Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
Part 22 Giska Hilang


[Ada yang di hubungin Giska, nggak?] Notifikasi pesan dari grup kantor masuk di layar depan ponsel. Aku yang baru saja selesai mandi, masih mengeringkan rambut lantas membalasnya.


[Memangnya belum sampai rumah?]


[Belum, Tha. Masalahnya dia bawa flashdisk ku. Ada kerjaan ku di sana yang mau aku kirim ke Pak Bonar malam ini juga.] Balasan dari Aron diikuti sebuah stiker bayi menangis.


[Telpon coba.] Mike menanggapi.


[Udah. Nggak aktif!]


Aku lantas mulai berpikir. Perasaanku tidak nyaman, sejak Giska dijemput Toni tadi. Seperti ada yang aneh dengan Toni, tapi aku belum tau apa. Berita tentang Giska yang belum juga pulang membuatku makin cemas.


Jam sudah menunjukkan pukul 22.00, sudah cukup malam untuk seorang gadis yang belum pulang ke rumah sejak tadi. Padahal seharusnya Giska sudah pulang ke rumahnya sejak setengah jam lalu. Menurut Mike, Giska bukan tipe gadis yang suka keluyuran tengah malam. Apalagi setelah pulang kerja seperti sekarang.


Aku membuka laptop, meneruskan sebuah cerita yang sedang aku tulis. Jemariku bermain di atas keyboard, pikiranku menerawang dengan segala imajinasi yang ada di dalam otak. Hal yang sudah aku tahan selama seharian ini, dan kini waktunya aku tuang dalam sebuah kisah. Bahkan rasa lelah yang sejak tadi aku rasakan seakan luntur begitu saja. Sambil melakukan panggilan video call dengan Radit yang biasa kami lakukan setiap malam, justru membuat aku lebih antusias dalam menulis. Radit melakukan pekerjaannya, dan aku juga menulis cerita. Tidak banyak obrolan jika kami melakukan hal ini, semua sibuk dengan kegiatan masing - masing dan justru menjadi ajang cambukan dan seperti perlombaan siapa yang dapat menyelesaikan pekerjaannya lebih dulu. Whatsapp Web kuaktifkan di laptop, jika ada pesan penting maka aku akan segera tau, karena ponselku sedang aku pakai untuk panggilan video sekarang. Bunyi notifikasi masuk terdengar. Layar aku ganti ke pesan WA untuk mengetahui siapa yang mengirimiku pesan.


[Gaes, gawat! Toni barusan telepon, tau nggak apa yang paling aneh?]


[Apa?]


[Toni justru cari Giska, dia nanya Giska ke mana! Bingung dong, aing. Lah bukannya tadi balik sama dia, kan?]


Dahiku mengkerut melihat pesan dari Mike dan Aron tersebut. Kini aku benar - benar yakin, kalau ada yang tidak beres dengan Giska dan benar - benar ada hal buruk yang sepertinya menimpanya.


"Sayang, kenapa?" tanya Radit yang akhirnya mengalihkan pandanganku dari laptop.


"Yang, tadi ternyata yang jemput Giska bukan Toni asli."


"Mungkin. Soalnya Aron baru aja chat di grup, katanya Toni malah nanyain tentang keberadaan Giska. Pantesan tadi aku lihat Toni agak aneh. Kamu sadar nggak sih, Yang?"


"Hm, iya sih. Awalnya justru aku me cium bau kurang enak, Yang. Aku pikir bau busuk dari mana gitu. Baru sadar sekarang kalau ternyata itu dari Toni itu. Soalnya setelah dia pergi, bau itu hilang."


"Duh, terus gimana, ya. Giska gimana nasibnya."


"Langkah keluarganya gimana? Atau Toni asli?"


"Belum tau. Kalau lapor polisi pun kan belum bisa di proses. Baru beberapa jam aja kan, dia hilang."


"Iya, pasti nggak bisa di proses. Hm. Kita cuma bisa menunggu, semoga dia cepat kembali, ya. Kamu jangan terlalu banyak pikiran ya. Nanti kamu stres."


"Iya, Sayang. Semoga dia baik - baik aja."


"Ya udah, kamu mau lanjut nulis atau tidur aja? Udah malam, Aretha. Mending istirahat aja, ya. Besok kan kerja," ujar Radit.


"Hm. Iya deh, lagian mataku udah berat nih. Rasanya capek banget hari ini. Mungkin hari pertama kerja, ya." Aku merentangkan kedua tangan ke atas. Radit yang kini sudah merebahkan tubuhnya, tersenyum.


"Iya, belum terbiasa sama kebiasaan baru. Nanti lama - lama bakal menyesuaikan kok. Ya udah, yuk, bobok. Selamat malam, sayang. Love you."


"Love you too, Radit."


Telepon diakhiri. Aku pun mematikan laptop, dan segera naik ke atas ranjang. Mencoba memejamkan mata, namun terasa sulit sekali. Pikiranku terus menuju ke Giska. Berharap dia baik - baik saja di mana pun dia berada. Karena aku pun tidak tau harus berbuat apa, dan belum tau apa yang terjadi sebenarnya.