Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
25. teka teki kematian Keisha


Aretha penasaran dengan halaman belakang rumah setelah obrolannya siang tadi dengan Pak Slamet dan Ratno. Dia sempat heran, bagaimana bisa ada manusia yang dimakamkan di halaman belakang rumah. Di saat tempat pemakaman umum masih banyak di luaran sana. Alhasil dia pun ingin melihat di mana letak makam Keisha itu, dan tentang keberadaan pohon beringin di belakang, rasanya membuat Aretha harus bersiap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi nanti.


Rumah Pak Ibrahim memang tidak memiliki pagar keliling. Walau rumah itu besar dan luar, hanya ada pohon hias yang digunakan sebagai pembatas halaman rumah itu dengan wilayah luar. Jadi begitu Areta sampai di halaman belakang rumah tersebut, dia pun bisa langsung melihat kondisi sekitar dengan lebih luas. Halaman belakang luas seperti halaman depan yang biasa dilihat selama ini. Keberadaan pohon beringin berjumlah dua buah yang ada di kanan dan kiri, dan dari tempat Aretha berdiri sekarang, dia langsung bisa melihat keberadaan makam dengan batu nisan yang letaknya ada di tengah-tengah, antara dua pohon beringin tersebut.


Tidak banyak tanaman lain seperti layaknya yang ada di halaman depan. Hanya dua pohon beringin saja yang mencolok dengan tanaman hias boxwood yang dijadikan pagar keliling memutari halaman tersebut. Tanaman boxwood dibentuk menyerupai pagar persegi panjang. Sebenarnya rumah itu tidak memerlukan pagar tembok tinggi karena tidak ada pengganggu yang akan masuk ke halaman rumah itu. Entah hewan ternak yang tiba tiba merusak atau mengotori halaman, ataupun anak kecil yang iseng menginjak injak tanaman. Rumah Pak Ibrahim memang jauh dari tetangga lain. Karena di sekitarnya hanya ada kebun teh saja.


"Hem, adem juga di sini. Sejuk, dan tenang," gumam Aretha sambil terus berjalan menuju ke makam Keisha.


Semilir angin menerpa tubuh serta wajah Aretha dan membuatnya justru menyukainya. Sore ini, dia memang sengaja berjalan jalan di halaman belakang rumah karena selama ini tidak pernah mendatangi tempat itu sama sekali. Rupanya pemandangan di tempat itu juga cantik, apalagi saat dia melihat ada ayunan berbentuk kursi panjang yang mengarah ke kebun teh di belakang rumah.


Aretha sampai di makam Keisha. Makam tersebut selayaknya makam pada umumnya yang sering ia lihat selama ini. Bahkan ada nama panjang, tanggal lahir dan tanggal kematian.


"2018? Berarti udah 5 tahun Keisha meninggal, ya."


Aretha lantas menunduk sambil memanjatkan doa untuk Keisha. Dia juga memejamkan mata, karena kebiasaannya selama ini saat berdoa. Tiba tiba telapak tangannya disentuh. Tentu saja dia langsung membuka kembali matanya, dan di hadapannya sekarang ada sosok anak kecil yang sedang menatapnya tanpa ekspresi. Anak itu, adalah anak yang telah mengganggunya kemarin malam. Anak itu adalah sosok yang ia kenal dengan nama Keisha. Sosok yang jenazahnya terbaring di bawahnya.


"Keisha? Kamu Keisha, kan?" tanya Aretha.


Namun sosok anak kecil itu tidak menjawab apapun. Hanya terus memegang tangan Areta. Tiba-tiba sekelebat bayangan terlintas di pikirannya. Bayangan tersebut hanya sebuah siluet saja. Sebuah siluet Anak kecil sedang bermain-main di sebuah ruangan. Tiba-tiba muncul seseorang yang membuka pintu ruangan tersebut. Dalam sekejap terjadi pergulatan, dan tiba tiba saja sosok anak kecil itu terjatuh dari sebuah balkon.


Aretha langsung membuka mata, dan tidak lagi menemukan keberadaan Keisha yang jelas jelas tadi ada di hadapannya.


"Keisha! Keisha!" jerit Aretha terus memanggil gadis kecil itu sambil menyapu pandang ke sekitar.


Tapi di sekitarnya tampak sepi, tidak ada orang lain ataupun sosok lain. Keisha menghilang setelah menunjukkan bayangan tadi.


"Apa itu tadi? Apa itu kejadian waktu Keisha meninggal? Bukannya dia katanya sakit, ya?" tanya Aretha  berbicara sendiri. "Wah, nggak beres!" katanya lalu segera berjalan kembali masuk ke dalam rumah.


"Pak Slamet! Pak Slamet! Pak!" Aretha terus memanggil nama Pak Slamet. Dia masuk lewat pintu belakang yang langsung terhubung ke dapur. Di sana hanya ada Bu Jum saja sedang mencuci piring. Bu Jum segera menoleh begitu Aretha masuk, apalagi saat ia mendengar kalau majikannya itu terus menerus memanggil nama suaminya.


"Ada apa, Mbak?" tanya Bu Jum sambil mengelap tangannya yang basah ke rok panjangnya.


"Pak Slamet ke mana, Bu?" tanya Aretha.


"Pak Slamet paling di depan, Mbak. Memangnya ada apa, Mbak Aretha?" tanya Bu Jum menatap Aretha bingung.


"Eh, oya, Bu. Keisha meninggal kenapa, ya?" tanya Aretha tiba tiba.


Bu Jum mengerutkan kening mendengar pertanyaan Aretha tersebut. "Kenapa kok Mbak Aretha bertanya seperti itu tiba tiba?" tanya Bu Jum.


"Enggak apa apa, Bu. Cuma pengen tahu aja. Saya barusan lihat makam Keisha di belakang rumah. Jadi penasaran aja."


"Oh begitu. Keisha meninggal karena jatuh dari balkon, Mbak."


Aretha melotot saat mendengar Bu Jum mengatakan hal itu. Karena setahu Aretha, Keisha meninggal karena sakit. Itulah yang ia dengar sebelumnya. Tapi jawaban Bu Jum seakan akan membenarkan bayangan yang tadi dilihat Aretha saat ada di makam.


"Jatuh? Dari balkon kamar atas?" tanya Aretha sambil menunjuk letak kamar itu.


"Iya, Mbak. Jadi Keisha itu punya sakit asma. Dan waktu itu dia lagi ada di balkon kamar, main main di atas seperti biasanya. Tiba tiba asmanya kambuh. Waktu saya masuk ke kamar, tiba tiba dia sudah di pinggir balkon lalu terjatuh. Begitu ceritanya, Mbak."


Aretha diam. Kisah yang di ceritakan oleh Bu Jum memang mirip dengan bayangan yang tadi dia lihat. Tapi bedanya hanya satu. Penyebab kematian Keisha. Karena Aretha jelas jelas melihat kalau Keisha didorong oleh seseorang. Bukan jatuh sendiri. Hanya saja Aretha belum bisa memastikan siapa orang yang mendorong Keisha yang muncul di bayangan yang ia lihat tadi.


'Apa mungkin Bu Jum, ya?' tanya Aretha dalam hati.


"Mbak? Mbak Aretha? Kenapa?" tanya Bu Jum saat Aretha terus diam.


"Eh, eng—enggak kok, Bu. Cuma lagi bayangin aja, kasihan banget Keisha. Memangnya nggak di bawa ke rumah sakit?"


"Sudah, Mbak. Begitu Keisha jatuh, saya langsung menghubungi Pak Ibrahim. Lalu mereka segera pulang. Walau harus menunggu beberapa jam sampai Pak Ibrahim sampai ke rumah. Jadi setelah Pak Ibrahim pulang, barulah Keisha dibawa ke rumah sakit."


"Astaga! Kenapa selama itu? Seharusnya langsung di bawa ke rumah sakit begitu kejadian, Bu," pekik Aretha ngotot.


"Iya, saya tahu, Mbak. Tapi di rumah nggak ada kendaraan. Bahkan warga desa sini nggak ada yang punya mobil. Sementara ambulan sudah dihubungi tetapi ternyata sedang dipakai semua. Jadi kami memutuskan menunggu Pak Ibrahim."


***


Pikiran Aretha benar benar mulai terganggu dengan salah satu petunjuk yang ia lihat. Kini dia sedang berdiri di balkon kamar lantai dua. Menatap ke bawah sambil membayangkan kejadian yang menimpa Keisha.


Sementara di tempat dia berdiri, Bu Jum dan Pak Slamet berjalan keluar dari halaman rumah, hendak pulang ke rumah karena jam kerja mereka sudah habis. Tak lama setelah pasangan suami istri itu keluar dari rumah, mobil Radit masuk ke halaman rumah.


Melihat suaminya sudah pulang, Aretha pun bergegas turun untuk menyambut Radit yang baru saja pulang dari kantor.


"Kamu ngapain di atas? Tumben," kata Radit begitu sang istri sudah ada di hadapannya.


"Hem, jadi tadi aku ke belakang rumah, kan, Dit. Terus aku ke makam Keisha."


"Heh? Ngapain ih?"


"Penasaran aja. Pengen tahu juga situasi di belakang rumah itu kayak apa."


"Sebenarnya suasananya enak banget. Sejuk, adem, dan pemandangannya bagus. Karena di belakang tuh ada kebun teh juga. Bentuknya tuh menurun ke bawah gitu, Dit. Ngerti nggak? Jadi pemandangan di bawahnya kelihatan."


"Iya, ngerti, Sayang. Terus? Kamu betah di belakang rumah?"


"Enggak. Semua nya emang sempurna, kecuali makam itu. Kamu tahu sendiri, kan, letak makam di sana justru bikin hawa di sekitar sini jadi nggak enak. Ya wajar aja kalau aku, kita, atau warga desa sering lihat penampakan Keisha. Lah, kuburannya aja ada di belakang. Ya jelas dia bakal sering muncul dong."


"Hehehe. Iya. Waktu aku denger kalau Keisha dimakamkan di belakang rumah juga, aku sedikit nggak nyaman sih. Mungkin kalau aku tahu sebelumnya, aku nggak akan mau tinggal di rumah ini. Lebih baik kita cari tempat lain, atau aku tinggal di mess aja kayak yang lain, dan kamu di rumah aja. Nggak usah ikut ke sini."


"Ih kok gitu!" protes Aretha.


"Demi kebaikan kamu, Sayang. Kalau aku tahu kalau situasi di desa ini seperti ini, aku nggak akan mungkin mau ajak Kamu tinggal di sini sama aku. Tempat ini terlalu berbahaya. Aku cuma nggak mau terjadi hal buruk sama kamu," tutur Radit sambil membelai kepala Aretha lembut.


"Aku baik-baik aja kok, Dit. Aku nggak masalah kita tinggal di sini dengan segala kengerian nya."


"Iya, aku ngerti, Sayang. Cuma tetep aja. Kalau ada tempat yang berbahaya seperti ini, lebih baik aku nggak menarik kamu masuk ke dalamnya. Kita udah ngalamin banyak banget hal buruk yang berhubungan sama setan, dan aku nggak mau lagi kamu mengalami hal hal buruk, Aretha."


"Asal kamu selalu ada di sini sama aku, maka apapun hal buruk yang akan terjadi, aku akan hadapi, Dit. Kita bisa hadapi ini sama sama."


Keduanya saling berpelukan. Saling melepas rindu dan rasa sayang yang bahkan tidak pernah pudar walau waktu sudah berlalu cukup lama.


"Kalau terjadi sesuatu, kamu langsung bilang aku, ya. Walau aku ada di kantor, kamu langsung telepon aku aja, jadi aku  akal langsung pulang nanti."


"Iya, Sayang. Pasti."


"Terus hari ini gimana? Ada kejadian apa? Atau masih aman aman aja?"


"Eum, tadi aku ngeliat Keisha di makam."


"Oh ya? Dia ngapain?"


" Sepertinya dia mau nunjukin ke aku gimana cara dia meninggal, Dit."


"Oh ya? Gimana dia meninggal, Tha? Bukannya kemarin katanya dia meninggal karena sakit?"


" tadi aku udah tanya sama Bu Jum karena dia kan sebenarnya sudah kerja di sini sebelum kita tinggal di sini kan. Yang otomatis Bu Jum itu kerja sama Pak Ibrahim dan pasti tahu gimana cerita mengenai kematian Keisha. Bojo bilang saat itu Keisha lagi main di balkon kamar atas dan tiba-tiba sakitnya kambuh. Ternyata Keisha mengidap asma sejak kecil, Dit. Terus tiba-tiba dia sesak nafas dan saat ujung masuk ke kamar Keisha sudah ada di pinggir balkon dan tiba-tiba Keisha jatuh ke bawah."


"Hah! Serius kamu? Terus terus?"


"Tunggu dulu itu tadi versinya Bu Jum."


"Oke, Jadi maksud kamu ada dua versi tentang kisah kematian Keisha?"


"Yah, bisa dibilang begitu. Tadi waktu aku ada di depan makam Keisha, dia tiba-tiba menampakan wujudnya di depanku. Saat Keisha memegang tanganku tiba-tiba aku melihat ada sekelebat bayangan yang melintas. Kejadiannya hampir mirip sama cerita dari Bu Jum tadi. Tapi ada sedikit perbedaan."


"Oke, aku masih menyimak."


"Perbedaannya cuman satu. Bu Jum bilang Keisha jatuh dari balkon atas karena sakit asmanya kambuh Tapi yang aku lihat di bayangan itu, Keisha jatuh karena didorong oleh seseorang. Cuma aku nggak bisa lihat Siapa orang itu."


"Hah! Di dorong kata kamu? Apa mungkin... Bu Jum?" tanya Radit berbisik sambil memperhatikan sekitar.


" Aku nggak tahu, Dit, siapa orangnya dan aku juga nggak mau nuduh sebenarnya. Cuma dari cerita yang dibilang sama Bu Jung dengan kejadian yang Keisha tunjukin ke aku, itu memang ada beberapa kemiripan kan?"


"Iyalah, mirip dan sama dari versi berbeda."


"Nah, yang bikin aku heran adalah kelanjutan dari cerita bu Jum tadi. Secara logika Kalau Bu Jum lihat Geisha jatuh dari balkon itu pasti bakalan langsung cari pertolongan dong. Tapi menurut dia, Bu Jum udah coba cari pertolongan cuman nggak ada kendaraan yang bisa membawa Keisha ke rumah sakit saat itu juga dan ambulans terdekat pun semuanya Katanya penuh. Akhirnya Bu Jum menunggu Pak Ibrahim pulang dari kerjaannya Dan itu sekitar beberapa jam Setelah Keisha jatuh. Aku pikir itu nggak lebih dari 5 jam. Karena katanya setelah Pak Ibrahim diberikan informasi tentang kondisi anaknya dia langsung meluncur pulang ke rumah. Sementara jarak dari tempat kerja Pak Ibrahim ke rumah itu kan bisa dibilang Nggak terlalu jauh. Tapi setelah Pak Ibrahim pulang dan membawa Keisha ke rumah sakit, nggak lama setelah itu Keisha dinyatakan meninggal dunia karena terlambat mendapatkan pertolongan. Menurut kamu gimana apa ada hal yang janggal dari cerita itu?"


"Hem, perlu digarisbawahi dulu penyebab utama Keisha meninggal itu sebenarnya apa. Apakah karena asmanya kamu atau karena jatuh dari balkon."


" kata Bu Jum menurut dokter penyebab kematian Keisha itu ya jatuh dari balkon. Katanya dia mengalami banyak luka yang fatal dan membuatnya nyawa Keisha tidak bisa diselamatkan lagi."


"Tapi kalau memang penyebab utama kematiannya adalah jatuh dari balkon rasanya itu lebih tidak masuk akal," kata Radit lalu menatap balkon yang berada di atas mereka.


Bahkan Radit berjalan ke halaman rumah untuk bisa melihat letak balkon tersebut dengan lebih jelas.


"Ini aneh sih menurutku. Coba kamu lihat letak balkon itu, Sayang," tunjuk Radit ke atas lalu turun ke bawah di mana letak kira kira posisi Keisha jatuh. "Aneh nggak menurut kamu? Kamu ngerti nggak maksud dari kata aneh yang aku bilang?" tanya Radit.


"Iya, posisi balkon sama teras, kan?" tanya Aretha balik.


"Iya benar. Nggak tinggi loh, Sayang. Balkon sama teras itu tingginya yah paling berapa meter. Aku pikir nggak akan bisa membuat  seseorang terbunuh kalau jatuh dari atas," jelas Radit.


"Yah, itu sesuatu sama pemikiran aku tadi, Dit. Makanya agak aneh sih."


"Terus, kamu berpikir kalau Bu Jum terlibat dengan kematian Keisha? Begitu, kah?"


"Entahlah. Aku nggak mau nuduh tapi dengan petunjuk yang tadi kita bahas bareng Rasanya nggak menutup kemungkinan kalau bujung memang terlibat. Kita cuma tinggal mencari tahu alasannya kalau memang  Bu Jum yang mendorong Keisha dari balkon seperti yang aku lihat tadi."


***