menoleh, di sampingku ada arkana sedang berdiri sambil menatap tajam Doni.


"Arkana, Doni kenapa sih?" tanyaku agak berbisik.


Aku takut dibilang orang gila kalau ketauan ngomong sendiri.


"Ada yang jahil," ucapnya datar.


"Hah? maksudnya ada yg ngerjain itu,eum.. Semacam apa itu namamya ya?" tanyaku masih sambil mikir.


"Dia di santet."


"Oh iya santet."aku mengangguk mengiyakan, "eh, Hah! Santet!" aku kini berteriak keras karena kaget.


Semua orang menoleh ke arahku.aku cuma cengengesan aja.


"Terus gimana dong? Bantuin kek. Kamu diem aja," gerutu ku.


"Bawa aja ke Den Yusuf. aku cuma bisa menenangkan nya sebentar."


Arkana memang memanggil pakde Yusuf dengan sebutan Den/raden, karena keluarga eyang prabumulih memang masih berdarah biru sebenarnya.


Tapi aku tidak suka dengan sebutan seperti itu, karena menurutku di jaman sekarang ini sudah tidak ada lagi istilah Raden dan panggilan kerajaan lainnya, kecuali masih dalam lingkup keraton. Seperti di jogja atau di solo.


Arkana lalu mendekat ke Doni, membentuk gumpalan asap lalu menembus Doni yg masih berteriak teriak.


Tak lama Doni mulai tenang. Walau dia sudah tenang tapi dia masih terlihat aneh.


Akhirnya kami ijin membawa dia pulang.


Tapi hanya aku, kak Arden, Radit dan Kiki saja. yg lain akan menyusul nanti sepulang sekolah.


Radit yg menyetir, aku duduk di samping kemudi. Kak Arden, Kiki dan Doni di belakang kami.


Doni masih diam namun pandangannya kosong.


Dia tidak mau makan apa pun, hanya mau minum saja.


Itupun kadang diiringi dengan muntah muntah juga.


"Kak.. Kita ke rumah pakde aja ya. "Saranku.


"Eumm..iya..."


"Ta... "Panggil Radit.


"Apa."


"Tadi kamu ngobrol sama siapa?"


Glek!


"Kapan?" aku pura pura tidak paham dengan kata katanya.


"Tadi itu lho. Dia siapa sih. Kayanya aku sering lihat dia deket sama kamu. Yah-- gak selalu nempel kamu sih. Kadang kadang aja. Kamu juga keliatan akrab banget sama dia."tanya Radit penasaran.


Kak Arden ikut menatapku menunggu jawabanku, sambil tersenyum.


"Bilang aja ,dek?" suruh kak arden.


"Eumm.. Dia, Arkana."


"Eh, tapi Kakak pernah denger waktu itu pakde pernah cerita. "


"Cerita apaan?"


"Ya gitulah.. Udah ah. Nanti aja bahas itu.. Ini kita urus dulu si Doni. kasihan kiki nangis mulu."


Kiki memang nangis terus sejak tadi, itulah kenapa dia juga diijinkan pulang.


"Aku kabarin pakde ya ,kak"


"Heem.."


Dan ternyata pakdhe sedang ada di Kalimantan. Katanya sedang mengurus pesantren yg di sana bersama om Arif.


"Katanya pakde lagi di kalimantan, Kak."


"Terus bilang apa lagi? Bisa pulang kan?"


"Katanya bisa, nanti disempetin pulang pakai KM"kataku.


"KM? Kapal motor?"tanya Radit bingung.


"Bukan.. KM itu kantung macan"


"Hah? Apaan lagi tuh?kantung macan? emang macan punya kantung?"


"Kantung macan itu bisa buat alat transportasi gaib, Dit."kata kak Arden.


"Hah? Serius? gimana ceritanya tuh, aku belum pernah denger.terus? "tanya Radit penasaran.


"Sebenernya manfaatnya macem macem, nggak cuma buat transportasi gaib aja. Banyak banget deh.. Katanya sih itu hadiah dari macan nya. Sebelum si macan meninggal, dia bakal nyopot deh tuh kantung nya. Jadi gak sembarangan orang punya."


"Kantung yg mana sih , Den? Setau aku yg punya kantung tuh kangguru doang. Ada juga doraemon tuh. Itu juga robot kucing. Bukan kucing beneran."


Ku tabok lengan Radit karena gemas, kadang dia kalau nanya suka aneh.


"Eh kenapa? kok malah aku dipukul ,Ai?" tanya Radit sambil tangan kanan nya mengelus lengan nya.


"Habisnya kamu sih, ih... "


Radit malah cengengesan. Alhasil kiki sedikit bisa tersenyum karena celotehan Radit.


"Ya dari itu nya macan, Dit. Kantung 'itu' nya."kak Arden agak sungkan menjelaskan nya.


" hah? 'Itu' nya?" Eadit mikir.


Tak lama dia mengangguk paham.


"Oh, iya iya iya.. Ngerti ngerti!! Gituan bisa jadi pusaka ,guys? Gila.. Keren ya." dia malah ngakak.


"Gituan apa sih, Tha.. Den?" tanya kiki planga plongo.


"Udah ah, anak kecil mah diem aja. Gak usah kepo," timpal Radit.


Kiki manyun deh.


"Terus nyampenya berapa lama tuh ,pakde?"tanya Radit lagi.


"Paling kita sampai sana, pakde udah ada di rumah."


"Ohh, jadi mirip buraq yah? Iya kan bener buraq?"tanya Radit antusias.


"Iya bener tuh. Pinter elu, Dit."


Radit sudah banyak mengerti tentang islam. Kadang dia langsung mengaji ke pakde Yusuf soalnya.


Dan ,alhamdulillah dia sekarang sudah hafal beberapa surat pendek dan bacaan salat.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Sampai di rumah pakde, kami sudah disambut budhe Rahma.


"Assalamualaikum"sapa ku lalu aku salim dan mencium punggung tangan budhe.


"Wa alaikum salam.. Udah ditungguin tuh sama pakde.."


"Eh pakde udah sampai tah?"tanyaku.


"Udah kok" budhe Rahma tersenyum tipis lalu mengajak kami masuk ke dalam menuju ruangan nya pakde, yg biasa dipakai khusus untuk ibadah, ngobrol dengan teman teman pakde juga,dan untuk hal seperti ini juga.


Saat masuk ternyata ada om Arif


Juga.


Kami pun salim bergantian.


"Pakde, beneran naik KM?"bisik Radit penasaran.


Pakde melirik Radit lalu memukul kepala Radit dengan buku ditangan pakde.


"Kamu nih..!!"


Radit cengengesan.


"Yuk, wudhu dulu," ajak kak Arden.


"Hah? wudhu? Buat apaan? belum masuk dhuhur kan?"tanya Kiki bingung.


"Kamu gak usah ki.. Dek , kamu sini aja. Gak usah ikut. Temenin kiki. "Pinta kak Arden.


"Iya"


Radit mendekat padaku lalu bisik bisik," eh , Ai.. Kamu pernah liat itu KM? Kaya apaan sih? Aku pengen liat lho."


"Pernah.. Kalo mau liat, sana minta ke pakde. Aku mah ogah.. "Kataku bergidik ngeri.


"Ih, aku juga ogah. Bisa di gaplok berkali kali nanti..hehehe"


"Eh eh eh.. Itu ngapain deket deket?" cecar pakde Yusuf.


"Ngobrol doang ,pakde."sahut Radit.


"Jauhan.. Satu meter! Belum muhrim. Gak boleh deket deket." tukas pakde.


Radit lalu minggir minggir menjauhiku dengan wajah ditekuk, namun setelah itu dia senyum senyum jail.


Doni akan dirukiyah oleh pakde Yusuf,om Arif dan dibantu kak Arden.


Doni duduk bersila ditengah tengah, dan rukiyah pun dimulai.


"Kiki!! Jangan ngelamun!! Nanti Doni sembuh, malah pindah ke kamu!" tukas pakde Yusuf sambil menunjuk kiki yg ada di sampingku.


Kiki hanya mengangguk cepat .


"Tunggu!!!" ucap om Arif.


"Kenapa om?"


"Boleh liat dompet kamu , Don?"


"Boleh ,om." Doni mengeluarkan dompetnya.


"Den, coba cek. Cari ada yg aneh gak?"pinta pakde Yusuf.


Kak Arden membuka dompet Doni. dicek nya semua kantung di dompet. Hingga kak Arden mengeluarkan secarik kertas yg dilipat lipat.


Saat dibuka, ada rajah di sana.


Wah, bakal langsung dibakar nih ,kalau pakde nemuin ginian.


Dan benar saja, rajah itu langsung dibakar oleh om Arif.


Dan ,setelah itu rukiyah pun dimulai.


Awal nya Doni hanya menangis saja, namun tangisnya makin intens saat dia mendengar doa doa rukiyah.


Tak lama, dia mulai menggeram dengan suara berat. Kadang berubah menjadi suara wanita. Kadang menangis, kadang tertawa. Kadang juga marah.


Lalu pakde menarik sesuatu dari tengkuk Doni, kulihat agak kesusahan saat menariknya.


Dan saat tercabut, ditangan pakde ada 3 buah jarum.


Dan ternyata, jin ini suruhan orang. Dia ingin agar Doni dan keluarganya celaka.hanya saja pakde tidak mau menanyakan lebih jauh, siapa pengirimnya.


" biar aja. Nanti juga pelakunya bakal dateng ke rumah kamu buat minta maaf," kata pakde.


Doni mengangguk lemas.


Ditariknya jin itu dari tubuh Doni. Bukan hanya 1 jin. Tapi ada 9 jin.


Luar biasa sekali.


Rukiyah pun selesai.


Doni diberi banyak sekali wejangan, agar dia tidak lagi diganggu oleh makhluk halus.


Karena manusia yg sudah pernah dirasuki jin ,seperti Doni ini, akan lebih mudah dimasuki lagi jika pertahanan nya tidak kuat. Ibaratnya, dia seperti sudah punya lubang yg dapat dijadikan tempat keluar masuknya jin. Jadi sholatnya tidak boleh bolong bolong. Sering membaca alquran dan beberapa doa doa khusus pun disarankan oleh pakde.


Makanya walau kita sudah dirukiyah, tidak menutup kemungkinan akan terus diganggu lagi.


Kita harus makin mendekatkan diri ke Allah. Dan minta tolonglah pada Allah agar kita selamat dari gangguan jin yg terkutuk.


***


Kami telah melaksanakan ulangan kenaikan kelas seminggu lalu. Alhamdulillah kami semua naik ke kelas 3. Tidak terasa tinggal 1 tahun kami ada di sekolah ini.


Liburan kali ini, kami berencana pergi ke kota terdekat saja.


Dengan menaiki 2 mobil, seperti biasa, kami berangkat pukul 06.00 pagi.


Pagi tadi, sekitar pukul 05.30 Radit sudah duduk santai di teras rumahku dan kini sedang menyecap kopi sambil ngobrol dengan ayah.


"Dek.. Buruan. Radit udah nungguin," teriak kak Arden di depan kamarku.


"Iya. udah nih."


Lalu kubuka pintu kamarku dan mengekor kak Arden ke teras.


Radit sedang tertawa dengan ayah entah membahas apa aku tidak tau.


"Ini dibawa. Di sana makanan nya mahal. Gak higienis juga,"  kata bunda sambil meletakkan rantang makanan di meja.


"Siap bos," sahutku.


Kami lalu masuk ke mobil Radit. Kak Arden duduk di kursi depan. Aku di belakang saja, karena setelah ini kami akan menjemput mba Alya.


Setelah menjemput mba Alya, kami lantas ke rumah Dedi, lalu ke rumah Ari.


Sisanya naik mobil Doni.


Perjalanan ke kota sebelah membutuhkan 2 jam perjalanan saja. Itu pun kalau tidak macet.


Pukul 09.00 tepat kami sudah memasuki kota ini.


Ini adalah daerah pesisir pantai, dan ada sebuah pulau kecil yg tidak jauh dari pesisir pantai yang digunakan untuk lapas narapidana kelas kakap.


Sampai di sana, kami langsung berlarian ke tepi pantai itu. Apalagi aku sama Kiki, udah mirip anak kecil yg belum pernah piknik ke pantai.


Memalukan.


Namun, semua malah ikut menyusul kami main air.


Kebetulan ada banana boat juga saat ini. Kami pun naik juga.


Wah, pokoknya udah kita udah main basah basahan deh.


Basah kuyup judulnya.


Karena kalau naik banana boat kan pasti kita bakal diGulingin di laut juga ujung ujung nya.


Sedangkan yg masih anteng hanya mba Alya dan kak Arden.


Sisanya udah gak karuan.


Mumpung lagi di laut nih.


Soalnya kami setiap hari liatnya gunung terus.


"Gaes ... Kita ke pulau sana yuk," ajak Kiki.


"Setuju tuh."


Dengan menyewa perahu yg memang disediakan di sini, kami lalu menyebrang ke pulau itu.


Setelah sebelumnya kami berganti pakaian tentunya.


Hanya butuh waktu sekitar 15 menit saja kami sampai di pulau itu.


"Nanti SMS saja mas, kalau udah mau pulang. ini no hp saya," kata bapak pemilik kapal.


"Oh iya pak." Radit lalu meraih ponselnya dan mencatat nomer hape bapak itu.


Satu persatu dari kami turun, dan langsung menginjak kan kaki di pantai pasir putih di sini.


Suasana mistis mulai terasa.


'Aku gak bisa nemenin terlalu lama di sana. kalau ada apa apa kamu panggil aku aja.' suara Arkana ada di pikiranku tanpa ada wujudnya.


"He em," sahutku.


Radit melirik padaku lalu menempelkan punggung tangan nya ke dahiku.


"Kamu udah minum obat, Ai?"


Plakkk!!


"Kamu pikir aku gila!!" seru ku.


"Ya kali aja, Ai. Habisnya kamu tadi ngomong sama siapa? "


"Gak ngomong sama siapa siapa.. Udah yuk ah, tuh ditinggal sama yg lain," tunjukku ke mereka yg sudah berjalan duluan.


Saat aku berjalan Radit malah menarik tanganku dan menatap ku dengan wajah yg sok imut.


"Arkana, ya?"


"Iya. Kenapa sih mukanya gitu?"


"Kamu kok gak peka sih, Ai?"


"Hah? Nggak peka? peka kenapa sih?"


"Ih tuh kan, bener bener deh. Kamu cewek tertidak peka yg pernah aku temuin tau gak?"


"Hah? Tertidak peka? Bahasamu aneh banget sih, Dit? Pake EYD yg bener dong. Diomelin Bu Tika lho."


"Habis nya kamu sih."


"Hah? Kenapa sih? Kamu aneh banget deh." kutinggalkan saja dia begitu saja.


"Ai.. Ai... Ih, jahat banget sumpah.. Aku ngambek ini lho." dia berjalan menyusul ku.


"Bodo amat. Ngambek kaya anak kecil aja. Nanti aku beliin es krim deh," kataku dengan cuek nya.


Kami pun menyusul mereka yg sedang mengantri di loket karcis.


Setelah membeli tiket masuk, kami pun mulai masuk ke dalam hutan ini.


Yah-- itu benar. Kami masuk ke hutan. Memang pulau ini tidak begitu besar .


Hanya sebuah pulau kecil saja.


Namun, di sinilah tempat narapidana politik dan penjahat kelas kakap berada.


Suasana mistis pun mulai kurasakan. Aku mulai merinding hingga memeluk tubuhku sendiri. Padahal cuaca agak terik siang ini.


"Sepi amat ya?'' seru Ari.


"Namanya juga di hutan keles. Ya sepi-lah. Mau rame di pasar sono!" timpal Dedi.


"Maksudnya ini kan tempat wisata?kok sepi sepi aja?" tambah Ari masih sambil celingukan.


"Pada takut kali, " celetuk Radit.


"Takut apaan? Hewan buas? Gak ada kali," jawab Danu


"Ck. bukan takut itu ...."


"Apa? setan? Siang bolong gini, bro. Mana ada setan!"


"Bukan juga."


"Terus takut apaan, Dit?" tanya Kiki.


"Takut napi nya lepas,"kata Radit cuek.


"Ah, napi doang mah. Bisa kalian karate kan?" tanya Kiki mencoba tenang.


"Ya kalo kasus narkoba mah, kecil aja Ki. Tapi kalo ******* gimana coba atau pembunuh berantai? Ih." sahut Radit sambil bergidik ngeri.


"Ih... Gimana dong, " rengek Kiki.


Plakkk!!


Kepala Radit di pukul oleh Doni.


"Gak usah nakut nakutin napa! Iseng banget deh elu, Dit!!" seru Doni sebal.


Radit malah ngakak.


Rupanya dia masih saja iseng.


Kami makin masuk ke dalam hutan. Tujuan kami adalah pantai pasir putih yg letaknya di pinggir pantai agak jauh dari pintu masuk lokawisata.


"Eh... itu tuh... Pantainya Tha. Ayok ke sana," teriak kiki girang banget.


Dia menarik ku, hingga kami berlari bersama ke pantai itu.


"Wah, bagus banget," Seru ku ikut senang seperti Kiki barusan.


Aku dan kiki bergandengan tangan lalu berlari menuju pantai.


Pantainya bersih dan airnya jernih. Banyak kepompong laut dan ada bintang lautnya juga, bahkan ikan ikan kecil pun terlihat di pinggir pantai. Karena masih banyak batu karang di sini tempat mereka bersembunyi.


Kami langsung foto foto di sini, bermain air sebentar.


Pasir putih nya juga membuat indah pantai ini. Karena hanya di pulau ini saja, pantainya berpasir putih. Pantai di seberang, pasirnya seperti pasir pantai pada umumnya.


"Balik yuk. Nanti kita gak sempet salat dhuhur," ucap mba Alya sedikit berteriak pada kami yg masih asik bermain air.


"Woooiiii. Balik!!" teriak kak Arden.


Mungkin karena kata kata mba Alya tidak kami hiraukan, sehingga kak Arden pun ikut angkat bicara. Memang menyenangkan sekali ada di sini, hingga kami lupa waktu.


Akhir nya kami pun beranjak meninggalkan pantai dan berniat kembali ke pintu masuk wisata tadi.


Hutan di sini masih rimbun dengan pepohonan.


Beberapa kali kami melangkahi akar yg menyembul keluar tanah.


Kami terus berjalan sesuai dengan jalan yg kami lewati tadi.


"Eh.. Kok gak nyampe nyampe ya?" seru Ari.


"Iya nih, udah 2 jam lho kita jalan. Perasaan tadi waktu berangkat cuma 45 menit kita jalan," tukas Dedi.


"Kita nyasar??" tanya Kiki.


"Nggak mungkin deh. Kita lewat di jalan yg tadi kok. Masa kita nyasar," Seru Doni.


"Pasti nyasar nih," tambah Dion.


"Ri, gimana dong?? Kan kamu anak gunung dan hutan. Udah biasa ngadepin ginian??" tanya Danu.


Ari malah terdiam sambil terlihat memikirkan sesuatu.


"Kalian ngelangkahin akar gak tadi?"tanya Ari.


"Akar? Ya iyalah, lah tadi ada berapa tuh akar pohon nya. Emang kenapa sih?"tanya Danu.


"Mampus deh!!" seru Ari sambil menekan kepalanya.


"Siapa yg mampus??"


"Jadi bener mitos itu ya?"


"Mitos apaan sih, Ri?" tanya Doni.


"Di sini ada larangan ngelangkahin akar mimang.. Bakal nyasar kita. Nggak bisa balik,"terang Ari


"Akar mimang? "


"Iya."


"Kenapa gak bilang dari tadi bego!!" Dion kesal.


"Lupa bro.. hehehe" Ari malah cengengesan.


Aku mengedarkan pandanga ke sekeliling. Radit menarik ujung bajuku sambil melihat ke belakang ku,"Tha.. Itu apaan?" bisiknya.


Saat aku menoleh, di sana ada seekor kijang. Hewan dilindungi itu bertanduk kuning menyerupai emas dengan tanda putih di paha kiri.


Aku pernah mendengar tentang hewan ini. Menurut kabar yg kudengar, di pulau ini ada kijang bertanduk emas yg kebal tembak. Namun jika pistolnya dibenamkan dulu ke tanah, maka hewan itu akan dengan mudahnya tertembak. Katanya hewan itu adalah salah satu penjaga pulau ini.


"Kak Arden!!!" panggilku tanpa melepaskan pandangan ku dari kijang itu.


Otomatis kak Arden dan yg lainnya ikut melihat ku lalu menatap ke arah yg kulihat.


Kijang yg tadinya membelakangi kami, lalu memutar kepalanya 180° ke belakang.


"Masya Allah. Apaan tuh???"pekik Danu.


Tak lama kijang itu berlari makin masuk ke dalam hutan.


"Udah ..udah.. Kita fokus sama jalan pulang, nggak usah mikirin hal lain," saran kak Arden.


Kak Arden menundukkan kepala dan menggumamkan doa doa.


"Yuk, jalan lagi," ajaknya.


Kali ini kami dapat dengan mudahnya menemukan jalan keluar dari hutan ini.


Tidak berputar putar lagi seperti tadi.


Aku agak bergidik ngeri saat melihat ke gua agak jauh di dalam hutan yg kami lewati barusan.


Karena ada beberapa sosok prajurit perang yg berlumuran darah.


Di sini juga ada terowongan yg ada di dalam hutan, dan ada barisan tentara belanda jaman dulu sedang berjejer rapi di sana dengan wajah pucat dan mengerikan. Bahkan wajahnya banyak yg tidak berbentuk lagi.


Memang di kota ini, masih ada beberapa tempat peninggalan jaman penjajahan yg diubah menjadi obyek wisata.


"Ai.. Suara siapa ya itu?" bisik Radit sambil celingukan.


Aku memang mendengarnya. Suara teriakan, rintihan yg menyayat hati. Namun hanya suaranya saja. Wujud nya tidak terlihat.


Wajarlah, karena di tempat ini juga menjadi salah 1 tempat untuk eksekusi narapidana.


"Biarin aja lah," kataku datar.


Aku sudah malas berlama lama di sini.


Sampai di pintu keluar. Kami sempatkan minum es kelapa muda sambil menunggu jemputan kapal kami datang.


Lalu kami juga salat dhuhur di sini.


\=\=\=\=\=


Kapal jemputan pun datang.


Radit mengulurkan tangannya padaku agar aku berpegangan padanya saat naik ke kapal.


"Pelan pelan, Ai . jangan sampai nyemplung ya," katanya sambil senyum senyum.


"Lebay," seru Dion yg ada di belakangku.


"Jones, diem," ucap Radit sok cool.


Kami kembali ke pantai di seberang. Karena perut sudah keroncongan.


Sampai di pantai kami lalu menggelar tikar dan membuka perbekalan tadi.


Kami makan sambil ngobrol santai sore ini di pinggir pantai.


Pantai juga mulai ramai dengan pengunjung yg makin banyak.


Ada yg bermain air, pasir bahkan voli juga ada.


Di dekat pantai juga ada wisata benteng peninggalan jaman dulu. Namun, aku takut untuk memasuki nya. Pasti banyak makhluk astral di sana.


Kami duduk di sini sambil melihat sunset, dan malam nanti kami akan pulang kembali ke kota kami.


\=\=\=\=\=\=\=