Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
34. tindihan


POV ARDEN


Dreeeet...


Dreeeeettt..


Ponselku bergetar yg menandakan ada panggilan masuk.


Jika aku tidur, memang sengaja kusetel mode getar saja pada benda pipih ini, agar aku bisa tidur nyenyak.


Kubuka mataku dengan agak berat.


Lalu ku raih ponselku yg ku letakan di meja nakas samping ranjang.


Alya???


Ada apa ya? dia menghubungiku malam malam begini?


Ini sudah pukul 02.00 dini hari.


"Assalamualaikum," sapa ku.


"Wa alaikum salam, Den..."suara alya terdengar ketakutan.


"Kenapa, Al? Kamu kenapa? Ada masalah?" tanyaku agak panik.


Karena tumben tumbenan dia menghubungiku malam malam begini. Pasti ada hal penting.


"Kamu... Kamu bisa ke sini nggak, Den? Sekarang?" tanyanya ragu ragu.


Tanpa bertanya ada masalah apa, aku langsung mengiyakan saja permintaan Alya.


"Bisa! Tunggu ya. Aku ke sana."


Langsung ku matikan panggilan ponselku dan segera ku raih jaket yg ku gantung di capstok kamar.


Aku keluar kamar dengan tergesa gesa. Agak cemas dengan Alya, dan yg ada di pikiranku saat ini, hanya ingin cepat sampai ke rumah Alya.


Sampai ruang tengah, aku meraih kunci mobil bunda yg biasa digantung di dekat saklar lampu dekat bufet.


"Den!!" panggil bunda yg sepertinya habis salat malam, karena masih memakai mukena.


"Eh, bunda... Kok blm tidur?" tanyaku basa basi.


"Harusnya bunda yg tanya. Kamu mau ke mana malam malam gini, kak?" tanya bunda heran.


"Arden mau ke rumah Alya dulu ya bunda. Tadi dia nelepon, kayak panik gitu," pinta ku.


"Oh ke rumah Alya. Eum, ya udah sana. Tapi kamu hati-hati ya kak. UdAh hampir pagi nih," ucap bunda.


"Iya bunda." aku lalu mendekat dan salim ke bunda.


Kupercepat langkahku keluar dari rumah untuk segera ke rumah Alya.


Dalam perjalanan, aku terus berfikir apa yg sebenarnya terjadi padanya.


Aku benar benar khawatir pada Alya.


20 menit kemudian aku sampai di halaman rumah Alya.


Tok..tok..tok..


"Assalamualaikum," sapaku saat sampai di depan pintu rumah Alya.


Pintu dibuka, Alya muncul dengan raut wajah ketakutan dan langsung memelukku erat.


Glek!


Aku agak terkejut dengan reaksinya kali ini. Badan nya bergetar hebat. Dia seperti habis menangis.


Kubelai punggungnya walau agak ragu dan sungkan.


"Ada apa sih, Al? Kamu kenapa? Papah mamah kamu ke mana? kok sepi?" tanyaku sambil melongok ke dalam rumah nya. Sepertinya Alya di rumah sendirian.


"Mamah papah lagi ke rumah sakit, Sen. Ada saudara yg lagi sakit, kayanya sih nginep sana," katanya lalu melepaskan pelukannya sambil menghapus air matanya.


Ku belai kepalanya lembut, rasanya hatiku sakit melihat nya menangis seperti ini.


"Terus kamu kenapa?" tanyaku penasaran.


"Itu, Den. Tadi waktu aku tidur...." Alya mulai menceritakan alasan kenapa dia menghubungiku malam malam begini.


\=\=\=\=\=\=


POV Alya


Flashback.


Malam ini setelah papah dan mamah pergi ke rumah sakit untuk menjenguk saudara di sana, aku mengecek semua pintu dan jendela.


Memastikan semua nya sudah tertutup rapat sebelum aku tidur.


Saat berjalan dari ruang tengah ke kamar, kurasakan semilir angin agak kencang. kurapatkan piyama tidurku dan ku pandangi keadaan sekitarku.


Sunyi sekali rasanya, hanya aku sendirian di rumah. Biasanya aku tidak merasakan cemas atu takut. karena ini hal yg biasa.


Papah dan mamah sering pergi malam malam, meninggalkan ku sendirian di rumah.


Namun malam ini, terasa lain. Aku merasa seperti sedang diamati.


Segera saja aku kembali ke kamarku dan menguncinya sekalian.


Aku langsung naik ke ranjangku dan menutupi tubuhku dengan selimut. Tetapi aky masih merasakan tidak nyaman malam ini.


Namun karena rasa lelah yg teramat sangat, aku perlahan dapat terlelap dan tidur hanya dalam hitungan menit. Itupun tidak sampai 10 menit aku sudah tidur.


Tapi, baru beberapa saat aku terlelap dan masuk ke alam mimpi. aku merasakan ada sebuah tangan dingin mencengkram kaki ku yg ada di balik selimut. Lalu seperti ditarik dengan kasar, namun hanya sebentar dan saat aku membuka mata, aku merasa badanku kaku tidak bisa digerakkan sedikit pun.


Aku hanya dapat menggerakkan bola mataku dan mencoba mengedarkan pandanganku ke sekelilingku.


Deg!!!


Samar samar aku melihat ada seseorang yg sedang duduk di pinggir ranjang yg ada di dekat kakiku.


Apakah dia yg memegang kakiku tadi?


Ya ampun siapa dia?


Seorang wanita dengan pakaian putih, lusuh dan agak kotor.


Rambutnya tergerai acak acakan dan menutupi sebagian wajahnya.


Namun wajahnya tetap sangat jelas dapat kulihat.


Wajahnya putih, pucat. Matanya hitam dan bola matanya hanya berwarna putih saja. Dia hanya diam sambil terus memandangku lurus. Tak lama dia menyeringai dengan memiringkan kepalanya lalu dia beranjak, perlahan naik ke ranjang dengan posisi merangkak namun gerakan nya sangat pelan.


Dia terus menyeringai dengan ekspresi yg sangat menakutkan.


Dan aneh nya aku tidak bisa melakukan apa pun. Bahkan untuk memalingkan wajahku dari nya pun sangat sulit.


Aku seperti sudah terhipnotis untuk terus melihat nya. Dia seperti sengaja membuatku ketakutan dan ingin terus meneror ku dengan cara seperti ini.


Dia makin mendekat dan terus merangkak mendekatiku, dan dia langsung duduk di atas dadaku.


Rasanya sesak sekali.


Tenggorokanku terasa tercekat.


Aku tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Bergerak pun masih sangat sulit kulakukan. Sedangkan mataku,


Tetap tidak bisa berpaling dari matanya.


Dia hanya diam saja sambil terus menatapku tajam. Sesekali dia menyeringai sambil memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.


Bau anyir dan busuk menyeruak ke dalam hidungku.


Aku makin tidak tahan dengan keadaan seperti ini.


Aku mengucap istigfar dengan susah payah, kalimat ku bahkan terbata bata dan suaraku yg sangat sangat pelan.


Entah mendapat kesadaran dari mana, aku mulai dapat mengingat ALLAH.


Kubaca beberapa doa doa untuk meminta perlindungan dari NYA.


Makhluk ini kemudian beringsut mundur dan makin lama dia makin menjauhi ku dengan tatapan yg sangat tIdak menyenangkan.


Dan makin lama dia makin hilang entah ke mana. Dari sudut ekor mataku, tidak dapat lagu kutemukan keberadaan nya.


Aku menjerit, terbangun dan langsung duduk di ranjang.


Sunyi.


Hanya semilir angin yg berasal dari lubang ventilasi di atas jendela.


Keringat dingin membasahi dahi bahkan rasanya sekujur tubuhku berkeringat. Jantungku berdegup sangat cepat.


Segera kuraih ponselku dan langsung menghubungi Arden.


Aku ketakutan!


Benar benar ketakutan!


Dan entah kenapa nama yg terlintas pertama kali di pikiranku adalah Arden!


Bukan hanya karena dia seorang indigo, tapi lebih dari itu.


Sejak pertama kali aku mengenalnya, aku merasakan nyaman yg belum pernah kurasakan pada orang lain.


Kami memang baru dekat, tapi aku merasa sudah sangat jauh mengenal nya.


Walau dia agak, eum... Kaku.


Tapi, dia bisa menjadi pribadi yg hangat dan menyenangkan.


Dia selalu ada disaat aku membutuhkan nya, dia sangat baik dan selalu memperlakukan ku dengan sopan selama ini.


Dan, kini aku membutuhkan nya.


Aku tau ini sudah lewat tengah malam, tidak seharusnya aku mengganggu istirahatnya malam ini. Karena aku yakin dia pasti lelah karena perjalanan kami siang tadi.


Setelah menghubungi arden, dia bilang akan datang ke rumahku secepatnya.


Dan hanya dalam 20 menit, dia sudah sampai di depan rumahku.


Aku sedikit berlari kecil agar segera dapat melihat Arden.


Saat kubuka pintu, Arden sudah ada di sana dan menatapku dengan wajah yg cemas.


Aku spontan memeluknya.


Aku sudah tidak peduli lagi urat malu. Rasanya dengan memeluk Arden saat ini, aku merasa jauh lebih nyaman dan tenang.


Alya pov end


\=\=\=\=\=\=\=


"Ya udah yuk, kita liat dulu ke dalam," ajakku lalu ku hapus air mata Alya yg sudah banjir entah sejak berapa lama.


Dia mengangguk, kami lalu berjalan masuk ke dalam rumahnya.


Alya terus memeluk lenganku seolah tIdak ingin melepaskan nya.


Sampai di depan kamarnya, kami diam sebentar.


Dia menoleh padaku dengan raut wajah yg ragu.


Aku mengangguk sambil melemparkan senyum. Setidaknya aku ingin agar Alya merasa semua akan baik baik saja, dan dia tidak perlu khawatir.


Ceklek..


Saat pintu kamar nya terbuka, angin berhembus menyapu wajahku, dan membuat beberapa anak rambutku berterbangan tersapu angin.


Itu pertanda aku harus memotong rambutku karena sudah agak panjang.


Aku maju beberapa langkah untuk dapat masuk ke kamarnya.


Kuraih tangan Alya dan ku genggam tangan nya erat.


Kuedarkan pandanganku ke segala arah. Dengan membuka mata ketiga ku sebelumnya.


Namun, selama beberapa saat aku mengamati kamar alya, aku tidak menemukan hal ganjil di sini.


"Sebentar ya, Al..."aku menyuruh nya untuk diam di tempatnya berdiri dan aku berjalan ke jendela kamarnya.


Ku sibak kan korden biru muda di jamarnya sedikit agar aku dapat melihat keadaan di luar kamar nya.


Deggg!!!


Rupanya 'dia' yg mengganggu Alya. Sesosok wanita sedang berdiri di bawah pohon di depan kamar Alya.


You know, mba kunichan?


Yah, dalam keluargaku kami menyebutnya seperti itu.


Iseng banget ini setan. Beneran deh.


Kurapalkan doa doa yg biasa ku baca.


Sosok itu perlahan hilang.


Lalu ku beri pagar gaib di kamar Alya agar dia aman dari gangguan jin jin iseng lagi untuk ke depan nya.


Setelah semua selesai.


Aku kembali menghampiri Alya yg masih terlihat cemas sambil terus menatapku.


"Gimana, Den? Ada kan? Aku harus gimana?? Aku takut, Den," rengek nya manja.


Aku tersenyum lalu membelai kepalanya.


"Udah pergi. Kamu gak usah takut ya. Dia gak bakal berani masuk ke kamar kamu lagi. Terus kalau bisa setiap malam, baca surat al baqarah," ucapku.


"Serius, aden?? Beneran kan ini?" tanyanya semangat. Aku mengangguk yakin.


"Alhamdulillah," ucapnya sambil menarik nafas panjang lalu menekan dadanya.


Seperti nya dia tegang sekali. seakan dia lupa untuk bernafas, melihat reaksinya yg seperti ini.


Aku terkekeh,"ya udah ,kamu tidur lagi, gih. Aku balik ya, Al," pamitku.


Dia menahan tanganku.


"Jangan pulang dulu, Den.."pintanya.


"Lah.. Kok gitu. Udah gak ada kok, Al. udah pergi.. Dia gak akan masuk lagi ke sini..aku janji." sambil ku naikan dua jariku ke atas membentuk huruf V.


Dia makin mengeratkan pegangan nya sambil menggeleng padaku.


Aku benar benar tidak bisa menolak jika Alya sudah menunjukan ekspresi seperti ini.


"Terus gimana? Kamu pengen aku nginep sini?" tanyaku padanya.


Dia mengangguk semangat.


Aku tersenyum.


"Ya udah, aku temenin deh malem ini. Tapi subuh nanti aku pulang ya.."sahutku.


Dia tersenyum senang lalu mengangguk lebih semangat lagi.


"Oke, kamu tidur deh.. Eum..masih ada waktu sebelum adzan subuh nanti. kamu istirahat ya," kataku sambil menatap jam tangan yg melingkar di pergelangan tangan.


"Kamu tidur di kamar tamu aja, Den?" tanya Alya.


"Mmm.. Enggak deh, Al..aku di ruang tengah aja ya. Aku jagain kamu tidur. Kalau ada apa apa, kamu teriak aja ya," terangku.


Dia tersenyum penuh arti.


Ruang tengahnya adalah tempat terdekat dengan kamar Alya.


Aku lebih tenang tidur di sofa dan memastikan Alya dapat tidur dengan aman dan nyaman.


Setelah Alya memberikan selimut, aku keluar dari kamarnya dan mulai mencari posisi tidur yg nyaman.


Namun, ku kirimkan pesan terlebih dahulu ke bunda, agar bunda tidak mencemaskan ku kareba aku tidak kunjung pulang.


Kuceritakan juga apa yg terjadi pada Alya.


Aku mulai memejamkan mata agar dapat melanjutkan tidurku yg sempat terpotong tadi.


...Good night al.....


...Aku akan menjagamu melebihi aku menjaga diriku sendiri al.....


...I promise....


...\=\=\=\=...