
Setelah mendapatkan informasi dari Mbak Dian, Hendra segera pulang ke rumah. Walau dengan perasaan cemas dan was was, dia tetap dengan berani pulang ke rumah yang baru saja diketahui kalau tempat tersebut berhantu. Hendra memang takut Tetapi dia memutuskan untuk bertahan paling tidak satu bulan dulu sampai dia memiliki uang dari hasil gaji di kantor untuk bisa menyewa tempat lain.
Pintu rumah dibuka. Hendra masih diam berdiri di depan pintu sambil memperhatikan sekitar. Suasana masih sama seperti sebelumnya. Sunyi dan sepi. Itu adalah hal yang wajar karena penghuni rumah ini hanya ada tiga orang. Yang ternyata hanya Hendra saja yang selama ini tinggal di rumah itu, sementara Lian dan Mona tidak pernah tidur di rumah sejak Hendra datang ke rumah. Yang membuat Hendra ragu adalah karena dia mengetahui adanya penghuni lain selain mereka bertiga. Yang biasa disebut teteh.
"Loh, Mas Hendra. Kirain siapa!" tukas Lian saat dia keluar.
Hendra juga sama-sama terkejut saat melihat Lian tiba-tiba muncul di ruang tamu. "Loh kamu di rumah?" tanya Hendra berusaha bersikap tenang.
"Iya, Mas. Aku baru aja pulang kuliah nih. Terus dengar pintu dibuka kupikir Mona pulang. Eh nggak tahunya malah mas Hendra. Mas Hendra baru pulang kerja kok sore banget?" tanya Lian basa basi.
" Iya tadi aku makan dulu di warungnya Mbak Dian."
"Oh, begitu. Eum, Ya sudah kalau mas Hendra mau istirahat dulu silakan," kata Lian lalu minggir untuk memberi jalan kepada Hendra.
Hendra tersenyum lantas berjalan menuju ke kamarnya yang tidak jauh dari ruang tamu. Saat hendak membuka pintu Hendra lantas kembali menoleh ke arah Lian yang belum beranjak dari tempatnya berdiri sejak tadi.
"Oh iya, Li. Ada yang ingin aku tanyakan. Aku harap kamu mau berkata jujur."
"Eum, tentang apa ya, Mas?" tanya Lian sedikit kelabakan. Padahal liang tidak tahu apa pertanyaan yang hendak diajukan oleh Hendra tetapi sepertinya dia mengerti maksud dari perkataan itu.
" Mona pulang jam berapa?" tanya Hendra sambil melihat ke jam dinding yang ada di ruang tengah.
" Paling sebentar lagi. Harusnya kami tadi pulang bareng tapi Mona pergi ke rumah temennya dulu buat ngambil tugas," jelas Lian.
"Tumben kamu berani di rumah sendirian," tukas Hendra.
Ryan langsung terkejut dengan pernyataan itu. Hanya saja Dia terlihat gelagapan dan tidak tahu harus menjawab apa atas perkataan Hendra. Hingga akhirnya Mona pun pulang.
"Kalian berdua lagi ngapain Di Sini?"
"Nah kebetulan Mona juga udah pulang. Kita bertiga harus bicara secara serius."
"Oke."
Mereka bertiga pun memutuskan untuk duduk di ruang tamu. Bahkan Hendra sama sekali belum masuk ke dalam kamarnya. Jarang-jarang dia bisa bertemu dengan Lian serta Mona di rumah ini. Jadi tentu saja Hendra tidak akan melewatkan kesempatan emas tersebut untuk menanyakan banyak hal yang masih membuatnya tidak nyaman.
" Apa benar kalau kalian itu nggak pernah tidur di rumah ini sejak aku datang ke kos-kosan ini?" tanya Hendra tanpa basa basi.
Kedua gadis itu saling tatap seperti sedang menyusun sebuah jawaban dengan bahasa isyarat.
"Bilang saja, aku udah tahu semua kok. Aku hanya butuh penjelasan kalian berdua langsung," tambah Hendra karena melihat keraguan pada dua gadis itu.
"Mas Hendra sudah tahu? Tentang apa?" tanya Mona.
"Tentang kalian yang nggak pernah tidur di rumah, dan soal teteh," tutur Hendra.
Keduanya sama sama terkejut. Namun pada akhirnya Mona dan Lian akhirnya menceritakan semua yang mereka tahu.
"Maaf, Mas. Kami bukannya mau menyembunyikan ini. Tapi.... "
Kalimat Lian terhenti saat Mona menarik tangannya. "Jangan bahas di sini!" katanya berbisik.
"Kenapa?" tanya Hendra menatap keduanya bergantian.
"Nanti dia dengar!" kata Lian lagi.
"Dia? Dia siapa?"
"Teteh."
Akhirnya mereka bertiga pun memutuskan untuk keluar dari rumah membahas masalah ini di warung Mbak Dian. Tapi baru saja Hendra duduk tiba-tiba ponselnya berdering alhasil dia pun menerima panggilan telepon itu sambil berdiri di depan warung.
"Ya, Dit. Kenapa?" tanya Hendra.
"Lo di mana sih? Warung mana? Kata teteh lo pergi sama anaknya tante Melan ke warung?"
Mendengar pertanyaan Radit Hendra pun langsung melotot dan menatap Lian serta Mona. " Dit lu di mana?"
"Gue di rumah kosan lo nih. Sama teteh," ungkap Radit.
"Astaga! Yang bener aja! Dit, lu keluar dari rumah itu sekarang juga! Cepetan!" kata Hendra lalu berjalan kembali ke rumah tante Melan diikuti Mona dan Lian yang terus memanggil namanya berulang kali.
"Dit, buruan keluar! Dia bukan manusia!" jerit Hendra.
"Hah?" pekik Radit.
Sementara itu, di ruang tamu Radit yang mendengar perkataan Hendra lantas menatap sosok teteh di hadapannya.
"Jangan bercanda lo, Hen!" bisik Radit. "Teteh ada di depan gue! Masa dia bukan manusia sih!" protes Radit masih sambil memperhatikan wanita yang kini berdiri di dekatnya.
"Sumpah, Dit! Gue nggak bercanda Makanya sekarang kalau keluar dari rumah itu gimana pun caranya!" suruh Hendra, dia masih terus berjalan kembali ke rumah.
Radit tidak mematikan telepon Tetapi dia yang kini sadar kalau situasi yang sedang dihadapinya sangat serius akhirnya memberanikan diri untuk pamit.
"Eum, Teh. Kalau begitu saya pamit dulu, ternyata Hendra ada di warung sana. Jadi saya mau menyusul dia saja ke sana," kata Radit berusaha tenang dalam gempuran ketegangan di hadapannya.
Tapi teteh justru tidak menanggapi perkataan Radit dan hanya diam sambil terus menatapnya. Radit Berusaha tetap tenang keluar dari rumah itu namun begitu sudah sampai di depan pintu dia langsung lari keluar tanpa menoleh lagi ke belakang. Begitu keluar dari pintu gerbang Hendra juga sudah berada di sana bersama dengan Mona serta Lian.
"Dit, Dit! Lo Nggak kenapa-kenapa kan, Dit? Lo baik-baik aja?" tanya Hendra sambil memperhatikan Radit dari ujung kepala sampai ujung kaki. Hendra benar-benar cemas dengan Radit. Sampai sampai dia berlari untuk bisa secepatnya kembali ke rumah itu agar bisa bertemu Radit.
"Lo gila! Ini apa sih maksudnya? Lo bercanda, kan, Hen?!" tanya Radit dengan nada tinggi.
Jika orang yang sedang lewat di jalan itu melihat mereka pasti mereka akan berpikir kalau Radit dan Hendra sedang bertengkar mengenai hal yang serius.
"Gue nggak bercanda. Tadinya gue mau kasih tahu loh tapi gue pikir nanti aja setelah gue bahas masalah ini sama Mona dan Lian," tutur Hendra sambil menatap dia gadis di samping nya.
Akhirnya mereka berempat pun kembali ke warung Mbak Dian. Begitu sampai di warung Mbak Dian menatap Mereka bergantian dengan tatapan bingung. Wajah mereka berempat tampak sangat serius.
"Kamu mau makan lagi?" tanya Mbak Dian ke Hendra.
"Enggak, Mbak. Oh iya, kami mau minta izin ngobrol di sini. Boleh?" tanya Hendra meminta persetujuan sang empunya warung.
"Ya boleh. Kebetulan warung masih sepi. Jadi kalian bisa ngobrol santai tanpa terganggu orang lain. Kalau perlu, Mbak juga ke dapur aja," tutur wanita berumur 38 tahunan itu.
"Eh, nggak usah, Mbak. Mbak Dian di sini saja nggak apa apa. Apa yang akan kami bicarakan juga pasti Mbak Dian tahu kok, dan malah mungkin bisa membantu kami memecahkan masalah ini," terang Hendra.
Akhirnya Mbak Dian pun ikut duduk bersama mereka.
"Tunggu sebentar. Tentang sosok Teteh yang lo bilang itu bukan manusia, apa benar?" tanya Radit mengawali pembicaraan ini.
"Loh, Mbak Dian juga tahu tentang Teteh?" tanya Lian balik.
"Ya tahu. Sebelum kalian pindah ke rumah itu, ya rumah itu memang punya teteh. Namanya Teh Santi. Mungkin kalau masih hidup, dia seumuran sama Mbak."
"Dia meninggal kenapa, Mbak?" tanya Mona. "Kami benar benar nggak tahu tentang teteh"
"Bunuh diri."
"Ya Ampun."
"Hei, tunggu! Jadi cerita tentang Teteh ini memang benar?" tanya Radit.
"Iya benar dong, Dit. Lagian Memangnya selama lo ketemu sama teteh nggak pernah ngerasain hal aneh?" tanya Hendra.
"Eum, gue pikir karena dia cuma pendiam aja. Nggak banyak ngomong. Tapi kalau dia memang malu harus kenapa dia menunjukkan wujudnya kepada kita?"
"Jangan-jangan dia nggak suka karena kita tinggal di rumah itu. Karena dia merasa kalau itu rumahnya!" tebak Lian.
"Duh, aku jadi takut nih kalau gitu. Malam ini kita nggak usah tidur di rumah deh kita tidur di tempat lain aja," rengek Mona.
"Eh, jangan dong. Aku gimana? Masa aku tidur di rumah itu sendirian lagi? Lagi pula Memangnya kalian pernah diganggu sama Teteh? Bukannya kalian berdua itu nggak pernah tidur di rumah?" tanya Hendra.
"Eh jangan salah, Mas. Justru kami diganggu sama Teteh di hari pertama kami menginap di rumah itu."
"Diganggu gimana?"
"Mama kan beli rumah itu memang dengan harga yang murah. Kami pikir itu wajar karena kondisi rumah itu memang sudah tua dan bukan termasuk rumah modern seperti rumah-rumah zaman sekarang. Aku sama Monas memang memutuskan untuk tidur di lantai atas karena kamu di aneh atas itu lebih luas dibanding bawah. Dan alasan lain karena kamu harus di lantai atas itu lebih terlihat modern sepertinya habis direnovasi," tutur Lian.
"Bukan karena renovasi, tapi lantai 2 itu adalah bangunan tambahan. Rumah itu Dulu cuma satu lantai dan beberapa kali sudah dijual. Sampai akhirnya pemilik terakhir sebelum kalian itu, merenovasi rumah dan menjadikannya dua lantai. Keluarga itu memang termasuk keluarga besar. Jadi untuk menambah kamar. Tapi ternyata mereka hanya bertahan selama tiga bulan saja, lalu rumah itu kosong. Mbak juga melihat tulisan di depan kalau rumah itu dijual. Hampir 1 tahun rumah itu nggak pernah laku, sampai akhirnya kalian yang membeli rumah itu."
"Pantas harganya murah!" cibir Mona.
"Hust!" tukas Lian menyenggol saudaranya. Usia mereka hanya berjarak 1 tahun saja, sehingga mereka lebih mirip seperti saudara kembar. Apalagi dengan wajah yang memang Mirip.
"Alasan teteh bunuh diri apa, Mbak?" tanya Radit.
"Karena sakit hati, dibohongi suaminya."
"Jadi alasan teteh masih di rumah itu apa dong?" tanya Lian.
"Itu yang harus kita cari tahu. Tapi, kalian beneran mau tidur di tempat lain?" tanya Hendra.
"Iya, Mas. Kami nggak mau tidur di sana. Kayaknya kita mending ngekost aja deh, Mon. Besok kita bilang Mama deh!"
"Tapi apa alasannya? Nanti Mama malah marah, Li!"
"Kalau nggak boleh, ya biar aja. Lagian Mama juga nggak di sini. Jadi aman!"
"Terus aku gimana?" tanya Hendra.
Lian dan Mona hanya menaikkan kedua bahunya ke atas.
"Ya udah, malam ini lo tidur di rumah gue aja," tukas Radit.
"Thanks, Dit," kata Hendra penuh syukur.
Alhasil malam ini, mereka bertiga benar benar pergi dari rumah. Bahkan tidak kembali ke rumah untuk mengambil barang atau pakaian ganti. Mereka benar benar ketakutan.
Radit menyetir mobil menuju ke rumah Aretha. Malam itu juga, mereka bertekad menemui Aretha. Masalah seperti ini alangkah lebih tepatnya di bahas dengan gadis itu.
"Assalamu'alaikum, Bun," sapa Radit begitu sampai di teras rumah Aretha. Di depan rumah ada Nisa yang sedang menyiram tanaman.
"Waalaikumsalam. Radit, tumben malam malam ke sini."
Radit segera meraih tangan kanan calon mertuanya lalu mengecup punggung tangan Nisa dengan sopan. "Bunda sendirian aja? Om belum pulang kerja?"
"Belum. Sudah tiga hari nggak pulang. Biasa, hehe. Oh iya, ini siapa?" tanya Nisa ke pemuda yang sejak tadi diam di dekat Radit.
"Oh iya, tante. Ini Hendra, teman kantor Radit." Radit menyenggol tangan Hendra agar bersikap sopan pada calon mertuanya.
Hendra yang terkejut lantas mengulurkan tangannya dan melakukan hal yang serupa seperti yang Radit lakukan. Nisa menatap Hendra dengan dahi berkerut. "Itu.... Ada yang nunggu di luar, ya?" tanya Nisa menunjuk ke pintu gerbang rumahnya.
Sontak kedua pemuda itu menoleh ke pintu gerbang sambil bergidik ngeri. "Bun, jangan nakutin," rengek Radit.
"Loh, kok takut? Cantik kok. Baik lagi," kata Nisa.
"Mau cantik kayak apa juga tetep setan, Bun!" protes Radit.
Keributan di teras terdengar sampai dalam. Hingga membuat Arden keluar bersama Aretha.
"Ngapain lo malam malam ke sini?" tanya Arden yang segera duduk di kursi kosong tak jauh dari pintu.
"Dit? Dari mana? Tumben nggak kasih kabar dulu mau ke sini," sahut Aretha.
"Itu, ada tamu lagi di depan, Den." Nisa justru kembali membahas sosok wanita yang katanya sedang berdiri di pintu gerbang rumahnya. Sosok itu tidak bisa masuk ke rumah, karena pagar gaib yang mengelilingi rumah itu cukup kuat.
"Lah iya, lo bawa dari mana itu?"
"Jangan gitu dong, kakak ipar. Itulah mengapa aku datang ke sini," cetus Radit.
"Ni siapa?" tanya Aretha menunjuk Hendra yang sejak tadi diam saja dengan tubuh bergetar.
"Hendra. Anak tehnik. Kamu ingat? Aku udah cerita kan, kalau Hendra sama aku satu kantor?"
"Oh iya. Yang kamu pinjemin baju kemarin?"
"Iya, Sayang. Nah, kita berdua mau minta tolong."
"Apaan?" tanya Arden sambil menyambar toples yang berisi kue kacang di meja depannya.
"Lo diikutin setan?" tanya Aretha.
"Astaga, Aretha! Tolongin gue!" kata Hendra sambil menangis ketakutan.
Arden, Aretha, Nisa dan Radit saling tatap. Mereka tidak menyangka kalau Hendra bersikap seperti itu.