
Setelah liburan kemarin, hari ini aku ingin di rumah saja.
Indra yg janjian pergi dengan herman awalnya mengajakku, namun aku menolak karena rasanya aku sangat letih.
Akhirnya indra pergi sendirian bertemu dengan herman.
Tak berapa lama, Indah menghubungi ku. Wah, tumben.
"Hai, ndah. ya ampun lama banget baru ada kabar. ke mana aja sist?" tanyaku heboh.
"Heh. nanya satu satu kali. Gak sabaran banget. Eum nis, kamu bisa ke sini gak??" tanyanya dengan nada aneh.
"Kamu di mana sih??"
"Aku di restoran langganan kita. Sini ya, aku tunggu sekarang! Harus pokoknya," katanya serius.
"Duh, segitu kangennya sama aku. Iya deh, aku ke sana. Aku siap siap dulu ya. bentar," kataku lalu menutup telepon dan bersiap siap
"Kak, aku ketemu sama Indah dulu ya. kalau nanti Indra pulang, nanyain. Tadi aku telfon hapenya gak aktif," kataku pamit ke kak Shinta.
"Okeee. Hati hati, Nis."katanya kak shinta.
Aku pergi diantar supir lagi.
Tak lama sampai juga direstoran itu.
Segera aku masuk sambil mengirim pesan ke Indah. Tiba tiba indah sudah nongol di depanku.
"Ya ampun, nganggetin tau..." kataku kesal lalu aku ditarik indah ke meja yg agak di pojok.
Aku heran melihat tingkahnya.
"Apa sih ndah?" tanyaku.
Dia malah menutup mulutku dengan tangan kanan nya.
"Tuh liat," bisik Indah sambil menunjuk ke sebuah meja yg tak jauh dari kami.
Aku terbelalak, hatiku rasanya sakit sekali.
Di hadapanku aku melihat indra duduk bersama Diana.
Mereka terlihat asik becanda. bahkan indra sesekali membetul kan rambut diana yg menutupi wajahnya.
Badanku rasanya terbakar api. Panas..
"Kurang ajar! katanya mau ketemu herman!! Dasar pembohong!" lalu aku berdiri dan menuju ke meja indra.
Indah panik, berusaha mencegahku namun tidak bisa.
Saat sudah sampai di depan diana, dia kaget melihatku, indra yg belum menyadari kedatanganku menatap diana bingung.
''Kenapa?" tanya indra ke diana.
Diana mengisyaratkan melihat ke belakang indra.
Begitu dia mau menoleh, aku langsung mengambil air yg ada di depan indra dan menyiramkan ke wajah indra dengan emosi.
"Nisaa?" indra kaget melihatku ada di sini juga.
"Kamu! Udh mulai bisa bohong ya. katanya mau ketemu herman? ini herman nya? kok jadi cantik bgt sih??!!" kataku penuh emosi.
"Nis, aku bisa jelasin.."katanya.
Dia merasa menyesal sekali.
Aku tidak peduli lagi lalu pergi meninggalkan nya.
Indah hanya diam tak berani berkomentar.
Aku sedikit berlari meninggalkan restoran dengan menangis tentunya.
Indra mengejarku dan dengan mudahnya dia sudah ada di hadapanku.
"Nis, aku bisa jelasin. Itu gak seperti yg kamu bayangkan.."katanya sambil berjalan mundur.
"Trus? penjelasan kamu apa??!!" tanyaku tanpa menghentikan langkahku.
"Aku gak sengaja ketemu diana. tadi nunggu herman gak dateng dateng. jadi ngobrol sama dia.."katanya.
Aku yg gelap mata tidak peduli penjelasan indra. Sampai di depan restoran kulambaikan tanganku ke taksi yg ada di depan.
Indra menarik tanganku.
"Nisa, pleasee. jangan gini.. Aku beneran gak sengaja ketemu diana."katanya memelas.
"Terserah. Sana lanjutin sama cewek kamu!!"aku segera masuk mobil dan menguncinya.
"Cepet pak jalan!!"pintaku ke sopir taksi itu. indra menghalangi di depan taksi.
"Duh mba gimana nih.. Saya bisa masuk penjara kalo nabrak mas nya. anak saya banyak mba.."kata nya memelas.
"Udh, maju aja pak, nanti juga dia minggir.."kataku yakin.
Akhirnya pak supir maju perlahan, indra malah ditarik oleh diana menjauh. Hatiku makin sakit. Kulihat dari belakang kaca mobil, mereka terlibat obrolan, diana membelai punggung indra berusaha menguatkannya.
Tangisku makin pecah.
Krriiinngg
Ponselku berdering.
Mamah indra menelfonku.
"Ya, mah."jawabku dengan suara terisak.
"Nis? kok kamu kaya nangis?ada apa??"tanya mamah cemas.
"Gak papa..mamah kenapa telfon nisa?"
"Kamu ke sini ya..mamah tadi beliin kamu kerudung. Bagus bagus deh.."kata mamah.
"Iya, nisa ke sana.."jawabku.
Akhirnya aku ke rumah mertuaku.
Sampai depan. seperti biasa, para penjaga menghampiri taksi ku. aku keluar setelah membayar taksi.
"Eh, mba nisa.. Kok sendirian?" sapa pak Puji ,salah 1 pengawal papah.
"Iya pak.. Mamah di dalem ya?" tanyaku sambil menyembunyikan wajahku.
"Ada. masuk mba." gerbang dibuka, dan aku segera masuk ke dalam.
"Assalamualaikum.."
"Wa alaikum salam. eh udah nyampe, kok sendirian sayang?"tanya mamah heran.
"Iya, pengen aja mah," jawabku mencoba menahan air mata yg hendak jatuh lagi.
"Kamu ribut sama indra?" tanya mamah yg sudah bisa menebak situasi.
Aku hanya mengangguk diiringi derai air mataku.
"Mamah jangan bilang indra,nisa di sini. Nisa pengen sendirian dulu."pintaku.
"Hmm. iya.. Mamah gak bilang. kalo boleh mamah tau, ada masalah apa?" tanya mamah lembut.
Papah yg baru datang melihatku heran karena menangis.
Saat kuceritakan kejadian barusan ,papah hanya geleng geleng kepala. mamah lalu memelukku.
"Sabar.. Indra pasti punya alasan nis. mamah kenal indra dari kecil,paham gimana wataknya," jelas mamah.
"Kalo indra macem macem sama perempuan itu, papah orang pertama yg akan hajar dia habis habisan nis.."kata papah datar.
Aku hanya diam. aku dibuatkan minuman hangat.
Aku menatap papah& mamah bergantian.
"Kok indra ke sini??" tanyaku
"Mamah gak bilang lho.."
"Papah juga.."
Aku merapatkan pelukanku ke mamah.
Indra masuk dgn tergesa gesa.
"Pah, nisa di sini kan?" tanyanya dengan nafas ngos ngosan.
Aku memang tidak terlihat karena tertutup sofa.
Papah hanya melirikku sebagai jawaban atas pertanyaan indra.
Indra mendekat perlahan.
Dia langsung jongkok di depanku.
"Nis, jangan marah dulu. dengerin aku dong. aku udh bilang kan. aku gak sengaja ketemu diana.."katanya masih dengan jawaban yg sama.
"Terus knapa pake belai belai kepalanya segala??!" tanyaku jutek bahkan tidak melihatnya sama sekali.
"Tadi itu, dia lg cerita masalahnya. Waktu ketemu di restoran, dia lagi berantem sama cowoknya. Sampai dia dipukul nis. Aku kasian dong. aku tolongin dan soal belai belai,aku bener bener gak sengaja. Aku ngrasa, duh gimana ya... Please, aku beneran gak ada apa apa sama diana. Aku cuma sayang sama kamu. Nggak ada yg lain."jelasnya panjang lebar.
Mamah dan papah hanya menatap kami. ikut mendengarkan.
Indra meraih tanganku, lalu menggenggamnya. Kurasakan dia memang tulus, dan dia jujur sejauh ini. Hanya saja aku yg terlalu cemburu tadi.
Aku agak melunak. Tapi aku belum bisa memaafkan& melupakan nya .
"Yuk, kita ngobrol di kamar aja.."ajaknya sambil menarik tanganku.
"Pah, mah, bentar ya.."pamit indra.
Mamah menatap kami iba, papah hanya geleng geleng ,seperti emosi yg tertahan.
Indra membawaku ke kamarnya.
Setelah masuk pintu ditutup dan dikunci.
Aku berjalan ke balkon kamarnya. Rasa marah masih ada di hatiku, dan aku malas jika melihatnya sekarang.
Dia memelukku dari belakang dengan rasa penyesalan yg mendalam.
"Maaf, please... Aku janji gak akan gini lagi," bisiknya ditelingaku
Aku menangis mendengarnya.
Setelah dibujuk beberapa lama,
Akhirnya aku luluh juga..
Karena ini pertama kalinya aku benar benar semarah ini karena terbakar cemburu.
Aku berbalik menatapnya.
"Bener? kamu janji gak akan ngulangin itu lagi?" tanyaku menegaskan
"Iya, aku janji nis. aku gak akan mau ketemu lagi sama diana/cewek manapun," katanya sambil menghapus air mataku.
"Kamu mau maafin aku kan sayang," pintanya memelas.
Aku mengangguk sambil mengecup telapak tangan indra yg sedang ada di pipiku. dia langsung memelukku erat.
Dan terus berbisik mengatakan maaf'...maaf..maaff...
Dia lalu mengecup keningku, turun ke kedua bola mataku, lalu mengecup bibirku lembut.
Kami berdamai.
Dan memutuskan menginap di sini hingga besok.
\=\=\=\=\=\=\=
Mamah memanggil kami untuk makan malam. Indra mengajakku turun ke bawah.
Sampai di ruang makan, mamah & papah senyum senyum melihat kami yg sudah berdamai.
"Nah, gitu dong. damai. Jangan pada ribut."kata mamah.
"Berantem dalam suatu hubungan itu wajar.. Asal kita selalu berkepala dingin dalam menyikapinya.
Jangan emosi yg didahulukan. Kamu juga ndra, ngertiin perasaan istri, wajar nisa marah kaya tadi ngliat kamu sama perempuan lain. Mamah kamu aja dulu sering ngamuk. ngacak ngacak rumah orang segala. hahahaha"kata papah.
Mamah mencubit papah dengan wajah memerah.
"Permasalahan dalam rumah tangga jauh lebih berat. Kalian harus sama sama menguatkan.
Saling percaya ,saling mengerti satu sama lain. Jangan mudah terpengaruh pihak luar," nasehat mamah.
"Iya mah.."jawab kami bersamaan.
Kami melanjutkan makan dengan celotehan indra dan tanggapan papah yg terkesan melucu.
Aku dan mamah hanya tertawa melihatnya.
\=\=\=\=\=\=\=
Selesai makan, papah& mamah kedatangan tamu. Karena belum ngantuk aku duduk di halaman belakang bersama mbok Nah, asistent rumah tangga di rumah papah &mamah.
Mbok Nah ini orangnya asik diajak ngobrol, baik sekali. Beliau asli Semarang. Umurnya sekitar 60thn.
Indra sedang mengerjakan laporan di ruang kerja papahnya, karena dia tidak membawa laptopnya.ku tinggalkan saja, dari pada aku menganggu.
Kalau sudah ngobrol dengan mbok Nah aku betah sekali. Dengan makan cemilan buatan mbok Nah yg pasti enak banegt. Aku makin asik ngobrol sambil ketawa ketiwi.
Lalu indra masuk ke dapur. Di rumah ,dia hanya memakai celana pendek selutut & kaos oblong yg pas di badannya. Sehingga badannya yg atletis tercetak jelas.
"Kirain ke mana. di sini rupanya.."kata indra begitu melihatku sedang ngobrol dengan mbok Nah.
"Iya, lagi ngobrol sama mbok Nah..hehe. kamu udah selesai?" tanyaku.
"Udah, yuk ke kamar. Udah malem. Besok kamu kerja kan?" tanyanya.
"Iya, ya udh deh.. Mbok tidur dulu ya.. Jangan capek capek. istirahat juga nanti lho.." kataku.
"Njih, mba nisa.."katanya sambil senyum.
Indra menggandengku ke kamar.
Begitu sampai kamar, aku kaget. karena banyak sekali bunga mawar putih ditata dengan rapi di lantai. Ada juga di atas ranjang. ada lilin juga yg membentuk gambar hati.
Indra senyum senyum melihatku kaget.
"Sayang, kamu yg bikin semua ini??" tanyaku kagum.
"Iya, spesial buat kamu. Sebagai permintaan maaf, dan sebagai ucapan sayang buat kamu. " dia lalu mengandengku masuk.
"Suka gak?" tanyanya.
"Ya suka banget lah.."kataku masih kagum.
Indra menyalakan music player nya dan terdengar lagu Christina Perry, a thousand year mengiringi malam kami.
Aku hanya senyum, tidak menyangka dia akan melakukan hal ini. Narena dia termasuk jarang memberikan surprise di luar ulang tahunku.
Ternyata dia tadi tidak ada di ruang kerja papah, dia menyiapkan kejutan ini untuk ku.
Dasar...
Kami menghabiskan malam di kamar berdua diiringi lagu romantis.