Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Ketakutan Rian.


🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


Pusing tidak bisa menghilangkan rasa jengkelnya Rian langsung memilih pulang agar pikirannya bisa kembali tenang. Untungnya tadi Andre memiliki usul menyuruh Rian pulang bertemu pawangnya agar tidak marah-marah tak karuan.


Walaupun niat awalnya hanya bercanda tapi disambut baik oleh sekertaris Aldi. Dia tidak bisa bekerja dengan tenang bila sang bos selalu mengumpat dibelakangnya.


Tidak sampai dua puluh menit mobil mewah Rian sudah memasuki pekarangan rumah mewahnya. Seharusnya dia pulang dua jam lagi tapi karena mood nya sedang buruk jadinya sudah pulang sekarang. Entah karena dia baru mulai kerja hari ini jadinya merasa tidak betah berada di perusahaannya sendiri. Begitu melihat mobil Rian sudah datang Pak Muklis dengan sigap menghampiri mobil itu lalu membukakan pintu mobilnya untuk sang majikan.


"Selamat siang Tuan muda!" sapa Pak Muklis setelah membuka pintu mobil dan melihat Rian sudah turun.


"Iya siang juga, Pak." jawab Rian singkat sambil memberikan satu buah kresek makanan yang tadi dibelinya di jalan. "Ini pak tadi Saya membelinya sebelum pulang." kata Rian begitu sudah tiba di luar.


Setelah itu Rian pun langsung berjalan masuk untuk menemui istri dan kedua anaknya. Saat melewati ruang tamu dia tidak menemukan siapa-siapa lalu di sana.


Lalu Rian terus berjalan masuk tiba di ruang keluarga barulah terlihat Ayla sedang menemani Baby Arsya dan Salsa yang sedang bangun. Dengan langkah pelan Rian berjalan dan memeluk sang istri dari belakang karena posisi Ayla memang membelakanginya.


Rian langsung memberikan ciuman di pipi kiri Ayla untuk mencurahkan rasa rindu setelah berpisah enam jam. "Muuuaaah! Aku sangat merindukanmu!" ucapannya setelah melepas pelukannya.


"Sayang kamu sudah pulang?" Ayla kaget pasalnya Rian tidak bilang akan pulang jam satu tapi pulang Jam tiga sore.


"Sudah aku tidak betah berada jauh dari kalian bertiga. Apa setelah bangun tadi mereka berdua tidak ada yang tidur lagi?" Rian sudah siap ingin mengendong baby Arsya tapi Ayla sudah mencegahnya lebih dulu.


"Mandi dulu sana jangan langsung mengendong anak-anak kan Papa habis bertemu orang banyak." kata Ayla tidak ingin kedua anaknya menjadi sakit karena tidak menjaga kebersihan.


"Up papa lupa sayang! Tunggu papa mandi dulu ya nanti kita main bersama." Rian yang baru ingat pun tidak jadi mengendong Arsya dan malah beralih mencium sang istri sebelum dia berpamitan ke kamar mereka untuk membersihkan dirinya.


Cup...


"Terimakasih sudah di ingatkan, sekarang pindah ke kamar saja ya biar anak-anak bisa tidur siang. Ini sudah lewat jam tidur mereka." ucap Rian sembari melirik jam di pergelangan tangannya.


"Iya aku hampir lupa. Kalau begitu duluan nanti aku akan menyusul. Biar Mbak Susi yang membantu ku." titah ibu muda itu yang mengerti kalau sang suami ingin membantu nya.


"Hm baiklah, aku duluan ya. Nanti setelah anak-anak tidur aku ingin mengatakan sesuatu." Rian sedikit tersenyum karena takut membuat istrinya terluka mendengar penjelasannya.


"Mau mengatakan apa? Kenapa aku jadi takut sendiri," Ayla ingin bertanya tapi Rian sudah pergi lebih dulu. "Papa kalian ingin mengatakan apa, Nak? Membuat mama penasaran saja." Gumam wanita itu sambil mengemasi barang-barang anaknya yang akan dibawa masuk kedalam kamar.


Kurang lebih lima belas menit Rian sudah keluar dari kamar mandi dengan tampilan sudah segar kembali. Dia lalu berjalan mendekati sang istri yang sekarang sudah pindah lagi kedalam kamar setelah di bantu oleh Mbak Susi pelayan dirumah mereka.


"Ini pakainya," ucap Ayla sembari memberikan pakaian yang sudah dia siapkan seperti biasanya. Dari awal menikah Ayla memang selalu menyiapkan pakaian untuk Rian meskipun saat itu mereka memiliki perjanjian kontrak pernikahan selama satu tahun. Namun, tetap saja Ayla menjalankan perannya sebagai seorang istri sungguhan yang akhirnya menjadi kenyataan.


"Muuuaaah! Terimakasih Istriku," seru Rian kembali mencium istrinya. Walaupun bagi sebagian orang apa yang dilakukan Ayla hal biasa saja. Tapi tidak bagi Rian karena baginya dari sanalah awal mula cintanya tumbuh pada sang istri walaupun dia sendiri telat menyadarinya.


"Hm sama-sama pakailah pakaiannya dulu. Apa papa sudah makan siang? Kalau belum aku akan menyiapkannya sebentar dan bawa kesini." kata Ayla menyebut Rian dengan pangilan papa bukan sayang lagi.


"Aku senang kamu selalu menyebut ku papa." Rian hanya pokus pada kata papa saja. Sesungguhnya terkadang Rian memang masih merasa seperti mimpi bisa bersama Ayla dan kedua anaknya. Dia masih ingat seperti apa Ayla menyanyikan sebuah lagu hari dimana istrinya itu pergi meninggalkan dirinya karena tidak bisa memilih Bela atau Ayla.


Padahal saat itu Rian melakukan sandiwara masih mencintai Bela untuk melindungi keselamatan sang istri. Namun, tetap saja menjadi trauma besar bagi Rian. Yang mengetahui hanyalah sekertaris Aldi betapa Rian hancur setelah tau bahwa Ayla sudah pergi entah kemana.


"Aku memang harus memanggil papa agar Arsya dan Salsa tau bahwa kamu adalah papanya. Ini mau makan siang atau tidak? Kalau iya aku akan menyiapkan dan bawa kemari." wanita itu kembali bertanya karena Rian belum menjawabnya.


"Iya aku belum makan siang. Tidak perlu disiapkan nanti kalau sudah lapar aku akan mengambilnya sendiri. Lalu apa kamu sendiri sudah makan siang?" Rian ikut duduk di sisi Ayla setelah selesai memakai pakaiannya.


"Aku sudah makan dari tadi, kamu tau sendiri kan kalau sekarang aku tukang makan." Ayla tertawa saat mengatakan Tukang makan karena memang semenjak melahirkan tidak tau jam berapa, bila sudah lapar maka Ayla akan langsung makan.


"Tukang makan juga suamimu tidak akan bangkrut. Eh tadi aku bawa makanan tapi aku lupa masih diruangan keluarga." seru Rian baru ingat kalau tadi dia membawakan makanan untuk istrinya dan para pekerja di rumah mereka juga.


"Nanti ya setelah anak-anak tidur, sekarang kamu istirahatlah biar aku yang menjaga si kembar." ucap Rian mengelus pipi Ayla yang semakin hari malah terlihat semakin cubi.


"Tapi.. aku sudah--"


Cup...


Rian langsung mengecup bibir istrinya agar tidak membantah perintahnya untuk istirahat.


"Sabar tunggu Arsya dan Salsa tidur. Ayo baring disini aku sangat merindukanmu selama berada di kantor." dengan pelan pria itu merebahkan kepala sang istri agar berbaring di atas pahanya. Tentu saja Ayla langsung baring dengan nyaman beralaskan paha suaminya.


Sedangkan kedua anak mereka hanya bergerak disertai tangan dan kaki yang tidak pernah diam. Baby Arsya tidak pernah rewel apabila sang adik tidak memulainya lebih dulu.


Sampai tiga puluh menit kemudian barulah kedua anak itu tidur Setelah diberikan ASI oleh mamanya, yang paling dulu ditidurkan tentunya adalah Baby Salsa karena apabila dia sudah tidur maka Arsya kakaknya akan ikut tidur.


"Sekarang anak-anak sudah tidur ayo cepat katakan ada apa? Jangan membuatku jadi penasaran jika tidak mau memberitahuku." rutuk Ayla yang sudah jengkel.


"Sabar tidak boleh marah nanti kamu akan bertambah cantik." goda Rian menarik sang istri ke pinggir ranjang tidur mereka dan mengajaknya duduk di sana.


"Baiklah aku akan mengatakan nya sekarang. tapi berjanjilah dulu bahwa kamu tidak akan marah karena aku sungguh tidak tahu apa-apa." kata Rian sembari menggenggam kedua tangan ibu dari kedua anaknya tersebut.


Untuk menyakinkan Rian, akhirnya Ayla pun berjanji. "Hm aku berjanji tidak akan marah!"


"Sayang apa kamu tahu Elin anak jurusan manajemen yang satu kelas dengan ku?" tanya Rian sebelum bercerita.


Ayla yang waktu jam istrirahat nya hampir sama pun menjawab sekenanya. "Kalau tidak salah gadis cantik yang berambut pendek kan?"


"Iya betul, tapi sekarang rambutnya sudah panjang. Nah wanita itu yang mengantikan sekertaris Emi. Aku sudah menyuruh Aldi mencari penggantinya tapi belum dapat." keluh Rian merasa bingung.


"Lalu salahnya dimana?" Ayla menyergit satu alisnya keatas. Merasa bingung juga kenapa suaminya harus minta maaf.


"Salahnya karena wanita itu menyukaiku. Aku tidak ingin menyakitimu, aku takut kamu salah paham padaku. Aku hanya mencintaimu percayalah!" ungkap Rian seperti mempunyai beban berat walaupun bagi sang istri masalah sepele.


Mendengar hal itu membuat Ayla tersenyum lebar dan langsung memeluk tubuh Rian yang ada di hadapannya. Betapa Ayla bahagia karena hal seperti itu Rian ceritakan kepada nya juga.


"Sayang kamu tidak marah padaku kan? Sungguh aku tidak tahu menahu soal ini. Aldi tidak mengonpirmasi padaku saat menerimanya." pria itu merasa khawatir mendapat respon sang istri memeluk tubuhnya yang langsung Rian balas sambil mengelus dan mencium pucuk kepala istrinya berulang kali.


Merasa sudah lebih baik Ayla melepaskan pelukan tangannya dan menatap mata Rian sambil tersenyum lalu berkata. "Aku percaya kamu sudah berubah, aku percaya kamu tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Tau kenapa? Karena aku tau kamu mencintaiku dan anak kita."


"Apa! Kamu tidak marah kan karena Elin bekerja di perusahaan kita walaupun hanya untuk sementara?" ulang Rian yang dia kira Ayla akan marah besar padanya. Gara-gara dia menanyakan keadaan Bela saja waktu di rumah sakit, istrinya itu harus menahan sakit hati sampai beberapa hari.


"Tidak karena kamu sudah jujur padaku. Tapi kamu harus bisa menjaga kepercayaan ku ini, jangan buat aku meragukan cintamu," jelas wanita itu tidak mau kembali mempermasalahkan yang tidak di perbuat oleh Rian.


"Sayang terimakasih kamu sudah percaya padaku. Aku berjanji tidak akan mengecewakan kamu lagi." Rian sampai meneteskan air mata bahagia karena ketakutannya dari perusahaan tidak terjadi karena Ayla percaya akan cintanya.


BERSAMBUNG....


.


.


.


.


...Assalamualaikum kakak raeder semuanya 🤗 Untuk bab selanjutnya adalah kisah bbg Nando dan Sari ya... Mereka akan Mak nikahin kasihan kalo digantung lama-lama! Bagi yang mau nonton live streaming malam pertama mereka jangan lupa beli kuaci sama teh pucuknya.🤣 Jangan lupa buat Mak author kasih kopi sama bunganya aja.😂😂...