
Sesuai kesepakatan kemarin, kami akan berlibur ke Bali.
Bunda sudah mengabari om Wayan bahwa kami akan datang, dan kami pun boleh menginap di rumah om Wayan.
Mbah Ude kebetulan menetap di jakarta sejak 5 tahun lalu karena pekerjaan. Sedangkan om Wayan tetap di Bali karena tanah kelahirannya di sana. Om Wayan juga sudah bekerja juga di Bali.
Dan terakhir kami bertemu om wayan itu sekitar 3 tahun lalu saat kami ke Jakarta karena ada saudara yang hajatan.
Pagi ini kami sudah bersiap dan akan berangkat naik kereta dulu untuk sampai ke Jogja. Baru setelah itu kami akan naik pesawat menuju ke Bali. Perjalanan terasa menyenangkan, karena ini adalah pengalaman pertama kami berlibur bersama-sama. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan lama akhirnya sampai juga di Bali.
Dedi merentangkan tangan nya begitu sampai di bandara.
Disusul Dion yang merasa senang sekali telah menginjakkan kaki di sini.
"Akhirnya nyampe juga," gumam Danu.
"Kak, om Wayan udah dikabarin?" tanyaku sambil menatap sekitar.
"Udah nih, katanya sih udah sampai bandara. Tapi mana, ya?" kak Arden ikut celingukan.
Semua orang melakukan hal yang sama. Menunggu jemputan kami datang, karena jujur saja aku sudah sangat lelah, dan ingin merebahkan tubuh di kasur.
"Kayak apa sih, Tha, Om kamu?" tanya Radit yang berdiri di sampingku dengan memakai tas punggung dan kaca mata hitamnya.
"Orang nya tinggi, putih, hidungnya mancung. Eum mirip sama Marcel penyanyi itu lho, Dit. Ganteng pokoknya," ucapku dengan pujian yang terus beruntun.
Radit melirik tajam padaku.
"Kenapa?" tanyaku heran melihat reaksinya.
"Gantengan mana sama aku?" tanyanya.
Aku ketawa kecil lalu memencet hidungnya yang sama mancungnya seperti Om Wayan. "Gantengan Om Wayan dong. Tapi sayangan kamu," sahutku.
Dia malah balas dengan mencubit kedua pipiku, gemas sambil tertawa.
"Heh! Malah pada mesra mesraan di sini," gerutu Doni, sambil menggandeng Kiki yang masih sibuk dengan ponselnya.
"Om!!" teriak Kak Arden sambil melambaikan tangannya ke seorang pria yang sedang celingukan mencari sesuatu. Dari kejauhan memang dia tampak seperti Om Wayan. Aku yakin dia Om Wayan yang sedang kami tunggu.
Kak Arden mendekat sambil melebarkan senyum. Aku menggandeng mba Alya yang sedari tadi diam saja. Mba Alya terlihat masih malu-malu ada di kelompok kami, sejak tadi dia jarang mengeluarkan kalimat panjang, dan hanya menanggapi tiap obrolan kami dengan tatapan atau senyuman.
Radit berjalan di belakangku bersama yang lain. Om wayan masih sama seperti terakhir kami bertemu dengannya, tidak banyak yang berubah dari pria tersebut.
Setelah berada di dekatnya, kami saling berjabat tangan dan menanyakan kabar masing masing.
"Bunda kalian gimana kabarnya?" tanya tanya Om Wayan.
"Alhamdulillah sehat, Om."
"Oh iya, ini temen temen kami, Om." aku memperkenalkan mereka satu persatu. Om Wayan tampak ramah dan bisa menerima mereka dengan baik. Begitu pun sebaliknya.
Setelah sesi perkenalan selesai, kami diajak om wayan ke parkiran dan ternyata sudah ada 2 mobil yang terparkir di sana dan mobil itu yang akan membawa kami ke kediaman Om Wayan. Jujur, ini pengalaman pertama ku datang ke pulau dewata ini.
Setelah semua masuk ke mobil, kami langsung menuju rumah Om Wayan.
Kali ini supir yang mengantar kami adalah Pak Nyoman. Kebetulan aku sudah pernah bertemu sebelumnya. Jadi kami lumayan akrab.
Di mobil ini ada aku, Radit, Kiki dan Doni. Radit duduk di samping pak Nyoman, sisanya ada di mobil lain bersama Om Wayan.
"Libur berapa hari, Mba Reta?" tanya Pak Nyoman mengawali obrolan.
"Libur nya sih seminggu, Pak. Cuma nggak tau nih mau di Bali berapa lama. Tergantung temen temen yang lain," jawabku.
"Wah, seneng ya mba, mas. Liburnya lama," katanya lagi.
"Ya seneng, Pak. Walau kemarin harus berpusing - pusing ria ngerjain soal ulangan. Huft," gerutu Radit.
Pak Nyoman tersenyum sambil fokus menyetir.
"Om wayan jadinya nikah kapan, Pak?" tanyaku.
Om wayan sudah bertunangan dengan seorang wanita asal Kalimantan. Namun bekerja di Bali.
"Tahun depan sepertinya, Mba,"
terang Pak Nyoman sambil terkadang menatapku dari kaca depan.
Aku hanya mengangguk paham. Tak terasa kami sampailah kami di rumah Om Wayan.
Rumahnya luas. Bergaya khas Bali dengan beberapa bale di sekitar rumah utama. Bener kata bunda. Rumah nya nyaman.
Setelah turun dengan menenteng bawaan masing masing, kami lalu di bawa masuk oleh Om Wayan. Beliau menunjukan letak kamar kami.
Aku sekamar dengan Kiki dan Mba Alya tentunya.
Kak Arden sekamar dengan Dedi.
Radit dengan Doni.
Danu dengan Dion.
Kami beristirahat sebentar di kamar. Rasa lelah yang menggelayuti ku membuat aku ingin tiduran saja di atas ranjang ukuran besar ini.
Mba Alya membereskan bawaan nya. Sementara Kiki sedari tadi sibuk mengecek ponselnya.
"Tha... Mandi dulu, gih. Biar seger badannya," saran Mba Alya padaku.
"Mm... Iya juga, ya mba. Hehe. Iya deh. Aku mandi dulu." Aku lalu beranjak dan mengambil pakaian gantiku karena kamar mandinya ada di dekat dapur, dan ada 3 bilik yang saling berdekatan.
Dengan langkah gontai aku berjalan keluar kamar. Saat di ruang tengah, ada seorang nenek yang sedang duduk di kursi goyang sambil menonton TV.
Aku berjalan agak ragu. Karena setahuku Om Wayan tinggal sendirian.
"Permisi, Nek." Aku agak membungkukkan badan dan lewat di depan nenek itu.
Nenek itu hanya mengangguk dan tersenyum hangat.
Nenek Om Wayan yang dari Mamanya, mungkin ya.
Dengan guyuran air dari shower membuat badanku segar. Aku juga sekalian mencuci rambutku yang terasa lepek karena seharian berkeringat.
Selesai mandi aku keluar kamar mandi sambil mengeringkan rambutku dengan handuk.
Buuugg!!
"Aduh! Aretha?! " Ternyata om Wayan yang kutabrak, karena tidak melihat jalan.
"Eh, maaf om. Nggak lihat." Aku merasa sungkan dengan membiarkan rambutku yang masih setengah basah tergerai begitu saja.
"Iya nggak apa - apa. Eh kamu nggak ikut yang lain ke pantai?" tanya Om Wayan sambil mengambil air dari kulkas.
"Hah? Pada ke pantai?! Jahat aku nggak diajakin," rengekku.
Rumah om Wayan memang dekat pantai. Bahkan sangat dekat. Saat pintu gerbang dibuka, maka dalam jarak beberapa meter saja, gulungan ombak sudah terlihat.
Om Wayan malah tertawa melihatku kesal
"Tapi Radit masih di teras kok itu. Lagi nungguin kamu kali ya," kata nya lagi.
Aku langsung senyum, teringat akan sesuatu, aku menanyakan pertanyaan yang masih mengganjal di benakku.
"Oh iya, Om. Om Wayan tinggal sama nenek nya Om di sini? Kok nggak bilang, aku malu tadi pas lewat," ucapku masih melanjutkan mengeringkan rambut.
Om Wayan diam, dahinya berkerut.
"Nenek? Nenek siapa? Om di sini sendirian. Paling sama Pak Nyoman aja."
Degg!!
Aku menatap om wayan serius. Jantungku mulai berdegup tidak karuan. Firasat ku mulai menunjukan hal aneh sekarang. Beserta kemungkinan kemungkinan terburuk nya.
"Terus... Tadi neneknya siapa?" tanyaku melihat sekeliling dengan ngeri.
Om Wayan diam sebentar lalu tersenyum tipis.
"Mungkin Eyang Lestari,"ucap om Wayan.
Eyang Lestari itu istri Eyang Prabumulih. Karena aku belum pernah bertemu, aku benar benar tidak tau. Sedangkan di foto tentu wajah mereka tidak terlihat jelas.
"Serius om? Emangnya sering ke sini" tanyaku sambil berbisik.
"Ya lumayan. Eyang Prabu juga sering ke sini. Ceritain tentang kalian, katanya suka nakal. Apalagi kamu," kata om wayan sambil menunjuk hidungku diiringi senyuman khasnya.
Aku garuk-garuk kepala ikut senyum juga.
"Tha!! Mau ikut gak ke pantai?" tanya seseorang yang kini berada dia bang pintu. Radit muncul dan sedikit membuyarkan konsentrasi dan pembicaraan kami.
"Tuh, sana ikut. Daripada sendirian di rumah. Om mau pergi juga nih. Nanti ditemenin nenek, mau?" gurau Om Wayan dengan pertanyaaan yang membuatku merinding. Dia lalu pergi ke kamar mandi. Meninggalkan kami berdua.
Aku lalu berjalan melewati Radit.
"Eh, siapa Nenek Lestari?" tanya Radit bingung.
"Bukan siapa-siapa," jawabku lalu berjalan ke luar diikuti Radit yang masih bingung.
Setelah mengambil cardigen ku, kami lalu pergi ke pantai menyusul yang lain.
Kulihat mereka sedang asik kejar kejaran main ombak. Sambil menjerit layaknya anak kecil yang tidak pernah pergi ke pantai.
"Udah mandi, Tha?" tanya mba Alya yg sedang duduk di pasir bersama kak Arden.
Kuhempaskan tubuhku di antara mereka berdua. Lalu kulingkarkan tanganku di pergelangan tangan mba Alya sambil menyandarkan kepala di bahunya.
Radit duduk di samping kak Arden.
"Udah mba. Kok aku ditinggalin," rengekku.
"Tadi mau kutungguin, tapi kata Arden udah ada Radit. Maaf ya...."
Mba alya ini orangnya baik sekali. Tulus.
"Nggak apa-apa sih mba. Oh iya kak." aku membetulkan posisi dudukku lalu menghadap kak Arden yang sedang menatap laut lepas.
"Apa."
"Kakak tau Eyang Lestari?" tanyaku
Kak Arden terlihat agak berfikir sebentar sambil menatap ke atas.
"Istrinya Eyang Prabumulih??"
Aku mengangguk semangat.
"Ya tau nama aja kan, sama kayak Eyang Prabu. Kenapa sih??"
"Tadi aku ketemu," kataku lalu kembali menyandarkan kepalaku ke bahu mba Alya.
"Ngarang. Ketemu di mana," ejek kak Arden.
"Di rumah om Wayan lah," jawabku santai.
"Serius, Tha??" tanya kak Arden dengan mukanya serius.
"Iyalah."
"Jarang lho ada yg bisa ketemu Eyang Lestari," tutur kak Arden.
"Masa sih? aku beruntung dong."
"Alya, gantian dong." Radit tiba tiba menyeletuk membuat mba Alya ketawa. Setelah beberapa saat. Karena kami baru menyadari maksud dari perkataannya.
Alhasil dia berhasil mendapat jitakan dari kak Arden. "Awas lu! Macem-macem!"
Hahahaha. Radit Radit..