
🍁🍁🍁🍁🍁
.
.
Rian tidak melepaskan tangan Ayla sama sekali. Selama dia belum mendapatkan jawaban dari wanita yang sebentar lagi akan menjadi ibu untuk kedua calon anak-anaknya.
"Ri, lepasin dulu tangan aku. Jangan seperti ini, nanti Ayah dan Papa masuk. Terus melihat kamu memengang tangan ku seperti ini." Ayla ingin menarik tangannya, namun bukannya terlepas. Tapi tangan Ayla yang satunya lagi, malah kembali di cekal oleh Rian.
"Apa salahnya mereka melihat aku memegang tangan mu. Lagian tidak akan ada yang masuk, sebelum masalah kita selesai." ujar Rian yang semakin merengkuh tubuh Ayla.
"Rian, kamu belum sembuh, jangan seperti ini, bagaimana jika luka mu kembali mengeluarkan darah." Ayla sedikit menjaga agar tubuhnya tidak terlalu menempel pada dada Rian.
Karna setelah mendengar ucapan Ayla, jika pernikahan Nando tidak bisa di batalkan lagi. Rian langsung duduk dari posisi baring nya.
"Ay, aku lebih baik sakit dari pada harus kehilangan mu. Jika perlu aku ingin memilih mati saja. Ketimbang aku harus menyaksikan pernikahan kalian." ucap Rian lirih, menahan gejolak yang ada didalam hatinya.
"Kamu bica apa sih,! siapa yang akan membantuku menjaga si kembar. Jika kamu mati." Ayla langsung mencubit lengan Rian.
"Auuuukh...! kenapa kamu malah mencubit tangan ku. Aku ini benar-benar sedang serius Ay."
"Kamu itu harusnya aku pukul, bukan hanya di cubit. Ngakunya CEO, tapi bodohnya nggak hilang-hilang." kata Ayla yang sudah berhasil menjauhkan tubuh mereka.
Karna takut bila terkena gerakan tubuhnya. Dada Rian yang luka akan mengeluarkan darah lagi.
"Maksudmu?" Rian mendadak menjadi Lola, seperti para author yang suka ngebleng.
"Maksud ku, Kamu itu CEO yang otaknya nggak di pake. Sekarang aku tanya padamu. Apakah kita ini sudah bercerai?" Ayla bertanya dengan sedikit geram.
"Tentu saja belum,karna sampai kapanpun, aku tidak akan melepaskan mu. Aku sangat mencintaimu sayang, aku mohon, beri aku kesempatan kedua!" ujar Rian lagi.
Yang mengira jika Ayla malah membahas perceraian mereka berdua.
"Jika belum mendapatkan surat cerai darimu. Lalu bagaimana aku bisa menikah bersama kak Nando. Kecuali jika kamu sudah melepas ku."
"Aa...Aapa, apakah kamu serius? Oh, astaga,! kenapa aku bodoh sekali tidak memikirkan itu. Tapi, tunggu dulu, cincin yang ada di jari manis mu, punya siapa? bukanya waktu itu kamu sendiri yang bilang, jika itu cincin tunangan kamu dan Nando?" Rian langsung melihat kearah jari manis Ayla, yang masih memakai cincin itu.
"Ini maksud mu? ini memang di berikan oleh kak Nando, tapi yang memesan khusus cincin ini adalah suamiku sendiri. Hanya saja, dia terlalu sibuk dengan kekasihnya. Sehingga dia lupa untuk mengambil kembali cincin ini, dan memberikan kepadaku." begitu mendengar ucapan Ayla.
Rian langsung menarik Ayla, lalu memeluknya dengan erat. Karna dia memang baru igat, jika dia sendiri lah yang memesan cincin itu untuk ulang tahun Ayla.
Sebelum terjadi pertengkaran diantara mereka. Yang akhirnya membawa Rian memilih untuk tinggal di apartemennya.
Flashback...
"Selamat siang Tuan Rian,! ini adalah barang yang paling bagus di toko ini. Tuan tinggal pilih, model cincinnya yang seperti apa." sambut menejer toko perhiasan dengan sangat sopan. Toko ini pun sangat terkenal di kota A.
"Iya siang juga, saya ingin cincin yang model seperti ini. Tapi cincinnya harus jadi selum tanggal 19 bulan ini. Karna ini untuk kado ulang tahun istri saya." ujar Rian yang memang ingin memberikan Ayla sebuah cincin berlian yang harganya milyaran rupiah.
"Baiklah, Tuan tinggal tanda tangan disini. Dan setelah cincinnya jadi, kami akan langsung menghubungi Anda." terang menejer itu lagi.
"Ini, saya bayar lunas sekarang. Dan saya harap, bila tiba waktunya nanti, cincinnya sudah siap." Rian langsung saja membayar lunas cincin pesanannya hari itu juga. Karna tidak ingin menunda niat nya yang ingin memberikan istrinya hadiah.
Namun siapa sangka, ketika waktunya sudah tiba. Pertengkaran besar terjadi di antara mereka. Yaitu disaat Rian menampar Ayla, lalu tidak hanya sampai disitu.
Pada hari itu, Rian pun meninggalkan Ayla di rumah mereka sendirian sampai kurang lebih Dua bulan lamanya.
Setelah Rian menyadari jika dia mencintai Ayla, Rian ingin kembali kerumah untuk memulai hubungan yang baru, bersama Ayla.
Namun sebelum itu, Rian ingin mengakhiri hubungannya dengan Bela terlebih dahulu. Dan tanpa sengaja, Rian malah mendengar percakapan antara Bela dan Sanjaya yang akan menghabisi nyawa Ayla. Bila kehadiran Ayla mengancam posisi Bela.
Sebab itulah Rian masih terus bersandiwara kala itu, jika dia masih tetap mencintai Bela bukan Ayla. Meskipun dia sendiri begitu tersiksa melihat kedekatan antara Ayla dan Nando.
"Aku ingat, ini aku yang memesan sendiri untuk ulang tahun mu. Tapi bagaimana cincin ini ada padamu? Karna seingat ku, Aku tidak mengambil cincin ini." Rian mengelus tangan Ayla yang tersemat cincin berlian yang pernah Rian beli, tapi tidak dia ambil.
Ini cincinnya ya.😂
"Waktu itu kak Nando ingin memesan cincin untuk pertunangan dia dan calonya. Lalu kak Nando ingin membeli cincin ini. Tapi pegawai toko itu bilang, jika cincin ini adalah pesanan putra Erlangga untuk istrinya. Dan berkat bantuan Papa, cincin ini sampai padaku." ucap Ayla setelah selesai bercerita.
"Kalian benar-benar keterlaluan, Apa kamu tau. Aku hampir gila memikirkan pernikahan kamu dan Nando. Pantas saja ketika pertama kali melihat cincin ini, aku seperti pernah melihat sebelumnya." Rian berhenti sesaat, sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
"Tapi sayang, aku sangat bersyukur. Akhirnya cincin ini berada pada pemiliknya. Walaupun bukan aku sendiri yang memberikan nya padamu." seru Rian kembali lagi memeluk Ayla yang ikut duduk di ranjang bersama nya.
"Terimakasih kamu masih mau memberikan aku kesempatan kedua. Meskipun begitu banyak Mak raeder yang ingin kamu bersama Nando, bukan bersama ku. Tapi percayalah, aku akan membuktikan pada mereka. Jika aku benar-benar mencintaimu dan akan membahagiakan kamu dan kedua calon anak kita." Rian sengaja menyinggung para raeder.
Sebab sedikit banyaknya kebahagiaan yang dia rasakan sekarang, berkat para Mak raeder juga.
"Tapi kenapa kamu tiba-tiba mencintai ku. Bukankah waktu itu kamu bilang hanya mengangap aku sebagai sahabat mu?" tanya Ayla sengaja menggigat kan Rian pada ucapannya waktu itu.
"Aku yang terlalu bodoh tidak menyadari jika aku sudah mencintai istriku sendiri sejak lama. Mungkin dari awal kita menikah, aku sudah mencintaimu. Maafkan aku telah membuat mu meneteskan air mata." Rian mengecup dahi Ayla begitu lama, untuk menyalurkan semua rasa cintanya.
BERSAMBUNG .....😪
.
.
.
.
.
Jangan lupa untuk mamfir ke novel bbg Devan ya🤗 Hari ini sudah mulai uup lagi.
Terimakasih 😘😘😘😘