Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Kemarahan Tuan Heri.


🍃🍃🍃🍃🍃


.


.


Di dalam kamar.


Rian menangis sambil memeluk sepucuk surat yang ditingakan oleh Ayla.


"Ayla maaf,! Maafkan aku sayang! tolong jangan tinggalkan aku,! ku mohon kembalilah!" ucap Rian sambil menagis.


Takut, Sakit, itulah yang Rian rasakan sekarang.


Lalu Rian buru-buru bangun dan menghapus air matanya. Karna dia harus menyusul Ayla. Dan mengajaknya kembali kerumah mereka.


Namun sebelum itu, Rian kembali lagi bertanya kepada Susi yang sedang membersihkan dapur.


"Maaf siapa namamu tadi? Apakah istri saya kembali kerumah orang tuanya?" Rian bertanya untuk memastikan lebih dulu, sebelum menjemput istrinya.


Istri... Entahlah, sepertinya Rian sendiri malu untuk menyebut dirinya sebagai suami.


"Saya Susi tuan, Kalau soal itu saya tidak diberitahu! karna Nona Ayla pergi menaiki taksi." jawab Susi yang masih mengikuti perintah dari tuan Heri.


"Oke baiklah, jika kamu tidak tau. Tapi siapa yang memperkerjakan kamu disini? Apakah istri saya sendiri?"


"Bukan tuan, yang menyuruh saya bekerja disini, tuan Heri langsung." ucap Susi jujur, karna jika dalam hal ini, dia tidak berbohong.


"Apa! Papa,? berarti Papa tau jika Ayla sakit! tapi kenapa Papa tidak memberi tahuku!" Rian langsung pergi begitu saja, dan tidak menunggu jawaban dari Susi lagi.


Karna sekarang dia harus kerumah mertuanya untuk mengajak Ayla pulang. Karna Rian yakin, jika Ayla pasti kembali kerumah orang tuanya.


Apalagi Susi mengatakan, kalau Ayla pergi jam dua tadi. Pasti Ayla berada disana. Pikir Rian yang penuh harap.


Dua puluh lima menit. Mobil Rian sudah tiba di depan rumah mertuanya. Rian melihat, jika mobil mewah milik Ayla juga ada disana. Sehingga membuat Rian merasa lega.


"Selamat sore Tuan!" sapa salah satu pelayan yang sedang menyiram tanaman.


"Sore juga Bik,! Apa Ayah dan Bunda ada? Rian bertanya, karna sebelum dia mengajak Ayla pulang. Tentunya dia harus berhadapan dengan kedua mertuanya dulu.


Namun apapun itu konsoensi nya, Rian sudah siap. Karna memang dia bersalah.


Setelah mendapatkan jawaban dari pelayan yang ditanya. Rian langsung masuk saja, setelah disambut oleh beberapa pelayan lainnya juga.


"Apakah Tuan muda ingin bertemu dengan tuan Ridwan dan Nyonya Mirna?" tanya si pelayan. Karna melihat Ayla tidak ikut bersama Rian.


Sebelum menjawab, Rian sempat menaikan satu alisnya binggung. Mendengar pertanyaan sipelayan itu. Seharusnya mereka bertanya, Apakah Rian mencari istrinya. Pikir Rian.


"Iya, apa mereka sedang istirahat?" Rian tidak mau ambil pusing dengan pertanyaan pelayanan itu.


"Tidak Tuan muda, mereka sedang berkumpul di Gazebo belakang." tunjuk pelayanan kearah kebelakang.


Rian mengangguk dan berterimakasih. Lalu dia langsung saja berjalan kearah yang ditunjuk oleh pelayan tadi.


"Selamat sore Ayah! Selamat sore juga Bunda!" Rian menyalimi tangan kedua mertuanya.


Dan mereka menerimanya seperti biasa. Seakan-akan tidak terjadi sesuatu pada pernikahan putrinya.


"Iya sore juga Rian! Ada perlu apa kamu kemari?" tanya Ayah Ridwan yang sudah tau sendiri jawabannya.


"Ayah, Bunda..! Rian datang kesini ingin meminta maaf pada kalian berdua, dan Rian ingin membawa Ayla pulang. Rian berjanji tidak akan menyakiti Ayla lagi." ucap Rian dengan berani mengakui bahwa dirinya bersalah.


"Sebelum kamu meminta maaf, kami sudah memaafkan mu. Kamu tidak punya salah kepada Ayah maupun Bunda. Tapi kamu hanya bersalah pada putri Ayah." kata Ayah Ridwan mencoba meredam kemarahan nya.


Sedangkan Bunda Mirna, hanya diam tidak mengeluarkan sepatah katapun. Karna melihat muka Rian, membuatnya kembali mengingat penderitaan putrinya.


"Iya, Nanti Rian akan meminta maaf kepada Ayla, Yah! Rian berjanji tidak akan menyia-nyiakan Ayla lagi. Tapi Rian mohon, Tolong beri Rian kesempatan untuk membawa Ayla kembali kerumah kami." seru Rian penuh sesal.


"Tapi Ayla tidak kembali kesini. Dan dia juga tidak memberitahu bahwa dia akan pergi kemana. Karna kakek dan neneknya juga mengatakan, jika Ayla tidak kembali ke kota A. Lagian untuk apa kamu mencarinya, bukan kah kalian akan berpisah. Biarkan Ayla pergi, mungkin dia butuh waktu untuk semuanya." ucap Ayah Ridwan menarik nafas penuh penyesalan.


Lalu beliau pun berdiri membelakangi Rian sambil memasukkan satu tangannya kedalam saku celananya. Sebab, jika dia terus melihat muka Rian, dia takut, tidak bisa menahan emosinya. Untuk memukul menantunya itu.


"Apa ayah yakin? jika Ayla tidak pulang keruma Kakek?" tanya Rian kembali merasa gusar.


"Ayah yakin! Ayla memang tidak kembali kerumah kakek juga." seru Ayah Ridwan lagi. Yang masih tetap berdiri membelakangi Rian.


Mendengar jawaban dari mertuanya, Rian langsung berpamitan dengan buru-buru, untuk melihat Ayla dirumah kedua orang tuanya.


Karna itulah tempat harapan terakhirnya. Rian kembali lagi menjalankan mobilnya dengan cukup kencang.


"Bodoh kamu Rian, bodoh...!" Rian mengumpat dan memukul setir mobilnya untuk meluapkan emosi kepada kebodohan dirinya sendiri.


Dalam perjalanan kerumah orang tuanya. Rian selalu mencoba untuk menghubungi nomor telepon Ayla. Namun sayang, yang didengarnya hanya suara Operator lagi.


Tiga puluh delapan menit, barulah mobil Rian tiba kediaman orang tuanya. Karna sekarang sudah jam Delapan malam, jadi dijalan sudah pasti macet oleh kendaraan lainnya.


Rian langsung masuk dengan berlari kecil. Bahkan dia tidak menanggapi sapaan dari para pelayan.


Karna didalam hati dan pikirannya, hanyalah Ayla. Baru saja Rian tiba di ruangan keluarga. Dia sudah melihat kedua orang tuanya sedang bersantai.


Tuan Heri sedang menemani Mama Sonya menonton TV. Karna meskipun sudah tua. Mereka masih sering memperlihatkan kemesraan mereka di depan siapa saja.


"Pa, Ma..! apakah Ayla ada disini!" Rian bertanya langsung tanpa menyalimi kedua orang tuanya dulu.


Mama Sonya tidak menjawab dan dia langsung berdiri pergi meninggalkan tempat itu.


"Ayla..? buat apa kamu mencarinya? Bukannya dia ada dirumah kalian." tuan Heri menjawab dengan santai.


"Ayla pergi dari rumah Pa..! tadi Rian sudah kerumah Bunda. Namun Ayla juga tidak ada disana."


"Sejak kapan kamu repot-repot mencarinya. Biarkan dia pergi mencari kebahagiaan nya sendiri." ucap tuan Heri berdiri ingin menyusul Mama Sonya kembali kekamar.


"Pa, Rian mohon..! tolong kasih tau Rian dimana Ayla sekarang? Pasti Papa tau Ayla ada di mana?" Rian yang memegang tangan tuan Heri.


Tapi tangannya langsung tepis oleh tuan Heri dengan kasar.


"Untuk apa kamu mencarinya? apa kamu ingin kembali menyakiti dia. Meskipun Papa tau tempat Ayla berada, Papa tidak akan pernah memberitahumu." sergah tuan Heri mulai emosi.


"Rian ingin meminta maaf pada Ayla. Rian ingin membawanya kembali pulang kerumah kami,! Papa tidak berhak menyembunyikan Ayla, karna dia ist.."


Plaaak....


Rian langsung mendapat tamparan cukup keras dari tuan Heri.


"Semenjak kapan kamu menjadi suaminya? apakah pasangan suami istri itu tempat tinggalnya terpisah? Apakah seorang suami itu harus memiliki kekasih diluar sana. Sedangkan istrinya tinggal dirumah mereka sendirian. Bahkan jika bukan karna bantuan dari sahabatnya, dia sudah meregang nyawa nya sendirian dirumah itu."tuan Heri menarik kerah kemeja yang Rian pakai dengan kemarahan dan kekecewaannya.


"Suami seperti apa kamu? disaat istrinya berulang tahun, bukannya datang. Tapi malah membawa perempuan ular itu masuk ke Apartemen mu! Ayo jawab Rian? Papa saja malu mendengar pengakuan mu itu. Karna kamu tidak pantas disebut suami." Tuan Heri melepaskan cengkeraman tangannya.


"Pergi kamu dari sini. Jika tidak memikirkan kesehatan Mama, Papa tidak mau lagi melihat wajah mu." ucap tuan Heri lagi.


"Pa, Rian punya alasan sendiri kenapa Rian tidak pulang kerumah kami. Tapi tolong kasih tahu Rian dulu, Ayla ada dimana? Setelah itu Rian akan menjelaskan semuanya" Rian kembali memohon dengan lirih.


"Apa pun alasannya, kamu tetap tidak pantas menjadi suami Ayla. Kamu meninggalkan dia dirumah itu sendiri selama ini. Sedangkan kamu menikmati hidup mu dengan bebas diluar sana." ucap Tuan Heri langsung pergi.


"Ayla kembali lah, aku mohon sayang! aku memang bersalah kepada mu. Tapi aku Mohon kembalilah! Akan aku katakan kepada mu, kenapa aku tetap tinggal di Apartemen selama ini." Rian menjatuhkan dirinya diatas lantai dan kembali menagis penuh penyesalan.


.


.


.


.


.


Jreeeeng.... Ayo coba tebak, AA Rian punya alasan apa ya 🤔🤔🤔