
Pov Aretha
"Kak ... Yuk, pulang," ajakku
Kini aku sedang ada di kelas Kak Arden. Memang sudah menjadi kebiasaan kami. Jika salah satu sudah pulang lebih dulu, maka yang lain akan mendatangi kelas dan berakhir dengan pulang bersama.
Kak Arden yang sedang membereskan buku-buku nya, menoleh. Kemudian menolak ajakan ku. "Kamu pulang sama Radit aja, ya. Kakak masih ada urusan di sekolah. Mau ke mushola," ucapnya.
"Hah? Mau ngapain?" kini aku duduk di kursi samping meja Kak Arden, merajuk dan sedikit kesal.
"Ya udah. Pulang bareng aku aja, Tha," kata Radit menimpali.
Mereka ini memang duduk sebangku sejak awal masuk sekolah.
"Iya. Itu sih gampang nanti. Tapi kakak mau ngapain? Bukannya nggak ada EKSKUL hari ini? OSIS juga perasaan udah nggak banyak kegiatan, kan? Danu sama Dion aja udah pulang tuh," cetus ku heran.
Memang akhir - akhir ini Kak Arden sering sekali ijin ke mushola. Aku juga bingung kenapa. Kalau istirahat juga kadang ke mushola. Kalau nggak, biasanya ke perpustakaan. Udah jarang kulihat ada di kantin.
"Emang nggak ada EKSKUL, Tha. Kakak mau salat di mushola dulu."
Aky meliriknya curiga, namun apa boleh buat. Kalau itu yang dia inginkan.
"Oh gitu. Ya udah deh. Aku balik sama Radit jadinya?" tanyaku lagi.
Kak Arden mengangguk. Akhirnya aku pergi meninggalkan kelas dan Kak Arden. Pulang bersama Radit.
Sepanjang jalan aku dan Radit banyak diam. Aku agak kikuk setelah dia bilang kalau sudah ijin bunda. Jadi maksudnya apa, ya?
Hubungan kami apa dong sekarang.
"Eh Tha. Kamu udah tau belum kalo Arden lagi naksir cewek?" tanya Radit memecah kesunyian di antara kami. Mungkin kalau kami naik motor tidak akan berpengaruh banyak, jika tidak ada pembicaraan apa pun. Sayangnya kami naik mobil sekarang.
"Hah! Serius? Siapa?!" Aku benar benar terkejut dengan kalimat Radit barusan.
Karena seumur umur, Kak Arden ini belum pernah dekat sama perempuan lain selain aku dan Bunda. Jadi ini pertama kalinya. Wajar saja aku terkejut.
"Jadi kamu belum tau, Tha?" tanya Radit.
"Belum. Aku malah baru tau dari kamu nih!"
"Kata Danu sih anak kelas dua. Namanya ... Al ... Alya! Iya bener. Alya," jelas Radit sambil menerawang mengingat nama perempuan itu.
"Alya? Kls 2?" tanyaku, lalu diam sambil membayangkan seperti apa sih wanita yang bernama Alya? Sampai - sampai Kak Arden tertarik padanya. Dia pasti bukan wanita sembarangan. Aku yakin itu.
"Iya. Coba deh kamu tanya Arden. Kayaknya sih Alya spesial banget. Tumben tumbenan si Arden naksir cewek. Kupikir dia gak normal." Dia lantas tertawa. Aku melirik dan langsung mencubit lengan kirinya, gemas. Alhasil aku mendapat balasan ditatap dalam oleh pria di sampingku ini.
Dan sikapnya berhasil membuatku salah tingkah, kembali menatap ke depan. Jalanan sepi karena barusan diguyur hujan.
"Eh, Tha," panggil Radit pelan.
"Hm." aku sama sekali tidak menoleh ke Radit.
"Kita makan bakso dulu yuk," ajaknya.
"Ayuk!" kataku semangat.
Dia tersenyum lalu kami menuju warung bakso langganan ku yg letaknya ada di dekat alun alun.
Aku sangat suka makan bakso di sana bersama Kiki. Kami berdua adalah pecinta bakso dan sudah menjajal warung bakso di seluruh kota ini. Dan di sana adalah yang terbaik.
Kami sampai. Lahan parkir nya cukup sempit. Dan aku yakin di dalam pasti ramai. Semoga kami masih mendapatkan tempat duduk di dalam.
Radit segera memesan 2 porsi bakso kami. Kami memilih duduk di meja tengah di mana tempat itu baru saja di tinggalkan pelanggan sebelumnya. Masih berantakan dengan bekas mangkuk yang sudah habis.
Aku meraih ponselku.
"Mau ngapain, Tha?" tanya Radit yang duduk di hadapanku.
"Ngabarin Bunda. Takut nyariin," jawabku santai.
"Nggak usah. Aku udah kasih tau Bunda kok barusan," katanya membuatku melongo dan menutup kembali benda pipih ini.
Baiklah, Bunda sama Radit sudah saling tukar nomor HP nih kayaknya.
"Eh, Tha. Kamu kenapa suka makan di sini? Kan ada tuh, warung bakso deket sini juga yang enak. Terkenal banget, kan?" tanyanya.
"Duh,nggak deh. Nggak bakal makan di sana aku," jawabku sambil menekan kepala.
"Kenapa?"
Es jeruk pun datang. Aku langsung menyeruputnya karena udara panas yang sudah membuatku haus sejak tadi.
"Aku pernah diajak Kiki ke sana, kan, " ucapku sambil meminum es jeruk
"Terus? Nggak enak? Enak kan? Aku aja sering nya ke sana malah."
"Jadi habis kami baru parkir motor. Kan langsung masuk ke depan warungnya, kepalaku langsung pusing. Terus ... Aku lihat anak kecil lagi nangkring di atas kuali nya sambil ngiler. Air liurnya netes ke kuali kuah baksonya, Dit. Itu yang bikin enak," jawabku sambil mengaduk es jeruk dengan sedotan.
Radit sontak tersedak es jeruk.
Dia melotot melihatku.
"Serius, Tha?!"
"Iyalah, masa aku becanda."
"Ih... Sialan!" umpatnya kesal.
Dia memang sering makan di sana katanya. Soalnya tempat fitnes dia dekat sama warung bakso itu.
Dan warung bakso itu salah satu tempat makan yang memakai jin penglaris. Di kota ku memang ada beberapa tempat makan yang melakukan hal ini. Bahkan mungkin banyak lagi di kota lain.
Bakso datang dan kami langsung makan.
"Tha.. Nih." Radit menyuapiku tetelan. Dia tau, kalau ini yang kusuka dari bakso di sini.
Dan, aku mau saja disuapin seperti itu.
Sekitar 30 menit kami di sana. Bakso kami habis. Setelah membayar kami pulang.
________
Hari menjelang sore saat kami sampai rumah. Ternyata Kak Arden sudah pulang, dan kini sedang ngobrol dengan Bunda dan Ayah di teras.
"Assalamualaikum," sapaku setelah turun dari mobil Radit.
Radit pun ikut turun dari mobil dan salim ke Ayah dan Bunda.
"Hm... Pacaran dulu nih pasti," ledek Kak Arden.
"Enak aja. Habis makan bakso. Bunda tau, kan?" tanyaku sambil menatap Bunda yang sedang menyesap teh nya.
Bunda hanya mengangguk dan tersenyum.
"Sini, Dit. Duduk dulu," kata Bunda ramah.
Aneh memang. Bunda kalau tentang Radit selalu lunak. Radit ini pakai pelet apa, ya.
"Kak, kenalin dong, sama gebetan baru kakak," ledekku sambil senyum senyum nakal ke Kak Arden.
"Gebetan baru apaan? Ngarang deh kamu. Elu pasti ya, Dit. Dasar ember!" kesal Kak Arden melotot ke Radit.
Radit hanya cengengesan.
"Gebetan?" Bunda tengak tengok bergantian ke aku dan kak Arden meminta penjelasan.
"Apa sih, Nda. Ngeliatinnya gitu amat." Kak Arden salah tingkah.
"Kayaknya anak Ayah udah pada punya gebetan semua, ya," gumam Ayah sambil berdeham.
"Aretha jangan didengerin, Yah. Dia kan suka usil," elak Kak Arden.
"Ih, masih aja ngelak. Tanya tuh Radit. Dia aja tau, Yah. " Aku makin menyudutkan Kak Arden.
Aku juga heran kenapa kak Arden merahasiakan semua ini dari kami. Mungkin malu.
Alhasil Kak Arden menjadi target interogasi Bunda. Ayah hanya menyimak sambil menikmati kopinya.
Radit ada di rumah kami sampai menjelang maghrib. Akhir-akhir ini dia memang sering ada di rumah kami. Bahkan hampir setiap hari.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Pagi ini setelah sampai parkiran. Aku berencana ke ruang musik karena ada buku yang kemarin tertinggal di sana.
Sampai di sana, sudah ada seorang wanita yang sedang bermain piano seorang diri.
Awalnya aku ragu untuk masuk namun dia kemudian tersenyum padaku saat mengetahui aku berada di depan pintu.
"Maaf, mau ambil buku aja kok. Ketinggalan," kataku terpaksa masuk sambil cengengesan.
Dia hanya melempar senyum padaku.
Dia lalu berhenti main piano.
"Iya, nggak apa-apa. Aku juga udahan kok ini. Mau balik kelas. Oh iya kamu kelas satu, ya?" tanyanya padaku.
"Iya, mbak nya kelas berapa?" tanyaku balik.
"Aku kelas dua. Nama kamu siapa?kamu yang suka nge-band juga kan ya di sini, ya?"
"Iya, mba. Oh iya, aku Aretha. Mba siapa?"
"Aretha? Aku Alya," ucapnya.
Aku menelan ludah dan melotot menatap wanita di depanku ini.
'Alya? apa ini yang namanya Alya? Yang Kak Arden suka?' batinku.
"Kok bengong?" tanyanya.
Aku memang diam saja, setelah dia bilang namanya Alya.
"Eh, enggak kok. Hehe." Aku malah jadi salah tingkah.
"Ya udah yuk, keluar. Sebentar lagi masuk," ajaknya.
Kupandangi terus dia. Dan ini pertama kalinya aku melihat gadis pujaan kakakku. Dia sepertinya baik, ramah, sopan dan cantik. Pantas saja kak Arden suka sama dia.
"Oh iya. Eum, mba Alya kenal kak Arden?" tanyaku.
Dia menghentikan langkahnya lalu menoleh padaku.
"Kamu? Aretha adiknya Arden?" tanyanya.
Aku mengangguk, dia malah senyum senyum.
"Ya ampun. Maaf ya, aku baru tau. Pantas aja, nama kamu nggak asing. Soalnya Arden nggak pernah kasih tau kamu seperti apa. Aku cuma denger aja, dia sering cerita soal kamu," jelas nya.
Suaranya halus dan lembut. Aku merasa nyaman ada di dekatnya.
"Emang kak Arden cerita apa?" tanyaku penasaran.
"Ya banyak. Soal kamu." Kami lalu berjalan bersama menuju kelas. Kebetulan kelas mba Alya searah denganku. Dan kami malah asyik ngobrol. Ternyata mbak Alya enak juga diajak ngobrol, orang nya asik.
"Ya udah, Tha. Aku duluan, ya." Dia pamit karena sekarang kami sudah ada di depan kelasnya. Sampai nggak sadar.
Namun ... Saat Mbak Alya masuk kelas, aku merasa ada sesuatu yang mengikutinya. Samar samar tapi tidak begitu jelas.
Kuamati terus hingga mba Alya duduk di bangkunya.
Ada yang aneh. Tapi aku belum tau apa.