Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Cara berpikir Nando.


🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


Tidak lama setelah mereka berbincang, pintu ruangan bersalin sudah terbuka di sertai ranjang tempat Sari berbaring yang di dorong oleh perawat dan juga dokter. Dia akan di pindahkan keruang rawat VIP seperti mana Ayla ketika melahirkan si kembar.


"Sayang!" Nando mendekati istrinya dan membantu mendorong ranjang tersebut. Sedangkan bayi nya masih di bawa oleh perawat dan belum diserahkan pada keluarga pasien.


"Tiba di dalam ruangan rawat. Barulah bayi itu diserahkan pada mamanya Nando, karena beliau sudah tidak sabar ingin mengendong cucu pertamanya itu.


Sedangkan para dokter dan perawat langsung berpamitan. Setelah menyelesaikan tugas mereka.


"Wah cucu Oma ternyata ganteng seperti ayahnya." ucap wanita baya itu seraya mencium sang cucu yang kulitnya masih terlihat merah khas bayi baru lahir.


"Iya benar sekali Tante, dia sangat mirip dengan Kak Nando." Ayla dan Pika ikut menimpali. Bayi laki-laki tersebut meskipun masih bayi tapi sangat mirip dengan sang ayah.


"Mana, coba aku juga ingin melihat keponakan baru kita." Rian datang bersama Andre, tadi mereka berdua sempat keluar lebih dulu untuk mengambil barang-barang yang sudah mereka beli sebelum datang ke rumah sakit.


"Apa sudah di bawa masuk semuanya?" tanya Ayla melihat suaminya yang sudah kembali.


"Hem, sudah! Biar nanti kita tidak binggung saat lapar." kata Rian sambil mencium keponakan baru mereka.


"Barang apa, Nak?" mama Nando yang bernama Suci menanyakan karena beliau belum tahu apa yang sedang di bicarakan oleh para anak muda tersebut.


"Barang untuk keperluan kita nanti malam, Tante. Malam ini kami berdua yang ikut menginap. Andre biar pulang saja, anaknya masih kecil kasihan Tante Mala bila harus menunggu sampai pagi." jelas Rian sudah beralih menggendong bayi yang belum di ketahui namanya itu.


Dalam mengurus bayi Rian memang ahlinya. Papanya Nando saja, tidak berani mengendong sang cucu, meskipun beliau sangat ingin mengendong nya.


Memiliki anak kembar, tinggal terpisah dari kedua orang tuanya masing-masing. Membuat Rian dan Ayla menjadi orang tua yang mandiri. Sedangkan Andre semenjak istrinya melahirkan malah pindah ke rumah orang tuanya. Jadi anak mereka banyak yang menjaganya.


"Tapi jika kalian tidak bisa menemani malam ini juga tidak apa-apa, Ri. Hanya malam ini saja, besok mama sama papa mertuaku juga akan menemani selama kami di sini." setelah menemani istrinya tidur, Nando ikut berkumpul di sofa yang ada bayinya juga.


"Kami bisa menemani malam ini, kasihan tante sama om bila harus ikut begadang. Kan kita belum tahu boy rewal apa tidak nya." Rian tersenyum seraya mencolek pipi dan hidung bayi tersebut, karena dia masih memangku nya.


"Baiklah terimakasih! Tapi apa si kembar tidak akan menangis tengah malam kan? Bila tahu kalian berdua tidak ada?" ucap Nando yang juga mengkhawatirkan keadaan si kembar. Memiliki anak sendiri, bukan berarti dia tidak menyanyagi para anak angkatnya lagi.


"Lo gimana sih, Nan! Apa tidak ingat malam pengantin kalian, mereka menitipkan si kembar pada Tante Sonya dan Bunda Mirna. Lo yang seharusnya malam pertama, eh tau-taunya malah mereka berdua yang duluan malam pertama." Andre tergelak karena malam itu dia yang mengetahui kalau Rian menghabiskan malam pertama setelah Ayla melahirkan.


"Andre...iiih, Lo asal ngomong aja. Nggak lihat apa ada tante sama om disini." tegur Rian tidak enak pada kedua baya tersebut.


"Sudahlah tidak apa-apa! Kami dulu juga pernah muda." Tuan Hermawan papanya Nando pun ikut membela Andre di iringi tawa yang lainnya.


"Mau kamu kasih nama siapa, Nak?" tanya Pria baya itu pada Nando. Setelah melihat mereka berebut ingin mengendong cucunya.


"Iya, ya kita sampai lupa." Rian yang masih mengendong bayi tersebut ikut tertawa karena mereka sampai lupa menanyakan nama si kecil.


"Namanya Aditiya Paresta Hermawan, Pa. Artinya penantian panjang yang kelak akan menjadi pelindung untuk keluarga nya. Dan memiliki kesabaran tiada batas" tersenyum haru saat menyematkan nama untuk si buah hati.


"Nama yang bagus!Nanti meskipun Aditya menjadi paling kecil diantara ketiga Kakak nya. Dia tetap bisa menjadi pelindung, karena arti dari namanya adalah sebuah harapan yang telah lama di tunggu-tunggu." imbuh Rian ikut merasa haru.


"Benar, Papa suka dengan namanya. Semoga dia di anugrahi kesabar seperti kedua orang tuanya yang menanti sampai bertahun-tahun." Tuan Hermawan memang sangat bangga dengan kesabaran putranya.


Meskipun berbagai omongan orang-orang, agar Nando menceraikan Sari dan menikah lagi dengan gadis lain, biar bisa memiliki keturunan. Tidak membuat putranya goyah sedikit pun, yang ada Nando semakin menunjukkan cintanya pada Sari.


"Pasti Om! Aditya pasti akan memiliki sipat sabar seperti kedua orang tuanya." Andre pun tak tinggal diam untuk memuji calon pewaris Hermawan.


Tentunya Andre juga mengetahui seperti apa sahabatnya tersebut, mempertahankan pernikahan mereka. Bahkan kerap sekali Andre dan Rian menuduh nya berselingkuh, karena melihat Nando tidak pernah ambil pusing tentang masalah anak.


"Sini.. gue belum puas gendongin si kecil." kata Nando kembali lagi mengendong putranya untuk kedua kali. Walaupun dia tidak sehebat Rian saat mengendong, tapi Nando lebih pintar dari pada Andre.


"Jangan kamu ganggu tidurnya, Nak. Gendong sebentar saja, habis itu tidur kan lagi di box bayi nya." kata Susi mamanya Nando.


"Sepertinya Rian benar-benar papa siaga nih, baru sebentar mengendong si kecil sudah tidur." Andre kembali memuji sahabatnya itu karena anaknya sendiri bila di gendong oleh Rian, sebentar saja pasti akan tidur.


"Lah memangnya Lo baru tahu, kalau gue papa yang siaga." membusungkan dada karena bukan Andre saja yang memuji Rian sebagai predikat papa siaga.


Kedua anaknya saja, bila sedang sakit lebih suka di gendong oleh Rian, dari pada Ayla. Entah mereka sedang menghukum sang papa yang saat mamanya sedang hamil, Rian malah tidak bersama istrinya.


Tapi apapun alasannya, Rian malah merasa bersyukur bisa mengantikan waktu yang sudah dia lewati bersama kedua buah hatinya.


"Iya, iya semuanya juga tahu meskipun di luar dingin seperti pintu kulkas. Tapi di rumah jadi suami dan papa idaman." ujar Nando ikut membenarkan.


"Sudah larut malam! Kita pulang dulu ya. Besok siang setelah gue pulang dari kantor kami akan kesini lagi." Andre melihat jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua belas lewat. Langsung berpamitan pulang, dan yang tinggal hanya Rian dan Ayla.


Kedua orang tua Nando juga sudah tidur sedari tadi. Dalam kamar tersebut memang ada ranjang berukuran sedang untuk para keluarga yang ikut menjaga pasien nya.


"Ay, kamu tidurlah di atas ranjang yang kosong. Biar Rian saja yang menemani Kakak." ucap Nando yang melihat Ayla terus menguap.


"Benar, lebih baik kamu tidur saja sayang! Ayo aku temani dulu." semenjak beberapa tahun belakangan apa bila Ayla mau tidur selalu di temani oleh nya. Rian pun menawarkan diri agar sang istri bisa tidur lebih cepat.


"Tidak perlu, biar aku tidur sendiri." langsung menolak karena tidak mungkin mereka meninggalkan Nando sendirian.


"Sudah jangan merasa tidak enak, biarkan Rian menemani mu tidur. Asalkan dia jangan ikutan tidur, yang ada suamimu akan Kakak seret ke kamar mandi." Nando yang mengerti tentu saja tidak masalah, karena dia sendiri juga sering melakukan hal yang serupa.


"Benar kata Nando, ayo aku temani tidur. Aku tidak mau kamu sakit karena ikut-ikutan begadang." tidak menunggu jawaban dari sang istri, Rian langsung menggendong tubuh Ayla untuk pindah keatas ranjang yang tidak terlalu jauh dari sofa tempat mereka berkumpul dari tadi.


"Sayang! turunkan aku, malu sama Kak Nando" Ayla hanya bisa bicara dengan suara kecil, karena dia benar-benar malu dengan sikap romantis Rian yang tidak tahu tempat.


"Agh kenapa malu, dia juga memiliki istri, biarkan saja dia melihat kita." larangan dari sang istri tidak membuat Rian menurunkan Ayla.


"Sudah jangan banyak bicara, ayo tidur biar aku temani sampai kamu bisa tidur. Muuuaaah! Ciuman selamat malamnya belum." tersenyum setelah memberikan ciuman di bibir sang istri. Untung saja posisi mereka membelakangi Nando.


"Sayang jaga sikap mu, jangan seperti ini. Kita sedang berada di rumah sakit bukanya di rumah." mendorong pelan dada suaminya.


"Em, baiklah, baiklah! Aku tidak akan macam-macam. Tidur ya, biar aku tamani." Rian ikut duduk di pinggir ranjang, lalu mengelus kepala Ayla agar istrinya bisa tidur dengan nyaman.


Benar saja tidak sampai lima belas menit. Ayla sudah tidur dengan nyenyak. Melihat Ayla sudah tidur, Rian pun langsung menyelimuti tubuh istrinya dengan selimut yang sudah di sediakan oleh rumah sakit.


"Apa sudah tidur?" Nando bertanya karena Rian sudah kembali lagi ke sofa yang tidak terlalu jauh dari ranjang tempat Sari.


"Sudah! Dari tadi kan dia selalu menguap" kata Rian ikut duduk dan membuka minuman kaleng agar bisa menghilangkan rasa kantuknya juga.


"Salah diri Lo sendiri, tahu ini sudah tengah malam, malah dipeluk terus bukannya disuruh tidur." kata Nando yang juga mengikuti Rian membuka minuman di atas meja depan mereka.


"Gue kebiasaan di rumah juga kami selalu begitu. Sekarang semenjak Arsya dan Salsa tidur dikamar mereka sendiri. Kami banyak memiliki waktu berdua, tidak seperti biasanya." kebiasaan bila sudah bertemu mereka akan saling curhat dan menasehati mana bila ada yang salah.


"Itu harus, agar para istri kita tidak merasa di dua dengan pekerjaan." ucap Nando yang paling mengerti dengan perasaan pasangannya.


"Tenang aja, sekarang gue sudah banyak belajar dari masa lalu. Thanks ya? Berkat Lo, gue bisa sebahagia ini bersama keluarga kecil gue." ucap Rian dengan tulus.


Memang semua kebahagiaan yang dia dapatkan sedikit banyaknya adalah berkat Nando. Pria itu juga yang sudah menyelamatkan nyawa istri dan anaknya.


"Nggak perlu berterimakasih terus menerus. Cukup bahagiakan Ayla, karena gue tidak butuh apapun kecuali melihat dia bahagia." entah seperti apa cara Nando berpikir, sehingga bisa mengatasi semua masalah dengan mudahnya.


Padahal dulu dia sangat mencintai wanita tersebut. Tapi dengan mudahnya merelakan untuk sahabatnya.


"Hem! Gue berjanji akan selalu membahagiakan mereka bertiga. Rasanya gue sudah nggak butuh apa-apa lagi, selain kebahagiaan keluarga kami." Rian memang lebih nyaman curhat dengan Nando daripada Andre.


"Baiklah gue pegang janji Lo." kata Nando sebelum berdiri karena melihat anaknya sudah terbangun dari tidurnya. Tapi tidak menangis.


"Kenapa Nak? Apa sudah haus ingin minum susu?" tanya Nando seolah-olah anaknya sudah bicara.


"Bangunkan ibunya dengan pelan, jangan tergesa-gesa. Nanti malah mambuat kepalanya menjadi pusing." kata Rian yang sudah berpengalaman. Saat dulu menjaga istrinya.


"Gue akan baring di dekat istri, gue. Jadi bangunkan saja Sari, sepertinya Aditya haus ingin minum susu." kata Rian menjauh dari sana, karena tidak mungkin dia melihat Sari menyusui anaknya. Jangankan Sari, dia sebagai Pria saja ikut merasakan malu.


"Iya, tapi Lo nggak boleh tidur." memberikan ancaman karena Nando tidak memiliki teman apabila Sari dan anaknya sudah kembali tidur.


"Ck, di bilangan gue cuma mau baring sebentar. Nanti kalau istri Lo sudah menyusui si Nando junior baru kita lanjutin ngobrol nya." Rian tersenyum menggoda sahabatnya.


Untung nya yang di sebut Nando junior tidak menangis, bayi tersebut hanya bangun. Tapi hanya mulutnya seperti orang Kehausan.


"Sayang, sayang bagun. Sepertinya anak kita sudah haus." membangunkan dengan suara pelan. Seperti apa yang sudah di ajarkan oleh Rian.


"Em... maaf, maafkan aku!" Sari langsung bangun dan membuka matanya dengan pelan.


"Tidak perlu minta maaf, kamu memang harus banyak istirahat. Setelah putra kita tidur, maka kamu juga harus tidur. Biar aku dan Rian yang berjaga malam ini." ucap Nando sudah memberikan si kecil Aditya pada bundanya.


Anaknya memang akan memangil mereka dengan sebutan ayah dan bunda. Sama seperti Arsya, Salsa dan Reyhan, anaknya Andre.


"Hem! Terimakasih! Aku hanya tidak sanggup saat menahan kantuk." jawab Sari tersenyum simpul. Lalu sambil menyusui anaknya. mereka selingi dengan bercerita agar tidak merasa kantuk.