Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
9. gangguan pertama


Matahari baru saja tenggelam beberapa menit yang lalu. Mobil Radit masuk ke halaman yang disambut oleh Aretha dengan riang.


"Assalamualaikum," ucap Radit begitu turun dari mobil.


"Wa alaikum salam." Aretha langsung menyambut sang suami dengan mengambil alih jas yang ia sampirkan di lengan kanan.


"Banyak kerjaan, ya?"


"Iya, sayang. Duh, maaf ya, aku lupa antar mobil ke rumah. Tadi banyak banget yang harus diurus."


"Nggak apa - apa kok. Lagian aku nggak ke mana mana. Cuma ke warung deket rumah sana.," jelas Aretha sambil melingkarkan tangan ke pinggang Radit. Mereka berdua lantas masuk ke dalam rumah.


______


"Masak apa, sayang?" tanya Radit begitu duduk di kursi meja makan. Rambutnya masih agak basah karena habis mandi.


"Tadi aku beli bayam sama ikan gurameh." Aretha mengambilkan nasi untuk Radit. Sementara sang suami memperhatikan masakan istrinya dengan senyum mengembang.


"Asik. Gurameh asam manis, ya? Wah, seneng deh tiap hari gini. Deket kamu, di masakin tiap hari gini." Radit memeluk pinggang Aretha yang berdiri di sampingnya.


"Ish, kamu nih. Kan tiap kamu pulang aku selalu masakin. Cuma kalau lagi mager aja, kita makan di luar."


"Iya, sayang. Tapi sekarang kan bisa tiap hari. Biasanya kalau aku di luar kota, kan nggak bisa makan masakan kamu gini."


"Iya, iya. Oh iya, Dit. Besok kita adakan pengajian gimana? Kan besok hari minggu nih. Kamu libur, kan?"


"Iya, libur. Oh iya bener juga, sayang. Aku juga kepikiran gitu. Untung kamu ingetin lagi. Terus mau masak atau pesan aja, sayang?"


"Harus tau dulu berapa yang mau diundang, sayang. Kamu udah tau belum, warga di dekat rumah kita ada berapa?"


"Nanti aku ke rumah Pak RT dulu, ya. Sekalian mau lapor kepindahan kita."


"Kamu tau rumah Pak Rt, sayang?"


"Tau. Pak Slamet kemarin bilang. Oh iya, gimana beres beres rumahnya. Akhirnya kamar mandi mau dibenerin nggak, sayang?"


"Iya. Dibenerin. Cuma kata Pak Slamet butuh bahan material yang banyak. Kamu sediain dulu, nanti digarap sama Pak Slamet."


"Oh gitu. Ya udah. Besok aku kirim bahan material bangunannya. Senin paling. Tokonya kalau hari minggu tutup."


"Oke. Ya udah. Makan dulu, yuk."


Mereka pun menikmati makan malam sederhana itu berdua.


Malam itu mereka habiskan berada di ruang tengah. Radit masih berkutat dengan laptop untuk urusan pekerjaan. Sementara Aretha hanya asyik menonton tv sambil makan camilan.


Tiba tiba derit pintu di lantai atas terdengar. Sontak Aretha dan Radit mendongak ke atas, lalu saling tatap.


"Ada siapa di atas?" tanya Radit.


"Nggak ada ah. Pak Slamet sama Bu Jum udah pulang. Padahal tadi aku udah suruh Pak Slamet benerin pintu kamar utama. Kok belum juga dibenerin sih."


"Emangnya pintu itu yang bunyi?"


"Iya."


"Apa jangan jangan pintu balkon belum ditutup, ya? Jadi pintunya kebuka, kena angin?"


"Ya udah, aku cek dulu ke atas." Radit pun berjalan menuju tangga. Aretha hanya duduk di sofa masih sambil menikmati camilan di pangkuannya. Tapi rupanya keganjilan tidak hanya sampai di situ saja. Kini di lantai bawah, piano yang berada di sudut tangga berdenting sekali. Seperti ada yang menekan salah satu tuts nya. Aretha langsung menatap benda tersebut dengan serius.


Dia berusaha fokus untuk dapat melihat siapa yang telah memainkan piano itu tadi. Tak lama, sekelebat bayangan seolah sedang berlari menuju ke tangga. Tidak terlihat jelas, hanya seperti bayangan saja. Aretha terus waspada dengan sekitar.


Namun perhatiannya kembali pada Radit yang sedang turun dari tangga sambil mengacak acak rambutnya.


"Gimana, sayang?"


"Pintu balkon udah dikunci kok, Yang." Ia segera duduk kembali di samping Aretha.


"Terus? Pintu kamar kebuka?"


"Iya." Radit menoleh ke Aretha dengan tatapan bingung. Dia ingin mengetahui apa yang terjadi di lantai atas. Karena tidak mungkin pintu di kamar utama bisa bergerak jika tidak ada angin.


"Mungkin anginnya kenceng lewat celah jendela, Yang. Pak Slamet juga pasti lupa tutup pintu kamar."


"Eum, bisa jadi sih." Radit memperhatikan sekitar, seperti sedang mengawasi beberapa sudut ruangan di rumah itu. "Kayaknya kita bener bener harus ada in pengajian, Tha."


"Iya. Memang begitu. Sekalian kita kenalan sama warga sekitar, kan?"


"Iya. Kalau gitu nanti habis isya, aku ke rumah Pak Rt, ya."


"Aku ikut," rengek Aretha sambil memeluk lengan suaminya.


"Dingin loh, sayang, di luar. Mending di rumah aja. Lagian aku jalan kaki ke sana. Soalnya jalan ke rumah Pak Rt itu melewati gang sempit."


"Pokoknya aku ikut." Aretha terus merengek sambil tengak tengok sekitar.


"Kamu kenapa?"


"Nggak mau ditinggal pokoknya. Kamu tau nggak, tadi ada kejadian aneh di warung, Dit."


"Kejadian aneh apa, Sayang?"


"Kan aku lagi ngobrol sama ibu ibu di warung. Terus pas aku mau pamit pulang, tiba tiba ada salah satu ibu di sana yang bilang gini. 'Mba Aretha, anaknya nggak diajak pulang?' Padahal kan kita belum punya anak. Dan di sekitar situ emang banyak anak kecil. Aku bingung. Anak yang mana yang dia maksud. Pas dia nunjuk, aku nggak lihat ada siapa pun di sana. Aneh nggak sih, Dit."


"Hm, aneh sih. Tapi ibu ibu yang lain gimana? Mereka lihat juga, nggak?"


"Iya. Mereka lihat juga. Eh beberapa sih. Sisanya sibuk belanja. Kalau pun anak yang dia maksud sosok makhluk halus, kenapa aku nggak bisa lihat, ya?"


"Iya. Makanya itu. Aneh. Mungkin kemampuan kamu menurun, sayang?"


"Menurun? Mending kalau bisa mah hilang aja. Aku malas lihat begituan."


Mereka berdua sama sama terdiam.


"Eh satu lagi, sayang. Waktu pertama kali kita datang ke sini ... Aku lihat ada satu sosok perempuan. Dia pakai baju merah, berdiri di tengah kebun teh depan rumah. Awalnya aku lihat dia di dekat pintu masuk desa. Terus di depan rumah."


"Oh ya? Kenapa kamu baru cerita?"


"Aku pikir itu biasa aja gitu. Terus aku lupa mau cerita ke kamu."


Azan isya berkumandang. Mereka Berdua lantas menyudahi obrolan tadi dan segera mengambil air wudu untuk salat berjamaah. Setelah itu mereka akan pergi ke rumah Pak Rt terdekat. Walau jarak dekat yang dimaksud tidaklah sedekat yang mereka pikir.