
Setelah kejadian yang cukup membuat jantung kami fitnes, kami kembali ke posko. Lelah rasanya.
Hari sudah beranjak sore, sehingga saat sampai di posko sudah ada beberapa teman kami yang telah menyelesaikan PROKER mereka.
Aku, Feri dan Ferli duduk di ruang tamu bersama yang lain. Aku masih berusaha mengatur nafasku yang tersengal. Bayangan sosok bapak tadi begitu mengerikan, dan membuatku terus teringat akan sosoknya dari tadi.
" Nis, udah selesai PROKER kamu?" tanya Wicak. Aku yang masih memandangi langit-langit ruang tamu tak meresponnya. Sampai Ferli akhirnya menyenggol kakiku keras.
"Apaan sih, Fer!" cetusku, sebal.
"Ditanyain Wicak noh. Ngelamun aja!!" ujar Ferli lalu beranjak masuk ke kamar.
"Eh, gimana, Cak? Nanya apa tadi? sorry aku nggak fokus," kataku sambil membetulkan posisi duduk.
"Jangan mikirin yayang terus makanya," ejek Acong yang berjalan dari belakang ke teras. Seolah ia sejak tadi menyimak obrolan ini.
Aku diam saja tidak menanggapinya. Nggak penting pikirku. Dia hanya ingin mencari perhatianku saja. Seperti biasa
"Aku tadi nanya, PROKER kamu gimana? Udah kelar?" tanya Wicak, mengulanginya lagi. Sebenarnya aku mendengar pertanyaan ini tadi, tapi rasanya aku belum bisa berfikir jernih, sehingga tidak merespons apa pun.
"Oh itu, udah tadi sebagian sih, Cak. Besok lanjut lagi," jawabku.
Tak lama Lukman masuk ke rumah dengan masih memakai jas almameter. Ia segera menghempaskan tubuhnya ke kursi yang ada di samping Wicak.
"Eh. Kalian yang tadi bikin keributan deket sungai, ya?" tanya Lukman, menunjuk kami berdua.
Aku dan Feri saling melirik, dengan bola mata yang menyiratkan sesuatu. Dan hanya kami berdua yang paham.
"Keributan apa memang?" tanya wicak penasaran.
"Tanya aja tuh Feri. Aku males bahas. Bayangin aja bikin aku pusing. Mandi dulu, ah. Bye," kataku lalu meninggalkan mereka.
Samar kudengar Feri mulai menjelaskan apa yang kami alami barusan ke mereka semua. Aku tidak begitu tau bagaimana reaksi mereka karena aku sudah lebih dulu masuk kamar untuk mengambil baju ganti dan akan segera mandi.
Sampai di dapur kulihat Faizal sedang membuat kopi.
"Mau mandi, Nis?" tanyanya basa-basi.
"Iya, Zal. Wah, seger banget kopinya," kataku sambil menghirup aroma segar kopi yang menguar di dapur.
"Mau?"
"Boleh dong. Kalau mau bikinin sekalian." Aku tersenyum dengan menampilkan puppy eyes andalanku jika sedang merayu.
"Iya, sekalian nih. Kirain kamu nggak suka ngopi, Nis. Perempuan kan jarang yang suka ngopi."
"Kadang kadang aja. Kalau lagi pengen aja sih." Aku membuka pintu kamar mandi. Dan terpaku di depan daun pintu itu.
Kosong.
Entah kenapa aku masih teringat kejadian kemarin.
Semoga tuh mba kunichan nggak nongol lagi.
'Please, mba. Aku udah cukup spot jantung gegara temen mba nongol di sungai.
Mba nya jangan ikut bikin jantungku fitnes lagi ya, please. Biarkan aku mandi dengan tenang,' kataku dalam hati.
Faizal yang melihat gerak gerikku ikut mendekat dan melongok ke dalam kamar mandi.
"Aman, Nis. Si mbak kunichan nggak nongol lagi, kan?" tanyanya sambil memperhatikan sekitar kamar mandi, sepertiku.
"Semoga sih enggak. Eh, tungguin dong. Jangan kemana-mana dulu. Takut kejadian kemaren terulang lagi. kan nggak lucu kalo aku terkunci lagi di dalem," pintaku memelas.
Faizal menarik nafas panjang dan mengembuskan nya dengan berat.
"Ya udah, deh. Aku tungguin di sini. Tapi jangan lama-lama lho, Nis," kata Faizal.
"Siap. Bentar doang kok. Janji ya, Zal. Jangan ninggalin," pintaku lagi sebelum masuk ke dalam.
"Iya, bawel. Udah cepet, ah. Horor juga nungguin di sini sendirian. Buruan!"
Aku lalu masuk kamar mandi dan mandi. Kali ini aku berusaha secepat mungkin mandi, aku tidak ingin terlalu berlama lama di sini.
Ceklekk
Pintu kamar mandi kubuka, dan kulihat Faizal masih di sini sambil menyeruput kopinya.
"Udah?" tanyanya saat melihatku keluar kamar mandi.
"Udah. Thanks ya, Zal."
"Ya udah yuk. Ke depan," ajaknya sambil membawa kan juga cangkir kopi milikku.
Setelah aku menaruh baju kotor dan peralatan mandiku di kamar. Aku lalu ikut di teras bersama Faizal. Di sana ada Wicak, Acong, Lukman dan Agus juga.
"Eh, ladies pada ke mana nih? Kok sepi?" tanyaku ke mereka.
"Masih PROKER kayanya deh. Belum balik," sahut Agus yang sedang merokok di teras.
"Nis, beneran tadi di sungai ada penampakan?" tanya Lukman serius.
Aku diam sesaat dan memandang wajah mereka satu persatu.
Mereka menunggu jawaban dariku.
"Iya, tadi Feri udah cerita, kan?" tanyaku balik.
"Udah sih. Cuma cerita sekilas. Lagian tu anak kan suka lebay," kata Lukman sambil menyeruput kopinya juga.
"Ih serem banget yah. Mana kita harus di sini sebulan. Masih lama lagi. Huft! " gerutu Agus.
"Nggak usah jauh-jauh ke sungai, di sini aja ada kok," sahut Faizal. Sepertinya dia keceplosan, dan melupakan janji kami untuk tutup mulut. Aku menyikut dia karena aku duduk di sampingnya. Dia tersadar lalu menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Untung mereka nggak begitu dengerin tadi.
\=\=\=\=\=
Setelah salat maghrib berjamaah, kami berkumpul di ruang tamu. Lalu Nadia tiba-tiba memegangi perutnya.
"Duh. Mules. Temenin, yuk," katanya menatap kami satu persatu.
Aku menunduk pura-pura tidak mendengar. Yang lain pun demikian.
"Nis, yuk ah! Temenin," pintanya.
"Duh, Na, nggak bisa ditahan sampai besok aja?" tanyaku menolak nya halus.
"Udah di ujung, Nis. Ayok dong," rengeknya.
"Ya udah deh," kataku pasrah. Kasihan juga melihat tersiksa seperti itu. Coba kalau posisi nya dibalik, aku juga pasti akan merengek sepertinya.
"Yuk, aku temenin juga," kata Acong tiba-tiba.
Duh, kenapa harus dia sih? Males banget aku nya.
"Zal, ikut juga yuk," ajakku ke Faizal.
"Hah? Duh, Nis. Kalian aja napa," kata Faizal menolak.
"Ya ampun, Zal. Lebih ramai kan lebih asik. Jadi nggak takut," pintaku memelas. Jujur aku lebih takut sama Acong timbang makhluk astral.
Akhirnya Faizal mau juga setelah kupaksa. Kami berempat ke WC belakang. Saat membuka pintu belakang, angin langsung berembus menerpa wajah kami.
Sejenak kami bertiga menghentikan langkah kami karena suasana di belakang bener bener horor.
"Eh. Ayok! Kok berhenti! " gerutu Nadia sambil menengok ke arah kami.
Akhirnya kami ikut juga keluar.
"Na, jangan kelamaan lho," kataku saat dia masuk ke bilik wc itu.
" Iya, Nis. Tenang aja. Kalian ngobrol-ngobrol aja dulu. Jangan ninggalin aku lho. Awas!" ancamnya sebelum masuk ke dalam bilik itu.
" Iya ah. Bawel banget!" gerutu Acong.
Setelah Nadia masuk, kami menunggu di luar. Aku duduk di sebuah batu yang agak besar. Sedangkan Faizal dan Acong berdiri sambil merokok.
Hiiks. Hiks
Terdengar suara wanita menangis, namun samar. Sehingga kami sama-sama berusaha menajamkan pendengaran kami masing-masing. Tatapan mereka berdua, terlihat jelas kalau mendengar suara ini juga.
"Kalian denger nggak?" tanya Faizal.
"Nggak usah dibahas. Oke?" pintaku.
"Nis, gimana dong nih?" tanya Faizal lagi.
"Diemin aja. Jangan bahas. Ngobrol yang lain aja," pintaku sambil menatap mereka berdua.
"Kamu pacaran sama polisi itu, Nis?" tiba-tiba Acong bertanya hal ini. Mencari topik lain, tapi bukan kehidupan pribadi juga kali.
Faizal memandang kami berdua dengan tatapan meledek lalu senyum-senyum.
"Kalau iya, kenapa? Kalau enggak, juga kenapa?" tanyaku balik.
"Kalau iya, ya nggak apa-apa. Kalau enggak, ya bagus lah," kata Acong santai.
"Cong, Elu kan udah ditolak sama Nisa? Masih aja ngeyel. Hahaha.. kayak nggak ada cewek lain aja," ledek Faizal.
"Usaha kan boleh, Zal," kata acong sambil menatap ku, menjijikkan.
"Lah, si Nuri gimana nasibnya, Cong?" tanya Faizal sambil terkekeh.
Acong menjadi salah tingkah.
"Apa sih, Zal. Aku kan nggak ada apa-apa sama dia," katanya bohong.
Dikira aku nggak tau, kalau dia udah jadian sama Nuri. Dasar playboy!
"Gue aduin ya, besok kalo pulang KKN. Mampus lu!" kata Faizal masih tertawa. Acong menjadi diam.
Huhuhuhu.
Kali ini suara itu muncul lagi. Masih samar-samar.
"Duh, kok bunyi lagi ya," kata Acong menutupi geroginya tadi.
"Tenang aja kali, Cong. Suaranya pelan. Paling jauh dari sini," kata Faizal cuek.
"Jangan salah. Bukan berarti yang suaranya samar, itu berarti jauh. Justru sebaliknya," kataku dan mampu membuat mereka diam dan wajah mereka pucat.
"Nis, jangan nakut-nakutin dong," rengek Faizal.
"Na ... Nadia! Udah belum sih?!" jeritku.
"Iya udah. Ini bentar," katanya, tak lama terdengar pintu dibuka.
"Lama bener sih, Na," kata Acong kesal.
"Namanya juga mules kali, Cong," bela Nadia.
Hihihihihihi
Kali ini berganti suara tawa yang masih samar. Suaranya berubah-ubah namun tetap terasa jauh dari tempat kami. Tetapi aku tau, justru sebenarnya dia ada di dekat kami.
"Eh, suara apaan tuh?" tanya Nadia sambil tengak tengok.
"Elu sih, kelamaan," gerutu Faizal.
"Katanya kalau suaranya kedengeran jauh, itu berarti dia deket ya?" tanya Nadia membenarkan kata-kataku tadi.
"****! Balik aja deh. Masuk ke dalam!" ajak Acong.
"Guys ... Itu apaan," tunjuk Faizal sambil menatap ke samping kanannya. dibalik pohon besar,ada sekelebat kain putih berkibar karena terkena angin.
Aku hanya melihat dari ujung ekor mataku saja dan sudah bisa menebak apa itu.
"Lari ..." jeritku sambil berlari kencang ke dalam. Mereka mengikutiku di belakang sambil teriak-teriak ketakutan.
Sampai depan pintu, tiba-tiba pintu tertutup sendiri dan terkunci.
"Buka woi! Jangan ngerjain dong!" teriak Acong sambil menggedor-gedor pintu.
"Eh. Cepet buka! Kalau sampai gue tau siapa yang ngerjain kita, bakal gue abisin! Buka nggak!" Faizal ikut panik.
Aku dan Nadia menunggu di belakang mereka, sambil tetap ketakutan.
"Nis ...." Nadia memegang tanganku,
Aku menoleh ke arahnya.
"Apa?" tanyaku.
"Itu di belakang kita," katanya berbisik.
Aku menengok ke belakang. Sosok tadi melayang mendekati kami.
Aku dan Nadia saling pandang lalu menerobos di antara Faizal dan Acong. Ikut menggedor pintu lebih kencang dan heboh pasti nya.
"Buka!" jerit kami bersama-sama.
"Iya iya. Bentar. Lagian siapa sih yang ngunci nih?" tanya suara dari balik pintu. Sepertinya itu Feri.
Pintu terbuka, kami masuk berebutan. Sementara Feri melihat kami heran.
"Pada kenapa sih?" tanyanya.
"Tutup. Itu! Dia makin deket!" kataku sambil menunjuk luar.
Feri menoleh.
"****! Ngomong kek dari tadi. Sialan!" kata Feri segera menutup pintu dan menguncinya rapat.
Kami berebut masuk ke dalam dan duduk di ruang tamu dengan yang lain. Mereka yang di sana menatap heran ke arah kami.
"Kalian kenapa?" tanya Wicak.
"Tadi... Ii. tuu."
Dugg!!
Kusikut Feri yang mau cerita. Lalu ku beri isyarat agar dia diam saja.
"Ada kecoa sama tikus di belakang, Cak," jawab Acong yang sepertinya paham maksudnya untuk tidak mengatakan pada mereka.
Aku memang tidak ingin mereka ketakutan, jika memang masih ada yang belum diganggu. Lebih baik mereka merasakan ketenangan itu. Kalau semua takut, bisa-bisa KKN kami tidak akan lancar. Karena kami tidak fokus.