Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Extra part.


🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


Tidak terasa sekarang sudah saatnya para siswa-siswi SMK Erlangga pulang kerumahnya masing-masing. Namun tidak dengan Salsa, gadis cantik itu masih menunggu kakak nya yang masih bermain basket bersama teman-teman dari tiem basket sekolah mereka.


Besok malam Arsya dan para sahabatnya akan mengikuti pertandingan secara besar-besaran yang di adakan oleh wakil kota B. Untuk menentukan siapa yang akan menjadi pemenang di seluruh kota tersebut. Makanya hari ini sebelum pulang mereka melakukan latihan lagi karena besok pagi adalah tanggal merah. Tidak mungkin mereka pergi latihan lagi, karena juga harus istirahat yang cukup sebelum turun ke lapangan.


Sahabat Arsya yang ikut bermain basket hanya Farel dan Hengki sedangkan yang berdua hanya menjadi suporter setia.


"Princes ayo sini jangan jauh-jauh duduknya." ajak Denis sahabat Arsya begitu melihat Salsa yang baru saja duduk menunggu kakak nya latihan.


Salsa yang memang hanya sendiri pun mendekati Denis. Dia memang baru saja datang dan duduk di bangku yang lumayan jauh dari tempat kakak nya berkumpul atau bila sedang istrirahat ingin minum.


"Karin mana?" tanya Denis begitu Salsa sudah duduk didekat dia dan Dito sahabatnya. Sedangkan anak-anak lain agak jauh juga dari tempat mereka saat ini.


"Sudah pulang duluan, Kak. Tadi dia sudah di jemput oleh mamanya." jawab Salsa sambil pandangan matanya tetap melihat sang kakak yang berlari membawa bola untuk di masukan ke dalam ring basket.


Kepada semua sahabat kakak nya. Salsa memang memanggil mereka dengan sebutan kakak, karena dia harus menghormati sahabat Arsya juga. Meskipun mereka sering kali merayu Salsa di hadapan Arsya. Namum, semua itu hanya bicara di mulut saja tidak lebih.


Tapi yang berbeda hanya Farel, karena pemuda itu memang bertekad akan meminta izin pada Arsya sahabatnya untuk menyatakan perasaanya pada Salsa.


Entah akan di terima atau tidak oleh Salsa. Farel tetap akan meninta izin dan mencoba, mana tahu Princes Erlangga itu akan memberikan dia kesempatan untuk menjadi kekasihnya.


"Sa ... apa besok malam Lo ikut nonton pertandingan juga?" tanya Dito yang duduk di sebelah Denis.


"Hem! Kalau kakak berangkat. Tapi kalau Kak Arsya nggak jadi, berarti gue ya nggak jadi nonton juga." jawab Salsa tertawa karena dia memang tergantung pada kakak nya. Sebab itu sudah menjadi keputusan bersama.


"Pasti jadi dong kalau gitu. Mana mungkin Arsya nggak berangkat, diakan kapten dari tiem kita. Bila Arsya nggak main, jangan harap kita bakalan menang." ujar Denis membanggakan kehebatan Arsya.


"Kak Denis nggak boleh ngomong gitu. Anak-anak lainnya juga hebat. Jangan memuji Kak Arsya saja, nanti nggak enak di dengar sama teman-temannya." cegah Salsa yang tidak mau memuji kehebatan kakak nya. Meskipun apa yang di katakan oleh Denis benar. Hanya saja gadis itu tidak mau mematahkan semangat bagi pemain lainnya.


"Iya, iya kakak lupa! Sorry ya ... Kakak nggak akan ngomong seperti itu lagi." seru Denis seraya mempraktekkan seperti mengunci bibirnya.


"Nggak perlu minta maaf, yang penting Kakak jangan ngomong sembarangan lagi."


"Princes, Lo belum tahu kan kalau besok malam sekolah kita tidak hanya melawan satu klub SMA aja. Tapi juga melawan anak-anak dari Universitas Bima Sakti." cerita Dito yang ikut menimpali percakapan Salsa dan Denis.


"Memangnya boleh anak-anak universitas ikut pertandingan? Bukanya ini hanya pertandingan untuk sekolah menengah atas?" Salsa yang baru tahu juga merasa kaget mendengarnya.


"Boleh kayaknya. Soalnya beberapa hari lalu pengumuman siapa saja yang akan menjadi lawan sekolah kita sudah di umumin." yang di jawab oleh Denis.


"Universitas Bima Sakti? Bukankah pemainnya sangat hebat-hebat ya?" ada rasa khawatir yang dirasakan oleh Salsa, setelah tahu siapa yang akan menjadi lawan kakak nya bertanding.


"Benar, mereka juga sama hebatnya seperti pemain dari sekolah kita. Makanya Arsya mengajak mereka latihan dulu hari ini." Denis pun membenarkan apa yang Salsa katakan tadi, karena lawan sekolah mereka besok malam memang cukup hebat.


Meskipun lebih banyak dari mereka yang mengatakan kalau anak-anak universitas tersebut hanya membuat malu Universitas Bima Sakti sendiri. Sebab mereka sangat yakin jika sang kapten basket akan kembali membawa kemenangan untuk sekolah mereka.


Saat mereka masih mengobrol Arsya dan para temannya berlatih sudah mengakhiri latihan nya, karena si kapten basket tidak ingin adik perempuannya menunggu terlalu lama.


"Nggak terlalu lama. Salsa juga baru datang." jawab gadis itu sambil memberikan minuman untuk kakak nya.


"Hai Princes!" sapa Farel yang baru datang ikut duduk di antara teman lainnya.


"Hai juga Kak Farel! Ini minum dulu." Salsa langsung menyodorkan satu botol minuman yang sudah di siapkan oleh pihak sekolah untuk mereka berlatih.


Bukan hanya Farel dan kakak nya saja yang Salsa berikan minuman. Tapi juga anak-anak lainnya. Kebetulan saja Farel yang datang paling belakangan.


"Yuk kita pulang! Takutnya mama nyariin kamu." Arsya berdiri lebih dulu agar bisa membantu adiknya berdiri.


Dari mereka kecil sampai saat ini Arsya benar-benar menjaga adiknya dengan sangat baik. Baginya Salsa sama seperti mamanya yang harus di jaga. Meskipun sang adik terkadang membuat dia jengkel, tapi Arsya tetap mengalah. Namun, yang tidak bisa dia mengalah apabila Salsa ingin pergi saat malam hari.


Bila tidak di bantu oleh Rian. Maka Salsa jarang sekali bisa keluar bila tidak bersama kakak nya.


Dalam perjalanan pulang, kedua saling bercerita apa saja kegiatan mereka saat di sekolah. Tidak ada rahasia diantara mereka berdua. Baik itu masalah sepele sekalipun.


"Kak apa besok malam sekolah kita akan berlawanan dengan anak-anak dari universitas juga?"


"Hem! Iya, kenapa?" Arsya terus melihat kedepan melihat jalanan yang sudah mulai ramai oleh kendaraan lainnya.


"Tidak ada sih, hanya Salsa takut Kakak kalah melawan mereka."


"Kamu ini lucu sekali. Setiap pertandingan, tentu akan ada kalah dan menang nya, dek. Jadi jangan khwatir seperti itu." Pemuda itu tertawa karena setiap kali dia akan bertanding, adiknya selalu takut bila dia mengalami kekalahan.


"Ya ... Salsa hanya nggak mau Kakak kalah."


"Kalah juga tidak apa-apa, masa Kakak harus menang terus. Sudah ayo turun." kata Arsya keluar lebih dulu begitu mobilnya berhenti, karena dia akan membukakan pintu mobil untuk sang adik.


"Terima kasih, Kak." ucap Salsa setelah ikut turun dari mobil. Lalu keduanya langsung berjalan masuk. Namun, baru saja mereka sampai di ruang tamu. Seorang asisten di rumah tersebut menyampaikan kalau Ayla sedang tidak ada di rumah dan baru saja pergi beberapa menit yang lalu.


Jadinya si kembar langsung saja pergi ke lantai atas menuju tempat kamar mereka masing-masing.


.


Bersambung...


.


.


.


.


Hai... Hai....!!!! Bagi yang penasaran sama kisah si kembar boleh mamfir di PERNIKAHAN SALSA


Terimakasih banyak kalian sudah mau membaca karya receh Mak author yang abal-abal seperti cucian yang menumpuk 🤧 Salam sayang buat kalian semuanya.😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘