
"Kalau kalian nggak mau ikut lewat sini, ya nggak apa apa kok. Udah sana, lewat jalan biasa aja. Tapi hati hati aja, ya. Kalau sampai ketemu sama yang merah tadi," cetus Armand sengaja membuat Derry dan Ike bingung.
Dia justru segera berjalan ke arah hutan. Tanpa rasa ragu atau pun takut. Sementara Derry dan Ike masih kebingungan. Mereka saling tatap, sampai pada akhirnya keduanya memutuskan mengejar Armand sebelum dia makin jauh.
"Yakin? Mau ikut gue lewat sini?" tanya Armand sekali lagi sebelum mereka berjalan makin masuk ke dalam hutan.
"Yakin! Yang penting jangan tinggalin. Kalau ada apa apa, kalian jangan lari terus ninggalin gue!" cetus Ike.
"Iya, tenang aja. Toh tadi yang lari duluan elo!" hardik Armand.
"Habisnya lo malah diem aja. Udah tahu itu setan malah bengong!"
"Bukan bengong. Gue cuma masih memastikan aja. Bener nggak apa yang gue lihat tadi."
"Udah udah. Mending kita jalan. Daripada nanti malah makin kemalaman," tandas Derry.
Mereka pun benar benar melewati hutan pada malam hari begini. Hal yang sungguh tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Padahal perkataan Pak Sobri kemarin masih terekam jelas diingatan mereka, terutama Armand, kalau mereka tidak boleh pergi ke hutan saat malam hari. Hanya saja, kali ini mereka tidak sengaja, karena memang terpaksa lewat hutan. Walau mereka pun sebenarnya yakin, kalau penghuni di hutan juga pasti ada banyak, terutama di area pemakaman. Tapi setidaknya mereka tidak ingin bertemu wanita berbaju merah tadi.
Sejauh ini, suasana tidak terlalu menyeramkan. Apalagi karena Derry dan Armand justru mengobrol santai mengenai banyak hal. Sehingga membuat pikiran dan rasa takut mereka teralihkan. Bahkan beberapa kali mereka tertawa bersama saat mendengar celetukan nyleneh dari Derry ataupun Armand. Ike yang paling takut di antara mereka kini terlihat sudah lebih santai tidak lagi was-was dan terus menatap sekitar dengan tegang.
Namun semua berubah saat mereka sampai di pemakaman. Untuk bisa melewati jalan itu menuju ke rumah, mereka harus masuk ke dalam area pemakaman. Karena jalan keluar ada di ujung makam. Sampai di sini mereka pun mendadak menjadi pendiam. Tidak ada lagi tawa ataupun celetukan nyeleneh seperti sebelumnya. Mereka kini tengak tengok sekitar untuk memastikan keadaan aman. Namanya pemakaman apalagi saat malam hari seperti ini tentu sangat sepi. Tidak ada satupun manusia yang terlihat selain mereka bertiga. Mereka juga berharap tidak melihat makhluk lain selain manusia di sekitar tempat ini. Ike menunduk sambil memegangi ujung baju Derry yang berjalan di sampingnya. Sementara Armand berjalan di depan mereka.
Tiba tiba Armand berhenti berjalan dan menginstruksikan dua temannya yang ada di belakang untuk ikut berhenti juga.
"Kenapa?" tanya Derry berbisik.
"Kalian lihat itu?" tanya Armand menunjuk ke arah mata air yang memang letaknya berada di tengah pemakaman. Di dalam mata air itu ada sebuah kolam yang sebenarnya tidak begitu luas. Di tengah kolam itu ada sebuah batu, yang bentuknya mirip orang yang sedang bersemedi.
"Kenapa emangnya?" tanya Ike penasaran. Dia tidak melihat keanehan apapun yang sedang dipertanyakan oleh Armand.
" waktu pertama kali kita ke tempat ini, kalian juga lihat, kan, kalau di tengah kolam itu ada batu yang bentuknya seperti orang yang sedang bersemedi? Tapi kenapa sekarang nggak ada ya?"
"Eh iya, bener juga! Perasaan posisi batu itu ada di tengah pas banget sama air yang turun dari atas!" tukas Derry.
Jadi gambaran yang tepat untuk mendeskripsikan Bagaimana bentuk mata air yang ada di pemakaman itu sebenarnya cukup sederhana. Ada semacam tanah tinggi di tengah kolam. Di tanah itu keluarlah air yang biasanya memang kerap ditemukan di wilayah-wilayah pedesaan dan dianggap sebagai mata air yang muncul secara acak. Biasanya mata air mata air seperti itu sering dimanfaatkan oleh warga desa untuk kebutuhan sehari-hari. Mereka akan membuat kolam yang bisa dipakai untuk menampung air tersebut agar bisa diambil sewaktu-waktu. Sama seperti mata air yang ada di pemakaman ini. Tinggi dari tanah yang mengeluarkan air berkisar antara 2-3 meter saja. Lalu dibawa air yang mengalir itu memang terdapat kolam kecil berukuran 2x2 meter. Sepertinya kolam itu bukanlah buatan manusia karena bentuk dari pikiran kolam yang terbuat dari batu langsung menempel ke tanah yang ada di bawahnya. Iya juga alami tidak seperti kolam penampungan air yang biasa ditemui di beberapa sudut Desa ini. Dan di tengah kolam kecil tersebut ada patung yang terbuat dari batu dengan bentuk yang menyerupai manusia sedang duduk sambil bersila. Kedua tangannya bertumpu di atas paha. Mereka bertiga jelas-jelas melihat benda tersebut ada di tengah kolam sekitar beberapa hari yang lalu bahkan saat Karman dan dolmen melewati pemakaman itu tadi siang, patung batu itu masih ada di tempatnya.
" Apa mungkin patung itu dipindahkan oleh warga desa tempat lain?" tanya Derry.
"Ah, masa sih? Gue rasa akan cukup sulit untuk memindahkan patung itu karena bentuknya yang cukup besar dan pasti berat," sahut Armand
" lagi pula kalau memang dipindahkan oleh warga, tujuannya apa? Dan dipindahkan ke mana? Kurang kerjaan banget sih warga mindah-mindahin patung itu!" cetus Ike.
"Hm, agak aneh sih."
"Udah ih, Man! Ayo kita mendingan cepat pergi dari sini. Kelamaan horor tahu!" pekik Ike sambil menarik kedua temannya pergi meninggalkan pemakaman.
Setelah melewati pemakaman Mereka pun sampai di rumah kosong milik Sukarta. Tidak ada hal aneh yang mereka lihat di rumah tersebut. Apalagi Ike yang terus menunduk. Namun mereka cukup lega saat melihat kalau ternyata di depan rumah Pak Sobri ada pemilik rumah yang sedang duduk di teras seorang diri.
Sebagai tamu yang baik di desa tersebut mereka bertiga pun menyapa pria tua itu. "Mari, Pak," kata Ike sambil mengangguk dan terus berjalan. Pak Supri tidak menjawab apapun Bahkan dia sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun saat 3 mahasiswa itu lewat di depan rumahnya.
Langkah mereka mulai dipercepat karena sebentar lagi mereka sudah akan sampai di dekat rumah. Saat melihat bangunan tua yang sudah beberapa hari ini mau cari tempat tujuan mereka akhirnya Ike yang sejak tadi sudah ingin sekali segera sampai di rumah itu berlari meninggalkan dua teman yang di belakang. Begitu berbelok dari jalan menuju halaman rumah eh kesempatan melirik ke arah rumah kosong yang tadi telah membuat tiada teman-temannya ketakutan. Rupanya wanita dengan Gaun Merah tadi masih duduk di teras rumah itu tanpa berpindah sama sekali. Ike segera masuk ke rumah.
"Kenapa sih?" tanya Cendol yang baru saja selesai membuat kopi. Dia berniat untuk menikmati secangkir kopi itu di teras rumah. Tetapi dia dikejutkan oleh kedatangan Ike yang tiba-tiba dan langsung masuk ke dalam kamar.
"Heh! Ke! Armand sama Derry mana?" tanya Cendol sedikit teriak.
"Di belakang!" suara Ike terdengar dari dalam kamarnya. Namun gadis itu enggan membuka pintu dan menjelaskan pada Cendol.
"Lo kenapa sih?" tanya Cendol lagi.
Namun Ike tidak menjawab apapun. Hanya saja kini dua orang yang sedang dicari oleh Cendol mulai muncul dari arah pintu. Reaksi mereka sama seperti apa yang dilakukan Ike. Tentu ini menimbulkan pertanyaan besar bagi Cendol.
"Kalian bertiga kenapa sih? Kayak lagi dikejar hantu aja!" pekik Cendol.
"Eh, serius? Di mana?"
"Itu di depan rumah hantu! Mana setannya masih ada di situ lagi!" sahut Derry.
"Yang lain ke mana nih, Cen?" tanya Armand karena mendapati rumah itu sunyi.
" mereka juga ke rumah Pak Kades. Habis kalian pergi dari rumah sejak kemudian mereka menyusul. Memangnya kalian gak ketemu sama mereka?"
" siapa aja sih?"
"Daniel, Sule, Fendi."
"Dolmen mana?"
"Di kamar cewek. Ketiduran di sana. Dibangunin susah bangett! Sengaja kali tuh buaya!" tukas Cendol agak kesal.
" Emangnya mereka ngapain sih ke rumah Pak Kades. Kenapa nggak sekalian aja tadi bareng-bareng?" tanya Derry.
"Lupa. Katanya ada yang mau diurus, terus mereka baru ingat Setelah kalian pergi. Lagian kalian kan ke tempat yang sama, Kenapa bisa nggak ketemu sih?"
"Soalnya tadi kami Pulangnya nggak lewat jalan Tapi lewat hutan."
"Gila! Orang gila Kalian bertiga. ngapain sih pulang lewat hutan?"
"Kan udah dibilang kalau di depan rumah kosong itu ada setannya, dodol!" pekik Derry.
Mereka bertiga kini duduk di ruang tamu tanpa berani keluar lagi dari rumah. Derry dan Armand menceritakan apa yang mereka alami selama pergi ke rumah Pak Kades tadi, hingga Mereka pulang ke rumah. Cendol Yang penasaran dengan sosok wanita bergaun merah lantas mengintip dari jendela.
"Nggak kelihatan!"
"Ya lo kalau mau lihat keluar, dodol! Kalau cuman intip dari jendela sih nggak bakalan kelihatan!" omel Derry
"Coba ya, coba gue periksa. Beneran masih ada apa kagak!"
Cendol pun nekat keluar dari rumah dan berdiri di depan teras. Dia lantas melihat ke arah teras rumah kosongnya berada beberapa meter di depannya. Dari kejauhan dia memang melihat ada bayangan yang berwarna merah ada di depan teras rumah itu. Sontak cendol langsung berlari kembali masuk ke dalam. Begitu dia sudah berada di dalam dan menutup pintu tiba-tiba terdengar suara jeritan di luar yang ternyata adalah teman-temannya yang lain.
"Setaaan!"
Cendol mengintip dari jendela bahkan Arman dan Derry ikut melihat apa yang terjadi di luar. Kapan mereka sudah kembali dari rumah Pak Kades dan kini berlarian seperti sedang lomba balap lari. Begitu pintu dibuka mereka Langsung masuk dan menutup pintu lalu menguncinya rapat-rapat.
"Ada mbak mbak pakai gaun merah, ya?" tanya Derry.
"Iya! Kalian ketemu juga ternyata? Eh, kenapa pas pulang tadi kita nggak papasan ya?" tanya Dolmen.
"Iya, gimana kalian bisa papasan, orang mereka lewat hutan!" sahut Cendol.
"Hah? Serius? Lewat hutan?"
"Iyalah, daripada ketemu Mbak Kunti lagi. Toh, pas lewat hutan justru aman. Kami nggak diganggu apa-apa di sana," cetus Armand.
" tapi kenapa itu mbak kunti masih aja duduk di teras rumah itu ya?"
"Udah ah. Lebih baik kita semua tidur saja sekarang. Fen? Kamu baik baik saja? " tanya Daniel saat menatap Fendi yang sejak tadi diam.
"Nggak apa apa!" Fendi tampak aneh. Dia langsung kasur lantai lalu tidur di dekat tembok dengan memunggungi teman-temannya.
"Kenapa dia?" tanya Armand heran.
"Nggak tahu. Udah ah, tidur!" kata Cendol