
POV NISA
Sunrise pagi ini kami nikmati berdua. Dengan secangkir kopi untuk Indra dan susu
Saat perjalanan pulang tadi, kami sudah menyempatkan sarapan dulu di pinggir jalan yg banyak sekali menyediakan menu sarapan. Ada lontong opor, bubur ayam, nasi uduk, nasi kuning dan masih banyak lagi. Terutama jika memasuki daerah GOR. Pilihan makanan lebih banyak macam dan jenisnya. Aku memilih kedai nasi uduk, yang biasa menjadi langganan kami sejak masih pacaran dulu. Bahkan penjualnya sudah hapal wajah kami berdua. Beliau termasuk saksi hidup hubungan ku dengan Indra sejak pacaran sampai kami menikah sekarang.
"Mba Nisa nggak berubah, ya?" celetuk ibu pemilik warung dengan pertanyaan yang membuatku heran.
"Berubah dong, Bu. Kan makin bertambah umur, makin tua. Sebentar lagi juga rambutnya udah ubanan," selaku tidak mau terlalu mudah terbang karena kalimat manis Bu Parmi.
"Yang pasti, tetap cantik. Iya, kan, Mas Indra? Pantas saja, Mas Indra nempel terus dari dulu. Pasti anak kalian cantik dan ganteng, mirip ayah ibunya."
"Bu Parmi bisa aja. Bikin saya jadi pengen nambah nasi uduk lagi nih," ujar Indra bergurau. Aku hanya menanggapi dengan senyuman obrolan pagi ini, walau rasanya hatiku terasa tidak nyaman. Ada apa ini? Semoga bukan hal buruk yang akan terjadi. Lindungi juga anak-anakku di sana. Semoga firasat ini tidak berarti apa apa.
_________
Sepulang dari kencan romantis kami, aku dan Indra langsung pulang ke rumah. Karena pagi ini dia akan pergi bekerja.
Seperti biasa aku menyiapkan pakaian dinasnya, kuletakkan di ranjang sambil menunggu dia mandi.
Saat aku membereskan baju baju di lemari, Indra yg baru selesai mandi langsung memelukku dari belakang.
"Kamu nanti nginep tempat papah aja gimana? Aku kepikiran kalo kamu di rumah sendirian," ucapnya.
"Mm... Kamu pulang jam berapa emangnya?" tanyaku.
"Belum tau, sayang. Takutnya aku nggak pulang. Makanya buat antisipasi, kamu nginep tempat papah dulu, ya. Biar aku kerjanya juga tenang," pintanya sambil berbisik di telingaku.
"Iya deh." aku pun akhirnya pasrah saja atas permintaan nya.
Lagi pula aku jarang menginap di rumah papah ku.
Selesai berdandan, kami lalu naik mobil dan Indra mengantarku dulu ke rumah Papah yang hanya berjarak beberapa rumah dari rumah kami.
"Kamu hati hati ya, Nda, di rumah. Aku berangkat dulu. Salam buat papah sama semuanya." lalu dia mengecup keningku sebelum aku turun dari mobil.
Tiiinnn!
Kulambaikan tanganku ke Indra yang perlahan pergi meninggalkan halaman rumah Papah.
"Assalamualaikum," sapaku saat masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam." Terdengar sahutan dari dalam. Sepertinya itu kak Shinta.
"Kak..." Saat aku makin masuk ke dalam, kak Shinta sedang memasak di dapur sendirian.
"Eh... Nisa ... Sama siapa?" tanya kak Shinta lalu kami berpelukan singkat. Sekali pun dekat, aku tidak setiap hari datang ke sini.
"Dianter Indra tadi, sekalian dia berangkat kerja, Kak. Eh kok sepi. Pada ke mana?" tanyaku sambil celingukan
"Ya pada kerja semua lah, Nis. Kan biasa kakak jaga rumah. Hehehe.."
"Sama dong, Kak." Aku ikut tertawa seperti kak Shinta. Lalu aku ikut membantu kak Shinta memasak.
Hingga pukul 11 siang kami selesai memasak lalu langsung makan siang bersama.
"Eh kak.. Aku mau bungkus makan siang buat Indra, ya. Mau aku anterin ke kantornya, " kataku saat kami makan bersama.
"Iya, bawa aja. Nggak papa. Tapi, emangnya Indra di kantor? Nggak di luar?" tanya kak Shinta.
"Kayaknya sih di kantor, kak. Nanti ku SMS dulu deh."
Kak Shinta mengangguk.
Dan segera saja ku masukan makanan tadi ke rantang kecil untuk Indra.
"Kak, aku pinjem mobil ya," pamitku ke Kak Shinta yang sedang di kamar.
"Iya pakai aja, Nis. Hati hati ya," teriak kak Shinta dari dalam kamar.
"Iya, assalamualaikum," pamitku sambil agak teriak.
"Waalikumsalam."
Aku segera menyalakan mobil lalu melesat keluar halaman rumah papah.
Hanya butuh sekitar 30 menit aku sampai di kantor Indra.
Kuparkirkan mobilku di tempat yang agak lenggang lalu segera turun dengan menenteng rantang makanan yang sudah kusiapkan tadi.
Saat berjalan ke dalam kantornya beberapa kali aku bertemu dengan kawan Indra yg sering kulihat ada di sini.
Mereka pun menyapaku dengan ramah.
"Eh, Nis? Nganter makan?" tanya Herman saat dia akan berjalan keluar sambil menatap rantang yang ku bawa.
"Iya, Nan, Indra di dalem, kan?" tanyaku.
"Iya di dalem. Masuk aja," suruhnya.
"Iya, aku masuk ya."
"Iya, Nis. Santai aja kali. Kayak sama sapa aja kamu nih. Hehe," katanya cengengesan.
Aku pun berjalan masuk ke kantornya dan segera ke ruangan nya.
"Bu Indra... Maaf, bapak sedang ada tamu di ruangan nya," kata salah 1 kawan Indra.
"Oh gitu. Ya udah, aku nunggu di sini aja," kataku lalu duduk di deretan kursi panjang dekat ruangan Indra.
Dari luar memang dapat kulihat ke dalam ruangan nya.
Indra sedang bersama seorang pria yg sudah agak berumur.
Namun yang membuatku tidak bisa berpaling adalah sosok yg dibawa oleh orang itu.
Seorang pria besar dan hitam dengan mata merah menyala. Gigi serta kukunya panjang.
Kulihat Indra seperti berdebat dengan nya.
"Eh... Gusti!! Sini!!" ku panggil teman Indra yg sedang sibuk dengan beberapa dokumen di mejanya.
Dia pun mendekat.
"Kenapa, bu?"
"Siapa itu?" tanyaku sambil menunjuk pria yg ada di dalam dengan Indra.
"Oh itu keluarga tersangka pembunuhan yg baru kemarin ketangkep, Bu. Kayanya sih itu bapaknya mau minta keringanan biar anaknya gak dihukum berat," jelas Gusti.
"Saya masuk boleh, ya?" tanyaku.
"Oh silakan saja, bu. Lagipula pasti pak Indra sedang kesal karena orang itu. Orangnya sombong banget, bu," katanya sambil bisik bisik.
Aku menoleh padanya dan hanya menaikkan sebelah bibirku.
Yah, aku harus masuk!
Segera saja aku menuju ruangan Indra.
Tok tok tok
"Ya masuk." suara Indra dari dalam seperti terdengar berat.
Kubuka pintu itu lalu tersenyum padanya.
"Lho, Nda. Kok ke sini?" tanyanya heran. Lalu dia mendekat padaku.
"Iya, nganter makan siang." kuletakan rantang itu di meja tempat biasa kami makan bersama jika aku sedang kemari.
Kulirik makhluk itu dan tersenyum sinis.
Dia ini seperti kebal akan hal hal seperti itu.
"Eh, ada tamu kok gak dibikinin minum, sayang?" tanyaku basa basi.
"Eh... eum.." Indra sepertinya bingung harus jawab apa karena aku tau kalau Indra ingin agar orang ini segera pergi dari sini.
"Bapak mau kopi?" tawarku.
Bapak itu agak kaget dengan pertanyaanku.
"Oh iya mba. Boleh. Mm... Ini istri pak Indra?" tanyanya tergagap.
"Iya pak, kenalkan saya Nisa. Istri Indra. " kuulurkan tanganku padanya.
Dia menjabat tanganku dengan gembira karena mungkin berfikir bahwa aku ini mudah dia pengaruhi.
Saat kami bersalaman, tanganku terasa panas namun terus saja kujabat. Dia sedikit kesakitan dan berusaha melepaskan tanganku.
Indra menyenggolku karena melihat bapak itu kesakitan.
"Eh maaf pak. saya buatkan kopi dulu ya." segera kulepaskan tanganku lalu pergi ke pantry.
Di pantry ada pak Abdul,"lho bu Indra? Kapan datang?" tanyanya heran. Sepertinya beliau sedang istirahat dari pekerjaan nya sebagai OB.
"Baru kok, Pak. eh, saya mau bikin kopi, ya." lalu ku ambil dua cangkir dari lemari.
"Biar saya saja bu.." Pak Abdul hendak mengambil alih pekerjaanku.
"Gak usah pak. Bapak istirahat aja. Lagian cuma kopi, saya bisa kok. pak Indra itu kalau takaran nya gak sesuai suka gak diminum kopinya," jelasku.
"Oh iya ya bu. Pantas kalo di kantor jarang ngopi." pak Abdul kembali duduk di tempat tadi.
"Iya, ngopi nya di rumah pak. hehe"
Dari aku meracik kopi aku sudah bacakan beberapa doa diselingi dengan sholawatan.
Hingga gerakan mengaduk sendok pun sudah kuperhitungkan berapa kali nya dan arahnya. Aku mempelajari ini dari kak Yusuf pastinya.
Kalau untuk Indra tidak akan berpengaruh banyak justru akan membuat kopi buatanku makin enak. Namun berbeda dengan bapak itu.
Kita lihat saja, apa yg akan terjadi nanti.
Kopi selesai kubuat lalu ku bawa ke ruangan Indra.
"Eh.. Bos... Ngapain pakai bikin kopi segala??" tanya Herman saat kami berpapasan di depan ruangan Indra.
"Pak bos pengen ngopi, mas bro. Kamu mau??" tanyaku
"Wah, suatu kehormatan kalo bener dibikinin, Nis," Katanya penuh harap.
"bikin sendiri!" kutinggalkan dia sambil cekikikan.
"Kebiasaan. Iseng! Elu gak inget umur bu? anak udah gede kelakuan kaya ABG aja. "Herman malah mengikutiku masuk ke ruangan indra.
"Berisik ah," jawabku santai.
Herman menemui Indra dan memberikan beberap lembar kertas yg aku tidak tau apa.
Kuletakan cangkir itu di meja
"Diminum dulu, pak. " aku berusaha ramah.
"Terima kasih, bu." dia lalu mengambil cangkir itu dan menyecapnya sedikit demi sedikit.
Kulirik terus ke sosok yg ada di belakangnya dia menatapku tajam seperti elang yang melihat mangsanya.
Hingga beberapa menit kemudian. Bapak itu agak aneh. Dia seperti memegangi perutnya dan agak merintih kesakitan. Makin lama dia makin kesakitan.
"Ugh!! Kamu apakan saya!! Kamu meracuni saya?!" tuduhnya.
"Enggak. saya tidak sepicik anda pak.. Kudekati dia dan kubacakan beberapa ayat alquran sambil menunjuk kepala lalu turun hingga perutnya dengan telunjukku.
Dia makin mengerang, berteriak teriak.
Indra dan Herman kemudian mendekat.
"Loe apain, Nis??gila lu! Untung gue nggak jadi minum kopi bikinan elu," kata Herman.
"Singkirkan niatan jelek anda!! Baru saya lepaskan!!"kataku lantang.
"apa maksud kamu?!"tanyanya.
"Kamu masih mengelak? saya bakar jin milikmu! mau??!!" tanyaku dengan menaikan nada bicaraku.
"Hah? jin? hiii." Herman menjauh dengan bergidik ngeri.
"Kamu gila!! Bicara apa kamu!! Jin apa!!" Dia terus saja mengelak.
Manusia kalo kelamaan berteman sama jin jahat ya bakal gini. Keras kepala. Semaunya sendiri.
"Oke.. Saya sudah kasih kesempatan!! Jangan salah kan saya jika saya berbuat lebih jauh!!"
Kudekati jin itu dan kubacakan ayat ayat untuknya.
Dia juga sama seperti tuannya. Tidak mau pergi dan tetap ngotot terus ada di sini.
Mereka ini sudah sangat sering melakukan hal hal buruk bersama. Sehingga mereka seperti tidak bisa dipisahkan.
Dan akhirnya, kubacakan ayat pemusnah karena dia tetap pada pendirian nya.
Saat ayat terakhir ku baca, bapak itu berteriak keras dan menggeram dengan suara berat.
Beberapa orang ikut melihat dari jendela, bahkan ada yg nekat membuka pintu agar dapat melihat dari jarak dekat.
Bapak itu bergaya seperti ular dan mendesis lalu menatapku tajam. Ku tekan ubun ubun nya lalu kutarik sesuatu yg sedari tadi terus mempengaruhi pikirannya.
"Allahuuuakbaaarrr!!" teriakku lalu berhasil ku tarik sesosok jin lagi.
Sosok yg tadi di luar sudah hilang dan tercium bau gosong, dan yg barusan ku pegang langsung ku kirimkan ke kak Yusuf. Aku paling malas bernegosiasi dengan makhluk astral buang waktu menurutku. Berbeda dengan kak Yusuf.
Tak lama bapak itu jatuh ke lantai dan pingsan.
"Buset. Heh!! Bantuin," teriak Herman ke beberapa temannya yg ada di dekat pintu.
Mereka mendekat lalu menggotong bapak itu ke ruang kesehatan.
Aku ngos ngosan.
Indra tersenyum lalu mendekatiku dan segera memelukku.
"Kamu itu sering banget ngelakuin hal ekstrem kaya gini." pelukannya makin erat saja.
"Yah, itu banyak orang," kataku lirih.
Indra menoleh."lihat apa?! kerja lagi!!" perintahnya.
"Siap, Ndan!!" kata mereka kompak.
Lalu Indra memelukku lagi.
\=\=\=\=\=\=\=
...Syetan tidak akan mencuri rumah, mobil, pangkat, jabatan dan harta kita....
...Tapi syetan terus mengintai kita untuk mencuri keimanan yg kita miliki....
...Karena syetan paham betul, yg paling berharga dalam diri manusia adalah... Iman....