Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
8. sosok di teras rumah kosong


Hari ini proker kelompok untuk pembuatan sumur sudah mulai dikerjakan. Bahan material yang dibeli dari kota sudah berdatangan. Tentunya tukang yang akan mengerjakan nya berasal dari warga desa dan para mahasiswa kkn tersebut. Para pria akan bergantian membantu warga desa, mereka membagi menjadi dua shift. Karena mereka juga harus tetap mengerjakan proker individu masing masing.


Selama tiga hari lamanya kegiatan di desa itu berjalan lancar. Proker individu dan proker kelompok berhasil berjalan dengan beriringan. Mereka mulai terbiasa hidup di desa itu tanpa beban. Sampai tiba suatu malam, Ike hendak pergi menemui kepala desa karena ingin meminta tanda tangan untuk laporan proker nya.


"Kan tadi pak Kades nggak di balai desa. Katanya ada urusan di luar, dan baru bisa pulang pas malam. Ayo, dong. Temenin," rengek Ike sambil menarik tangan Derry.


"Hih, kenapa nggak besok aja?"


"Soalnya mau sekalian konsultasi buat kegiatan besok, Der. Makanya harus malam ini juga gue ketemu Pak Kades!"


"Ya udah deh. Ayo," ucap Derry. Dia yang sebenarnya hendak bersantai sambil menikmati kopi yang baru beberapa menit lalu ia buat, akhirnya mengalah karena tidak tahan mendengar rengekan Ike. Sekalipun mereka sering berdebat dan saling ejek satu sama lain, tetapi mereka cukup dekat dan sering pergi bersama untuk kegiatan proker atau hal lainnya.


"Man, ikut yuk!"


"Kenapa nggak berdua aja? Gue mah nggak mau ganggu. Katanya kalau ada cowok sama cewek berduaan, yang ketiga itu setan," tukas Armand yang sedang asyik bermain game ular di hapenya.


"Man, ayo ih! Lo seharian di rumah terus, kan? Proker aja cuma setengah hari. Ayo ih!" paksa Derry.


Alhasil karena malas berdebat dan Armand memang cukup bosan dia pun menyetujui permintaan Derry. Teman teman yang lain masih sibuk dengan laporan masing masing di rumah. Kegiatan proker yang sudah berjalan membuat mereka semakin sibuk. Karena apa yang mereka lakukan itu baru awalan. Masih banyak hal yang harus mereka lakukan lagi. Apalagi waktu mereka masih 2,5 bulan lagi.


Mereka bertiga keluar dari rumah, setelah memakai jaket dan membawa senter masing masing mereka mulai berjalan menuju ke arah rumah horor yang selama ini menjadi momok mengerikan saat melewatinya. Padahal sejak melihat bayangan beberapa hari lalu, mereka tidak lagi melihat penampakan apa pun. Namun berbeda dengan malam ini.


"Kalau malam gini, ini rumah bener bener mirip rumah horor di film ya?" tanya Derry menyeletuk saat rumah itu berada 100 meter dari mereka.


Ike tidak berani menatap rumah itu, dan hanya menundukkan kepala saja. Armand yang sejak tadi masih menghisap rokok, ikut memperhatikan rumah itu. Rumah itu gelap tapi sinar bulan malam ini membuat bagian depan rumah itu cukup jelas terlihat.


"Mana bulan purnama lagi. Serem banget," gumam Ike


"Kenapa? Takut gue berubah jadi manusia serigala?" tanya Derry sambil menyenggol lengan Ike yang berada di sampingnya.


"Dih, manusia serigala mah nggak ada! Itu cuma dongeng. Tapi ada loh di daerahku makhluk yang biasa dipanggil Aul," tukas Ike.


"Aul apaan, Ke?" tanya Armand.


"Aul itu semacam legenda makhluk yang mirip serigala besarnya yang seukuran manusia dewasa. Dia sesekali bisa berjalan tegak seperti manusia."


"Oh ya? Baru denger gue. Beneran ada gitu? Emangnya terbukti makhluk itu beneran ada? Udah ada yang pernah ketemu?" tanya Armand.


"Ada. Beberapa orang pernah lihat dia muncul. Yah, itu bisa dianggap manusia serigala lokal kali, ya."


"Eh, orang? Iya, kah? Atau... Setan?" tanya Ike yang akhirnya ikut menatap teras rumah itu.


"Biar gue cek!" kata Armand.


Bukannya segera melanjutkan perjalanan dan pergi dari tempat itu, Armand justru berjalan mendekat ke rumah itu. Sosok yang mereka anggap manusia sedang duduk di teras. Dia berbentuk manusia, wanita, dengan gaun merah. Namun yang membuat mereka ragu adalah wajah dari orang itu yang tampak biasa saja. Tidak seperti setan yang biasa mereka tonton di film film horor. Dia terlihat seperti manusia normal, walau dalam keadaan yang tidak normal. Mana ada manusia yang berada di depan rumah kosong bekas pembunuhan malam malam begini. Itu adalah hal yang tidak wajar pertama yang seharusnya membuat mereka segera meninggalkan tempat itu, alih alih mendekatinya.


Ike dan Derry hanya menunggu di jalan sambil terus mengawasi Armand. Begitu berada di dekat wanita tadi, Armand memasang wajah ramah dengan gestur tubuh seperti hendak bertemu orang yang lebih tua.


"Maaf, Bu? Sedang apa ya di sini?" tanya Armand.


Tidak ada jawaban dari wanita itu. Dia masih dalam posisi yang sama. Duduk di kursi itu sambil menatap lurus ke depan. Di mana di depan rumah itu justru hanya ada pemandangan berupa hutan hutan saja.


"Bu? Ibu Baik baik saja?" tanya Armand lagi. Merasa tidak mendapatkan tanggapan apa pun, Armand justru berniat mendekat lagi. Melihat temannya mulai bergerak maju, Derry dan Ike sempat melarang, lalu mengajak Armand melanjutkan perjalanan.


"Bu?" panggil Armand lagi.


Tiba tiba wanita itu memberikan tanggapan. Kepalanya bergerak dengan perlahan menatap Armand. Gerakannya yang kaku terkesan mengerikan ditambah ekspresi wajahnya yang mulai menyeringai. Perlahan kulit wajahnya mengelupas. Seperti terbakar. Armand yang menyadari ada hal yang tidak beres tidak langsung pergi. Dia justru tetap berdiri di tempatnya sambil terus melihat wajah wanita itu yang terus berubah mengerikan.


"Bego! Kenapa lo diem aja, bloon!" pekik Derry lalu menarik tangan Armand.


Sontak Armand terkejut lalu seperti tersadar dari lamunannya. Ternyata Armand sejak tadi terhipnotis dan dibuat tercengang tanpa ada keinginan untuk pergi ataupun lari.


Mereka bertiga langsung lari meninggalkan rumah tersebut diiringi suara tawa cekikikan khas makhluk halus yang biasa dipanggil kuntilanak.


"Gila! Lo kenapa diem aja sih, Man! Udah tahu itu setan! Malah bengong!" maki Derry begitu mereka sudah menjauh dari rumah itu dan sampai di pemukiman warga.


"Gue nggak tahu kenapa begitu. Jadi nggak ada keinginan buat kabur. Hah! Jangan jangan itu setan sengaja bikin gue diem kayak tadi!" pekik Armand.


"Ih, gimana dong! Mana nanti kita harus lewat rumah itu lagi. Ya Allah, serem banget!" rengek Ike.


"Ya udah, nanti kita lewat jalur lain aja," tukas Armand.


"Lewat mana? Jangan bilang lo ngajakin kita lewat hutan, ya, Man!" tukas Derry.


"Iya, emang. Lewat mana lagi coba?"


"Armand!" jerit Ike dan Derry bersamaan.