Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
Part 29 Permintaan Maaf


Sore ini aku berencana akan ke Rumah sakit jiwa, tempat mas Galih di rawat.


Indra tidak bisa mengantar karena masih bekerja sampai malam.


"Nis, kamu jadi ke Rumah sakit?" tanya Dimas selepas kami membereskan meja hendak pulang.


"Hu um."


"Sama Indra Nis?" tanya Mia.


"Enggak, Indra masih dines. Aku sendiri aja nggak apa apa."


"Aku temenin ya, Nis," seru Anjar.


"Eh... Mmmm.. Boleh deh," kataku yang sebenarnya agak ragu.


"Aku juga ikut, ya," timpal Mia.


Agak lega sih, Mia ikut.


"Wah, ayok deh. Makin rame kan lebih asik," kataku menyetujui nya.


"Dimas, nggak ikut?" Mia bertanya lagi.


"Nggak dulu ya guys.. aku ada perlu."


Jadilah kami bertiga pergi ke Rumah sakit naik mobil Anjar.


Aku sengaja duduk di kursi belakang, biar Mia saja yang duduk disebelah Anjar.


Sepertinya Mia menyukai Anjar, tapi Anjar masih cuek saja.


Terlihat dari spion, Anjar berkali kali melirik kepadaku.


Jangan sampai ini jadi cinta segi empat yah atau bahkan belah ketupat.


***


Setengah jam kemudian kami sampai di Rumah Sakit itu.


Saat aku melihat ke sekeliling, aku melihat seseorang yang tidak asing.


Aku menghampirinya, lalu menepuk bahunya, karena dia sedang membantu pasien yang sedang duduk ditaman.


"Indah..."


"Lho Nisa??" Indah kaget melihatku.


Kami berpelukan.


"Kamu nggak bilang kerja disini Ndah?"


Setelah acara lamaranku memang aku dan Indah jarang komunikasi, jadi aku tidak tau kalau Indah bekerja disini.


"Iya, aku kerja disini. Baru 2 mingguan lah Nis, kamu lagi ngapain disini?"tanyanya heran.


"Ah iya, kebetulan banget. Ada pasien namanya Galih nggak ya Ndah. Umurnya sekitar 35 tahun an kalau nggak salah."tanyaku.


"Itu bukan Nis?"kata Indah sambil menunjuk pria yang sedang duduk sendiri di bangku dekat taman.


Ku coba memincingkan mataku mencoba melihat lebih jelas.


"Yang namanya Galih disini cuma dia aja Nis."


"Kayak nya iya deh. Bener Ndah.."


Aku berjalan hendak menghampiri mas Galih, tapi ditahan Indah.


"Hati hati Nis.. dia agak agresif. Suka teriak teriak, kadang sampai lukain orang juga"


"Aku temenin Nis.." Anjar berjalan duluan ke mas Galih.


**


"Mas Galih ya...gimana kabarnya?"tanya Anjar yang sekarang duduk disebelah mas Galih.


Mas Galih hanya diam tak merespon.


"Keluarganya sering ke sini nggak Ndah?"Tanyaku ke Indah yang masih diam saja.


"Mmm... jarang Nis."


"Mas Galih, kenalin aku Niisa.."kataku mencoba mengulurkan tanganku.


"Aaaaarrrrrrrhhhhhh"mas Galih berteriak histeris menunjuk ke pojok taman.


Ada mas Eka disana.


"Tenang mas, nggak apa apa.." Kataku coba menenangkannya.


Tapi malah dia berontak, Dia mendorongku hingga jatuh.


"Aduuuuhhh" aku mengerang kesakitan.


Baru saja datang sudah kena serangan.


"Nis.. kamu nggak apa apa?" Anjar mencoba membantuku berdiri.


"Nisss.. Nisa.. aku bilang juga apa Nis.."  Indah kembali mengingatkan ku atas perkataannya tadi.


"Udah.. udah.. Aku nggak apa apa kok." aku berdiri lagi dibantu Anjar.


Aku membaca beberapa doa dengan khusyu dan yakin.


Mas Eka hilang.


"Mas Galih. Mas Galih ada masalah apa sama mas Eka? biar Nisa bantu. Biar mas Galih nggak dihantui terus."


"Huhuhuhu.. Maaf ka.. maafin aku ka.. Aku yang salah. Aku yang fitnah kamu.. maaf." kata mas Galih sambil menangis.


"Mas Galih mau aku temuin sama orang tuanya mas Eka? mas Galih harus minta maaf, mas Galih juga harus membersihkan nama baik mas Eka di Kantor.." pintaku.


"Tapi aku takut, dia selalu muncul setiap saat. Aku takut, dia pengen bunuh aku..." dia masih saja menangis.


Aku pikir mas Galih ini waras, hanya saja dia terlalu lelah terus menerus diteror mas Eka.


Dia sadar dengan yang dia ucapkan bahkan bisa diajak komunikasi.


"Sholat taubat dulu mas, minta ampun sama Allah.. nanti aku anter ke rumah mas Eka. Kasian mas Eka, nama baiknya tercoreng karena kasus di Kantor dulu, sampai tetangganya juga berfikir buruk.."


Mas Galih hanya menangis.


"Nis, udah ah.. Mending balik aja yuk" ajak Mia.


"Iya Nis, dia masih belum bisa diajak komunikasi lebih baik lagi, besok aja kita kesini lagi."saran Anjar.


Aku hanya bisa menghela nafas berat, ya baiklah. Mungkin harus perlahan.


"Ndah, aku balik dulu ya. Kalau ada apa apa sama mas Galih, kabarin ya Ndah." ucapku sebelum pergi.


"Iya, nanti aku sampein.."


Kami memutuskan pulang.


"Makan dulu yuk. Laper. "celetuk Mia.


"Mmm... aku pulang aja deh, kalian berdua aja. Aku turunin disini. Nanti biar naik taksi"kataku mencoba membuka ruang agar Mia& Anjar bisa bersama.


"Jangan Nis, aku anter sampai rumah aja ya, apa ikut aja makan.."kata Anjar.


"Duh, aku masih kenyang. ah..., turunin di rumah itu aja Njar.."kataku menunjuk rumah Indra.


"Rumah siapa Nis? kok banyak penjaganya?" Mia heran.


"Rumah Indra.. aku turun disana aja ya."kataku.


Akhirnya Anjar menurunkan ku didepan rumah Indra.


Saat kami parkir didepan, ada penjaga yang hendak menghampiri mobil  Anjar. Tapi begitu aku keluar dari mobil, dia mengurungkan niatnya lalu tersenyum kepadaku.


"Mba Nisaa.. kirain siapa."katanya menjadi ramah.


"Iya pak.. Mamah didalem nggak ya?"tanyaku.


"Ada kok. Ibu dan bapak dirumah, yapi mas Indra belum pulang mba"katanya lagi.


"Iya pak, nggak apa apa. Saya masuk ya"kataku.


Lalu dibuka lah pintu gerbang rumah dan aku pun masuk.


"Assalamualaikum" saat kulihat papah Indra sedang membaca koran diteras.


"Wa alaikum salam..ooohh Nisa..baru pulang kerja ya" tanya papah Indra yang melihat bajuku yang masih mengenakan baju kerja.


"Iya pah.. tadi dianter temen, lewat sini jadi aku mampir sekalian. Mamah mana Pah?"tanyaku sambil menjabat tangan beliau dan mencium punggung tangannya.


"Ada didalem. Masuk aja. Indra pulang malem kayaknya."


"Iya, Nisa tau tadi Indra udah ngabarin. Ya udah Nisa masuk dulu ya Pah.."kataku.


Aku pun masuk kedalam, kulihat mamah Indra sedang menonton Tv saja.


"Mamahhhh"


"Eh.. Nisa.. sama siapa?"tanya mamah Indra sambil memelukku lalu mencium pipiku.


"Sendiri mah, tadi lewat sini. Jadi mampir."


"Oh gitu, Indra pulangnya agak malem" ujar beliau.


"Iya, Nisa tau mah. tadi Nisa habis nengok temen di Rumah Sakit pas lewat sini jadi Nisa pulang kesini aja deh. Dirumah juga sepi."kataku sambil memeluk mamah Indra.


"Kamu udah makan?"


"Belum. Nanti aja mah, masih kenyang."


Aku agak menguap. Karena memang rasanya penat sekali memikirkan masalah mas Eka& mas Galih.


Aku takut mas Galih belum sadar sepenuhnya. Jadi solusiku tadi entah kapan bisa dilakukannya dan otomatis entah kapan kantor akan lebih tenang.


"Kamu capek ya.. sana istirahat aja di kamar Indra"


"Iya, agak ngantuk mah. Nisa ke kamar dulu ya Mah."


"Iya sana.. Istirahat ya.."


Aku segera masuk ke kamar Indra. Tanpa babibu lagi aku langsung tiduran di ranjang.


Ku tengok hp ku, sepertinya pesan ku belum dibaca oleh Indra.


Lama kelamaan mataku terasa berat dan aku pun tertidur.


***


Aku merasakan ada yang memelukku dari belakang.


Indra.


"Kamu udah pulang Ndra?"tanyaku sambil melihat ke belakangku.


"Udah, udah setengah jam yang lalu. kamu bobonya nyenyak banget sih."


"Mmmmm.. iya, ngantuk banget tadi. Berarti udah malem donk ini?"


"Udah jam 8 sayang"


"Ya ampun.. lama banget aku tidur ya.."


"Kamu udah sholat belum?" tanyanya.


"Lagi nggak sholat Ndra."


Aku berbalik lalu memeluk Indra. Masih ngantuk rasanya.


Tapi tenang begitu ada dipelukkan Indra.


"Bobo sini aja?"tawarnya.


"Hmm.. Nggak ah. ntar aku diomelin kak Adam.."


Indra hanya tertawa.


"Ya udah, makan dulu yuk. Terus aku anter pulang. kamu nggak ngabarin rumah tadi? mamah kamu telfon aku "


"Hm.. iya, lupa. Aku capek banget."


"Hm...., dasar.. ya udah yuk. Mamah udah nyuruh makan"


Kami segera keluar kamar dan menuju ruang makan.


Sudah ada orang tua Indra.


"Makan dulu Nis."


"Mau nginep aja disini?"


"Enggak pah, pulang aja. Maaf ya mah..pah Nisa tidurnya lama banget."


" Nggak apa apa.. namanya juga capek."


Segera kami menyantap hidangan malam ini.


Lalu setelah selesai, kami ngobrol sebentar dan Indra mengantarku pulang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=