
Di perusahaan Erlangga group.
Rian baru saja keluar dari ruangan meeting.
Meskipun Rian merasa sedang tidak baik-baik saja. Tapi Rian tetap konsisten dalam menyelesaikan pekerjaannya. Yang membuat Rian sedikit lega adalah, sampai saat ini Ayla masih menjadi istrinya.
Meskipun isu Nando yang akan menikah tiga bulan lagi sudah tersebar di kalangan pebisnis. Akan tetapi tidak membuat Rian patah semangat.
Karna sampai hari ini pun, pangacara Ayla belum ada menghubungi Aldi. Begitupun dari pihak pengadilan agama. Belum ada surat yang di layangkan untuk nya.
Dua mingu setelah menemukan tempat Ayla. Rian benar-benar menepati janjinya. Yang akan datang, jika Ayla menginginkan sesuatu. Meskipun dia sedang sibuk sekalipun.
Ternyata, ucapa Ayla dengan ke inginan kedua calon buah hatinya berbeda. Minggu lalu, Ayla berkata jika Rian tidak perlu repot-repot datang untuk memenuhi keinginannya.
Tapi itu semua bagaikan angin lalu. Karna sudah beberapa kali dalam dua Minggu ini. Rian harus bolak-balik terbang dari kota B, ke pulau tempat Ayla. Sebab Ayla meminta pelayan untuk menghubungi Rian karna dia ingin sesuatu yang dibikin atau dibeli oleh Rian sendiri.
Sempat Ayla menahan keinginannya itu. Karna tidak mau menyusahkan Rian. Tapi karna hal itu, sampai-sampai membuat Ayla demam dan tidak bisa tidur.
Semenjak itulah, Ayla berani meminta Rian datang untuk membawakan apa pun yang di inginkan oleh kedua calon anaknya. Dia tidak mau, karna keegoisannya, membuat si kembar merasakan sakit. Jadi lebih baik dia yang mengalah.
Seperti tadi malam, salah satu pelayan kembali lagi menelpon Rian. Dan mengatakan, jika Nona muda mereka ingin memakan nasi goreng yang di buat oleh Rian sendiri.
Dan Rian pun harus terbang lagi untuk memenuhi keinginan kedua calon anaknya.
Tok....Tok....
"Masuk..!" titah Rian yang masih sibuk membubuhi dokumen di atas meja kerjanya dengan tanda tangan.
Ceklek....
Suara pintu yang dibuka dari luar.
"Aldi, Ada apa? bukanya tadi kamu bilang ingin pergi kerumah Papa. Apa tidak jadi?" tanya Rian meletakkan pulpen yang di pegang nya. Lalu dia pun berjalan menuju sofa yang Aldi duduki.
"Tidak jadi Tuan muda. Karna Tuan Heri, ada pertemuan dengan sahabat lamanya."
"Ooh begitu." sahut Rian menganggukkan kepalanya. Sebelum kembali berbicara.
"O'ya Al, Aku hampir lupa bilang kepadamu. Nanti sore, kamu tidak usah ikut. Biar aku pergi sendiri saja. Kamu langsung saja bereskan Anton dan Sanjaya. Jangan sampai lengah, karna sekarang mereka sedang mencari kelemahan kita." seru Rian yang memang sudah tau, jika anak buah Sanjaya ada yang memata-matainya.
"Iya Tuan muda. Besok pagi adalah waktu terakhir, yang kita beri untuk mereka pergi dengan cara terhormat meninggalkan perusahaan Barclay dan Sanjaya. Mereka juga sudah di beritahu, jika besok sudah harus angkat kaki." terang Aldi yang sudah tau apa yang harus dia lakukan. Meskipun belum mendapatkan perintah.
"Bagus lah, aku tidak perlu terlalu pusing memikirkan masalah perusahaan lagi. Karna aku sekarang ingin pokus untuk mendapatkan istri dan kedua anakku kembali. Aku tidak akan bisa hidup tanpa mereka." Rian menghela nafas beratnya.
"Tapi Tuan muda, Apa anda tidak curiga dengan perkataan klien yang kita temui dua hari yang lalu."
"Perkataan yang mana. Bicara yang jelas." Rian menoleh kearah Aldi.
"Perkataan Tuan Hermawan. Bukankah dia mengatakan, jika Tuan Nando akan menikah dengan gadis dari kota A. Tidak kah Anda merasa ada yang aneh?" kata Aldi yang mulai suuzon.
"Aneh apanya? Nando kan memang ingin menikahi istriku. Ciih apa-apaan kamu ini. Kamu ingin mengingatkan ku ya, jika sebentar lagi aku akan menjadi duda. Jangan harap itu terjadi, karna sampai kapanpun, Aku akan memperjuangkan cinta ku. Meskipun sudah telat,! Tapi....!" Rian dengan sengaja mengantung ucapannya, karna ingin melihat raut muka Aldi.
"Lebih baik telat kan, dari pada tidak pernah memiliki cinta sama sekali. Contohnya seperti dirimu" Rian yang belum paham ucapan Aldi dan malah mengejek nya. Dengan tertawa terbahak-bahak.
Sampai Aldi merasa merinding. Biasanya Rian belum pernah tertawa seperti itu. kecuali saat dia masih tinggal bersama Ayla.
Namun semua senyuman itu hilang bersama keputusan Ayla meninggalkan Tuan muda nya itu.
"Tuan muda, Apakah anda baik-baik saja.?" tanya Aldi merasa khawatir.
"Apa maksudmu? tentu saja aku baik-baik saja." Rian mendelik kearah sekertaris setianya itu.
Saking setianya, Aldi kepada Rian. Dia rela digantikan oleh Tuan Heri menjadi orang kepercayaannya.
"Agh.. lupakan saja. Saya masih ada pekerjaan." pamit Aldi keluar dari ruangan Rian. Karna dia mulai merasa terancam.
"Huh, dasar aneh. Memang apa salahnya aku tertawa." ucap Rian masih tertawa melihat kepergian Aldi.
"Rasanya aku sudah tidak sabar ingin bertemu Ayla." Rian tersenyum-senyum sendiri.
"Anak-anak papa,! terimakasih, kalian sudah membantu papa untuk bisa mendekati mama kalian. Papa tidak akan melepaskan kalian. Meskipun nyawa papa taruhannya." seru Rian yang benar-benar sudah sangat menyayangi anak yang belum dia ketahui bentuknya itu.
Sampai kehamilan Ayla sebesar sekarang, baru satu kali Rian menyentuh perut istrinya itu. Itupun atas keinginan Ayla sendiri. Yang ingin Rian mengelus perutnya. Entah itu kemaun Ayla. Entah kemaun si kembar.
Jika tidak, mana mungkin Rian bisa menyentuhnya. Berbicara saja Ayla masih dingin. Jadi mana mungkin Rian berani.
Sekarang Rian sudah berada di dalam jet pribadi milik keluarganya. Entah mengapa, dia tiba-tiba ingin berangkat lebih cepat. Padahal niat awalnya ingin berangkat jam tiga sore.
Satu jam kemudian. Jet pribadi itu mendarat dengan sempurna. Lalu Rian berpindah lagi menaiki mobil yang memang sudah di perintahkan untuk menjemput kedatangannya.
"Apakah Istriku baik-baik saja?" Rian bertanya kepada salah satu pengawal. Karna tidak tahan menahan rasa khawatirnya.
"Nona baik-baik saja Tuan. Hanya saja, kata Susi Nona tidak mau makan. Karna ingin memakan nasi goreng buatan Tuan. Kami sudah membujuknya, tapi Nona tetap tidak mau." adu si pengawal.
"Tidak apa-apa. Mungkin dia memang sedang tidak berselera memakan makanan yang lain." seru Rian merasa bahagia, karna dia merasa dibutuhkan oleh anak dan istrinya.
"Ternyata kalian benar-benar anak papa Nak. Entah siapa yang kalian dukung, Mama atau papa. Tapi papa bersyukur untuk itu. Karna akhirnya papa menjadi berguna juga untuk kalian."
Ucap Rian di dalam hati, dengan sedikit tersenyum di ujung bibirnya.
Namun senyum itu tidak lama, setelah mobil mereka berhenti mendadak. Lalu dia ikut melihat kedepan. Ternyata ada tiga mobil yang ada di Villa dalam keadaan hancur.
Para pengawal itupun turun untuk memeriksa apa yang terjadi. Yang di susul oleh Rian juga.
"Apa yang terjadi pada kalian? siapa yang melakukannya?" tanya pengawal yang bersama Rian tadi pada temannya yang masih hidup. Hanya saja keadaan mereka sangat mengenaskan.
"Ka..Ka... Kami diserang oleh sekelompok orang yang tidak kami kenal. Cepat tolong Nona muda. Mereka membawanya bersama Susi." ucap nya, berusaha menjelaskan sambil menahan sakit bekas luka tembakan.
"Apa yang kamu katakan. Kemana mereka membawa istriku. Dan siapa mereka?" Rian bertanya dengan berteriak.
"Kami tidak tau, mereka membawa Nona kemana tuan muda. Hanya saja, ketua kelompok itu mengatakan, jika Anda ingin Nona selamat. Maka jangan pernah melibatkan polisi." ucap nya dengan nafas terngah-engah
"Kenapa kalian ceroboh sekali membawa Nona keluar dari Villa, tanpa pengawalan khusus." sahut salah satu pengawal yang sedang membantu teman-temannya.
"Bukankah tadi, Tuan muda sendiri yang menelpon, jika Tuan muda menyuruh kami membawa Nona menunggu di taman yang ada di depan. Tuan muda mengatakan, jika sudah membawa nasi gorengnya." jawab nya lagi.
"Sial, mereka berhasil menyadap nomor telepon ku." umpat Rian berdiri.
"Kenapa kalian diam. Cepat hubungi Aldi dan papa. Dan beritahu untuk menahan Sanjaya beserta Anton." Rian memberikan perintah. Sambil ingin masuk ke mobil. Namun HP disakunya bergetar.
Ttttddddd....
Lalu Rian langsung melihat ada nomor baru yang menelponnya. Begitu layar hijaunya di gulir, ada suara orang dari sebrang sana.
📲 D : "Hallo....! Selamat sore Tuan Rian yang terhormat. Apakah anda sudah mendapatkan kejutannya?" tawa si penelpon di sebrang sana.
📱 Rian : "Dimana istriku berengsek. Jika kalian berani menyakiti istri dan anakku. Maka aku bersumpah, aku akan menghabisi nyawa kalian dengan tangan ku sendiri."
📲 D : "Haaa...Haa.... Ternyata Anda sangat mencintai mereka Tuan Rian. Anda tidak perlu khawatir, kami tidak akan menyakiti mereka. Kami hanya ingin bermain-main saja." Masih sambil tertawa.
📱 Rian : "Katakan, Apa yang kalian inginkan?" bentak Rian bertambah emosi.
📱 D : "Waw...! Ternyata, Anda memang pembisnis hebat Tuan Ardiaz Rian Erlangga. Kami belum mengatakan apapun, tapi Anda sudah mengajukan tawaran. Kami hanya ingin pengembalian perusahaan Sanjaya dan Barclay dalam waktu satu malam. Besok pagi, jam delapan. Semuanya harus sudah dikembalikan. Dan Anda tunggu saja, kami akan menghubungi Anda lagi."
Tuuuuut...
Sambungan telpon sudah terputus.
"Brengsek...! Apa kalian sudah melacaknya?"
Tanya Rian melihat salah satu pengawal yang sedang menyambungkan ke laptop di pangkuannya.
"Sudah tuan muda. Kami sudah mendapatkan lokasi nya. Ternyata mereka membawa Nona kembali ke kota B. Saya juga sudah mengirim alamatnya ke sekertaris Aldi. Menjelang kita tiba di kota B. Pasti sekertaris Aldi dan yang lainnya sudah lebih dulu bertindak." kata si pengawal kembali menyimpan laptop nya.
Rian akhirnya kembali lagi ke kota B. Bersama beberapa orang pengawal. Sedangkan pengawal yang lainnya membawa pengawal yang terluka ke rumah sakit terdekat.
BERSAMBUNG.....🤗
.
.
.
.
.
...Janga lupa untuk selalu memberikan dukungannya ya...!! Dan jangan lupa juga, untuk singah ke novel mak yang satunya lagi. Terimakasih...😘😘...