Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Kontraksi.


🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


Satu bulan kemudian.


Ayla di perkirakan akan melahirkan dalam beberapa hari lagi. Namun, Rian bukannya bisa istrirahat untuk menemani sang istri tapi justru semakin sibuk karena begitu banyaknya perusahaan lain yang ingin bekerjasama dengan perusahaan Erlangga group.


Tapi meskipun, sibuk dengan urusan pekerjaan. Lelaki itu tidak pernah absen dari tangung jawab pada keluarga kecilnya. Hanya saja dia tidak bisa mengambil cuti seenaknya karena puluhan juta jiwa bergantung hidup pada perusahaan yang dia pimpin.


Walaupun dia memiliki sekertaris Aldi dan orang-orang kepercayaan dari ayahnya. Rian tetap tidak mau semena-mena dengan kekuasaan yang dia miliki.


Tuan Heri pun bukanya tidak mampu mengurus perusahaan lagi. Hanya saja dia ingin istrirahat agar bisa menikmati masa tuanya bersama sang istri.


Siang ini di perusahaan Erlangga group. Rian sedang memimpin rapat dari seluruh perusahaan besar yang bekerja sama dengan perusahaan Erlangga group.


Entah apa yang sedang mereka bahas sehingga sudah lebih dari tiga jam belum ada satu orang pun yang keluar dari ruang meeting terbesar dari seluruh perusahaan di kota B. Boleh di katakan jika perusahaan yang Rian pimpin adalah induk dari seluruh perusahaan lainnya.


"Saya tidak mau ada penarikan dana tambahan apabila sudah di tanda tangan kontrak. Kalian tau kenapa dari dulu saya tidak pernah melakukannya? Itu sama saja kita membuka pasaran untuk orang-orang berbuat curang." sergah Rian begitu mendengar usulan dari salah satu Presdir dari perusahaan yang bekerjasama dengan nya.


Sorot mata Rian saja sudah mampu menghancurkan lawannya. Dalam urusan pekerjaan Rian lebih kejam dari Tuan Heri Erlangga. Jadi bila dia sudah mengambil keputusan maka tidak akan ada yang berani melanggarnya lagi.


Ceklek....


Suara pintu yang dibuka membuat semua mata beralih ke arah pintu. Mereka semua penasaran siapa orang yang sudah berani mengangu saat menegangkan seperti sekarang.


Berbeda dengan pimpinan Erlangga group. Begitu dia melihat sekertaris Aldi yang masuk jantungnya langsung berdegup kencang. Pasalnya Aldi tidak akan pernah mengangu apabila tidak ada hubungan dengan Ayla, istrinya.


"Maaf, Tuan muda!" ucap sekertaris Aldi sebelum dia membisikkan sesuatu di telinga Rian.


"Aa--apa! Ayo kita pulang sekarang!" Rian langsung berdiri dengan wajah penuh khawatir. Sehingga membuat suasana bertambah tegang.


"Meeting kita sampai di sini." kata Rian sebelum pergi meninggalkan ruangan itu dengan cara berlari yang di ikuti oleh sekretaris setianya dari belakang. Di dalam perjalanan menuju ke rumahnya Rian duduk dengan tidak tenang.


"Cepat lah, Al!" seru Rian dengan gelisah memikirkan istrinya yang pasti sedang kesakitan karena akan segera melahirkan anak nya.


"Bersabarlah Tuan, sebentar lagi kita akan sampai.", kata Aldi mengerti perasaan bos nya karena dia sendiri sama takutnya begitu Susi mengabarkan jika Nona mudanya mengeluarkan tanda-tanda akan melahirkan.


Setelsh itu Rian memang tidak bicara lagi. Namun, di dalam hatinya tidak berhenti berdoa agar istri dan kedua anaknya di berikan keselamatan. Delapan menit kemudian, mobil yang di sopir oleh Aldi sudah tiba di rumah mewah milik tuan muda nya.


Begitu mobil berhenti. Rian langsung membuka pintu dan bergegas masuk untuk menemui sang istri.


Bunyi Rian membuka pintu dengan keras dan kembali lagi berlari kearah kamar mereka. Yang dia yakini istrinya pasti ada di sana.


"Sayang!" dengan nafas ngos-ngosan pria itu memeluk istrinya.


"Maaf, maafkan aku," kata Rian merasa bersalah kepada Ayla sambari mencium keningnya.


"Maaf untuk apa? Aku tidak apa-apa. Hanya saja tadi ketika aku buang air kecil seperti ada bercak darah yang ikut mengalir." wanita hamil itu tersenyum melihat betapa khawatir nya sang suami.


"Benarkah? Apa kamu tidak merasakan sakit?" tanya Rian sedikit tidak percaya karena di buku panduan ibu hamil yang dia baca. Apabila sudah memberi tanda maka ibu hamil itu akan merasakan sakit luar biasa.


"Buat apa aku berbohong padamu suamiku. Aku tidak merasakan apapun. Jadi jangan terlalu khawatir seperti ini, ya." Ayla mengelus muka sang suami yang sedang duduk di atas ranjang di samping nya.


"Jika begitu ayo kita bersiap-siap kerumah sakit. Aku takut terjadi sesuatu pada kalian." kata Rian berdiri dan menoleh kearah Susi yang juga ada di ruangan itu karena menemani Ayla.


"Mbak Susi tolong siapkan perlengkapan yang akan di bawa kerumah sakit. Mbak Susi tidak usah ikut tapi tolong kabari mama sama bunda saja. Katakan jika, Ay sudah mau melahirkan." ucap Rian sudah membantu istrinya berdiri dengan pelan.


"Sayang aku gendong saja, ya?"


"Tidak perlu, malahan lebih baik aku berjalan biar mempermudah proses lahirnya." tolak wanita itu berjalan dengan pelan sambil satu tangan mengelus perutnya. Sebetulnya Ayla sudah merasa kontraksi dari beberapa menit lalu. Hanya saja dia menahanya karena tidak mau membuat Rian bertambah khawatir.


Setelah Rian dan istrinya sudah duduk di dalam mobil dan membantu Susi memasukan semua barang keperluan Nona muda nya. Barulah sekertaris Aldi menjalankan mobil menuju rumah sakit Central Medika. Tempat Rian di rawat dulu dan tempat Ayla konsultasi selama masa kehamilannya.


Begitu mobil sudah masuk area rumah sakit barulah Ayla mengaduh setelah dari tadi menahan sakit yang tidak bisa di jabarkan oleh kata-kata. Hanya wanita hamil saja yang tau betapa sakitnya apabila sudah mau melahirkan.


"Aaduuuh! Sayang sakit sekali," kata Ayla mengaduh sembari tangan satunya bergantung semakin kuat pada lengan suaminya agar bisa menahan rasa sakit yang dia rasakan.


"Sayang bertahalah kita sudah sampai. Cengkram saja tangan, ku. Yang penting kamu merasa nyaman." jawab Rian membatu mengelus pinggang istrinya yang sudah mulai merintih kesakitan.


Begitu mobil itu sampai di lobi rumah sakit. Ayla langsung di bawa turun dan di baringkan di atas brankar oleh tiem dokter dan perawat yang sudah menunggu mereka sejak tadi.


"Aaduuukh! rasanya perutku mules sekali." rintih Ayla di sertai air matanya.


"Sayang, maaf, maafkan aku sudah membuat, mu merasakan ini semua." ucap Rian mengengam tangan Ayla sambil ikut mendorong brankar sang istri menuju keruang bersalin. Tiba di sana Ayla langsung di bawa masuk untuk di periksa lebih dulu oleh Dokter Elida.


"Tuan muda ikut masuk saja untuk menemani Nona." kata salah satu dokter sebelum menutup pintu ruangan itu. Padahal tanpa dokter itu suruh Rian tidak akan membiarkan istrinya sendirian merasakan sakit karena perbuatannya.


Tiba di dalam dokter pun menyuruh Ayla membuka kedua pahanya setelah menutup bagian atas pingang wanita itu dengan selimut yang sudah di sediakan. Agar mempermudah pekerjaan mereka dan yang ada di dalam ruangan itu hanya dua orang dokter dan satu perawat perempuan.


"Bagaimana Dok, apakah istri saya sudah mau melahirkan?" tanya lelaki itu khwatir melihat Ayla semakin merintih kesakitan.


"Iya, Nona sudah mau melahirkan dan sekarang baru pembukaan dua." jawab Dokter Elida setelah menutup kempali dres Ayla yang tadi dia singkap ke atas.