
πΏπΏπΏπΏπΏ
Area 21+ bocil harap di skip ya.π
.
.
Setelah menempuh perjalanan sepuluh menit, mobil mereka pun sudah tiba didepan rumah minimalis namun mewah. Yang berada di tengah-tengah perumahan mewah yang lainnya.
Begitu sampai, Aldi langsung membantu memapah tubuh Rian mendekati pintu. Dan Aldi pun langsung memencet bel rumah, agar Ayla membukakan pintu.
Karena keadaannya yang kurang sadar, Rian sampai lupa jika kunci rumah yang selalu dia bawa, tertinggal di mobilnya yang masih di hotel Erlangga.
Tak lama menunggu, pintunya sudah terbuka, terlihat Ayla yang sudah memakai piyama tidur panjang.
"Apa yang terjadi sekertaris Aldi? Rian kenapa.?" tanya Ayla yang sangat khuatir, sebab Rian bukan hanya di papah, namun juga tidak memakai baju atasannya juga.
"Tuan muda telah diberi obat perangsang oleh seseorang Nona."
"Apa..! siapa yang melakukannya? lalu kenapa tidak langsung dibawa ke Dokter Sean?" tanya Ayla yang beruntun. Sambil membantu memapah Rian berjalan menaiki tangga, menuju lantai atas tempat kamar tidur mereka.
" Kami sudah membawa tuan muda kesana, atas permintaan tuan muda sendiri. Namun Dokter Sean tidak berani memberikan obat penawarnya, karena epek samping nya sangat berbahaya." jawab sekertaris Aldi jujur, agar Ayla mau membantu tuan muda nya.
"Lalu, kita harus bagaimana sekarang? apa yang bisa kita lakukan?" ucap Ayla binggung, yang sudah membukakan pintu kamar.
Bukan Ayla tidak tau obat penawarnya. Namun Ayla tidak mungkin bisa membantu Rian, sebab pernikahan mereka akan segera berakhir.
"Kita harus membawa tuan muda kedalam kamar mandi langsung Nona, dan merendamnya di dalam bathtub dengan air dingin." ucap sekertaris Aldi yang terpaksa mengantar Rian sampai kedalaman kamar mandi.
Meskipun rasanya dia begitu sungkan sendiri kepada Ayla, sebab sudah masuk kekamar tuan muda dan Nona mudanya.
Di dalam kamar mandi, Ayla langsung mengisi bathtub dengan air dingin sampai penuh, barulah setelah itu mereka berdua memasukkan Rian kedalam bathtub. Rian juga masih mengunakan celana yang melekat di tubuhnya.
Beberapa menit kemudian, Rian merasa sudah mendingan, lalu dia menoleh ke arah Ayla dan sekertaris Aldi yang masih setia menunggu nya di samping bathtub.
"Sekertaris Aldi pulang lah, aku sudah baik-baik saja, ini sudah larut malam. Pekerjaan mu juga bukan hanya mengurus ku, tapi juga perusahaan Erlangga." seru Rian yang kasihan kepada sekertaris nya itu, dan Rian pun sudah merasa lebih baik.
"Tapi tuan muda, saya tidak mungkin meningalkan Anda dalam keadaaan seperti ini!" ucap sekertaris Aldi menolak.
"Sekertaris Aldi, Rian benar, kamu pulang lah! ada aku yang akan menjaga Rian. Bila ada apa-apa aku akan mengabarimu secepatnya."
"Baiklah, jika begitu saya pamit dulu tuan, Nona.!" pamit Aldi berjalan meninggalkan Rian dan Ayla yang masih dikamar mandi.
Rian pun hanya menanggapinya dengan anggukan kepala saja.
"Rian, aku tinggal sebentar ya, aku akan mengunci pintu dan membuatkanmu minuman hangat."
"Heeem." sahut Rian sambil memejamkan matanya.
Ayla pun langsung pergi ke lantai bawah. Setelah mengunci pintunya, Ayla masuk kedalam dapur, dan membuatkan teh hangat untuk Rian.
Karena Ayla pikir, jika Rian pasti merasa kedinginan berendam dengan air dingin di tengah malam seperti ini.
Padahal di dalam kamar mandi, Rian malah kembali merasakan kepanasan yang berkali-kali lipat dari sebelumnya.
"Bang**t, kenapa malah lebih parah dari tadi!" umpat Rian yang sudah memakai handuk, karena setelah Ayla pergi tadi, Rian merasa jika pengaruh obatnya sudah benar-benar hilang.
Rian pun langsung kembali ke dalam kamar, niat hati ingin kembali memakai pakaian, setelah nya Rian akan kembali berendam.
Karena tidak mungkin Rian berendam dalam keadaan telanj**g atau memakai handuk saja.
Namun begitu Rian membuka pintu kamar mandi, yang tadi sempat dia tutup, sewaktu membuka pakaian yang masih tersisa di tubuhnya.
Ayla datang sambil tersenyum, membawakan satu gelas teh hangat di tangannya. Rian tidak pokus pada teh yang Ayla bawa, namun Rian lebih pokus pada bibir Ayla yang sedang tersenyum kearahnya.
"Kamu sudah baikan? syukurlah, kamu diam disini saja. Biar aku siapkan pakaian tidur mu." seru Ayla sambil meletakkan teh yang dia bawa, di atas meja di dalam kamar.
Ayla pun langsung ingin menyiapkan pakaian untuk Rian, namun ketika Ayla ingin melewati nya, pergelangan tangannya sudah di cekal dan tubuhnya pun sudah diputar Rian agar menghadap kepadanya.
"Ada apa Ri,? apa kamu membutuhkan sesuatu!" tanya Ayla bingung.
Namun yang ditanya malah diam saja dan kembali melepaskan tangannya.
Sebab Ayla pikir, mungkin saja Rian ingin membahas masalah mereka yang tadi sebelum berangkat ke pesta ulang tahunnya Eka.
Namun Ayla salah, karena yang sebetulnya terjadi, adalah Rian ingin silaturahim bibir dengan nya, tapi Rian masih memiliki sedikit kekuatan untuk tidak melakukan nya. Sehingga Rian langsung melepaskan tangan Ayla begitu saja, dan tidak berbicara lagi.
"Ri in." ucapan Ayla terputus karena melihat keadaan Rian, mukanya sudah memerah dan tubuhnya kembali mengigil namun mengeluarkan keringat seperti orang kepanasan.
Tanpa berpikir panjang, Ayla langsung menghampiri Rian dan tanpa sadar Ayla memeluk sebelah tangan Rian, karena ingin membantu Rian berjalan keatas tempat tidur mereka.
"Ay, menjauh lah dari ku..! aku mohon! aku sudah tidak kuat lagi menahan nya." seru Rian yang masih berusaha menaha rasa sakit karena hast**t yang tidak tersalurkan.
"Apa maksudmu! mana mungkin aku menjauh, sedangkan keadaan mu bertambah parah. Aku akan menelpon Aldi, dan menyuruhnya kembali kesini." kata Ayla yang berniat mengambil handphone nya di atas nakas samping tempat tidur.
Namun sebelum tangan Ayla memenga handphone, Rian sudah menarik Ayla ke arah tembok samping tempat mereka berdiri.
"Kamu tidak perlu menelpon Aldi, ini sudah malam. Lagian meskipun Aldi datang, dia tetap tidak bisa membantu ku." ucap Rian yang sekarang benar-benar merasakan tidak menentu, karena tiba-tiba jantungnya pun seakan-akan ingin meloncat dari tempatnya.
Jika Ayla, jangan di tanyakan langi, karena bila seperti saat ini. Ayla seolah-olah kembali terhipnotis oleh pandangan mata Rian yang memang selalu bisa membuatnya lupa akan niat nya yang ingin menjauhi Rian.
Tidak menunggu persetujuan Ayla, bibir Rian sudah mendarat dengan sempurna di bibir Ayla yang terlihat begitu menggoda dimata Rian.
Tau tidak ada penolakan dari Ayla, Rian malah langsung menarik pinggul Ayla dengan satu tangan nya. Sedangkan satu tangannya lagi, dia gunakan untuk menahan tengkuk Ayla, guna memperdalam ciuman mereka.
Tanpa sadar, Ayla dengan perlahan ikut membalas ciuman Rian yang baru pertama kali Ayla rasakan nikm**nya. Namun berbeda dengan Rian yang memang sudah sangat mahir.
Dalam tidak sadar, Rian pun sudah berjalan kearah ranjang, sambil mengendong Ayla ala bridal style dan sama-sama tidak melepaskan pangutan yang sedang mereka lakukan.
Rian dengan n**su nya, sedangkan Ayla memang terbuai oleh rasa yang seumur hidupnya baru dia rasakan.
Setiba di atas tempat tidur, Rian langsung mendudukan Ayla perlahan, sambil menatap mata Ayla dengan N**su yang sudah terasa di ubun-ubun.
Pandangan mata Rian pun seolah-olah sedang meminta izin kepada Ayla, untuk berpetualang ke wilayah yang biasanya Ayla jaga, meskipun memang Rian lah pemilik wilayah itu. Karena Rian memang sudah memiliki bukti hak milik atu sertifikat kepemilikan.
Ayla yang mengerti keinginan Rian pun, tidak memiliki pilihan. Apalagi saat ini, Rian sedang dipengaruhi oleh obat yang bisa membahayakan jiwa Rian sendiri.
Mana mungkin Ayla membiarkan itu terjadi, karena Ayla bukan hanya memikirkan keadaan Rian saja, namun Ayla juga memikirkan ibu mertuanya.
Apa yang akan terjadi dengan ibu mertuanya, bila Rian benar-benar mengalami epek dari obat perangsang yang dia minum.
Tidak, Ayla tidak akan membiarkan itu semua terjadi. Lebih baik dia mengorbankan harta yang paling berharga dalam hidup nya, dari pada melihat orang-orang yang dia sayangi menderita. Itulah yang ada dalam pikiran Ayla.
Toh, Ayla juga akan memberikan mahkotanya kepada laki-laki yang dia cintai, anggap saja ini adalah kenang-kenangan bagi hubungan suami istri yang mereka jalani.
"Rian..! aku ikhlas memberikan nya kepadamu." ucap Ayla yakin.
"Apa kamu yakin Ay? aku tidak akan memaksamu memberikan nya, karena aku sadar jika aku tidak pantas." imbuh Rian dengan suara yang serak, karena berusaha mengendalikan si adik kecil yang sudah mulai nakal. Lalu Rian pun ikut duduk disisi Ayla.
"Tidak Ri,! aku yakin dengan keputusan ku."
Mendengar ucapan Ayla, Rian langsung kembali mendekatkan wajahnya dan seperkian detik, bibir mereka sudah kembali bersatu bahkan mereka sudah sama-sama saling membelit lidah dan memperdalam ciumannya.
BERSAMBUNG......π
.
.
.
.
Maaf, mengantung lagi ya π€
Digantung pas tangung-tangung nya!
Tapi jari Mak author bener-bener udah gak bisa ngetik lagi, dan maaf, jika tidak sama dengan khayalan kalian semua, harap maklum. author ini masih polos..! jadi masih belum paham cara tutorial yang benar ππ
Terimakasih πππ
Mohon jangan lupa untuk selalu meningalkan jejak ya.ππ