Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Resepsi Nando dan Sari.


🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


Rian tersenyum sambil merangkul pingul sang istri. Bila sudah bertemu kedua orang tua mereka, maka dia dan Ayla akan menjadi seperti layaknya orang berpacaran. Mama Sonya dan Bunda Mirna memang suka sekali menculik Baby Arsya dan Salsa.


Tentunya kedua wanita baya itu memiliki niat tertentu, mereka ingin Rian dan Ayla memiliki waktu mereka berdua tanpa di ganggu oleh tangisan bayi.


Apalagi semenjak keduanya tahu bahwa saling mencintai tapi saat Ayla sudah dalam keadaan hamil besar. Jadi boleh dikatakan pasangan muda itu belum puas merasakan kebahagiaan waktu berdua. Itulah yang dipikirkan oleh para orang tuanya. "Muuuaaah!" tanpa aba-aba Rian langsung mencium Ayla di hadapan semua orang.


Sehingga membuat ibu dari dua anak itu membulatkan matanya. "Pa!" kata Ayla dengan pipi chubby yang sudah merah menahan malu. Pasalnya semua orang tersenyum kearah mereka berdua.


"Apa sayang! Tidak usah malu kita sudah halal. Aku tidak suka para lelaki melihat mu seperti kelaparan." ungkap pria itu semakin merengkuh pinggul istrinya. Seakan-akan ingin memberi pernyataan bahwa Ayla adalah hak miliknya.


Padahal tidak berbeda jauh para wanita pun melihatnya seperti habis makan seblak pedas yang tidak bisa menutup mulut mereka lagi. Namun, Ayla tidak ambil pusing kalau hanya sekedar pandangan. Asalkan cinta Rian hanya untuknya.


Mendengar penuturan suaminya membuat Ayla tersenyum karena baru sadar kalau Rian cemburu melihat para laki-laki tampan itu melihat kearah mereka terus-menerus. "Aku kan tidak mengenal mereka. Aku hanya mencintaimu! Jadi jangan pernah rasa cemburu, menghilangkan rasa malu kita," Ayla mengengam tangan sang suami buat menyakinkan bahwa dia hanya milik suaminya.


"Sungguh aku laki-laki paling beruntung bisa memilikimu istriku. Terimakasih aku sangat mencintaimu!" Rian mengulangi kata-kata cintanya sebelum kedatangan sekertaris Aldi yang sudah di suruh untuk menyimpan kereta bayinya ke dalam kamar hotel tempat mereka akan menginap malam ini.


"Hm! Maaf Tuan muda, Nona muda! Saya hanya ingin membawa kereta Baby Arsya dan Salsa." Aldi berdehem agar bosnya tau bahwa dia sudah datang.


"Iya bawalah! O'ya Al tolong perketat penjagaan pada keluarga kita. Aku akan menjaga istriku kalian tambah penjagaan terhadap kedua anakku juga. Jangan sampai ada orang yang tidak di kenal mendekati, mama sama bunda" perintah Rian karena tidak mau terjadi sesuatu pada keluarganya.


"Soal itu Anda tidak perlu khawatir. Dari tiga hari yang lalu Tuan Heri dan Tuan Ridwan sudah menempatkan ratusan pengawal di dalam dan luar hotel ini." beber Aldi merasa semua persiapan keamanan sudah steril.


"Apa! Kamu serius sekertaris Aldi?" sahut Ayla yang sejak tadi hanya diam saja. "Benar Nona muda! Jadi Anda tidak perlu khawatir selama berada di sini. Kami selalu mengawasi setiap gerak-gerik tamu undangan." jelas sekertaris Aldi agar nona mudanya bisa bebas tidak merasa was-was.


Bukan karena mereka keluarga terpandang saja. Tapi baik Tuan Heri maupun Ayah Ridwan adalah pengusaha sukses. Sekarang di tambah lagi Rian memegang kendali puncak bisnis di kota B, jadi mana mungkin tidak ada orang yang sakit hati dengan keberhasilan keluarga mereka.


"Sudahlah! Al tolong simpan saja kereta si kembar. Terimakasih untuk semuanya." ucap Rian seraya menepuk pelan pundak sekertaris Aldi. Untuk mengucapkan rasa terimakasihnya, agar Aldi tidak melanjutkan ceritanya yang bilamana bisa saja membuat istrinya takut.


"Sama-sama Tuan muda. Kalau begitu saya pamit dulu," Aldi menunduk sopan dan berlalu mendorong kereta bayinya.


"Sayang aku ingin melihat Sari. Kenapa mereka lama sekali keluarnya." ujar Ayla menatap muka sang suami agar mengizinkan dia untuk melihat Sari di kamar pengantin nya.


"Ayo aku akan menemanimu!" Tentu saja ajakan itu langsung di tolak oleh Ayla. "Eh tidak, tidak! Aku bisa sendiri. Lagian laki-laki dilarang masuk kesana kan," Ayla tetap berdiri di tempatnya.


Rian tersenyum lalu berkata. "Aku cukup menunggu di luar, tidak perlu masuk ke dalam kamar. Ayo jangan membantah nanti aku cium lagi!" seru Rian memberi ancaman agar Ayla mau dia temani.


"Agh... yasudah lah ayo!" jawab Ayla menghela nafas pelan. Semenjak Bela ingin mencelakai Ayla saat sebelum dia mengalami kecelakaan yang menyebabkan dia meninggal. Rian memang selalu curiga pada siapapun, termasuk pada Mak raeder. Karena setelah di selidiki ternyata Bela bisa kabur dari rumah sakit atas bantuan dari mami nya dan orang yang iri dengan kesuksesan keluarga mereka.


Pria itu hanya ingin melindungi keluarganya dari orang-orang yang berniat jahat. Tiba di dalam lift, Rian langsung memencet tombol delapan puluh. Menuju lantai nomor dua dari atas, karena kalau lantai paling atas hanya untuk keluarga Erlangga sendiri.


Setelah tiba di tempat tujuan, Rian mengandeng istrinya keluar dari lift lalu mereka berjalan beriringan menuju kamar tempat Sari berada.


"Sudah sampai, aku akan menemui Nando di kamar sebelah. Kamu masuk saja jangan keluar sebelum aku sendiri yang menjemputmu di sini." tegas Rian sebelum menyuruh istrinya masuk.


Cup...


"Iya jangan khawatir! Aku mencintaimu!" seru Ayla tersenyum bahagia. Hari ini dia baru tahu kenapa juga Rian tidak mau menerima pembantu baru ataupun Babysister.


Ternyata karena begitu besar rasa sayang dan cintanya terhadap keluarga kecil mereka. Sehingga Rian lebih rela harus begadang semalaman untuk menjaga si kembar, apabila Arsya maupun Salsa lagi demam.


"Aku pun lebih mencintaimu! Muuuaaah!" Rian balas mencium kening istrinya sebelum mereka berpisah sementara. Sudah melihat sendiri Ayla masuk barulah Rian mengetuk pintu kamar yang di tempati Nando.


Tok....


Tok...


Sudah mendengar jawaban dari dalam. Barulah Rian masuk dan membuka pintunya.


"Eh ada papa si twins. Mana mereka apa tidak ikut?" tanya Andre yang ternyata sedang menemani Nando sebelum acaranya di mulai.


"Mereka sama nyokap!" jawab Rian berjalan masuk setelah menutup kembali pintu kamar itu.


"Lo akan malam pertama di kamar ini atau kamar sebelah, Nan?" Rian tersenyum melihat Nando sudah di dandani oleh Mua internasional yang pernah merias Rian dan Ayla juga.


"Apan sih kalian berdua rese banget jadi temen," ujar Nando merasa sedari tadi menjadi bahan bulian Andre. Lah malah sekarang datang lagi Rian ikut menanyakan dia akan malam pertama di mana.


"Kalo sudah Lo jawab, nanti kita mau masang cctv di dekat ranjang kalian. Agar bisa mendeteksi jam berapa dan sedasyta apa getarannya.' Iya kan, Ri?" goda Andre semakin jadi setelah memiliki teman untuk membuli sahabatnya sendiri.


"Benar banget!"


"Agh gunung nya aja belum di apa-apain kita sudah nanya getaran gempa." Andre kembali bicara tapi saat Nando ingin melempar mereka pakai bantal malah Mamanya Nando sudah datang menjemput karena acaranya sudah di mulai.


Ceklek...


"Wah ada Nak Rian juga!" sapa mama Nando begitu masuk kedalam.


"Iya Tan tadi Rian terlambat karena pagii ini si kembar mendadak rewel." jawab Rian menyalimi tangan wanita baya itu.


"Tidak apa-apa toh acaranya belum dimulai juga kan. O'ya kalian berdua temani Nando ya?"


"Iya Tante biar kita yang bawa Nando ke tempat acaranya. Tante duluan aja kita nyusul di belakang." imbuh Andre karena memang sudah berniat menemani sahabatnya sampai acaranya selesai.


Tidak lama setelah Mama Nando keluar. Mereka bertiga pun ikut menyusul tidak jauh di belakangnya. Namun, sebelum itu Rian menemui Ayla lebih dulu karena tadi dia sudah berjanji tidak akan meninggalkan sang istri.


"Sayang!" ucap Rian begitu melihat Ayla sudah keluar dari kamar yang di tempati oleh Sari.


"Apa kamu diminta untuk menemani Kak Nando?" tanya Ayla yang sudah diberitahu oleh Mama Nando bahwa Rian akan mendampingi pengantin prianya.


"Iya aku akan menemani Nando. Kamu tolong jangan pergi sendiri ya? Aku mohon! nanti kita bertemu di tempat acara."


Cup...


Rian mengelus pipi istrinya setelah mencium sekilas. "Aku mencintaimu!" baru setelah itu Rian berjalan menyusul kedua sahabatnya.


"Ay!" pangil Riri yang ikut hadir dan menemani Sari juga. Semenjak sering bertemu di kediaman Ayla hubungan Sari, Riri dan Amel memang semakin dekat.


Ayla menoleh kebelakang. "Hm! Kenapa?"


"Ayo bersiap-siap kita juga akan menyusul pengantin prianya sekarang." Riri menarik tangan Ayla untuk masuk kedalam.


Sedangkan di Blorum hotel Nando sudah siap menunggu calon pengantinnya datang. Meskipun dengan jantung berdebar-debar. Sudah satu minggu Nando dan Sari memang di larang bertemu. Jadi ada rasa rindu yang mendalam di dalam hatinya.


Tujuh menit kemudian sudah terlihat mempelai wanita berjalan kearah mempelai pria. Kiri-kanan Sari di apit oleh Ayla dan Amel. sedangkan Riri ikut duduk bersama tamu yang hadir.


Setelah tiba di dekat Nando, mereka yang menemani pun kembali ke belakang dan tinggallah pasangan pengantin yang sudah siap mengucapkan janji suci pernikahan di hadapan wali dan para saksi yang hadir.


Begitu Nando selesai mengucapkan janji suci pernikahan mereka. Sari meneteskan air mata bahagianya. Tidak di sangka-sangka mereka berdua bisa menikah. Padahal pacaran saja tidak, mereka sering bertemu pun karena sama-sama menjenguk Ayla.


"Hey jangan menangis!" ucap Nando setelah menyematkan cincin di jari manis sang istri.


"Kakak ak--aku, bahagia sekali!" seru Sari terbata-bata.


"Kakak juga lebih bahagia!" kata Nando menarik Sari kedalam pelukannya padahal mereka sedang di hadapan orang banyak.


Sehingga tindakan keduanya malah membuat suasana semakin heboh. Biasanya sesudah menyematkan cincin di jari masing-masing pengantin pria akan mencium kening istrinya. Tapi pasangan ini malah saling berpelukan satu sama lain.


"Ini anak berdua kenapa cocok banget sih!" Andre mengelengkan kepalanya melihat Nando yang begitu banyak perubahan pada sikap nya.


"Udah nggak sabar mungkin mau kekamar." sahut Rian asal, sebelum nampak sang istri mengendong putrinya. "Gue kesana dulu ya, Ndre. Sepertinya si kembar mau tidur." pamit Rian melihat kedua anaknya sudah di kembalikan pada mamanya.


"Sayang!" ucap Rian mengambil alih mengendong Arsya dari Bunda Mirna.


"Sepertinya mereka sudah mau tidur. Kembalilah ke kamar, bawa mereka istrirahat di kamar kalian." kata Mama Sonya mengelus sayang punggung Arsya.


"Iya Ma, tolong Mama yang bilang sama Nando dan Sari kalau kami akan kembali lagi nanti malam." ujar Rian siap membawa istri dan anaknya untuk istirahat.


Lalu setelah itu Rian dan Ayla pun kembali kemar hotel untuk istirahat dan menidurkan si kembar. Tiba di depan pintu kamar pria itu membukanya dengan satu tangan karena tangan satunya lagi mengendong Arsya.


"Tidur!" Rian melihat Ayla menidurkan Salsa dengan pelan dalam box bayi yang sudah di siapkan oleh orang tuanya.


"Hm sudah mungkin kelelahan di bawa keliling oleh nenek dan omanya." Ayla mendekati Rian untuk menidurkan Arsy lagi.


"Pastilah mereka mana pernah dibawa kelilingi sampai dua jam." sambil melihat Ayla memberi ASI pada putranya. Rian pun melepaskan sepatu yang masih melekat pada kaki Arsya.


Hanya beberapa menit Baby Arsy dan Salsa sudah tidur dengan nyenyak. Di ikuti oleh kedua orang tuanya juga. Meskipun di bawah sedang ada pesta besar tapi Rian memutuskan akan menemani istrinya saja.