Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Perampokan.


🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


Dengan kecepatan sedang Nando membawa laju kendaraan mewahnya. Dia sedang di landa rasa khawatir karena sudah berulangkali menghubungi sang istri nomor nya tidak di angkat. Sudah tiga tahun lebih mereka menikah ini baru pertama kalinya nomor Sari tidak bisa di hubungi seperti sekarang.


"Sayang kamu kemana? Tolong jangan membuatku merasa khawatir seperti ini." ujar Nando terus mencoba menghubungi nomor sang istri dan telepon rumah. Namum, satu pun tidak ada yang tersambung.


"Apakah di rumah tidak ada orang, sehingga teleponnya dibiarkan berdering begitu saja. Ah sial gara-gara aku ketiduran jadinya lupa memberi kabar." rutuk Pria tersebut menaruh ponselnya kembali.


"Tapi apa mungkin gara-gara aku lupa memberi kabar, Sari langsung marah. Dia sendiri saja tidak ada menghubungi ku sama sekali. Tumben dia seperti ini." bertanya-tanya karena sang istri juga tidak ada menghubungi dirinya.


Biasanya apabila dia belum bisa memberi kabar, maka istrinya itu akan menelpon dan mengirim pesan agar Nando tidak lupa untuk makan siang. Tapi hari ini dari pagi, satu pesan saja tidak ada yang masuk. Maka nya Pria tersebut sangat khawatir.


Hampir tiga puluh menit barulah mobilnya sampai ke kediaman mereka. Namun, ada yang berbeda dengan rumah tersebut.


Seperti tidak ada satu orang pun termasuk Pak Satpam yang biasa menjaga pos keamanan di depan rumahnya.


Dengan jantung berdebar-debar Nando keluar dari dalam mobil lalu setelah menutup pintunya. Pria tersebut berjalan masuk begitu saja karena pintu besar itu tidak terkunci.


Tiba di ruang tamu, Nando bingung karena rumah nya terlihat berantakan. Belum lagi ada beberapa pas bunga yang pecah di atas lantainya. Membuat Nando semakin merasa khawatir. Lalu dia melihat sekelilingnya rumah tersebut seperti... habis kena rampok. Nando langsung berlari menuju ruang keluarga dan yang lainnya sembari memangil sang istri.


"Sayang! Kamu ada dimana?" semakin mempercepat langkah kakinya. Lalu memangil lagi. "Sayang, sayang! Ini aku pulang!" pangil Nando yang memilih melihat kelantai atas tempat kamar mereka berada.


Braaak...


"Sayang ini ak---"


Berhenti memanggil karena di dalam kamar luas itu tidak ada siapa-siapa.


"Sayang! Bagaimana mungkin tidak ada orang? Mobilnya saja ada, lalu kemana Pak Satpam dan bibik yang bekerja disini?" mengusap wajahnya kasar, karena Nando semakin merasa khawatir kalau rumahnya memang habis di rampok.


Tidak menduga-duga Nando mengecek kekamar mandi lebih dulu untuk memastikan. Tapi sang istri tidak ada juga. Namum, saat dia berjalan melewati tempat tidur terdengarlah suara telepon genggam milik Sari berbunyi yang ada di atas meja riasnya.


Nando menyambar benda tersebut lalu melihat siapa yang menelepon istrinya. Ternyata yang menelepon adalah Ayla.


📱 Nando : "Halo Ay apa Sari ada di rumah kalian?" Nando langsung bertanya mana tahu Sari lupa membawa ponselnya.


📱Ayla : "Em... tidak ada kak, memangnya Sari pergi kemana? Tumben dia tidak membawa ponselnya?" Ayla malah balik bertanya.


📲 Nando : "Ayla tolong segera hubungi Rian. Katakan padanya kalau rumah kakak habis di rampok dan sekarang Sari pasti dalam bahaya." ucap Nando dengan suara bergetar, menahan takut kalau para perampok itu menyakiti istrinya.


📲 Ayla : "Apa! Kakak serius? Kalau begitu aku akan mehubungi Rian sekarang. Sudah dulu ya kak nanti aku hubungi lagi." Ayla menjawab tidak kalah khawatir dengan keadaan sahabat bagaikan saudaranya.


📲 Nando : "Baiklah kalau begitu kakak akan mencari di sekitar rumah ini. Mana tahu bisa mendapatkan petunjuk." kata Nando langsung menutup sambungan tersebut.


Tes...


Tes...


Lelaki itu menangis tidak bisa menahan rasa takut kehilangan istrinya. Selama ini Nando sudah menjaga sang istri dengan baik. Selalu melakukan pengecekan takut kalau Sari mempunyai penyakit berbahaya. Namun, siapa sangka hari ini rumahnya malah kena rampok dan dia belum tahu bagaimana keadaan wanita yang dicintainya.


"Tidak, tidak! Aku tidak boleh seperti ini. Aku harus segera mencari keberadaan istriku." Nando berlari keluar dari kamar itu, lalu kembali lagi menuruni tangga untuk menuju lantai bawah. Guna mengecek seluruh ruangan yang ada di dalam rumahnya.


Dari ruang satu, dua dan tiga tidak ada yang dia lewati. Namun, ketika dia mengecek kearah meja makan alangkah terkejutnya melihat apa yang sudah terjadi disana.


Pria itu terpaku di tempatnya berdiri disertai air mata. Lalu dia berlari untuk memeluk tubuh sang istri yang berdiri sambil memegang sebuah tulisan bertuliskan.


*Selamat datang ayah*!


"Sayang! A--ak--aku tidak sedang bermimpi kan? Ini nyata kan?" Nando tidak kuasa menahan tangis bahagianya. Sari berdiri memegang sebuah tulisan selamat datang dan sebuah hasil USG nya dari rumah sakit.


Tidak perduli dengan orang di sekitarnya yang ada dia malah memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah sang istri. Sebelum dia melepaskan pelukan pada Sari karena mendengar suara kedua anak angkatnya.


"Ayah selamat ya! Sebentar lagi kami akan memiliki dedek bayi." ucap Arsya dan Salsa sambil memberikan tisu untuk Nando menghapus air matanya.


"Ooh jadi anak Ayah, juga ikut mengerjai Ayah ya." Nando melepaskan pelukannya pada sang istri dan beralih memeluk si kembar.


"Tidak kami berdua tidak ikutan, semua kakek dan nenek juga tidak ikutan, termasuk Mama. Tapi... ini semua rencana Om Andre sama Papa." Arsya menyengir milihat Papa dan Om nya langsung melotot kan mata kearahnya.


"Apa! Jadi Papa dan Om Andre kalian yang memiliki ide gila seperti ini."


"Iya jadi Ayah tidak boleh marah sama Mama karena sudah berbohong saat bicara di telepon." pantas saja Arsya dan Salsa langsung bicara jujur ternyata mereka takut kalau Mamanya kena marah.


"Tidak Ayah tidak akan marah sama Mama Ayla, karena kalian sudah bicara jujur. Tapi kalau pada---"


Nando langsung berlari mengejar kedua sahabatnya itu. Sungguh dia merasa sangat bahagia karena Sari hamil. Namun, juga kesal karena sudah di permainkan oleh keluarga dan para sahabatnya. Tidak main-main untuk membuat rencanya seperti nyata. Sampai menghancurkan beberapa barang mahal.


Melihat mereka bertiga main kejar-kejaran membuat para orang tua tertawa bahagia. Saat ini selain kedua orang tua Nando dan mertuanya. Ada juga orang tua Andre, Tuan Heri dan Ayah Ridwan yang ikut andil membuat kejutan pada Nando. Penantian panjang ingin memiliki anak sendiri akhirnya di kabulkan oleh Mak author.


Begitu pula dengan Ayla dan istri Andre, mereka berdua tidak kalah bahagianya. Tidak hanya para suami yang bersahabat tapi para istri pun juga sudah bersahabat baik.


"Aaghk! Nan ampun gue cuma bantuin Andre." Rian mengaduh karena Nando berhasil menangkapnya. Sedangkan Andre berlari mengitari para orang tua jadinya susah tidak bisa tertangkap.


"Tega ya kalian ngerjain gue sampai bikin gue hampir serangan jantung." ucap Nando sambil mengatur nafasnya.


"Ah cuma di prank segitu aja dah mau serangan jantung. Anggap saja kita impas. Dulu istri gue hamil Lo malah nonjok muka ganteng gue." Rian tertawa melihat Nando tidak jadi memukul dirinya mengunakan bantal sofa yang ada di dekat situ.


"Nando sudah! Jangan marah pada mereka berdua, karena kami juga ikut membantu mereka." orang tua Nando yang sedari tadi hanya tertawa memangil putranya agar berhenti. Meskipun dia tahu kalau mereka bertiga hanya sedang bercanda.


"Maaf Pa! Nando cuma kesal mereka tega banget bikin aku khawatir. Aku kira tadi benar kalau rumah ini habis di rampok." seru Pria itu sembari melepaskan Rian. Lalu dia berjalan mendekati para orang tua untuk menyalimi satu persatu.