
Ini hari pertama masuk sekolah setelah liburan kemarin, dan hari ini kami resmi menjadi anak kelas 3.
Di kelas 3, kami terpecah menjadi 2 kelompok. alias kelas kami berbeda, tidak seperti saat kelas 2, kami berkumpul menjadi 1 kelas.
Aku sekelas dengan Kiki, Doni, Danu, Ari dan Dion. Sisanya di kelas sebelah.
"Tha.. Kantin yuk," ajak Kiki.
"Yuk."
Hari ini sampai 3 hari ke depan masih diadakan MOS, dan kelas 2 dan 3 sering mendapat jam kosong.
Kantin cukup ramai siang ini.
Aku hanya berdua saja dengan Kiki.
Aku memesan segelas jus alpukat dan kiki memesan jus mangga dan roti bakar, tidak lupa semangkuk bakso dan siomay.
Ini anak laper apa rakus ya?
Kiki asik makan sambil sesekali ngoceh ngalor ngidul, aku tidak begitu fokus dengan apa yg dia bicarakan karena keadaan sekitar kami cukup ramai dan aku sedang mengamati beberapa anak baru yg sedang ikut MOS hari ini.
Radit dan beberapa anak, sedang bermain basket di lapangan basket yg dekat kantin.
Sesekali Radit melambaikan tangan kepadaku sambil senyum senyum.
Ada satu orang yg cukup menarik perhatianku. Dia adalah ayu.
Anak kelas 2, yg cukup terkenal di sekolah karena kecantikan nya dan kepandaian nya juga.
Ayu terlihat aneh, berkali kali dia mengajak teman teman nya ngobrol, namun ayu selalu diabaikan.
Padahal kelompok mereka itu sangat kompak. Ke mana mana selalu bersama sama.
Bahkan kulihat ayu ditinggalkan begitu saja oleh teman teman nya.
Mungkin mereka sedang ada masalah, pikirku.
"Heii...." sapa Doni dan yg lainnya.
Mereka baru saja selesai bermain basket barusan.
Radit langsung duduk di sampingku sambil menyambar jus alpukat ku.
"Seger banget, ya." katanya santai.
"Ya ampun, keringetnya, Dit," kataku sambil melihat keningnya.
"Iya.. Pada bau tau gak sih? Main basket dari jam berapa coba?"tanya Kiki.
"Baru juga sejam, beib," sahut Doni.
"Mandi gih.." suruh Kiki.
Kubiarkan saja mereka ngoceh gak jelas.
Ayu terlihat berjalan masuk ke kantin dengan langkah gontai. Lalu duduk di sebuah kursi yg masih kosong, dia terlihat sedih sekali. Bahkan kulihat dia juga menangis.
Aneh sekali, tidak ada yg peduli pada Ayu. Padahal kalau ada yg nangis gini, pasti banyak yg penasaran dan menjadi tontonan. Apalagi di kantin banyak teman teman sekelas Ayu.
Teeeeeeetttt!!
Bel masuk pun berdering.
"Masuk yuk,"ajak Kiki.
Setelah membayar makanan tadi, kami lalu kembali ke kelas bersama sama, karena walaupun Radit, Doni dan yg lain beda kelas dengan ku dan Kiki, kelas kami ini bersebelahan.
Kak Arden, Danu dan Dion sedang ikut menjadi panitia MOS.
Setelah berjalan beberapa langkah, aku kembali menoleh ke belakang.
Entah kenapa aku terus memikirkan Ayu.
Dia seperti tertekan.
Ada masalah apa sebenarnya dia?
"Ai.. Kenapa?" tanya Radit.
"Enggak papa kok." jawabku lalu kembali fokus pada jalan di depan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Kami pulang awal hari ini.
Sebelum pulang, aku ke toilet dulu. Radit menungguku di parkiran bersama yg lain.
Sebelum sampai ke toilet, ku amati keadaan sekitar, sudah sepi.
Banyak yg sudah pulang juga. Hanya menyisakan beberapa orang saja, itupun hanya anak anak OSIS.
Aku agak memincingkan mata melihat ke lantai dua. Ayu ada di sana menatap ke depan dengan tatapan kosong.
Sebenarnya aku sangat penasaran dengan apa yg sedang terjadi padanya. Hanya saja karena hari makin siang, kubiarkan saja dulu.
Sampai di parkiran depan, Radit kulihat sudah mondar mandir di depan mobilnya.
Yg lain sudah ada di dalam mobil.
Pasti mereka menungguku.
"Sorry, lama ya?" tanyaku.
"Kamu ke mana aja sih ,sayang?" tanya Radit dengan muka khawatir.
"Ya ke toilet. Ya udah-yuk."
Kami pun segera pergi dari sekolah.
Siang ini kami akan pergi ke cafe sunrise, Ari hari ini berulang tahun dan akan mengadakan syukuran. Bahasa gaulnya traktir.
Sampai di sana, kami duduk dan langsung saja memesan makanan.
Mereka ngobrol ngalor ngidul sementara aku hanya diam saja sedari datang tadi.
Perasaanku tidak enak dan tidak nyaman.
Hingga Dion mendapat panggilan telepone dan agak menjauh dari kami. Tak lama Dion kembali lagi dengan wajah kusut.
"Kenapa tuh muka? Asem bener?" tanya Dedi.
"Sepupu ku koma udah seminggu. Kasian banget. Kayaknya aku balik duluan deh, gaes."
"Lho kok gitu? Belum juga abis nih?" tanya Ari.
"Iya nanti aja, Yon. Abisin dulu baru kita ke sana," saran kak Arden
"Iya, bener tuh."
"Kalian mau ke sana juga?"
"Iya, Yon, sekalian aja kita tengokin," sahut Kiki.
Setelah makan, kami pun pergi ke rumah sakit di mana sepupu Dion dirawat.
Untung kami datang disaat masih siang. Kalau siang gini kan, eksistensi makhluk astral tidak begitu aktif.
Di kamar rawat inap ini, hanya ada tante, dan sepupu Dion yang lain.
"Gimana, Ayu, Tante?"
Deg!
Ayu?
Karena sepupu Dion terhalang Doni dan Dedi di depanku, aku pun berjinjit untuk melihatnya.
Jantungku berdegup lebih kencang saat melihat seorang wanita yg terbaring di sana.
"Ya Allah !? Ayu!" pekik ku.
Semua menoleh padaku.
"Kamu kenal Ayu juga, Tha?''tanya Dion..
"Kok dia bisa di sini? Bukan nya tadi masih di sekolah??"tanyaku.
"Ngaco deh. Ayu di sini udah seminggu Kamu salah liat kali,"ucap Dion
Aku menggeleng pelan,"enggak.. Nggak mungkin aku salah liat. Tadi aku lihat Ayu di sekolah.."
Kak Arden lalu menatap Ayu tajam.
"Yg bener, Tha?"
"Demi Allah!! Aku lihat tadi. Tapi kok....." aku bingung bagaimana harus mengatakan nya.
"Ruh nya gak bisa balik lagi ke tubuhnya," terka kak Arden.
"Apa? Gak bisa balik?? Terus gimana Ayu? Gimana dong? Tolongin Ayu ya, Mas," rengek mamahnya Ayu pada kak Arden.
"Kok bisa gitu sih, Den?''
Kak Arden mengangkat bahunya ke atas.
"Terus gimana dong, Den?" tanya Dion.
"Ya kita harus cari, dan bimbing dia biar bisa balik lagi."
"Jadi kamu lihat di sekolah, ai?"
"Iya, ada di sekolah tadi."
"Ya udah, mending sekarang aja deh, kita balik ke sekolah. Takut kemaleman nih," ajak Doni.
Kami kembali ke sekolah untuk mencari ruh Ayu yg tersesat.
Waktu menunjukan pukul 15.00
Sampai sekolah, kami putuskan untuk salat ashar dahulu sebelum mencarinya.
Suasana sekolah sudah sepi.
Semua siswa hari ini sudah pulang. Tidak ada kegiatan ekskul atau apapun lagi di sekolah.
Selesai salat, kami berencana berpencar untuk mencari keberadaan Ayu.
"Ya udah, bagi jadi 2 kelompok aja deh ya," saran kak Arden.
"Ya udah, saling kontak ya. Kalau udah ketemu."
Kami pun berpencar.
"Kita cari ke mana dulu nih?" tanya Ari.
"Lantai dua kelas 11 dulu yuk. Soalnya tadi aku liat dia di sana." saranku.
"Ya udah, yuk," sahut Radit.
Kami pun berjalan dan naik ke lantai 2. Sepanjang jalan yg kami lewati, tidak juga kami temukan Ayu.
Tiap kelas, tiap lorong sudah kami cek. Namun tetap tidak kami temukan Ayu di mana pun dia berada.
Hari pun sudah hampir gelap.
Kami berkumpul lagi di mushola.
"Gimana? Ketemu nggak?"tanya Dion pada kami yg baru saja datang.
Kami menggeleng bersama.
"Duh, gimana dong? Udah mau malem juga. Kalau gak ketemu gimana ya," rengeknya.
"Udah.. Kita salat maghrib dulu, terus kita cari sebentar lagi," saran kak Arden.
Kami pun salat maghrib berjamaah.
Selepas salat, kami berkumpul di depan mushola.
"Gimana nih? Kita lanjutin?" tanya Ari.
"Iya dong, nanggung. udah sampai sini kan. Masa mau udahan?"pinta Dion.
"Iya, lanjutin dulu deh. Kita cari sebentar lagi," kata kak Arden.
"Tapi, Den... Kalau malem, bukan nya di sini makin ramai ya?" Doni benar juga.
"Makanya kita harus gerak cepet kan. Yuk--ah," ajak Radit.
Kembali kami menelusuri sekolah ini. Tentunya dengan tetap membagi kelompok menjadi dua agar mempercepat pencarian.
"Gaes... Lihat tuh!" teriak Doni pada kami.
Kami melihat sekelebat bayangan berlari di ujung koridor sana.
"Kejar!" ucap Ari.
Mereka langsung berlari ke arah bayangan tadi.
"Eh-- lho.. "Aku bingung, karena aku takut itu hanyalah jin iseng saja, bukan Ayu.
Karena saat malam hari di sekolah akan sangat ramai sekali dengan kehadiran makhluk astral.
"Gimana dong nih? Kita ikut mereka?" tanya Radit.
"Iya udah yuk. Takutnya mereka kenapa napa lagi."
Aku dan Radit menyusul mereka yg sudah berlari agak jauh.
Sampai di aula, tubuhku merinding. Hawa di sekitarku menjadi panas.
Saat kami masuk, Radit terperanjat lalu berlari ke dalam.
"Masya Allah.. Heh!! Kalian kenapa sih??" teriaknya.
Ari dan yg lain nya tergeletak di lantai begitu saja. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling.
Di tengah tengah aula, ada sosok pria berkulit putih tergantung dengan keadaan yg mengerikan.
Darah mengalir deras dan membasahi lantai di bawahnya.
Dia terkena tombak menembus kepalanya. Matanya terus melotot melihatku.
Di pojok ada sosok siswi tanpa tangan, dan di pintu masuk berbaris beberapa orang tentara belanda. Namun hanya mondar mandir di depan aula saja.
"Aretha!! Gimana nih??"teriak Radit padaku yg seketika membuyarkan lamunan.
"Eh.. Iya.. Oh iya iya."aku pun mendekat.
Kuambil air mineral dari tasku lalu kubacakan doa doa. Setelah itu, ku tutup mata mereka satu persatu dengan telapak tanganku sambil kubacakan beberapa ayat alquran.
"Mending kita balik aja deh ke mushola," ajak ku ke mereka.
Aula memang tempat paling horor di sekolahku ini.
Aura di sini lebih gelap dari tempat lain nya.
Dengan tertatih karena kesadaran mereka yg belum sepenuhnya kembali, kami segera
Kembali ke mushola.
Dan saat sampai di mushola, ternyata kak Arden dan yg lain nya sudah ada di sana.
"Baru aja mau kakak telfon, Dek," ucap kak Arden begitu melihatku datang.
"Gimana? Udah ketemu belom kak?"
"Udah kok. Tuh di sana," tunjuk kak Arden ke ruh Ayu yg ada tak jauh dari kami.
"Ya udah, yuk kita balik ke rumah sakit."
Kami pun kembali ke rumah sakit untuk mengantarkan ruh Ayu yg sempat kebingungan dan tersesat.
Dia tidak sadar bahwa ruh nya berjalan jalan tanpa raganya.
Dan setelah itu, Ayu perlahan mulai sadarkan diri.
Untung saja segera diketemukan.
\=\=\=\=\=\=
Karena sebentar lagi kami akan menempuh ujian, maka waktu kami lebih banyak kami habiskan untuk belajar belajar dan belajar.
Ayah menyarankan pada kami untuk mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah.
Setelah mencari reverensi ke sana ke mari, kami menentukan pilihan pada sebuah bimbingan belajar yg cukup terkenal di kota kami.
Namun hanya aku, kak Arden, Radit , Doni, Kiki dan Dedi saja yg ikut bimbingan di sini.
Yg lain menolak dengan alasan, terlalu lelah dengan kegiatan di sekolah selama seharian. Dan mereka ingin istirahat saja di rumah, karena menurut mereka jika pikiran terlalu terforsir,malah akan membuat mereka tidak bisa fokus dan tidak bisa berfikir.
Sore ini kami sampai di depan pelataran parkiran bimbingan belajar ini.
Di parkiran nya saja sudah penuh sekali motor berjejer rapi memenuhi halaman.
Berarti banyak juga yg mengikuti bimbel di sini.
Halaman nya luas dan gedungnya juga berlantai 3, hanya saja bangunan nya seperti bangunan lama hanya di cat baru, sehingga lebih menarik.
Kami langsung menuju tempat pendaftaran.
Dan setelah mendaftar, ternyata malam ini pun kami akan segera mulai bimbingan belajar. kami sengaja memilih jadwal yg memang di mulai hari ini.
"Salat maghrib dulu yuk," ajak kak Arden.
Bimbingan akan dimulai pukul 19.00 jadi lebih baik kami menunggu saja di sini.
Mushola letaknya ada di seberang jalan. Suasana masih ramai saat ini. Karena beberapa orang banyak yg sholat berjamaah di mushola itu.
"Tha, kebelet," rengek Kiki.
"Hah? Ya sana ke toilet," suruhku.
"Antri, Tha. Yuk kita ke toilet di bimbel aja. Sambil nunggu mereka selesai doa."
"Ya udah, yuk."
Akhirnya aku dan Kiki pergi lebih dahulu ke bimbel. Kak Arden, Doni, Radit dan Dedi masih di mushola.
Saat memasuki pelataran parkiran, suasana makin sunyi.
Dan memang ada bimbingan saat ini di dalam di kelas yg berbeda denganku.
Pilihan bimbingan di sini memang tergantung pada jam saja. Saat ini bimbingan dimulai pukul 17.00-19.00.
Sedangkan kami akan mulai bimbingan pukul 19.00- pukul 21.00.
Jadi memang ada beberapa orang yg sedang bimbingan sekarang.
"Mba.. Toilet mana ya?" tanya Kiki ke penjaga loket pendaftaran.
"Oh di sana, mba.. Lurus aja terus belok kanan, nah paling ujung," terangnya.
Aku dan Kiki pun melihat ke arah yg dia sebutkan.
"Oh ya udah, makasih mba."
Kami berjalan ke toilet berdua sambil nyanyi nyanyi untuk memecah kesunyian. Karena memang suasana sangat sunyi sekarang ini.
Untung toilet masih ada di lantai bawah, jadi kami tidak perlu repot naik ke lantai atas malam malam begini.
Entah kenapa aku merasa bangunan disini mirip bangsal rumah sakit.
Terdapat lorong panjang di sini yg akan menuju toilet.
Di tengah tengah gedung ada taman.
"Tha.. Kok horor gini ya?"
"Hus.. Gak usah aneh aneh deh."
"Ya habisnya horor kan, Tha. Mana sepi banget. Mirip rumah sakit ya. Ini kan bangunan nya tua banget kan. Bangunan jaman dulu nih,* terka Kiki sambil mengamati sekitar kami.
Dugg... duuggg.. duuggg.
Tiba tiba ada bola basket terpental di lapangan basket samping taman.
Seolah olah seperti ada yg memainkan nya.
"Tha..." rengek Kuki.
"Ssssttt.. Diem ah. Gak usah berisik."
"Ih, Aretha. Itu bola dateng dari mana sih?"
"Jatuh mungkin."
"Jatuh dari mana?"
"Ya dari atas. Masa jatuh dari bawah. "
"Iya maksudnya siapa yg nge-jatuhin??" tanyanya masih saja penasaran, tapi takut.
"Tau ah-- udah yuk buruan ke toilet." ku tarik saja tangan Kiki agar berjalan agak cepat.
Jarak lorong ke toilet memang agak jauh, dan keadaan agak remang remang saat malam hari. Bahkan lampur penerangan kadang berkedip kedip, menambah nuansa horor saja.
Begitu sampai ke dalam toilet, Kiki yg awalnya kebelet, malah mundur mundur dan menarik ku untuk ikut masuk ke dalam.
"Temenin lah, Tha.."
"Ya elah.. Ya udah yuk, buruan . Gak pakai lama.." ku temani Kiki.
aku menunggu di depan pintu toilet.
Kriiiiieeeeettt...
Kiki ragu ragu untuk masuk.
"Tha..."
"Apaan??"
"Temenin.."
"Lah ini juga udah nemenin. Udah sana masuk. Masa iya, aku ikut ke dalem juga. Ogah ah," jawabku ketus.
Kiki diam,"tapi jangan ke mana mana ya.."
"Iya, kiki. Aku tungguin di sini"
Kiki lalu masuk ke dalam toilet.
Semilir angin membuatku merapatkan jaket yg kupakai.
Angin lumayan kencang di sini.
Suasana sunyi sekali.
Wajar sih menurutku karena letak toilet nya ada di ujung sekali, jauh dari ruangan yg lain.
Dan di lorong ini aku sendirian, mana Kiki lama lagi.
Tak.. tak.. tak..
Terdengar suara langkah kaki seseorang. Suaranya menimbulkan gema di sepanjang lorong ini.
Aku maju untuk dapat melihat siapa gerangan yg datang.
Dengan ragu ragu, aku maju selangkah, saat aku tengak tengok.sm suasana hening. Tidak ada satu pun orang yg ada di sini selain aku.
Mungkin cuma perasaanku aja.
Aku kembali mundur dan bersandar di dekat pintu toilet.
Dan, langkah itu terdengar kembali.
Aku pun melangkah satu langkah lagi, dan melihat ke kanan dan ke kiri.namun, kembali hening.
Padahal sudah sangat jelas suara itu ada tidak jauh dari tempatku berdiri.
Jangan jangan aku dikerjain nih.
Aku kembali ke posisiku semula.
Dan benar saja, tak lama suara itu terdengar kembali. Suara langkah kaki mendekat kepadaku.
Kutajamkan pendengaranku. Kulafalkan sebuah doa lalu ku kecup ibu jariku dan ku usapkan di kedua mataku.
Aku melangkah ke depan, lalu ku tengok ke kanan ku, kosong.
Namun saat ku tengok ke kiri..
Deg!
Di ujung sana ada seorang ibu paruh baya berpenampilan layaknya guru pembimbing, berjalan tertatih ke arahku.
Jalannya sempoyongan dengan kondisi mengerikan.
Kaki nya patah, bahkan tubuhnya seperti akan terjatuh saja karena tidak bisa seimbang. Wajahnya rusak parah, tidak berbentuk lagi. Bahkan matanya keluar dari tempatnya dan menggantung di depan pipi. Tubuhnya berlumuran darah.
Tak hanya itu, di belakang wanita itu ada sekelompok anak anak berumur 15 tahunan, dengan kondisi serupa. Mereka seperti korban pembantaian, terlihat dari kondisi mereka yg memprihatinkan.
Glek!
Aku mundur kembali.
Kalau keroyokan gini mah, mending aku ngumpet deh.
Ceklek.
Kiki keluar dari toilet, langsung kutarik saja dia kembali masuk ke dalam.
"Lhoo... eh.. Apaan sih, Tha?'
"Sssstttt" ku isyaratkan dia agar diam.
Pintu kututup, namun tidak rapat. Agar bisa mengintip keadaan di luar.
"Heh! Ada apaan?" bisik Kiki sambil ikut mengintip keluar seperti ku.
"Liat tuh."
Kiki fokus melihat apa yg ku tunjuk.
Gerombolan itu lewat di depan toilet. Jalan mereka aneh. Seperti pincang dan terseok seok.
Tubuh mereka seperti telah terpotong potong dan disatukan dengan asal asalan.
"Ihhh.." kiki sedikit berteriak. Namun langsung ku bungkam mulutnya.
Deg!
Salah 1 sosok itu menoleh pada kami dan berhenti berjalan.
Aku dan Kiki melotot,alu kututup pintu itu rapat rapat, dan ku kunci sekalian.
Mampus!! Kalau mereka ke sini gimana dong.
"Duh, gimana, Tha???" Kiki benar benar ketakutan sekarang.
"Ssssttt..."
Tak tak tak.
Suara langkah kaki itu mendekat ke depan toilet. Aku dan Kiki mundur mundur menjauh dari pintu.
Kiki menggenggam tanganku, dia gemetaran sekali.
"Udah gak papa.." kataku agar dia tenang. Padahal aku pun sama seperti dia, ketakutan. Hanya saja ku tutupi sebisaku.
Kreeekk. kreeekkk. kreeeek.
Handle pintu bergerak gerak seperti ada yg memaksa membuka pintu itu.
"Tha..." teriak Kiki makin panik.
Brakk!!!
Pintu terbuka dengan kasar.
Sosok itu muncul menyeringai pada kami sambil memiringkan kepalanya.
"Aahhhh" teriak aku dan kiki keras keras.
Kami bahkan sampai menutup mata kami karena rasa takut yg benar benar sudah di ubun ubun.
Kiki bahkan menangis histeris sambil memeluk lenganku.
"Heh!! Kalian kenapa sih???" tiba tiba Radit muncul dari pintu bersama kak Arden, Doni dan Dedi.
Aku dan kiki menoleh ke mereka, lalu kiki berhambur memeluk Doni sedangkan aku memeluk kak Arden.
"Udah, nggak papa ,dek," bujuk kak Arden sambil membelai punggungku.
Kiki menangis terus terusan dan merengek minta pulang.
Karena keadaan memang tidak memungkin kan kami akhirnya pulang ke rumah, dan melupakan bimbingan belajar di tempat ini.
\=\=\=\=\=\=