
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Jam masih menunjukkan pukul lima pagi. Namun, pasangan Rian dan Ayla sudah bersiap-siap untuk menemui si kembar yang sedang tidur bersama nenek-nenek mereka di kamar hotel lantai paling atas khusus untuk keluarga saja.
"Sayang pakailah jaket ku. Cuacanya masih sangat dingin." Rian memakaikan jaketnya pada sang istri. Mereka berdua sudah mandi dan berganti pakaian yang diantar oleh sekertaris Aldi jam tiga dini hari.
Sekertaris muda itu memang tidak tidur semalaman karena harus mengurus semua masalah yang terjadi agar bisa berjalan dengan lancar tidak mengangu kedamaian keluarga bos nya.
"Terimakasih!" ucap Ayla tersenyum melihat suaminya.
"Terimakasih untuk?" Rian ikut tersenyum melihat kearah Istri cantiknya yang tadi malam begitu tanguh menunggang kuda di atas tubuhnya.
"Ya terimakasih untuk semuanya! Terimakasih tadi malam sudah datang menolong ku. Kalau kamu tidak datang, entah apa yang akan terjadi padaku." Ayla berkata dengan sendu.
Tidak berani membayangkan kalau dia sampai di nodai oleh Dapid yang sekarang masih tidur nyenyak bersama Elin. Mereka tidak tahu kalau setelah bangun kehancuran sudah menunggu mereka.
"Bagaimana mungkin ada kata terimakasih. Aku ini suamimu, sudah kewajiban ku melindungi kamu, Arsya dan Salsa. Jadi jangan pernah memikirkan apa yang terjadi tadi malam ya. Anggap saja tidak pernah terjadi apapun. Aku berjanji kejadian ini adalah yang pertama dan terakhirnya terjadi pada keluarga kita." seru Rian yang bertekad akan semakin memperketat penjagaan untuk keluarga mereka.
"Sayang!" Ayla tidak kuasa menahan air matanya.
"Iya aku berjanji akan memperketat penjagaan untuk kalian semuanya. Buat apa harta yang ku miliki bila tidak bisa melindungi anak dan Istriku." ujar Rian memeluk istrinya sambil mencium kepalanya berulang kali.
Setelah tidak mendengar suara tangis sang istri barulah Rian melepaskan dekapannya pada tubuh Ayla. "Sudah merasa lebih baik' kan? Kalau sudah kita menjemput anak-anak baru setelahnya kita pulang." Rian bertanya dengan suara lembut agar istrinya tidak merasa terpaksa.
Ayla pun tersenyum kecil menunjukkan kalau dirinya sudah baik-baik saja. "Iya aku sudah lebih baik selama ada kamu bersama ku. Tapi... tolong jangan beritahu mama sama Bunda kejadian yang kita alami tadi malam. Aku tidak mau mereka mengkhawatirkan kita gara-gara kerjain ini," wanita itu mengengam kedua tangan suaminya untuk berjanji tidak mengatakan pada orang tua mereka. Kecuali ayah dan papa mertuanya.
Rian tersenyum dan menjawab. "Tentu saja kita tidak akan memberitahu mama sama bunda. Papa juga sudah memberitahu tadi malam setelah kamu tidur." ujar pria itu menarik resleting jaket yang di pakai sang istri ke atas. Untuk menutupi bekas hisapannya tadi malam saat mereka memadu kasih.
"Sudah ayo, nanti tiba di rumah kita sambung lagi." Rian megendeng keluar dari kamar itu dengan tangan kosong karena Adapun barang mereka yang tertinggal akan dibereskan oleh sekretaris Aldi.
Di lantai atas tepatnya di depan pintu kamar yang ditempati oleh orang tua mereka. Rian pun langsung mengetuk pintunya.
Ceklek...
"Kalian sudah kembali," sambut Bunda Mirna yang membuka pintunya.
"Iya Bunda. Maaf sudah membuat Bunda dan Mama repot harus menjaga anak-anak." yang di jawab oleh Rian. Sedangkan Ayla hanya menyalimi wanita baya itu.
Kedua pasangan muda itu pun langsung mendekati anak mereka yang sedang di ajak mengobrol oleh Mama Sonya.
"Mama!" sapa keduanya sembari menyalimi tangan Mama Sonya. Hal yang sama mereka lakukan pada Bunda Mirna tadi.
"Kalian sudah kembali?"wanita itu menoleh sebentar kearah anak dan menantunya.
"Sudah Ma! Ay, takut mereka menangis sudah di tinggal semalaman." jawab Ayla yang sangat merindukan si buah hati langsung mengendong salah satunya.
"Kakak sama adek tadi malam nggak rewel! Duh anak Mama sudah pintar-pintar ya sekarang." ucap Ayla pada Baby Arsya.
Tidak lama setelah itu terdengarlah pintu yang dibuka kembali oleh Tuan Heri dan Ayah Ridwan. Kedua pria baya itu memang baru kembali lagi ke sana. Tadi mereka pergi keluar untuk melihat persiapan mobil buat kepulangan kerumah masing-masing.
"Rian kalian sudah kembali juga. Kalau begitu ayo Kita pulang sekarang." ajak Tuan Heri karena semua barang milik mereka sudah ada orang yang mengurusnya.
"Iya Pa!" seru Rian karena sudah tahu kalau mereka harus meninggalkan hotel tersebut . Untuk menghindari para awak media yang pastinya pagi ini akan berkumpul di hotel itu.
Tidak ada satupun diantara mereka yang bertanya-tanya mengapa harus meninggalkan Hotel sepagi ini. Baik itu Bunda Mirna ataupun Mama Sonya mereka hanya mengikut di belakang para suami karena yakin pasti untuk kebaikan mereka juga. Makanya harus pulang meskipun di luar masi belum terang.
Rian dan Ayla menaiki mobil sendiri bersama kedua buah hati mereka mereka. Kedua anak itu pun tidak ada yang menangis. Namun, ada beberapa mobil pengawal juga yang menggiring mobil Rian dari depan maupun dari belakang.
"Sepertinya bila mereka sudah besar. Arsya maupun Salsa akan betah jauh dari kita berdua sayang." ucap Rian sambil memperhatikan kedua anaknya yang berada di kereta bayi mereka masing-masing. Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah mereka Rian dan Ayla selingi bercerita ataupun hanya sekedar membicarakan anak-anak mereka.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Sedangkan di kamar hotel tempat pasangan pengantin baru. Nando dan Sari baru saja selesai melakukan olahraga panas. Rencananya pagi ini mereka juga akan meninggalkan hotel tersebut dan langsung pulang ke rumah orang tua Nando.
Akan tetapi karena Nando kembali meminta jatah nya, alhasil pagi ini mereka kembali melakukannya. Pria itu sangat ingin istrinya cepat mengandung makanya dia kembali lagi menaiki Sari yang sedang tidur nyenyak. Meskipun awalnya dia hampir saja ditendang oleh sang istri yang merasa kaget.
"Kak apa Ayla masih di hotel ini?" tanya Sari yang masih berada dalam pelukan suaminya.
"Tidak, mereka sudah pulang lebih dulu, tapi baru beberapa saat lalu.", Nando mengusap kepala Sari dengan sayang.
"Aku kira pagi ini mereka akan sarapan bersama kita, tapi kenapa ini malah buru-buru sekali pulangnya. Padahal ini kan sedang akhir pekan.
"Entahlah kakak rasa pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Om Heri dan Om Ridwan. Sehingga semua keluarga mereka sudah meninggalkan hotel ini." jelas Nando yang melihat di saat acara resepsi pernikahan mereka berlangsung begitu banyak pengawal dari Tuan Heri yang berjaga di sana.
"Apabila masih mengantuk tidur saja Kakak berjanji tidak akan mengganggumu lagi." ujar lelaki itu karena hastranya sudah terpenuhi.
Di dalam hatinya Nando berharap setiap benih yang ditabur oleh Naga Bergola nya akan menjadi bibit-bibit bayi yang mereka harapkan.