Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
10. Fendi hilang


"Duh, kenapa panas banget sih, tumben!" pekik Armand yang tiba tiba terbangun.


Saat dia melihat sekitar, ternyata teman temannya masih terlelap. Rupanya hari masih malam karena saat dia melihat jam dinding, masih menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Tetapi tenggorokannya terasa sangat kering sehingga dia tidak bisa lagi melanjutkan tidur dan memutuskan untuk beranjak menuju dapur untuk mengambil air minum. Tubuhnya yang masih setengah sadar berjalan sempoyongan. Bahkan matanya masih setengah tertutup. Untungnya dia sudah hafal letak tempat minum, dan kini tenggorokan yang sudah basah. Arman memutuskan untuk kembali tidur tetapi saat dia sudah sampai di ruang tamu tiba-tiba tubuhnya terasa menggigil. Dia merasakan ada angin kencang yang berhembus menerpa tubuhnya yang saat ini hanya memakai kaos lengan pendek dan celana pendek saja. Otomatis Armand mencari sumber angin kencang ini. Ternyata pintu depan rumah terbuka setengah. Arman terkejut dengan apa yang ia lihat. Karena seingat Armand semua pintu dan jendela sudah ditutup dan dikunci sebelum mereka semua tidur.


Jantungnya mulai berdetak dengan cepat. Dia cemas jika pintu yang terbuka sekarang adalah ulah dari wanita bergaun merah yang semalam terus berada di rumah kosong itu. Tentu bukan Arman namanya kalau dia langsung ketakutan dan bersembunyi. Karena kini dia berniat untuk melihat keluar rumah dan memastikan apa sebenarnya yang terjadi.


Armand berjalan pelan menuju ke teras. Dia pun memakai teknik mengintip sebelum dirinya benar-benar keluar dari pintu tersebut. Begitu sampai di luar, Armand yang hendak menyerang siapa saja yang dia lihat, mendadak malah marah.


"Fen! Lo ngapain sih di situ sendirian?"


Rupanya yang kini ada di teras justru Fendi. Dia hanya duduk di kursi sambil menatap ke depan. Karena tidak mendapat tanggapan dari Fendy, Arman pun memutuskan untuk keluar dan menemui temannya itu.


"Fen? Lo kenapa? Nggak bisa tidur?" Tanya Arman lagi yang kini justru berdiri di hadapan Fendi.


Tapi sayangnya Fendy justru diam terus sejak tadi. Tentu saja hal ini sedikit aneh mengingat karakter Fendy bukan orang pendiam selama ini. Arman akhirnya memperhatikan gerak-gerik Fendi yang semakin lama semakin aneh saja. Pria di hadapannya itu seperti sedang menatap kosong ke arah depan. Dia bahkan tidak berkedip sama sekali saat Arman mendekati wajahnya.


"Fen? Ini lo bukan?" tanya Armand makin was was.


"Minggir," bisik Fendi tanpa bergerak sedikitpun, hanya bibirnya saja yang berucap.


Arman benar-benar yakin kalau terjadi sesuatu dengan Fendi. Hanya saja dia belum tahu apa yang menimpa Fendi saat ini. Akhirnya Armand mundur. Tapi dia masih berada di dekat Fendy untuk melihat Apa yang hendak dilakukan oleh temannya itu. Hanya saja tidak banyak yang dilakukan oleh Fendi. Karena sejak tadi Fendi hanya duduk diam sambil menatap ke arah depan yang Bahkan tidak ada pemandangan apapun di depan rumah itu. Yang ada hanya pemandangan kebun-kebun yang berada di sekitar rumah itu.


Arman mulai takut. Dia lantas mundur-mundur hingga sampai ke pintu rumah. Tapi dia tidak berniat untuk meninggalkan Fendy sendirian di teras. Apalagi sekarang rasa kantuknya sudah hilang sepenuhnya berganti rasa penasaran. Jadi dia berniat untuk menjaga Fendi jikalau dia tiba tiba melakukan tindakan berbahaya.


"Man! Ngapain?" tanya Derry yang ternyata sudah duduk sambil mengucek matanya.


"Ssst!" tukas Armand sambil meletakkan telunjuk tangan nya ke depan mulut.


Derry penasaran, dia lantas menggerakkan kepalanya sebagai bahasa isyarat. Tapi Armand hanya melambaikan tangan pada Derry agar mendekat. Walau masih diselimuti rasa kantuk, Derry bergegas mendekati Armand. Dia ikut penasaran saat melihat temannya itu melakukan gerak gerik mencurigakan pada tengah malam begini.


"Kenapa?" bisik Derry ikut melihat keluar. Belum sempat Armand menjawab, Derry langsung bisa melihat apa yang terjadi. "Kenapa tuh anak?" tanya Derry masih berbisik.


"Nggak tahu. Itu yang bikin gue bingung. Pas gue deketin, dia malah bentak gue. Gue disuruh minggir!" sahut Armand ikut bisik bisik.


"Ih, jangan jangan kesambet itu anak! Bahaya!" pekik Derry.


"Gimana nih? Apa perlu kita bangunkan temen temen yang lain?"


"Harusnya gitu, Man, Man. Harusnya dari tadi bangunin mereka!" omel Derry.


Saat Derry hendak berbalik badan, tiba tiba Armand menjambak rambutnya hingga dia berteriak kesakitan.


"Apa sih! Sakit, bego!" jerit Derry.


"Lihat itu!" tunjuk Armand keluar. Tepatnya di jalanan depan rumah. Ada pemandangan aneh yang kini tampak jelas di sana. Di jalan sana mereka berdua melihat sosok manusia yang tampak aneh. Warna kulitnya abu-abu gelap dan cara jalannya terlihat kaku seperti robot.


"Kok kayak nggak asing, ya. Bentuknya?" tanya Armand.


"Hm. Iya, Man. Kayak pernah lihat sebelumnya. Tapi di mana, ya?"


Tiba tiba Fendi menjerit dengan suara mengeram. Dan setelah itu dia justru pingsan tak sadarkan diri. Arman dan Derry segera mendekat dan memeriksa kondisinya. Tapi tiba-tiba Fendi yang awalnya pingsan mendadak kembali bangun. Saya menatap ke arah sosok yang baru saja melewati rumah mereka dan kini Fendi justru berjalan keluar seakan-akan sedang mengikuti sosok tadi. Melihat hal itu, Armada dan Derry panik.


"Gimana nih, Man?"


"Gue kejar Fendi. Sementara lo bangunin temen-temen yang lain. Terus Kalian susul gue!" tukas Armand sambil menepuk bahu Derry.


Dia Lalu berlari mengikuti Fendi yang sudah berjalan agak jauh dari rumah. Sementara Armand mengikuti Fendi, Derry langsung membangunkan teman-teman yang lain terutama para pria.


"Kenapa sih?" tanya Dolmen agak kesal. Tentu saja mereka kesal karena dibangunkan di saat masih dalam kondisi mengantuk.


"Si fendi kesambet setan! Dia lagi ngejar-ngejar setan yang baru aja lewat depan rumah, terus Arman lagi ngejar Fendi sekarang. Kita harus cari mereka berdua takutnya terjadi hal-hal buruk di luar sana," jelas Derry.


"Ya Allah. Ya sudah, kita siap siap. Tapi jangan semua ikut coba jaga di rumah Kasihan teman-teman yang lain. Sebaiknya jangan melibatkan para perempuan, " kata Daniel.


"Iya bener! Kalau gitu biar gue di rumah aja, jaga mereka," tukas Derry.


"Heh! Enak bener lo! Gue juga di rumah aja deh. Kasihan Derry sendirian nanti!" tambah Dolmen.


"Ya udah, sisanya ikut kejar Fendi. Ayo!" ajak Daniel.


Daniel, Sule, dan Cendol menyusul Arman dan Fendy yang sudah pasti jauh dari rumah. Sementara Dolmen dan Deri menunggu di rumah sambil berjaga-jaga dari serangan apapun yang bisa saja datang.


Setelah teman temannya pergi, Dolmen dan Derry tidak serta merta bersantai atau malah melanjutkan tidur. Mereka tetap berjaga di dalam rumah, tapi dengan kondisi korden jendela dibuka, dan pintu dikunci.


Di tempat lain Daniel dan yang lain terus berlari mengejar Armand dan Fendi. Mereka memanggil manggil nama dua teman mereka itu, berharap salah satunya bisa mendengar suara mereka.


Di sisi lain, Armand yang sedang mengejar Fendi, justru kehilangan jejak. Dia tidak melihat keberadaan Fendi yang tadi masih tampak di depan matanya. Dia masuk ke area hutan, karena di sana lah Fendi tadi menghilang. Armand berhenti lalu tengak tengok sekitar. Dia bingung harus pergi ke mana. Apalagi saat ini dia sedang sendirian.


"Duh, gimana nih! Apa gue balik dulu ya, buat minta bantuan temen temen yang lain!" kata Armand berbicara sendiri.


Belum sempat Arman berbalik badan, dia justru mendengar suara beberapa orang yang memanggil namanya dan Fendi. Sontak Armand pun menoleh dan mencari sumber suara tersebut. Tidak lama berselang-selang itu akhirnya Arman bisa melihat keberadaan teman-temannya yang lain. Dia tampak lega saat tahu kalau teman temannya mencari nya.


"Man, gimana? Mana Fendi?" tanya Sule.


"Nggak ada. tiba tiba dia hilang saat masuk hutan ini! Duh, gimana, ya?"


"Ya kita harus cari dia sekarang! Tapi sebaiknya kita tidak berpencar. Untuk mengurangi risiko terburuk yang biasanya terjadi nanti."


"Oke."