Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!

Hei Gadis Indigo (The Series) TAMAAAAAT!!!!
27 Warung Gaib


Hendra menoleh ke segala arah. Dia terkejut dengan suara yang baru saja dia dengar.


"Lo denger nggak tadi?" tanya Hendra langsung menahan Radit yang hendak berjalan melewatinya.


"Apaan?"


"Ada yang bilang, hati hati, gitu!" pekik Hendra sambil menatap ngeri ke sekitar.


"Nggak ada kok yang bilang gitu," tambah Radit.


"Eh, jangan jangan ...." Aretha melotot dengan ekspresi terkejut.


"Apaan?"


Aretha mendekat ke Hendra lalu berbisik, "Teteh."


"Heh! Jangan bercanda deh, Aretha!" omel Hendra.


Aretha dan Radit pun langsung tertawa lepas. Mereka lantas mengikuti teman teman yang lain yang sudah berjalan lebih dulu. Tak jauh dari mobil yang diparkir, memang ada sebuah warung. Warung yang semi permanen itu hanya ada satu di tengah tengah hutan ini. Nyala lampu yang redup, hanya dengan sebuah bohlam warna kuning membuatnya temaram. Memang tidak semua teman teman Radit ikut ke warung, karena sebagian memutuskan berada di dalam mobil saja dan memilih tidur sambil menunggu mobil selesai diperbaiki. Jadi hanya ada 9 orang yang memutuskan keluar dari mobil, untuk mencari makanan. Walau mereka sudah makan sebelum pulang tadi, tapi perut mereka sudah ingin diisi kembali rupanya.


Dari kejauhan Radit, Aretha, dan Hendra sudah melihat teman teman mereka duduk di depan warung sambil menikmati kopi, teh, dan gorengan.


"Wah, mereka curang. Udah langsung makan aja," cetus Hendra.


Aretha berhenti berjalan, saat Radit juga hendak menyusul Hendra ke warung. Menyadari istrinya hanya diam membeku, Radit pun menoleh sambil mengulurkan tangan ke Aretha.


"Ayo, Sayang. Kamu mau pesan apa, nanti aku pesankan," tanya Radit.


"Eum, apa, ya. Nggak tahu. Aku nggak lapar sih," sahut Aretha.


"Ya udah, pesan teh hangat aja, ya. Udaranya dingin. Biar kamu nggak masuk angin," kata Radit lagi.


Ukuran tangan Radit akhirnya disambut Aretha, dan mereka pun bergabung dengan teman teman yang lain.


"Lo udah pesen? Pesen apa?" tanya Radit ke Hendra yang duduk di samping kirinya. Sementara Aretha duduk di samping kanan Radit.


Menik, Pur, Damar, Melihat, Riki, dan Sita duduk di kursi depan mereka dengan posisi saling berhadapan dengan Radit, Aretha dan Hendra.


"Belum. Ibunya lagi sibuk goreng makanan," kata Hendra masih memperhatikan gerak gerik wanita pemilik warung.


Wanita tersebut berdiri membelakangi mereka dengan kompor di depannya. Namun ada yang aneh dengan tingkah laku pemilik warung itu. Dia justru sedang mengelus elus rambutnya yang cukup panjang. Rambutnya di jadikan satu dan disampirkan di bahu kirinya. Kedua tangannya bergerak naik turun mengikuti untaian rambut panjang tersebut.


"Kok aneh?" tanya Aretha berbisik.


"Apanya?" tanya Hendra.


"Lihat itu, orangnya kok agak aneh ya,"  tutur Aretha.


Akhirnya Hendra dan Radit pun ikut memperhatikan pemilik warung tersebut. Wanita tadi tampak diam tanpa melakukan apa pun sebagai pemilik warung makan.


"Ah, enggak deh, Tha. Cuma perasaan lo aja kali. Lihat kakinya, napak!" bisik Hendra lagi.


"Ehm, memang agak aneh sih. Warungnya sendirian di tengah hutan," sahut Radit.


"Heh, kalian tuh jangan buruk sangka dulu. Jalanan ini kan sering dilewatin sama truk, bus malam juga. Siapa tahu mereka sering mampir. Apalagi kalau tiba tiba kendaraan mereka macet kayak kita gitu. Kan membantu banget nih, ada warung di sini. Lihat aja, temen temen lahap tuh makan gorengannya."


Aretha dan Radit langsung menatap teman teman yang memang ada di hadapan mereka. Mereka tampak makan dengan lahap, seakan akan sangat kelaparan.


"Bu, saya mau pesan kopi 1, ya," kata Hendra.


Namun bukannya membuatkan pesanan Hendra, wanita itu tetap mengelus elus rambutnya yang panjang. Dari tempat mereka duduk, memang tidak tampak wajah pemilik warung. Dia sebenarnya terlihat seperti wanita pada umumnya. Pakaian yang ia kenakan khas Jawa. Kebaya lama yang tampak sederhana dan sudah lusuh. Jarik yang ia kenakan tidak menutup seluruh kaki, sehingga mereka dapat melihat kedua kaki wanita tadi yang menapak di tanah walau tidak memakai alas kaki. Itulah yang membuat Hendra yakin kalau tidak ada yang aneh dengan pemilik warung.


"Bu," panggil Hendra lagi karena merasa tidak mendapatkan tanggapan dari wanita tersebut. "Duh, gimana sih? Kok malah diem aja," gerutu Hendra.


Tiba tiba Hendra beranjak dari duduknya. Dia lantas berjalan masuk ke dalam warung yang memang pintunya terbuka lebar. Warung tersebut hanya memiliki satu ruangan yang dipakai sebagai dapur. Sementara pembeli disediakan tempat di depan warung dengan meja dan kursi yang memutar. Warung tersebut memiliki jendela yang terbuka sehingga pembeli dan penjual dapat berinteraksi dengan mudah. Pembeli pun dapat melihat bagaimana proses memasak di dalam. Karena penjual terlihat diam saja, maka Hendra pun berinisiatif untuk mendekat.


"Bu? Bu? Maaf, saya pesan kopi," kata Hendra yang kini sudah berdiri tepat di belakang wanita tersebut.


Tapi pemilik warung terus diam seperti tidak mendengar perkataan Hendra. Hendra yang tidak sabar lalu menepuk bahu wanita tersebut.


"Bu, Bu," panggil Hendra lagi.


Aretha dan Radit hanya diam sambil terus memperhatikan Hendra. Sejak awal, Aretha sudah merasakan keanehan dengan tempat itu. Hanya saja apa yang tampak di depan nya membuat dirinya menjadi ragu ragu.


"Bu, saya pesan kopi, ya!" Akhirnya suara Hendra mulai meninggi. Dia benar benar kesal karena merasa tidak ditanggapi oleh pemilik warung.


Namun tiba tiba wanita itu menoleh dengan gerakan pelan. Kini wajah pemilik warung itu pun tampak terlihat jelas. Tidak ada yang aneh dengan wajah wanita itu, hanya satu hal yang membuat kaki Hendra bergetar. Masih dengan gerakan sama, mengelus rambutnya yang panjang hingga lantai, wanita itu tampak tersenyum.


Tapi jika dilihat dengan seksama, bukan senyum yang sebenarnya ditampilkan. Melainkan bibir wanita itu robek hingga ke telinga. Sehingga membuatnya tampak sedang tersenyum. Hendra membeku. Bukannya kabur karena melihat wanita mengerikan itu, tapi Hendra justru diam di tempat.


Tiba tiba suasana warung yang awalnya temaram dengan lampu bohlam itu, mendadak gelap. Teman teman mereka pun tiba tiba menjerit hingga muntah muntah. Begitu Radit melihat makanan yang ada di meja makan, rupanya semua berubah menjadi hewan yang menggeliat di tambah tumpukan daun kering yang ada di atas piring plastik.


Air teh dan kopi yang tadi tampak baik baik saja, berubah menjadi air keruh berwarna hitam yang memiliki endapan mirip lumpur di bagian dasarnya.


Aretha dan Radit segera berdiri dan membantu teman teman lain yang muntah muntah hebat. Mereka semua memegangi leher sambil berusaha mengeluarkan sesuatu dari dalam tenggorokan mereka.


"Kenapa, Nik? Kenapa?!" tanya Aretha sambil ikut memijat tengkuk Menik.


"Huek! Ada sesuatu yang gerak gerak di tenggorokan aku, Aretha! Tolong! Tolong keluarkan, Tha!" jerit Menik.


Aretha berusaha melihat ke dalam mulut Menik. Dia ingin mengetahui benda apa yang membuat Menik panik dan tersiksa seperti itu. Karena gelap, Aretha menyalakan senter dari ponselnya dan melihat ke dalam tenggorokan wanita muda itu.


Aretha terhenyak saat melihat ke dalam mulut Menik. Dia menoleh ke Radit yang juga sedang membantu Riki, dan Damar. Mereka semua mengeluhkan hal yang sama. Merasa sedang ditatap oleh sang istri, Radit pun ikut menoleh ke arah Aretha. "Kenapa ini?" tanya Radit.


"Cacing. Ada cacing di tenggorokan Menik!" kata Aretha dengan kedua bola mata yang membulat sempurna.


"Hah?" Radit yang terkejut lantas mengeluarkan ponselnya dan menyalakan senter untuk bisa melihat ke dalam tenggorokan Damar. Hingga pada akhirnya dia pun melihat hal yang sama seperti Aretha.


"Dit! Hendra! Tolong Hendra dulu!" jerit Aretha.


Radit yang baru tersadar kalau salah satu kawannya sedang berada dalam bahaya, karena berdiri tepat di depan makhluk mengerikan itu. Lantas berlari masuk ke dalam warung. Tanpa pikir panjang, Radit langsung menarik tangan Hendra. Hanya saja itu semua tidak berlangsung mulus sesuai keinginannya. Tubuh Hendra justru terasa berat. Bahkan sekuat apa pun Radit menariknya, Hendra seakan akan tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya berdiri. Sementara tawa wanita itu mulai melengking kencang membuat mereka semua semakin panik dan takut.


"Hendra nggak bisa bergerak, Aretha!" jerit Radit menoleh ke arah istrinya yang masih sibuk membantu Menik.


"Hah! Astaga!"


Pikiran Aretha terasa buntu. Dia seperti tidak bisa berpikir untuk mencari jalan keluar dari teror warung gaib itu. Pikirannya berkecamuk.


Hingga tiba tiba seseorang datang dan memegangi punggung Menik. Aretha menoleh saat melihat sopir mobil sewaan mereka tadi justru muncul. Pria paruh baya itu tampak menggumamkan doa doa. Aretha dan pria itu saling tatap. Namun pada akhirnya Aretha melepaskan Menik dan membiarkan sopir tadi mengambil alih.


"Coba minimal dulu, Mbak," kata Pak Sopir.


Menik langsung meneguk botol mineral yang dibawa oleh pria itu. Hanya beberapa teguk, langsung membuat perut Menik melilit. Tanpa menunggu waktu lama, dia langsung muntah muntah. Apa yang dia keluarkan benar benar mengerikan dan di luar nalar Aretha.


Gumpalan ulat di tambah daun kering yang belum tercerna keluar dari mulut Menik. Lalu cairan hitam pekat juga mulai keluar. Sopir tadi lalu mendekati yang lain. Dari Pur, kekasih Menik, lalu Damar, Melihat, Riki, dan Sita. Setelah mereka minum air dari sopir mobil mereka semua langsung muntah muntah dengan benda yang sama seperti apa yang dikeluarkan oleh Menik.


Lalu dia mendekat ke Hendra dan Radit. Pak Sopir memegangi kening Hendra, dan tiba tiba tubuh Hendra menjadi lemas hingga Radit harus menahan beban tubuhnya dengan sekuat tenaga.


"Ayo, kita pergi dari sini, Mas!" katanya sambil membantu mematahkan Hendra.


Mereka segera keluar dari tempat itu sambil menatap wanita yang masih berdiri di tempatnya, dan hanya tertawa melihat Radit dan yang lainnya pergi segera dari tempat itu.


Aretha sudah membawa Menik dan Sita pergi dari tempat itu. Untungnya mereka yang baru saja muntah muntah tadi tidak perlu di gendong untuk pergi dari sana. Karena mereka masih kuat berjalan walau telah memuntahkan seluruh isi perutnya.


Begitu sampai di jalan raya, mereka semua bergegas lari menuju ke mobil.


"Masuk! Masuk!" kata Aretha.


Teman teman yang ada di dalam mobil terbangun dan menatap mereka yang baru saja masuk dengan tatapan bingung. "Kenapa sih?" tanya Reno.


"Kalian kenapa? Habis lihat setan?" tanya Yayuk.


"Iya! Ya Tuhan. Mimpi apa gue semalam!" rengek Leli.


"Loh, bukannya kalian lagi makan di warung? Kalian ketemu setan di warung?" tanya Dwi.


"Pokoknya nggak ada warung deh. Itu warung setan!" kata Damar.


Begitu Pak sopir sudah duduk di belakang kemudi, dia menoleh ke belakang untuk memastikan semua orang sudah masuk.


"Sudah semua, kan, ya?" tanyanya memastikan kalau seluruh penumpang sudah naik ke mobil.


"Sudah, Pak," sahut Radit setelah menoleh ke belakang memeriksa semua temannya.


"Buruan, Pak!" jerit Hendra dengan wajah pucat ketakutan.


Mobil pun menyala, dan kini mulai berjalan meninggalkan tempat itu. Saat mobil melewati warung yang tadi mereka datangi, tiba tiba warung tersebut kembali dalam kondisi terang benderang. Bahkan lampu yang mereka lihat hanya ada satu buah bohlam saja kini justru bertambah menjadi lebih banyak, hingga membuat tempat itu semakin terlihat jelas dari jalan raya.


Mereka semua menatap warung tersebut. Di sana, wanita pemilik warung tadi tampak sedang berdiri di depan warung dengan gerakan yang sama. Membelai rambut panjangnya dengan wajah mengerikan. Lengkingan tawa kembali terdengar, bahkan seakan akan seperti berada di dalam mobil. Mereka semua menjerit ketakutan, dan Pak Sopir menambah kecepatan mobil agar segera pergi menjauh dari tempat itu.


"Anjir, itu tadi apa, Hey?" tanya Dwi.


"Kalian masuk ke warung setan?" tanya Yayuk.


"Iya! Gila, mana gue udah makan cacing pula! Ya ampun, aroma nya masih terasa banget. Gue masih mual, guys. Pengen muntah lagi," rengek Menik.


"Coba minum lagi, Nik. Lo bawa minum, kan?" tanya Aretha.


"Bawa!" Menik lantas merogoh tas yang ada di bawahnya dan mengambil botol air mineral miliknya.


"Untung aja gue nggak ikut tadi!" kata Reta.


"Memangnya kalian nggak merasa aneh pas masuk warung tadi?" tanya Reno.


"Enggak. Tadi semuanya kelihatan normal aja. Nggak ada yang aneh!" cetus Leli.


"Tapi Aretha udah sadar kok keanehan itu tadi. Iya, kan, Tha? Cuma gue nggak tahu kalau ternyata bener bener se mengerikan itu! Coba tadi gue denger omongan lo," tambah Hendra.


"Emangnya lo ngerasa apa, Tha?"


"Ya aneh nya itu kan, kenapa ada warung di tengah hutan. Kondisi warungnya juga agak masuk ke hutan, kan, tadi? Kalau memang warung yang normal, kan, biasanya itu ada di pinggir jalan. Biar kelihatan sama orang yang lewat. Terus kondisi warung hawanya agak nggak enak. Nggak tahu kenapa," jelas Aretha.


"Mungkin posisinya kita semua udah capek, ngantuk, dan lapar. Makanya kita dengan mudah diperdaya. Lagipula hal kayak gini udah biasa, kan? Lain kali kita harus lebih hati hati," tutur Radit.


"Tapi untung ada Bapak tadi. Kalau nggak kami nggak tahu bakal gimana," timpal Aretha.


Pak Sopir melirik dari spion dan tersenyum. "Nggak apa apa, Mbak. Sudah seharusnya saya membantu sebisa saya."


"Iya, tadi Pak Sofyan nyari kalian. Gue bilang aja kalau kalian pergi ke arah tadi buat cari warung. Soalnya gue denger kalian ngomong gitu. Nah, Pak Sofyan ngerasa aneh. Makanya susulin kalian," jelas Anggi.


"Bapak ngerasa aneh kenapa, Pak?" tanya Radit.


"Saya ini kan udah jadi sopir hampir 15 tahun, jadi saya sudah banyak mengalami hal hal aneh di luar nalar di jalanan. Dari tersesat di hutan, bahkan hampir masuk jurang, sampai bertemu makhluk makhluk mengerikan. Nah, pas saya tahu kalau Mbak sama Mas pada pergi ke warung, saya langsung berpikir kalau warung itu pasti nggak beres. Karena saya juga pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Waktu saya jadi sopir bus malam. Dan kejadiannya hampir sama persis seperti tadi. Tapi tempatnya berbeda. Jadi saya susulin kalian. Untung saja tidak terjadi hal yang lebih buruk lagi," tutur Pak Sofyan.


"Tapi Bapak bukan orang sembarangan," kata Aretha menyelidiki.


"Wah, Mbak Mbak, saya ya cuma orang biasa kok. Kebetulan saya pernah masuk pondok pesantren. Di sana sedikit banyak saya juga belajar mengenai makhluk halus. Maksudnya cara menangani, hingga doa doa yang dipakai jika bertemu mereka. Alhamdulillah, walau saya sering mengalami hal aneh seperti tadi, saya Insya Allah masih aman."


Tapi, Terima kasih banyak, ya, Pak. Kalau nggak ada Bapak, kami pasti sudah... Yah, enggak tahu apa yang bakal kami alami. Mungkin lebih buruk lagi dari apa yang kami alami tadi," pungkas Radit.


"Tapi, Mbak ini juga hebat kok. Penjaganya siap siaga. Walau tadi nggak ada saya, pasti kalian juga akan baik baik saja," kata Pak Sofyan melirik ke arah Aretha dari kaca spion tengah. Posisi Aretha yang berada tepat di belakang Pak Sofyan membuat keduanya langsung saling tatap.


Aretha hanya tersenyum tipis. Dia mengerti maksud dari Pak Sofyan, tapi tetap saja, Aretha memandang kagum pada pria paruh baya di hadapannya sekarang.


Perjalanan pulang lancar tanpa hambatan apa pun. Walau pada akhirnya mereka sampai hampir pukul 9 malam. Kendaraan mereka parkir di halaman kantor. Setelah sampai mereka pun segera pulang ke mess dan rumah sewaan mereka selama tinggal di kota tersebut.


"Pak, bisa antar kami ke rumah sekalian? Sepertinya kita satu arah. Saya sudah capek kalau harus nyetir lagi sampai rumah," pintar Radit.


"Oh, bisa, Mas. Mari kita pulang sama sama," kata Pak Sofyan.


"Hati hati, Dit, Tha! Sampai ketemu besok!" kata Hendra sambil melambaikan tangan ke dalam mobil. Lokasi mess yang mereka tinggali memang berada di dekat kantor. Sehingga mereka tidak perlu lagi berkendara untuk sampai ke tempat tinggal. Hanya Dwi dan Reno sana yang harus mengantar kekasih masing masing pulang ke rumah. Karena mereka memang warga lokal yang kebetulan menjalin hubungan dengan dua pria tersebut.


Butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai ke rumah. Dalam perjalanan pulang, Radit lebih sering berinteraksi dengan Pak Sofyan. Mereka membicarakan banyak hal. Sementara Aretha lebih banyak diam. Dia tampak kelelahan dan mengantuk. Hingga dia pun memejamkan mata sepanjang jalan. Walau demikian Aretha tetap bisa mendengar obrolan dua pria itu sejak tadi. Karena dia tidak benar benar tidur. Hanya terpejam untuk mengistirahatkan kedua matanya itu.


Tak terasa mereka mulai memasuki desa tempat tinggal Radit dan Aretha.


"Wah, sepi sekali, ya. Memang suasana di pedesaan berbeda dengan di kota. Tenang dan damai," kata Pak Sofyan.


"Iya, Pak. Betul. Suasana pedesaan memang menyenangkan. Setidaknya bisa menjadi salah satu pilihan untuk merubah gaya hidup sehat. Di sini juga jarang ada kendaraan. Hanya beberapa saja. Itupun mereka hanya mobil pengangkut teh. Warga desa sepertinya lebih menyukai sepeda."


"Bukan menyukai, Mas. Tapi hanya itu yang mereka punya. Hehe. Soalnya saya juga dulu tinggal di pedesaan jadi paham bagaimana situasi nya."


"Hehehe. Begitu, ya, Pak. Memangnya Bapak tinggal di mana?"


"Saya dari Jawa Timur. Situbondo. Kerja jadi sopir itu bikin saya harus tinggal di berbagai tempat secara acak. Bahkan saya bisa pulang ke rumah itu paling satu bulan satu kali."


"Rupanya Bapak sama seperti kami, perantauan."


"Ngomong omong, ini jalannya sudah benar, kan, Mas?" tanya Pak Sofyan sambil menyapu pandang ke sekitar.


"Betul, Pak. Lurus saja, rumah kami sudah nggak jauh lagi kok," jelas Radit.


"Baik, Mas."


Mobil melaju pelan hingga akhirnya berhenti di depan rumah besar itu. "Terima kasih banyak, Pak," kata Radit.


Aretha yang juga sudah terbangun lantas merapikan bawaannya. Sambil menguap.


"Mas dan Mbak betah tinggal di sini?" tanya Pak Sofyan.


"Alhamdulillah, Pak. Tapi cuma sementara. Sampai pekerjaan saya di sini selesai saja."


"Oh begitu. Hem, hati hati, ya, Mas. Rupanya rumah ini agak ramai," bisik Pak Sofyan sambil bergidik ngeri menatap rumah mereka.


Aretha dan Radit saling tatap seolah mengerti arah pembicaraan Pak Sofyan.