Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Dilema Rian.


🍁🍁🍁🍁🍁


.


.


Rian akhirnya juga ikut tertidur sambil memeluk Ayla erat, seakan-akan Rian takut jika sampai Ayla hilang dari sisinya.


Bunyi burung sudah terdengar bercikauan di taman yang berada di belakang rumah minimalis mereka.


Namun kedua insan yang sehabis memadu kasih sampai jam 3 dini hari, belum ada yang bangun dari tidur nyenyak nya.


Sampai jam 10 : 24 siang, Ayla baru mengeliat kecil dalam pelukan Rian setelah tertidur seperti orang pingsan. Akibat kelelahan dan juga akibat usai mendapatkan pelepasan yang entah untuk yang keberapa kalinya.


Karena Rian sudah seperti pemain handal atau kata lainnya seperti seorang Casanova saja. Padahal ini pun sama pengalaman pertama baginya.


Alya mengerjabkan matanya dengan perlahan. Dan setelah terbuka pandangan pertama yang dia lihat adalah wajah tampan Rian yang sedang tertidur pulas.


Dan Ayla baru ingat, jika mereka tadi malam, habis melakukan pergumulan panas yang benar-benar sangat dahsyat rasanya, sehingga mereka sama-sama sampai pada puncak pelepasan.


Setelah itu, Ayla tidak mengigat apapun lagi dan baru bangun sekarang.


Tau jika diluar sudah terlihat mata hari bersinar dengan sempurna. Ayla juga sudah merasakan lapar, pertanda jika ini memang sudah siang.


Dengan perlahan Ayla bangun, agar tidak membangunkan Rian yang sedang tertidur.


Sebelum bangun dan turun dari ranjang, Ayla memberanikan dirinya mengelus wajah tampan Rian.


Lalu Ayla menjangkau handuk yang Rian pakai tadi malam, dan melilitkan pada tubuh polosnya. Dan dengan perlahan Ayla menurunkan kakinya, namun baru juga kaki nya menampaki lantai. Ayla sudah merasakan sakit di **** ********** nya. Sehingga membuat dia tidak sadar menjerit dan membuat Rian kaget lalu terbangun.


"Auuukh.., sakit!" rintih Ayla yang hendak terjatuh kelantai. Jika saja Rian tidak langsung menyambut tubuhnya.


"Ay...! kamu tidak apa-apa?" kuatir Rian yang sudah memeluk Ayla dari belakang.


"Aaa ak aku aku! baik-baik saja." ucap Ayla terbata-bata, karena merasa malu Rian melihat nya yang hanya memakai handuk bekas Rian tadi malam.


"Kamu mau kemana? kenapa tidak membangunkan aku." tanya Rian yang sudah mendudukan Ayla kembali di sisi ranjang. Sambil matanya melihat kearah tubuh Ayla yang seperti macan tutul.


Ulah perbuatan nya tadi malam, yang meninggalkan begitu banyaknya tanda-tanda yang dia ukir indah disetiap lekuk tubuh Ayla.


"Aku mau membersihkan tubuh ku. Ini sudah siang, aku mau memasak untuk kita." seru Ayla yang sudah menutupi tubuhnya dengan selimut.


Karena merasa malu.


"Tidak usah mamasak. kita pesan saja, lagian kamu ini pelit sekali, kita tidak akan bangkrut walaupun kita memiliki 100 pelayan. Aku ini seorang CEO perusahaan, jadi uang ku banyak." ucap Rian sombong, karna sudah berulang kali Rian menawarkan akan mencarikan ART buat megurus rumah mereka.


Agar Ayla tidak perlu selalu bangun pagi, hanya untuk membuat sarapan buat mereka di pagi hari maupun memasak untuk makan malam.


Dengan alasan yang sama, itulah cara Ayla menolak tawaran yang Rian berikan.


"Kita tidak membutuhkan pembantu Ri, aku masih sanggup mengerjakan semuanya. Kecuali membersihkan rumah maupun halaman." itulah jawaban yang selalu Ayla ucapkan.


Sehingga Rian pun tidak bisa maksanya, karena bunda Mirna berpesan kepada Rian, jangan pernah memaksa Ayla. Karena bila Ayla sudah merasa kecewa dengan keputusan nya. Maka sangat sulit untuk di bujuk, meskipun oleh bunda Mirna.


"Sejak kapan kamu menjadi sombong seperti ini? jika hanya buat gaji mereka, aku tidak membutuhkan uang CEO mu. karna aku juga memiliki uang meskipun hanya untuk mengaji satu orang." cibir Ayla yang sudah mau kembali berdiri. Dengan tubuhnya dililiti handuk dan selimut tebal.


"Sini aku gendong." tanpa menunggu jawaban dari Ayla, Rian sudah mengangkat Ayla ala bridal style menuju kamar mandi.


Sehingga replek Ayla mengalungkan tangannya ke leher Rian, karena takut jika terjatuh.


"Duduklah disini dulu, biar aku siapkan air nya." ucap Rian dengan lembut.


Dan Rian pun langsung mengisi bathtub dengan air hangat dan memberikan tetesan aroma terapi, agar Ayla bisa berendam dengan nyaman.


"Kamu berendam saja, biar rasa nyerinya berkurang. Nanti siang, biar aku keluar mencarikan obatnya." seru Rian tulus dan penuh perhatian.


Karena dia tau, apa yang dirasakan Ayla sekarang, adalah akibat perbuatan nya tadi malam.


Ayla pun hanya mengangguk saja dan menerima perlakuan yang Rian berikan kepada nya, jauh di dalam lubuk hatinya.


Ayla benar-benar merasa bahagia, karena sudah melewat kan malam pertama nya dengan laki-laki yang dia cintai, dan Ayla tidak menyesal memberikan mahkotanya kepada Rian, yang memang berhak atas dirinya.


Apalagi Rian melakukan nya seperti suami yang mencintai istrinya. Karena Ayla juga pernah membaca novel dewasa yang menceritakan pasangan suami-istri yang saling mencintai.


Padahal Rian sendiri berada dalam pengaruh obat perangsang. yang entah siapa yang memberikan kepada Rian.


Ayla juga tidak tau, jika tau. Ayla ingin mengucapkan terimakasih kepada orang itu.


"Ayo lepaskan selimut nya, biar aku bantu." suruh Rian yang kembali menghadap ke arah Ayla.


"Tidak mau,! kamu keluar dulu, biarkan aku sendiri mandinya. Aku malu bila kamu masih berada disini." jujur Ayla yang pipi nya sudah merah seperti cabai.


"Malu! kenapa harus malu Ay, aku sudah melihat semuanya. Bahkan aku juga sudah merasakan nya."


Perkataan Rian yang santai, membuat Ayla benar-benar merasa jika kedua pipinya serasa terbakar.


"Baiklah bantu aku, tapi handuk nya tidak perlu di lepas. Biar setelah kamu keluar baru kubuka sendiri." Ayla yang mengalah tidak punya pilihan lain.


Jika terus berdebat, kapan mandinya. Sedangkan perutnya sudah lapar minta di isi.


Karna rasa nyerinya belum hilang, mau tak mau. Ayla kembali di gendong oleh Rian. Dan menurunkan Ayla di dalam bathtub dengan perlahan.


Lalu Rian pun ikut mandi di bawah guyuran air shower. Karena Rian ingin memesan makanan untuk mereka berdua.


Setelah selesai, Rian mematikan air shower dan Rian langsung mengambil handuk untuk mengeringkan rambut dan tubuhnya.


"Kamu mandi saja ya.! aku duluan, karena aku akan memesan makanan untuk kita dulu." pamit Rian sambil berjalan mendekat ke arah Ayla dan Rian pun membungkukkan tubuh nya lalu.


Cuup


Rian mencium kening Ayla sebelum berlalu keluar.


"Maaf kan aku!" ucap Rian mengelus kepalanya.


Belum lagi Ayla menjawab, namun Rian sudah keluar. Dan Rian langsung menganti pakai rumahnya, karna hari ini wiekend jadi dia libur.


Setelah memesan makanan buat mereka berdua via aplikasi makanan. Rian mengambil sepray yang baru lagi, untuk menganti sepray bekas mereka tadi malam.


Karna dalam keadaan seperti ini, tidak mungkin Ayla bisa mengganti nya sendiri.


Deg....


Melihat bekas darah segar Ayla yang sudah kering sendiri di atas sepray, membuat Rian kembali merasa bersalah kepada Ayla.


"Ya Tuhan! apa yang harus kulakukan. Aku sudah kembali menyakiti Ayla, Tapi aku juga tidak mungkin menyakiti Bela." Dilema Rian yang mencintai Bela kekasihnya dan menyanyagi Ayla istrinya.


BERSAMBUNG....