Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Penembakan.


🌷🌷🌷🌷🌷


.


.


"Apakah mobilnya tidak bisa lebih cepat lagi." Rian membentak pengawal yang membawa mobil. Karna sang sopir itu, bukanya semakin cepat, tapi malah memberhentikan mobilnya.


Sekarang, mobil mereka memang baru saja meningalkan bandara kota B. Sedangkan jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.


"Maaf Tuan muda, kita tidak bisa memilih jalan lain. Karna di depan terjadi kecelakaan." jawab pengawal itu, tak kalah gusarnya.


"Sial.., kenapa saat kita mau buru-buru, malah terjadi kemacetan." umpat Rian kasar.


"Tuan besar dan tuan Aldi sudah berada di lokasi. Dan mereka bersama tuan Nando juga. Tapi penjagaan di sekitar rumah itu sangat banyak ketat katanya." pengawal itu memberi impormasi, agar tuan mudanya bisa tenang.


"Apa,? Ya Tuhan, Aku tidak bisa membiarkan sesuatu terjadi pada anak dan istri ku." Rian langsung keluar dari mobil dan memangil salah satu tukang ojek yang kebetulan lewat di samping mobil mereka.


"Tuan muda mau kemana?" tanya pengawal itu panik, melihat Rian keluar dari mobil.


"Aku akan duluan mengunakan motor ini. Kalian urus sisanya." tidak menunggu jawaban mereka, Rian sudah pergi membawa motor si tukang ojek.


Karna yang bisa lewat, hanya pengendara motor. Sedangkan kendaraan roda empat, mereka harus sabar menunggu mobil lainnya bergerak maju.


Dalam perjalanan menuju ke lokasi tempat istrinya di sandra. Rian tidak henti-hentinya berdo'a. Agar si author melindungi anak dan istrinya.


"Ayla,! aku mohon, bertahan lah. Aku akan segera datang. Tidak akan aku biarkan terjadi sesuatu pada kalian."


Ucap nya di dalam hati.


Sedangkan para pengawal yang bersama nya tadi. Membagi tugas masing-masing. Ada yang tetap di mobil, karna akan menyusul tuan mudanya.


Dan ada juga yang mengurus tukang ojek tadi. Karna tanpa di perjelas pun, mereka tau apa yang harus dilakukan. Mereka akan mengantikan motor tukang ojek itu, dengan yang jauh lebih mahal lagi.


Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam. Motor yang dikendarai oleh Rian, tiba di lokasi penyekapan.


Karna dia membawa motornya dengan sangat kencang. Rian tidak peduli dengan nyawanya. Yang dia pikirkan adalah, nyawa istri dan kedua anaknya.


Setelah memberhentikan motor itu dengan asal. Rian langsung saja berlari masuk. Setiap jalan yang dia lewati, begitu banyak orang-orang yang bergelimpangan dan dalam terluka parah.


Namun tujuannya bukan menolong mereka, melainkan menyelamatkan istrinya.


Begitu dia masuk, Rian melihat di dalam ruangan yang luas itu, anak buah papa Heri dan Sanjaya sedang saling serang.


Tapi Rian semakin tidak peduli akan hal lainnya, namun begitu dia melihat Nando sedang bersama Ayla. Barulah Rian sedikit lega. Ternyata istrinya masih baik-baik saja.


Lalu ketika Rian ingin mendekat kearah Ayla. Dia melihat Bela mengarahkan senjata api kearah istrinya itu.


Dan tanpa berpikir lagi, Rian langsung saja berlari, lalu mendorong Nando cukup keras, sampai Nando terjatuh kelantai. Karna Rian ingin melindungi nyawa mantan sahabat dan juga istrinya.


Dan dia sendiri langsung memeluk tubuh Ayla dari depan.


Dooooor...


Dooooor...


Dooooor....


"Sayang.., meskipun aku mati. Aku percayakan kalian, ke pada Nando. Dia pasti bisa menjagamu dan anak kita."


Sambil menahan sakit pada dadanya, Rian masih sempat berucap di dalam hatinya. Sebelum dia luruh kelantai meskipun tubuhnya ditahan oleh Ayla.


Dua tembakan langsung menembus tubuh Rian di bagian dadanya. Sedangkan yang satunya lagi, mengenai tangan Bela.


"Aakkh..! Kak Nando..!" lirih Ayla dengan air mata yang mengalir dari pipinya, yang terlihat memerah bekas tamparan dari Bela tadi.


Sedangkan Nando sendiri, juga menyebutkan nama Ayla.


"Ayla...!" Nando bangkit dari tempat dia terjatuh.


"Rian.., Kenapa kamu melakukan nya. Kenapa kamu menghadang peluru itu." ucap Ayla yang sekarang sudah dengan posisi duduk dilantai. Karna Rian sudah tidak mampu lagi untuk berdiri.


Tubuhnya yang sudah bersimbah darah, merosot dengan sendirinya. Karna tidak mampu menahan sakit bekas timah panas yang Bela tembakan tadi.


"Jangan menangis, Aku baik-baik saja." Rian tersenyum sambil tangannya berusaha untuk menghapus air mata Ayla.


"Tidak, kamu tidak baik-baik saja Ri..! Aku mohon, bertahan lah demi kami. Demi anak kita, aku mohon." Ayla yang semakin menangis, melihat keadaan Rian semakin lemah, dengan wajah pucatnya.


"Ay, kita harus cepat membawa Rian kerumah sakit." Nando ikut duduk dan memangku tubuh Rian.


"Rian, Lo denger gue kan. Bertahanlah, kita akan segera bawa Lo kerumah sakit." Nando ikut mengajak Rian berbicara. Agar Rian tidak kehilangan kesadarannya.


"Suruh mereka cepat masuk." perintah Aldi, pada pengawal yang masih bisa bertahan.


Tiga menit setelah itu, para tiem medis, yang sudah di telpon oleh Aldi sebelum mereka menyerang tadi sudah datang.


Karna Aldi memang sudah Antisipasi kejadian yang tidak mereka inginkan. Dan ternyata itu benar terjadi.


"Ayo tuan, kita harus cepat membawanya." ucap tiem medis itu membantu Nando mengangkat Rian keatas tandu yang mereka bawa.


"Nando tolong antar anak, Om kerumah sakit. Om masih membereskan mereka dulu." ucap Tuan Heri, menunjuk kearah Sanjaya, Anton dan Bela.


Karna mereka bertiga memang sudah berhasil di lumpuhkan.


"Iya Om, tanpa Om minta, tentu Nando akan mengantar mereka."


Lalu, tuan Heri berjalan mendekati Rian. Yang sudah diangkat mengunakan tandu.


"Nak bertahan lah,! Papa percaya, kamu kuat. Ingat, kamu harus bertahan demi keluarga kecil kalian." Tuan Heri memberikan ciuman di kening putranya, sebelum memerintahkan para tiem medis untuk segera membawa Rian kerumah sakit.


Meskipun dia sangat mengkhawatirkan keadaan putranya. Tapi dia harus membalas musuhnya lebih dulu.


Di dalam mobil Ambulance.


Ayla terus mengajak Rian berbicara. Meskipun Rian sudah setengah sadar. Karna Ayla tadi, memang memaksa ingin ikut bersama Nando mendampingi Rian.


Sebab dia tidak mau meninggalkan Rian dalam keadaan seperti sekarang.


"Ri...! kamu bisa mendengar, Aku kan? Rian, aku mohon, bukalah matamu. Jangan membuatku takut. Aku mohon, buka matamu." Ayla menangis sambil menggoyang- goyang tubuh Rian.


"Ayla, jangan seperti ini, pikirkan si kembar. Jika kamu terus seperti ini, tidak baik untuk mereka. Rian pasti bisa bertahan. lebih baik kita berdo'a, agar dia baik-baik saja." Nando merangkul Ayla, untuk memberikan ketenangan padanya.


"Tuan Rian.., Tuan, tolong bertahan lah. Tuan harus bertahan, apa Anda tidak kasihan melihat istri dan anak Anda. Jika bukan Tuan, siapa yang akan menjaga mereka nanti." Dokter yang ada disana berusaha terus memanggil Rian. Sambil memberikan pertolongan darurat.


Menyaksikan jika suaminya sudah tidak sadarkan diri. Ayla pun pingsan dalam rangkulan Nando.


Untung nya, Ambulance pun sudah tiba di rumah sakit Central Medika milik keluarga Anita.


Lalu mereka langsung membawa Rian lebih dulu. Dan meletakan di atas brankar. Karna keadaan Rian benar-benar sudah parah.


Sedangkan Nando, mengendong Ayla keluar dari mobil itu, dibantu oleh beberapa orang perawat yang sudah menunggu mereka dari tadi.


Lalu Ayla pun langsung di bawa keruangan UGD.


Berbeda dengan istrinya, Rian malah langsung masuk keruangan operasi. Untuk mengeluarkan peluru yang tepat mengenai dadanya.


Dalam ruangan Operasi, Rian bermimpi, melihat Ayla bersama dua orang anak kecil, dan keluarganya. Mereka sedang berkumpul bersama.


Lalu Rian berjalan ingin mendekat, Namun dia dihalangi oleh orang yang tidak dikenalnya.


"Aku ingin melihat istri dan keluarga ku. Siapa kalian? tolong lepaskan aku." pintanya memohon.


Namun kedua orang itu, bukannya menjawab. Tapi malah menyeretnya menjauh dari sana.


BERSAMBUNG......