Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
20. Mbak Kunti


Malam nya seperti biasa kami berkumpul di ruang tamu. Aku sibuk mengurusi proposal ku begitu juga dengan yg lainnya.


"Yang.. Temenin yuk ke belakang. Mules," ucap Ferli.


Aku hanya melirik mereka sekilas lalu kembali tenggelam dengan pekerjaanku sendiri. Trauma deh.


0


"Sekarang? Yakin?" Tanya Feri ragu. Aku yakin dia takut karena terakhir kali nemenin Nadia kemarin, Feri juga melihat sosok penghuni belakang.


"Nis," panggil Feri tiba tiba.


"Hm." Aku hanya menggumam tanpa melepaskan pandangan dari kertas kertas di hadapanku.


"Temenin yuk!" Pintanya.


"Minta tolong yang lain aja kenapa? Aku ada kerjaan nih," jawabku malas malasan.


"Ya ampun, Nis. Plis ... Tega bener lu deh. Sobat lu sendiri ini lho yang lagi mules!" kata Feri terus memaksa.


"Iya, Nis. Yuk. kemarin aja kamu mau kok temenin Nadia." Ferli kini ikutan memaksa.


Hmm, terpaksa deh. Daripada nanti dibilang gak setia kawan.


"Ya udah ayok." akhirnya aku menyerah juga.


"Eh ikut dong." Nindi juga ikutan.


"Gue juga!" Agus mules juga kayanya nih.


Buset bisa barengan gini.


Akhirnya kami beramai ramai ke wc belakang. Absen dulu ya.


Aku, Ferli, Feri, Nindi, Agus, Indah kupaksa ikut menemani, dan Wicak juga kutarik paksa.


Mereka dengan santainya melenggang ke belakang rumah. Hanya aku dan Feri yg agak ragu ragu dan takut juga.


Pintu belakang di buka. Udara malam langsung menerobos masuk. Dingin dengan aroma khas pedesaan yang masih tercium di pangkal hidungku.


"Fer, ganjel pintunya pakai kursi !!" perintahku.


Feri tanpa bertanya lagi lalu mengambil kursi dan meletakan nya di depan pintu. Kami tentu saja harus mengantisipasi kejadian kemarin.


"Ngapain sih digituin?" tanya Wicak.


"Ni pintu suka nutup sendiri, Cak. Anginnya kenceng," kataku bohong.


Wicak mengerutkan kening, seperti merasa kalau ada yang gak beres.


Akhirnya kami berjalan menuju wc yg jaraknya sekitar 10 meter dari rumah.


Semilir angin malam begitu menusuk tulang begitu kami sudah berada di luar. Rasa sejuk yang kurasakan tadi, berganti rasa dingin yang membuat bulu kuduk meremang. Aku merapatkan jaket sambil celingukan ke sana ke mari. Aku sudah waspada dengan segala keterkejutan yang mungkin saja akan terjadi nanti.


Kebetulan wc ada 4 bilik. Jadi mereka masing masing masuk ke sana, dan tidak perlu antri. Namun ada 1 yang kosong karena hanya tiga orang saja yang sedang buang hajat.


Di luar tinggal aku, Indah, Feri dan Wicak, yang menunggu dengan tenang bercampur gelisah yang ditutupi.


"Aneh ya, wc pakai misah jauh gini," kata Indah.


"Namanya juga di desa, Ndah. Tempat kakekku juga gini. Bahkan kamar mandi nya aja kebuka, dan harus nimba di sumur," kata Wicak yg tampaknya tidak heran dengan suasana di desa ini.


"Desa lu horor kagak, Cak?" tanya Feri mulai dengan pertanyaan yang membuat ku langsung melirik tajam padanya.


Aku pura pura batuk dan melotot ke Feri.


Soalnya si mbak nya ini paling seneng kalau dibahas. Bakal muncul pastinya.


"Kenapa sih,Nis?" tanya Indah heran.


"Gak papa. Nggak usah bahas horor deh di sini. Nggak lihat apa kita lagi di mana?" Tanyaku sedikit menyindir.


Feri pun cengengesan.


"Eh, besok kak Yusuf dateng jam berapa, Nis?" tanya Wicak.


"Gak tau. Nggak bilang sih tadi," sahutku sambil mengedarkan pandanganku ke sekitar. Angin berhembus mulai makin kencang. Aneh rasanya.


"Bau apaan nih ya?" celetuk Feri sambil menutup hidungnya.


"Yang pada di dalem kali, nge bom kan? Pasti baunya ampe keluar, "jawab Indah.


"Bukan. Ini bau anyir, Sist. Lo tau kan, bau bau darah tapi campur wangi juga," Jawab Feri.


Aku dan Wicak saling pandang dan diam.


"Udah belom ya?" Tanyaku sedikit teriak ke mereka yg ada di dalam.


Karena mereka tak kunjung menjawab, iseng aku jalan mendekat sambil mengetuk pintu mereka satu satu.


Tokk.


"Bentar!" suara Ferli terdengar


Tookk


"Iya nih udah selesai!" suara Nindi.


Tookkk


"Bawel. Iya bentar!!" teriak Agus.


Saat melewati wc ke empat, aku memang sengaja tidak mengetuk karena yakin di sana tidak ada orang. Tapi justru malah terdengar ketukan dari dalam.


Tookkk.


Aku kaget, spontan menoleh ke wc itu. Aku salah denger pasti nih. Perlahan aku mendekat.


"Bentar lagi. hihihihihi! " suara dari dalam itu membuat bulu kudukku berdiri. aku lalu menjauh kembali bersama yg lain.


"Siapa, Nis??" Feri ikut bingung. Aku yakin mereka juga mendengar suara tadi.


"Gak tau! " jawabku singkat.


"Duh, pada lama banget sih. Keburu yg di wc ke empat keluar. Gimana dong!!"kata Indah mulai takut juga.


Akhirnya Nindi keluar.


"Sori lama. eh, kalian kenapa? Pucet gitu? Dingin ya di luar?" tanya Nindi heran melihat kami.


"Iya, Nin. Ferli lama banget ya!" kata Indah menutupi rasa takutnya.


Syukurlah tak lama Ferli ikut menyusul keluar, dan tinggal Agus.


"Gus!! Buruan napa! Elu lagi boker apa bertapa!" teriak Feri.


"Iya!" Teriak Agus keras.


Setelah mendengar guyuran air, Agus keluar. "Ah lega," katanya.


Agus melihat wc sampingnya, lalu mengetuk nya.


"Cong!! Buruan. Kita tinggal nih!!"kata Agus.


Kok 'cong' sih?


Kami pun saling pandang sambil mengerutkan kening melihat tingkah Agus tersebut.


"Gus!! Sini buruan!!" kata Wicak.


Agus berjalan mendekat.


"Elu tadi manggil siapa, Gus?" tanya Feri.


"Wah gak beres nih," ucap Feri mulai panik.


"Kenapa sih??" Tanya Agus bingung


"Acong dari hongkong? Dia ada di dalem rumah tau!" kata Feri sambil menjitak agus.


"Lah masa sih? Terus siapa dia? Orang tadi dia sempet ngobrol juga lho.."jawab Agus yg sekarang wajahnya berubah pucat.


"Balik! balik!!"perintah Wicak.


Kami segera masuk ke rumah, namun baru saja akan sampai pintu, tiba tiba..


Braaakkkk!!


Pintu tertutup dengan sendirinya.


"Mampus!" pekik Feri. Lalu berlari ke pintu dan menggedor gedornya sekuat tenaga.


"Buka!!! Woiiii!!!! Bukain!!!!!!"teriak Feri.


Kami ikut menggedor gedor pintu..


Wicak yg ada di belakang sendiri mencolek pundakku.


"Nis!!"


Otomatis aku menoleh.


Wicak melihat ke arah wc tadi, dan di sana ada sosok mbak kunti yg kemarin.


Aku makin kencang menggedor pintu.


"Elu kenape??"tanya Feri heran melihatku


"Noh di belakang!!!"jawabku tanpa melihat lagi ke arah tersebut.


"Huuuaaaaaaaaa!!! Woiiii bukaaaaaa!!!" Feri makin panik. Aku yakin dia juga melihatnya.


"Itu siapa sih??"tanya Indah.


" Hih, pake ditanya lagi siapa!" Hardik Feri.


"Duh, gimana dong. Takut," rengek Ferli.


Buuggg!!


Tiba tiba Nindi terjatuh di tanah.


"Yah, ni anak pake pingsan segala lagi!" Gerutu Agus sambil membopongnya.


Pintu akhirnya dibuka oleh Acong. Dia melihat kami heran.


"Kenapa sih?" tanyanya.


Kami lalu masuk.


"Pakai nanya lagi lu!! Ya gara gara yg  kemaren lah ya!!'' pekik Feri. Pintu lalu dikunci. Kami ngos ngosan setelah berlarian tadi.


Tok..tok..tok..


'Bukaaaaa!!'


Suara dari luar membuat kami bergidik ngeri. kami spontan lari masuk ke dalam. Karena semua sudah masuk jadi suara di luar tentu bukan salah satu dari kami.


Teman teman yg lain heran. Namun tidak bagi Nadia, Faizal dan Acong.


Nindi dibaringkan di kamar oleh Agus.


"Nongol ya?" tanya Faizal.


Aku hanya sanggup menganggukan kepala.


"Ada apaan sih?" Lukman penasaran.


Sreeeeett..


Tiba tiba korden depan terbuka sendiri dan mbak kunti ada di sana. Dia menyeringai kepada kami.


"Aaaaaaaahhhhhh" Kami semua teriak.


Lalu berlari masuk ke kamar masing masing.


Segera pintu kamar ku tutup lalu ku kunci.


"Nis. Serem banget," ucap Ferli.


Penampakan mbak nya emang serem. Walau khas ala ala kunti pada umumnya, namun tetep aja bikin merinding.


Tok..


Pintu kamar kami di ketuk.


Aku beringsut mundur. Aku yakin yg mengetuk bukanlah salah 1 dari teman di sini, namun sosok tadi.


Aku pun mendengar kamar lain diketuk juga sama sepertiku. Semua kamar dan bergantian.


"Jangan dibukaaaaa!!" teriakku agar mereka semua dengar.


Ya Allah, ini malam beneran horor deh. Mbak kunti eksis banget sih. Iseng nya gak ketulungan.


Selama beberapa lama, kami semua diam di kamar, dan sepertinya sudah sepi.


"Fer, sepi ya. Udah pergi kali ya, Fer?" tanyaku ke Ferli yg duduk di sampingku dengan tertutup selimut.


"Au ah. Nggak berani aku liat. Kamu aja sono!!" katanya.


"Ndaaaahhh!!!" panggilku


"Ya Nissss??"


"Udah pergi belum yaaa??"


"Gak tau, Niss! Wicakk!!! Cek dong!" Pinta Indah.


"Kenapa harus aku sih?" Tanya Wicak ogah ogahan.


"Elu kan ketua, Cakk!! Mana tanggung jawab ente sebagai ketua!'' Feri nyamber.


Kami berkomunikasi dengan teriak teriak dari kamar ke kamar.


Tak lama Wicak teriak.


"Amaaaannnn!!!" akhirnya aku turun dari ranjang, diikuti Ferli. Aku buka sedikit pintu kamar untuk memastikan perkataan Wicak tadi.


"Gimana, Nis?" Tanya Ferli berbisik.


"Iya kosong." jawabku.


Wicak muncul.


"Aman, Nis. Udah aku cek semua, " katanya.


Akhirnya kami keluar kamar, dan berkumpul di ruang tamu. Jujur kami masih syok.


Malem malem kenapa ngajakin kejar kejaran sih itu mbak..


Kak Yusuf cepet dateng ya...


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=