
🌷🌷🌷🌷🌷
.
.
"Sayang kamu kanapa?" Nando bertanya dengan khawatir. Melihat wanita yang dia cintai sudah terkulai lemas tidak berdaya. Pelipisnya sudah di banjiri oleh keringat. Muka dan bibirnya pun langsung terlihat pucat.
"Aku juga tidak tahu! Dari tadi pagi kepalaku memang sangat pusing." jawab wanita itu seraya membasuh mulutnya sebelum kembali kedalam kamar.
"Kenapa tidak bilang dari tadi! Kalau begitu kita berangkat kerumah sakit sekarang ya? Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu," Nando menyibakkan rambutnya sang istri yang sudah menutupi sebagian wajahnya.
"Tapi... aku tidak sakit, kak. Hanya sedikit pusing saja." tolak Sari tidak mau ke rumah sakit, karena hampir setiap dua minggu sekali mereka kesana hanya untuk check up kesehatan dirinya dan suami.
Sudah enam bulan menikah. Sari belum juga ada tanda-tanda akan hamil, maka dari itu akhir-akhir ini mereka sering ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatan mereka berdua.
Walaupun dokter Obygn sudah mengatakan kalau keduanya baik-baik saja tidak ada yang salah pada rahim Sari maupun dari suaminya. Namum, tetap saja mereka berdua belum puas sebelum mendapat hasilnya.
Sebetulnya dari awal Sari sendirilah yang ingin memeriksa kesehatan rahimnya karena wanita itu ingin segera mengandung agar bisa memenuhi cita-cita mereka berdua.
Mereka tidak bercita-cita untuk membangun sebuah usaha maupun perusahaan. Akan tetapi mereka ingin membangun sebuah keluarga dengan kehadiran si buah hati.
Tidak dipungkiri oleh wanita itu. Dia sangat iri melihat Ayla sahabatnya bisa dengan mudahnya hamil anak kembar. Padahal Ayla bisa hamil hanya satu kali melakukan hubungan intim bersama Rian.
Sedangkan dia dan Nando hampir melakukannya setiap malam. Namun, sampai saat ini belum juga membuahkan hasil. Bukanya Sari tidak sabar untuk memiliki anak sendiri. Hanya saja dia merasa bersalah pada sang suami yang sudah mengharapkan dia segera hamil.
Belum apa-apa saja Nando sudah mempersiapkan satu buah kamar untuk anak mereka nanti. Kamar itu terletak di lantai atas dan terhubung langsung dengan kamar mereka berdua.
Walaupun Nando selalu berkata tidak apa-apa, bersabarlah mungkin belum waktunya kamu untuk hamil. Jika sudah waktunya nanti pasti akan langsung jadi.
Setiap mereka habis melakukan hubungan suami-istri. Nando selalu mengecup perut sanga istri di sertai permohonannya. Agar apa yang sudah mereka lakukan segera tumbuh di rahim istrinya.
"Jika baik-baik saja, maka kamu tidak akan muntah-muntah seperti ini. Ayo kita berangkat sekarang tidak ada penolakan." seru pria itu menyambar kunci mobilnya dan tidak lupa pula, dia mengambil jeket untuk istrinya.
Tau sang suami sangat posesif pada kesehatannya Sari hanya bisa menurut setelah Nando memasang kan jeket tadi pada tubuhnya yang hanya memakai dress pendek lengan. Sedangkan ke bawahannya sebatas lutut.
Dari kamar sampai ke mobil sedikit pun Nando tidak melepaskan tautan tangan mereka. Meskipun Sari hanya muntah-muntah tapi sang suami memperlakukannya sudah seperti pasien sakit parah.
Bagaimana tidak. Saat menuruni anak tangga tadi, dia di tuntun dengan sangat pelan seakan-akan wanita itu sedang hamil besar yang akan segera melahirkan.
Braaak...
Suara pintu mobil yang Nando tutup. Setelah lebih dulu membukukan pintu mobil untuk sang istri. Sebelum menjalankan kendaraan nya Nando memasangkan selt belt pada tubuh mereka berdua dan kembali bertanya. "Apakah masih pusing?" merasakan kening istrinya barangkali sedang demam. Namun, setelah di rasa-rasa tidak panas sama sekali, malah terbilang normal.
"Aku tidak demam! Hanya saja masih sedikit pusing bila membukakan mata ku. menjawab dengan mata terpejam.
"Apapun hasilnya nanti kita tetap harus periksa. Pejamkan saja matanya agar tidak pusing."
Cup...
Seru pria itu sebelum mulai menjalankan mobilnya menuju rumah sakit Central Medika. Yaitu rumah sakit tempat dulu Ayla pernah di rawat. Kurang lebih dua puluh menit mobil mereka sudah memasuki kawasan rumah sakit. Lalu Nando pun langsung memberhentikan Mobilnya di parkiran tidak jauh dari sana dan dia pun turun lebih dulu membukakan pintu untuk istrinya.
"Sayang kita sudah sampai ayo aku bantu keluar." ucapnya membangunkan sang istri dengan pelan. Tadi karena tidak kuat merasa pusing Sari memejamkan matanya sehingga tertidur walaupun hanya beberapa saat.
"Hm! Kita sudah sampai?" Sari yang dibangun pun langsung membuka matanya dan dituntun oleh sang suami keluar dari sana.
Setelah menutup kembali pintu mobilnya mereka berjalan pelan menuju ruangan pemeriksaan. Namun, setelah mendengar keluhan yang disampaikan oleh Sari mereka berdua diarahkan untuk menemui dokter kandungan. Sebab gejala yang disebutkan seperti orang yang sedang hamil.
Hal tersebut tentu saja membuat hati pasangan muda itu berbunga-bunga mereka mengira kalau Sari Mungkin saja sedang hamil muda. tidak lama menunggu giliran Sari pun tiba. Saatnya dia yang akan diperiksa.
"Antrian selanjutnya kepada Nyonya Sari Hermawan." panggil seorang perawat wanita dengan sopan.
Tiba di dalam, dokter tempat biasa mereka periksa kaget melihat pasangan muda itu. Pasalnya belum satu minggu ini mereka juga habis periksa pada dokter wanita itu.
"Selamat siang, Tuan Nando, Nona Sari!" sapanya berdiri menyalimi kedua pasiennya tersebut.
"Selamat siang juga, Dokter Elida!" jawab keduanya berbarengan. setelah menyambut baik uluran tangan dokter muda itu, mereka berdua pun dipersilakan duduk sebelum melakukan pemeriksaan.
"Maaf dokter, Saya tidak tahu entah gejala Saya sedang hamil atau bukan. Tapi dari pagi tadi kepala Saya terasa pusing lalu sebelum kami datang kemari Saya juga muntah-muntah." keluh Sari yang memang belum tahu pasti itu gejala hamil atau bukan.
Mendengar jawaban Sari membuat Dokter Elida sedikit menyugikan senyum. Sampai senyuman itu tidak dapat dilihat oleh orang lain lalu dia pun berkata. "Baiklah kalau begitu mari kita periksa dulu Nona, biar tidak salah menduga itu benar gejala hamil atau bukan, karena orang yang sakit asam lambung pun gejalanya sama seperti orang hamil." jelas Dokter Elida seraya berdiri untuk melakukan pemeriksaan pada wanita itu.
Sedangkan Nando ikut berdiri menemani istrinya untuk diperiksa. Hal yang sering dia lakukan akhir-akhir ini. Setiap kali Sari melakukan pemeriksaan sakit atau apapun itu, sang suami selalu menemaninya.
Setelah dilakukan pemeriksaan lengkap, Dokter Elida menghela nafas panjang. Sungguh dia merasa kasihan pada pasangan yang ada di depannya ini. Sangat terlihat jelas dari awal pemeriksaan dulu sampai saat ini, keduanya begitu berharap mendapatkan berita bagus. Namun nyatanya sampai hari ini pun belum juga ada hasilnya.
"Bagaimana Dokter apa istri Saya sedang hamil?" Nando bertanya tidak sabar setelah melihat raut muka Dokter Elida seperti menahan sesuatu untuk disampaikan.
"Mari kita kembali duduk dulu, Tuan. Nanti saya akan jelaskan." jawabnya kembali menuruni dress yang dipakai oleh Sari. Lalu pasangan muda itu pun mengikuti dokter Elida duduk di meja kerjanya.
"Mohon maaf sebelumnya. Sebetulnya Nona tidak hamil, hanya saja saat ini penyakit asam lambungnya sedang kambuh. Ini saya sudah menuliskan resep obatnya kalian berdua tinggal memberikan kertas ini pada apoteker di tempat biasa." jawab Dokter Elida seraya memberikan secarik kertas yang sudah ditulisnya obat untuk ditebus.
Meskipun hal seperti ini sudah sering terjadi tetap saja dokter muda itu merasa tidak enak untuk menjelaskan pada pasiennya. Padahal sudah jelas itu bukanlah kesalahan dari para dokter ataupun perawat melainkan salah Mak authornya.🙄
Pasangan Nando dan Sari yang mendengar penjelasan Dokter Elida hanya bisa terpaku di tempat mereka duduk. Meskipun dari awal Sari sudah menduga kalau penyakit asam lambungnya sedang kambuh tetap saja berita ini membuat wanita itu merasa terpukul.
Nando yang mengerti kesedihan sang istri langsung saja berpamitan untuk pergi dari sana lalu pulang ke kediaman mereka. Setelah menembus obat yang sudah ditulis oleh Dokter Elida keduanya pun langsung kembali ke mobil mereka.
Benar saja tiba di dalam mobil wanita itu tak kuasa menahan tangisnya. Tadi di dalam rumah sakit Sari sengaja menahannya karena tidak mau menjadi sorotan orang-orang yang ada di sana.
"Hick... hick... Kakak maafkan aku! Maaf karena aku belum juga bisa memberikan Kakak seorang anak." ucap Sari sambil menangis tersedu-sedu.
Melihat hal itu Nando menarik Sari ke dalam pelukannya, lalu ia pun berkata. "Sayang jangan menangis Ini bukan salahmu, yang penting bagiku adalah kesehatanmu Percayalah suatu saat nanti pasti dia akan tumbuh di dalam sini." kata Nando sambil menyentuh perut sang istri.
Bukan hanya Sari yang merasa terpukul mendengar kalau istrinya belum juga mengandung. Di dalam hatinya pun, Nando lebih merasa terpukul lagi daripada sang istri. Hanya saja bila dibandingkan harus kehilangan orang yang dicintai. Nando lebih rela mereka tidak diberikan keturunan.
Ya benar! Pria itu sudah pernah memikirkannya dengan sangat matang, seumpamanya sang istri tak kunjung hamil maka tidak masalah untuk dirinya. Namun, bagi seorang perempuan tentu saja berbeda lagi.
Bagi Sari meskipun sang suami sudah mengatakan berulang kali tidak masalah bilamana mereka memang tidak mendapatkan keturunan, asalkan mereka selalu bersama. Tetap saja dia merasa bersedih karena takut sang suami akan meninggalkannya dan mencari wanita lain yang bisa memberinya keturunan.
Padahal sudah jelas jawaban para dokter tempat mereka melakukan pemeriksaan berulang kali. Kalau Sari tidak mandul, hanya saja memang belum diberikan kepercayaan memiliki momongan.
Bahkan mereka tidak melakukan pemeriksaan hanya satu tempat. Namun, di mana tempat yang disebutkan oleh para sahabat mereka. Maka keduanya akan pergi ke sana untuk melakukan pemeriksaan. Agar tidak mengira-ngira hal yang tak pasti seperti saat ini.
"Hick.. hick... tapi buktinya sampai saat ini aku belum juga hamil, Kak! Aku takut kalau aku mandul! Bagaimana kalau aku benar-benar mandul, pasti kakak akan menikah lagi kan. Kakak pasti akan meninggalkan aku dan mencari wanita yang bisa memberikan kakak keturunan. Iya kan?" tangis wanita itu semakin jadi setelah menyebut bila suaminya akan menikah lagi karena ingin mendapatkan keturunan.
"Sari!" tanpa sengaja Nando sudah membentak wanita yang sangat di cintainya. Padahal semenjak mereka menikah belum pernah dia menyebut nama sang istri. Nando selalu menyebutnya sayang. Namum, hari ini dia malah membentak wanita itu.
"Sayang tolong jangan seperti ini! Aku mohon jangan pernah berpikiran seperti itu. Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkan. Kalaupun aku disuruh memilih, maka aku lebih rela kita tidak memiliki keturunan daripada harus kehilanganmu," ucapkan Nando menurunkan nada bicaranya dan mendekap tubuh wanita itu dengan sangat erat.
Tidak hanya Sari yang menangis. Namun, Nando sendiri pun ikut menangis melihat wanita yang dicintai meneteskan air mata karena takut kehilangan dirinya.
"Percayalah aku sangat mencintaimu. Jadi aku mohon jangan menyalakan dirimu sendiri! Apapun yang terjadi aku tidak akan pernah meninggalkanmu." Nando mencium kepala istrinya berulang kali untuk menyalurkan semua rasa cintanya.
Tidak lama setelah mendengar pengakuan sang suami meskipun sudah sering didengarnya. Sari pun berhenti menangis, karena dia sendiri juga tahu kalau Nando sangat mencintainya. Dari semenjak pria itu melamar sampai mereka menikah saat ini. Cinta suaminya memang tidak bisa diragukan lagi.
Tahu sang istri tidak menangis lagi Nando pun kembali berkata. "Meskipun kita tidak bisa memiliki keturunan sendiri, setidaknya ada anak yang memanggil kita Ayah dan Bunda kan,"
"Kakak!" seru wanita itu melonggarkan pelukan mereka lalu dia mendongak ke atas untuk melihat muka suaminya.
"Iya jangan bersedih bila kita memang tidak bisa memiliki keturunan. Kamu harus ingat kita masih memiliki Arsya dan Salsa kan. Tidak ada bedanya anak kita sendiri dengan mereka berdua, karena keduanya sama seperti anak kita kan." Nando menghapus air mata istrinya lalu mencium seluruh wajah yang masih terlihat sembab akibat terlalu lama menangis.
"Tapi mereka memiliki orang tua sendiri. Kita tidak bebas membawa mereka semau kita berdua." jawab Sari yang sudah benar-benar berhenti menangis. Mengingat kedua anak itu rasa sedihnya langsung menghilang. Pasalnya apabila Nando sedang berada di rumah Arsya dan Salsa sering dibawa bermain ke rumah mereka.
Sampai saat ini baby Arsya dan Salsa sangat anteng bila ditinggalkan dengan kedua neneknya ataupun pada Sari.
Terkadang apabila Ayla harus menemani suaminya pergi menghadiri acara dari perusahaan atau sebagainya. Kedua anaknya akan dititipkan kepada Bunda Mirna dan mama Sonya. Kalau tidak ada orang dua itu maka pada Sari karena kalau pada orang lain Ayla tidak percaya.
Apalagi rumah mereka memang tidak terlalu jauh apabila berjalan kaki mereka cukup menghabiskan waktu tujuh menit saja. Jadi ada untungnya Nando membeli rumah dekat dari kediaman Rian dan Ayla.
untungnya bagi Nando dan Sari karena mereka berdua tidak kesepian walaupun belum memiliki anak sendiri dan untungnya lagi bagi pasangan Rian dan Ayla apabila mereka ada acara mendadak yang kebetulan pada saat itu kedua orang tua mereka sedang tidak ada di rumah. Maka ada tempat untuk menitipkan kedua anaknya.
"Meskipun mereka berdua memiliki orang tua lalu masalahnya di mana! Tetap saja kan siang ataupun malam kita bisa menculik mereka dan dibawa ke rumah kita." ucap pria itu tersenyum.