
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Tadi sore setelah melakukan olahraga kurang lebih satu jam lamanya. Nando kembali lagi mengendong Sari masuk ke dalam kamar mandi. Guna membersihkan tubuh keduanya karena Pria itu ingin mengajak sang istri pergi jalan-jalan ke Mall. Hal yang sering mereka lakukan juga bersama si kembar.
Rencananya sore ini Nando juga akan membawa Arsya dan Salsa. Kedua anak kembar itu memang sudah biasa mereka bawa pergi jalan-jalan ke Mall ataupun ke tempat hiburan lainnya. Setelah selesai bersiap-siap mereka pun langsung berangkat ke rumah Rian lebih dulu untuk menjemput kedua anaknya.
Tiba disana kebetulan sekali kedua anak itu sudah dimandikan oleh mamanya. Jadi pasangan suami-istri Nando tinggal membawa mereka pergi bersenang-senang. Tentunya membuat Arsya dan Salsa bersorak gembira.
Bukan karena mereka tidak pernah di bawa jalan-jalan oleh kedua orang tuanya. Akan tetapi Arsya dan Salsa memang suka bila di ajak jalan-jalan. Apalagi kalau di Mall akan banyak berbagai jenis permainan anak-anak seusia mereka.
"Ingat ya pesan Mama! Kakak sama adek nggak boleh nakal." ucap Ayla mengelus kepala Arsya dan Salsa yang memeluk tubuhnya karena mereka akan meninggalkan mamanya di rumah.
"Iya, Ma! Kami berjanji tidak akan nakal," jawab keduanya secara bersamaan. Saat ini Nando dan Sari sudah datang menjemput si kembar. Pria itu memang sengaja mengajak mereka berangkat lebih awal agar jam delapan malam mereka sudah kembali ke rumah.
Merasa sudah cukup berpelukan dengan sang mama. Lalu Arsya dan Salsa kembali lagi berpamitan pada papa nya yang sedang tersenyum melihat istri dan kedua anaknya. Mareka bertiga berpelukan seperti akan keluar kota, padahal hanya pergi jalan-jalan.
"Papa!" seru Salsa manja setelah Rian merentangkan kedua tangan agar mereka masuk kedalam pelukannya.
"Tidak boleh cengeng nanti cantiknya hilang. Kalian hanya pergi jalan-jalan bukan pergi jauh. Lagian papa sama mama juga akan kerumah nenek, untuk melihat Om Paro." kata Rian memberi pengertian pada kedua anaknya.
Sore ini Rian dan Ayla juga akan kerumah Bunda Mirna untuk melihat kedatangan Paro dari luar negeri. Rencananya adik bungsu Ayla memang akan meneruskan sekolah di luar negeri. Jadi sekarang dia baru datang setelah melihat tempat yang dia pilih selama beberapa tahun kedepan.
"Iya adek nggak akan cengeng lagi. Tapi papa halus temenin mama," ucap Salsa dengan bahasa cadel tidak bisa mengucapkan hurup R.
Meskipun saat di ajak jalan-jalan mereka bersorak senang. Namum, bila sudah saatnya mau pergi, selalu ada drama kasihan mamanya tidak di ajak. Bila sudah seperti itu maka Rian lah yang akan bicara pada putra-putrinya. Terlebih nya sih pada Salsa, karena gadis kecil itu memang sangat manja tapi pada papanya.
Kedua buah hati Rian memang sangat dekat dengan papanya, sebab meskipun sibuk kerja di perusahaan. Kalau waktunya pulang ke rumah, sisa waktunya hanya Rian habiskan untuk keluarga kecilnya yang semakin hari semakin bahagia.
Si kembar ini, meskipun diajak oleh kedua neneknya pun. Arsya dan Salsa tetap apabila sudah mau berangkat harus ada drama peluk cium dengan papa dan Mamanya. Dari lahir mereka berdua memang hanya diasuh oleh kedua orang tuanya, walaupun siang hari Rian harus bekerja sampai jam tiga sore. Namun, bila waktunya malam dia sendirilah yang mengurus kedua buah hatinya. sedangkan Ayla sendiri disuruhnya untuk istirahat.
Pa... nanti adek beli es klim boyeh 'kan?" tanya Salsa setelah Rian melepaskan pelukannya.
"Kalau cuma satu boleh, yang tidak boleh belinya dua. Nanti kalau kebanyakan makan es krim bisa apa kak?" Rian sengaja bertanya pada putranya.
"Kalau banyak bisa sakit gigi sama sakit perut, dek. Jadi nanti kalau Bunda ngasihnya satu, adek tidak boleh minta lagi." jawab Arsya menjelaskan pada adiknya karena terkadang bila es krim nya sudah habis Salsa akan minta lagi dan lagi.
"Ye... kita pelgi sekalang! Papa, Mama jangan sedih ya!" ujar Salsa sambil tertawa karena Nando sudah memberikannya ciuman bertubi-tubi di wajah imutnya.
Gadis kecil itu memang selalu di gendong. Berbeda dengan Arsya dia cukup tangannya saja yang di tuntun karena di tawar mau di gendong anak itu selalu menolak. Katanya Arsya sudah jadi kakak jadi tidak boleh di gendong.
"Kalau begitu kami berangkat dulu ya, Ri, Ay! Kalian pacaran lagi saja, selama si kembar kami bawa." ucap Sari tersenyum dan ikut menyusul Nando beserta kedua anak angkat mereka.
"Tiba di dalam mobil Arsya dan Salsa duduk di tempat mereka di kursi tengah yang sudah di siapkan sama seperti mobil papanya. Si kembar baik itu mobil Nando ataupun mobil kedua kakek nya sama-sama memiliki tempat khusus. Kedua anak ini memang sangat di manja oleh keluarga dan orang-orang terdekat mereka.
"Ayah kita mau pelgi ke tempat waktu itu kan?" tanya Salsa sambil memainkan mainanya.
"Iya kita akan bermain sepuasnya di sana. Tapi bila adek sama kakak sudah lelah harus bilang pada Ayah dan Bunda ya...!" Nando menjawab dengan tersenyum lebar. Kehadiran si kembar yang selalu menyebut dia dengan sebutan ayah lah, membuatmu Pria tersebut selalu bersikap santai bila berhubungan masalah anak.
"Bunda sama kakak kenapa diam saja?" bertanya melihat sang istri diam saja. Kalau Arsya tidak heran karena dia adalah persi Rian. Tidak banyak bicara bila tidak suka pada seseorang maka Arsya akan menunjukan sikap dinginnya.
Tapi jika sikap sabar dan lemah lembut nya sangat mengikuti mamanya. Baik Arsya maupun saudara kembarnya, wajah mereka sangat cantik dan tampan. Perpaduan kecantikan Ayla dan Rian, yang sudah bisa di pastikan kedua anak tersebut bila sudah besar. Pasti akan menjadi rebutan para kaum Hawa maupun Adam.
Mendengar pertanyaan Nando. Membuat Arsya hanya tersenyum sambil menunjukkan mainanya keatas. Pertanda dia hanya sedang bermain.
"Bunda tidak apa-apa, Yah." menjawab kalau dia baik-baik saja. Padahal Sari sedang memikirkan bila tidak ada Arsya dan Salsa di kehidupan mereka entah apa yang terjadi pada pernikahannya.
Bohong kalau selama ini dia tidak pernah memikirkan ingin memiliki anak sendiri. Walaupun ada Arsya dan Salsa tapi tetap saja berbeda karena mereka terbatas untuk membawa kedua anak tersebut dan tidak bisa semau mereka ingin membawa ke mana.
Sebetulnya selama tiga tahun belakangan ini. Sari sering menangis apabila sang suami sudah pergi berangkat bekerja. Dia merasa gagal menjadi seorang istri meskipun dokter tidak pernah mengatakan kalau dia mandul. Tapi tetap saja wanita itu menyalahkan dirinya sendiri.
Rasa takut ditinggal oleh sang suami selalu menghantui wanita itu. Memiliki suami yang sangat tampan dan juga kaya raya mana mungkin tidak ada perempuan yang tidak mau pada suaminya. Apalagi walau Nando menghianati pernikahan mereka, Pria itu memiliki alasan karena Sari tidak bisa memberikan keturunan. Meskipun selama ini sang suami selalu jujur kepada dirinya tetap saja Sari merasa takut.
Tidak sampai lima belas menit mobil mereka sudah tiba di Mall terbesar yang ada di pusat ibukota B. Lalu Nando memberhentikan laju kendaraannya dan dia pun turun mengitari mobil untuk membantu sang istri dan kedua anak angkatnya turun dari mobil. Baru setelahnya dia menyerahkan kunci mobil tersebut kepada keamanan yang berjaga di sana agar memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang sudah disediakan.
Kembali lagi seperti tadi Nando menggendong tubuh kecil Salsa dengan satu tangannya. Sedangkan tangan satunya lagi digunakan untuk menuntun Arsya berjalan bersamanya yang diikuti oleh sang istri di samping tubuhnya berdiri. Lalu keluarga kecil itu pun masuk ke dalam Mal tersebut untuk menuju ke tempat di mana permainan anak-anak.
Setelah tiba di lantai tiga tempat permainan itu berada Nando kembali menurunkan putri kecilnya dan menuntun mereka membeli karcis untuk masuk ke dalam area bermain. Namum, saat mereka mengantri membeli tiket malah bertemu dengan Dewi di sana. perempuan itu juga sedang membeli karcis bersama anaknya. kalau Nando cuek saja karena sudah tidak ingat wajah keduanya. Tapi berbeda dengan Dewi. Perempuan itu langsung menyapanya seolah-olah sudah kenal dekat.
"Tuan Nando!" menyapa sok akrab.
Merasa namanya dipanggil dari arah belakang, Nando pun menoleh pada sumber suara lalu bertanya. "Apa Anda memangil Saya?"
"Iya Tuan. Saya pegawai Restoran Anda yang ada di jalan halu. Ini putri Saya yang Anda tabrak tadi siang."