Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
24. curhatan Pak Slamet


Ratno tersedak kopi yang baru saja dia minum. Dia menoleh ke Aretha karena pertanyaan wanita itu yang baru saja mengejutkannya.


"Jadi Mbak Aretha di ganggu anak kecil di rumah?"


"Iya, Pak. Jadi bener itu adalah Keisha anaknya Pak Ibrahim yang katanya meninggal di rumah ini, dan dimakamkan di halaman belakang rumah?" tanya Aretha serius sambil menatap Pak Slamet dan Ratno.


Kedua pria itu hanya saling tatap seakan-akan ragu untuk membahas masalah ini.


"Nggak apa-apa cerita aja sama saya. Saya nggak papa kok," ujarnya agar dua orang di depannya itu mau terbuka perihal masalah ini.


"Kalau memang mbak Areta melihat penampakan sosok anak kecil perempuan mungkin itu memang Keisha. Karena selama kami ada di desa ini penampakan anak kecil yang biasanya terlihat di sekitar rumah ini hanyalah Keisha saja," jelas Pak Slamet.


"Terus kalau sosok perempuan di depan sana, siapa, Pak?" tanya Aretha sambil menunjuk ke kebun teh depan rumah.


Sontak kedua pria itu menatap ke arah yang Areta tunjuk. Lagi-lagi Ratno dan Pak Slamet tampak kebingungan untuk menjawab pertanyaan Areta.


"Perempuan yang mana, ya, Mbak?" tanya Ratno.


"Biasanya saya melihat perempuan itu berdiri di tengah kebun teh sana. Dia pakai gaun warna merah. Berdiri di tengah kebun dan hanya memperhatikan rumah ini. Kira-kira itu siapa ya? Apa dia juga salah satu sosok yang sering menampakan diri di desa ini, selain Keisha?" Tanya Areta lagi.


Ratno kini menatap Pak Slamet. Sementara pria paruh baya itu tampak menunduk dengan raut wajah yang sedih. Areta mengerti alasan Pak Slamet melakukan hal itu. Tetapi dia pura-pura tidak tahu dan sengaja menanyakan hal ini untuk mendapatkan penjelasan yang lebih akurat dari Pak Slamet sendiri.


"Apa mungkin itu Kinanti, Pak?" tanya Ratno.


" Kinanti? Siapa Kinanti? " tanya Areta menatap kedua pria itu bergantian.


" Kinanti itu anak pertama saya. Kakaknya Ridho."


"Ya ampun. Jadi maksudnya Kinanti itu sudah meninggal Pak?" tanya Areta lagi dengan ekspresi bingung terkejut yang menjadi satu. " Memangnya kenapa, Pak? Eh, tapi saya minta maaf sebelumnya, kalau pertanyaan saya membuat Pak Slamet jadi sedih, dan Kalau Pak Slamet nggak mau menjawab pertanyaan saya juga nggak apa-apa kok, Pak."


"Hem, bukan begitu, Mbak. Saya baik-baik saja kok. Cuma kaget aja kalau tiba-tiba mbak Areta bercerita seperti itu. Padahal mbak Areta belum ada satu bulan tinggal di sini, tapi justru malah sering melihat penampakan Kinanti, anak saya. Sementara saya sebagai ayahnya tidak pernah ditampakkan apapun selama ini."


Mereka melirik ke arah Ratno. Kayaknya mengkerut seperti sedang bertanya kepada Ratno tentang situasi yang sedang terjadi sekarang.


"Eh, Pak. Mungkin karena Mbak Areta adalah orang yang sensitif, yang memiliki kemampuan melihat makhluk-makhluk yang tidak tampak oleh kita. Soalnya Mbak Areta ini dulu adalah orang yang pernah tersesat di Dusun Kalimati, Pak. Pak Slamet Ingatkan cerita itu?" tanya Ratno.


"Dusun Kalimati? Oh, yang kejadian dulu itu, To? Mbak Aretha yang tinggal di dusun itu, padahal di sana nggak ada kehidupan?" Tanya Pak Slamet antusias.


"Iya. Mbak Aretha sama temannya yang kemarin di dusun itu, Pak. Jadi otomatis kan mereka berinteraksi sama makhluk di sana. Jadi pasti Mbak Areta itu sensitif terhadap makhluk halus. Iya, kan, Mbak?" tanya Ratno


"Eh, eum, iya. Hehe. Yah, begitulah, Mas Ratno. Jadi kalau misal membahas tentang sensitif, ya memang saya sensitif sama keberadaan makhluk halus. Kebetulan saya punya saudara kembar, dan saudara kembar saya juga sama seperti saya. Makanya waktu datang ke sini... Saya nggak terlalu kaget tentang gangguannya mereka. Cuma penasaran aja sih lebih tepatnya. Tapi bener? Kalau Keisha itu dikuburkan di belakang rumah?" tanya Aretha kembali ke topik pembicaraan.


"Kalau Keisha memang benar di makamkan di belakang rumah ini, Mbak. Kan ada batu nisan nya di belakang dekat pohon beringin. Mbak Aretha belum pernah jalan jalan ke belakang rumah, ya?" tanya Pak Slamet.


'Hah? Batu nisan? Pohon beringin? Lengkap sudah!' batin Aretha.


"Ada kebun dan kolam ikan. Wah, Mbak Aretha harus lihat. Karena pasti akan suka," ujar Pak Slamet.


"Hehe. Mungkin saya akan suka, kalau nggak ada makam nya," kata Aretha cengengesan.


Ratno ikut tertawa begitupun Pak Slamet. Mereka bertiga sedang duduk di teras rumah sambil menikmati camilan yang sudah dibeli oleh Bu Jum di warung Bu Darsi. Siang itu pekerjaan di kamar mandi lantai 2 sudah dalam tahap setengah jadi. Pendapat Radit tentang berhenti meneruskan pekerjaan tersebut tidak dihiraukan Areta. Dia justru ingin kamar mandi di lantai 2 itu segera selesai diperbaiki.


"Mengenai Kinanti, saya sendiri pun tidak tahu apakah dia masih hidup atau sudah meninggal," kata Pak Slamet tiba tiba.


Tawa Areta dan Ratno meredup. Apalagi saat melihat wajah Pak Slamet tampak serius.


" Sebenarnya apa yang terjadi dengan Kinanti, Pak? Apa dia diculik atau bagaimana. Kenapa Pak Slamet selaku orang tuanya justru tidak tahu keberadaan Putri bapak sendiri?" Mereka sadar kalau pertanyaannya pasti sedikit menyakiti hati Pak Slamet. Tetapi apalah daya terkadang Areta memang suka cepat-ceplos dalam bertutur kata. Apalagi dia sudah sejak lama diliputi rasa penasaran terhadap sosok wanita bergaun merah yang sering ia lihat di desa ini, terutama di kebun teh depan rumah.


"kejadian itu sudah sangat lama terjadi. Tiba-tiba Kinanti tidak ada di rumah dan sudah tidak pulang hampir 3 hari lamanya. Akhirnya saya melaporkan hal itu ke pihak polisi. Saya memang tidak tahu ke mana anak saya pergi. Yang saya khawatirkan adalah anak saya diculik atau terjadi hal buruk kepada dia karena Kinanti bukan tipe anak yang pemberontak. Dia sangat menurut dan baik selama ini. Malam itu saya baru tahu kalau ternyata sebelum Kinanti menghilang dia habis bertengkar dengan istri saya."


"Sama Bu Jum? Memangnya ada masalah apa Pak?"


"Kata istri saya, cuma masalah sepele. Katanya Kinanti ingin pergi ke kota karena hidup di desa yang penuh dengan keterbatasan. Dia ingin bisa meraih cita-citanya. Sejak kecil Kinanti ingin bisa bekerja di kantoran. Tetapi kami ini hanya warga desa biasa dan Kinanti pun hanya sekolah sampai SMP saja karena keterbatasan biaya. Jadi rasanya tidak mungkin kalau dia bisa bekerja di kantoran seperti orang-orang kebanyakan. Tapi kata bu Jum Kinanti ngotot minta izin untuk pergi ke kota karena ada panggilan kerja di salah satu kantor di Jakarta. Karena alasan itulah mereka bertengkar dan tiba-tiba Kinanti pergi dari rumah. Begitulah ceritanya sebelum Kinanti hilang."


"Oke, kalau memang ceritanya seperti itu ada kemungkinan kalau Kinanti itu memang pergi ke kota kan, Pak? Tapi kenapa bapak bilang kalau Kinanti bisa saja sudah meninggal. Memangnya ada buktinya?"


" satu minggu setelah kami melaporkannya ke polisi tiba-tiba ada yang menemukan pakaian yang dipakai oleh Kinanti saat hari terakhir Dia terlihat. Gaun merah. Dan itu ditemukan di sungai yang ada di bawah tebing. Melihat pakaian Kinanti di sana pikiran buruk tentu saja mulai muncul, kan Mbak Areta. Saya jadi berpikir kalau sebenarnya Kinanti itu belum pergi ke kota tapi malah sudah meninggal. Entah bagaimana dia meninggal, tapi pakaian yang terakhir dia kenakan memang itu dan akhirnya Saya dan istri saya sudah merelakan kepergian Kinanti."


" jadi sekalipun sudah dilaporkan ke polisi nggak ada hasil sama sekali Pak? Bahkan sampai sekarang?"


"Nggak ada, mbak. Makanya saya sedikit kaget waktu Mbak Areta bilang melihat sosok perempuan dengan Gaun Merah di sekitar sini. Karena bukan hanya Mbak Aretha saja yang pernah melihat ada sosok wanita bergaun merah di desa ini Tapi beberapa warga lain juga pernah melihatnya dan mereka meyakini kalau itu adalah Kinanti."


"Hem, jadi begitu, ya. Ya sudah nanti coba saya cari tahu lagi ya pak. Siapa tahu nanti saya melihat Kinanti lagi. Kalau memang dia muncul saya akan coba mengajak dia berbicara."


"Eh, serius, Mbak? Bisa?" tanya Ratno yang sejak tadi diam menyimak pembicaraan ini.


"Yah, seharusnya sih bisa. Apalagi kalau Kinanti memang sering menampakan wujudnya ke saya. Mungkin saja dia memang ingin menyampaikan sesuatu lewat saya."


"Terima kasih, Mbak Aretha. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih kalau mbak Areta berniat seperti itu. Tolong kasih tahu juga kalau saya kangen sama Kinanti."


Hati Areta terenyuh saat melihat ekspresi Pak Slamet yang benar-benar tampak kehilangan dan merindukan sosok Kinanti. Sepertinya memang telah terjadi hal buruk dengan Kinanti. Dia pun benar-benar bertekad untuk menemui Kinanti jika nanti Gadis itu kembali menampakkan wujudnya di depan Areta.


"Iya, Pak. Jangan berterima kasih dulu titik Bapak tunggu saja kabar dari saya nanti. Tapi saya juga tidak bisa menjanjikan apapun untuk bapak."


" Tidak apa-apa, Mbak Aretha. Saya memang sudah tidak berharap banyak mengenai keberadaan Kinanti. Saya hanya ingin tahu saja dia itu masih hidup atau sudah meninggal. Supaya saya tenang. Tidak terus-menerus berharap dan dikecewakan oleh keadaan."


"Yang sabar, Pak." Ratno mengelus punggung Pak Slamet yang duduk di sampingnya, berusaha memberikan kekuatan untuk pria itu.


***