
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Di dalam kamar hotel Rian dan Ayla sudah bersiap-siap untuk kembali menghadiri acara resepsi pernikahan Nando dan Sari. Mereka berdua datang paling belakangan karena Ayla harus menidurkan kedua buah hatinya.
Malam ini Baby Arsya dan Salsa akan tidur terpisah dari orang tuanya. Bayi kembar ini di asuh oleh sang nenek yang sengaja menginap di sana agar orang tuanya bisa ikut merayakan pernikahan sahabat mereka.
"Memangnya tidak apa-apa si kembar tidur sama mama dan bunda?" tanya Ayla sambil memasang dasi suaminya.
"Tidak! Mama sama bunda kan menginap di hotel ini juga. Bila mereka menangis kita tinggal ke sana kan? Kamu seperti tidak tahu saja seperti apa si kembar. Asal cepat ditanggapi saat mereka ingin minum susu maka tidak akan rewel." Rian mengelus muka sang istri agar tidak mengkhawatirkan kedua anak mereka.
"Iya sih seharusnya mereka tidak akan rewel susunya sengaja aku lebihkan, takut kurang untuk sampai besok pagi." Sebelum menitipkan Arsya dan Salsa. Ayla memang sudah memompa ASI nya buat stok malam ini.
"Makanya tidak usah khawatir mereka pasti akan baik-baik saja. Sudah ayo kita turun sekarang. Nanti malah acaranya sudah bubar." pria itu langsung mengandeng tangan sang istri menuju Blorum hotel.
Tiba di sana ternyata baru saja selesai acara pemotongan kue. Acara yang tersisa hanya acara khusus bagi para anak muda saja. Khususnya untuk para sahabat mereka yang masih ada di sana.
Saat pemotongan kue memang tidak menunggu kedatangan Rian dan Ayla lagi, karena itu permintaan mereka sendiri yang tidak mau orang menjadi lama menunggu gara-gara mereka yang terlambat datang.
"Wah kalian benar-benar seperti Raja dan Ratu." Ayla memuji Nando dan Sari begitu mereka tiba di atas pelaminan. "Tentu saja kakak kan memang lebih tampan dari pada suami mu." jawab Nando sambil menarik tangan Ayla kearahnya, agar Rian cemburu.
Berbeda dengan Sari wanita itu tidak pernah cemburu kalau pada Ayla. Dia tahu jika Nando hanya ingin menjahili Rian agar cemburu padanya. "Ckckck baru nikah hari ini sudah sombong, pake bilang paling ganteng. Gue dah laku dari satu setengah tahun yang lalu. Telat banget kan muji nya." sergah Rian sudah kembali menarik sang istri lalu di letakan sebelah tubuhnya. Agar Nando tidak bisa menggangu istrinya lagi.
"Sudah, sudah! Itu tamu kalian masih ada kak. Kami mau mencari tempat duduk dulu ya.' Ayo sayang kita kesana aku haus ingin minum." ucap wanita itu untuk memisahkan Rian dan Nando yang sering berdebat karena memperebutkan dia.
"Ayo!" Rian pun mengikuti kemana sang istri menarik tangannya pergi. "Kamu mau minum apa sayang? Biar ku ambilkan." tawar Rian saat mereka sudah sampai tidak jauh dari tempat minuman yang sudah disusun rapi dengan berbagai macam jenisnya.
"Aku ingin minum jus saja biar segar," jawab Ayla melihat kearah tumpukan gelas yang berisi jus jeruk.
"Hem baiklah kamu duduk di sini. Aku akan mengambilkan untuk mu." ucap Rian mendudukkan istrinya di meja yang tidak jauh dari tempat minumannya. Namun, baru saja Rian berbalik dia sudah di tabrak seseorang yang membawa makanan. Sehingga membuat jas nya menjadi kotor.
Praaaank...
Suara piring yang jatuh kelantai. Sampai semua orang-orang yang ada di sana melihat kearah Rian.
"Agh maaf, maafkan Saya Tuan Ardiaz, saya tidak sengaja!" ucap nya meminta maaf sambil membersihkan jas Rian mengunakan sapu tangannya.
"Sudah tidak apa-apa! Ini tidak sepenuhnya salah Anda." seru Rian yang sebetulnya mencurigai lelaki itu. Ya, yang menabrak Rian adalah Dapid rekan bisnisnya.
"Terimakasih Tuan. Sekali lagi saya mohon maaf!" Rian hanya mengangguk lalu melihat kearah istrinya yang terlihat duduk sembari memainkan ponsel.
Saat kejadian tadi Ayla memang tidak melihat ataupun mendengar karena pada saat itu musik sudah kembali lagi dimainkan.
Tahu sang istri masih menunggunya Rian pun tetap melanjutkan langkahnya mengambilkan minuman jus untuk Ayla. Lalu dia memanggil salah satu pelayan dan menyuruh membawa minuman itu pada istrinya. "Tolong berikan minuman ini pada istri Saya. Ini tips buat kamu. Saya akan melihat dari sini." kata Rian memberikan pelayanan perempuan itu lima lembar uang seratusan ribu.
Tentu saja hal itu membuat si pelayan merasa senang. "Terimakasih Tuan muda!" ucap pelayanan itu sebelum mengantarkan minuman itu pada pemiliknya.
Tiba di meja dekat Ayla. "Permisi Nona! Saya mengantarkan minuman ini dari Tuan muda."
"Oh iya terimakasih kalau begitu! Tapi kenapa malah kamu yang membawanya? Ke mana suami Saya?" tanya Ayla yang tidak percaya begitu saja meskipun dia menyambut baik pelayan itu.
Ayla masih ingat bagaimana suaminya pulang dalam keadaan memprihatinkan. Itu semua terjadi dari seorang pelayan hotel yang memberikan suaminya minuman berisi obat perangsang. Jadi menjadi pelajaran juga untuk dirinya.
"Tuan muda berdiri di sana Nona. Sepertinya baju Tuan terkena siram makanan. Coba Anda lihat, itu Tuan muda melihat ke arah kita." tunjuk si pelayan ke arah Rian yang masih berdiri di tempat tadi.
Sedangkan orang yang menumpah makanan itu setelah minta maaf, dia pun langsung pergi dari sana dengan terburu-buru.
Sehingga membuat curigaan Rian semakin besar. Hanya saja dia sengaja mengikuti permainan rekan bisnisnya itu. Setelah Ayla melihat ke arahnya Rian menunjuk-nunjuk pada ponsel agar sang istri melihat pesan yang sudah dikirimnya. Baru setelah itu Rian kembali lagi ke kamar mereka.
Sedangkan Ayla setelah membaca pesan yang dikirim oleh suaminya kembali lagi duduk seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Meskipun di dalam hatinya dipenuhi rasa takut karena pesan yang dikirim oleh sang suami mengatakan bahwa ada orang yang ingin menjebak mereka. Namun, Rian sendiri juga belum tahu siapa orang nya.
Berbeda dengan Tuan Heri dan Ayah Ridwan. Mereka telah menyiapkan perangkap besar begitu melihat Dapid menumpahkan makanan pada baju Rian, dengan alasan tidak sengaja.
"Huh kita lihat apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Aldi cepat kirim pesan pada Rian suruh dia berpura-pura tidak tahu apa-apa." kata Tuan Heri sambil menatap layar cctv dari ruangannya yang ada di hotel itu.
Para istrinya sibuk mengasuh sang cucu. Sedangkan kedua pria baya itu sibuk mengurus orang-orang yang berniat buruk pada keluarganya.
"Anda tidak perlu khawatir! Tuan muda sudah mengirim pesan lebih dulu. Dia tahu kalau ada seseorang yang ingin mengincar nya dan Nona. Hanya saja Tuan tidak tahu kalau sekertaris Elin juga terlibat."
Memang Elin wanita yang sangat cerdas dalam pekerjaan. Tapi kecerdasan itu malah dia sia-siakan untuk membantu orang-orang yang iri pada kesuksesan Rian.
"Untung saja kita sudah mempersiapkan keamanan dari jauh-jauh hari. Kalau tidak entah bagaimana nasip anak-anak kita." imbuh Ayah Ridwan yang ikut andil dalam misi ini.
"Iya mereka terlalu mengangap kita remeh, Rid. Sehingga mereka mencari gara-gara di tempat kita sendiri. Tidak tahu saja kalau kita sudah menyabotase telepon dan mobil mereka dari jauh-jauh hari." Tuan Heri tersenyum menyeringai tidak habis pikir dengan Dapid dan komplotannya.
"Berani sekali mereka mengusik keluarga kita. Mari kita buat perusahaan mereka yang akan hancur besok pagi." lanjut Ayah Ridwan. Mereka berdua memang sahabat sejati yang mengerti jalan pikiran sahabatnya tanpa di ucapkan dengan mulut.
"Tidak masalah. Sepertinya sangat menarik!" seru Tuan Heri sambil melihat cctv memperhatikan para anak buahnya menyingkirkan anak buah Dapid dan sekutunya.
************
Kembali ke Blorum hotel.
"Selamat malam Nona! Maaf Saya di suruh oleh tuan muda mengantar Anda kembali ke kamar." ucap salah satu orang pengawal laki-laki yang memakai seragam sama persis seperti yang dipakai oleh para anak buah Tuan Heri.
Andai Rian tidak mengirim pesan Ayla pasti akan percaya begitu saja. Jika tidak menyamar seperti itu mana mungkin juga mereka bisa masuk ke hotel itu. Meskipun sengaja dibiarkan oleh orang-orang Tuan Heri agar tidak ada yang tahu kalau mereka sendiri yang kena jebakan.
Ayla yang sudah diberitahu pun mengikuti sandiwara yang dibuat oleh kedua pengawal itu. "Benarkah? Agh sayang sekali, padahal Saya masih ingin di sini," keluhnya seperti berat untuk pergi dari sana.
"Benar sekali Nona, kata tuan ini sudah malam. sudah waktunya untuk Anda istirahat. Nona tidak perlu khawatir kami yang akan mengantar Nona kembali ke kamar." ucap salah satu pengawal itu berusaha buat meyakinkan Ayla.
"Ya baiklah! Ayo tolong antarkan Saya kembali kekamar." seru Ayla mendorong kursinya lalu mengikuti kedua pengawal itu yang katanya akan mengantarkan dia kembali ke kamar. Namun, baru saja tiba di dalam lift, kedua pengawal itu sudah membekap mulutnya menggunakan sapu tangan yang sudah diberi obat bius. Tidak sampai satu menit Ayla sudah kehilangan kesadarannya.
"Dia sudah pingsan! Cepat beritahu Tuan Dapid suruh mengawasi kita menuju kamarnya." dua orang pengawal itu dengan sigap membawa Ayla ke kamar di mana Dapid sudah menunggu mereka. Setelah sebelumnya tadi memberitahu dulu jika mereka sudah berhasil dan lagi berada di dalam lift.
Sebagian orang suruhan Dapid sibuk membantu Elin. Agar bisa menjebak Rian dengan memberikan obat perangsang melalui aroma terapi yang sudah di beri di dalam kamar tempat Ayla dan Rian istrirahat dari siang.
Jika bukan karena permainan Tuan Heri dan Ayah Ridwan beserta pengikutnya. Mana mungkin ada yang bisa menginjakkan kaki di lantai paling atas.
Tok...
Tok...
Ceklek...
Pintu kamar hotelnya langsung di buka oleh Dapid. "Cepat bawa masuk!" titahnya pada dua orang pengawal itu.
Setelah membaringkan Ayla di atas ranjang yang sudah di hiasi kelopak bunga mawar merah. Bak seperti kamar pengantin. Dua orang pengawal itu langsung pergi dari sana. Tinggal lah Dapid dan Ayla saja dalam kamar itu.
"Ha... ha... ha! Malam ini kalian akan hancur Tuan Ardiaz. Apakah besok pagi perusahaan Erlangga dan perusahaan Ridwan masih ada tempat di kota B. Aku rasa tidak! Setelah aku menodai istrimu." lelaki yang berumur tiga tahun lebih tua dari Rian itu tertawa terbahak-bahak karena merasa sudah berhasil.
"Putri Mikhayla Ridwan! Nama yang sangat cantik sama seperti orangnya. Aku sudah tidak sabar ingin melihat mu merintih nikmat dibawah kungkungan ku." ucap nya memperhatikan tubuh Ayla dari atas sampai bawah.
Dengan pandangan lapar, apalagi ketika matanya melihat kearah gunung kembar Ayla yang terlihat sangat besar karena wanita itu sedang menyusui dua orang bayi.
Tidak lama setelah itu Ayla sadar dari pingsannya. "Auh dimana aku?" wanita itu bertanya pada dirinya sendiri sambil memegang kepalanya yang terasa pusing, karena Ayla memang belum ingat kalu dia sudah di bius saat berada di dalam lift.
"Kamu sudah bangun tuan Putri! Kebetulan sekali aku sudah tidak tahan ingin bercinta dengan mu." kata Dapid berjalan mendekati Ayla yang langsung mundur melihat pria lain bersamanya dalam satu kamar.
"Siapa kamu? Kenapa membawa ku kemari?" meskipun tadi sudah di beritahu oleh sang suami untuk mengikuti jebakan yang di buat oleh musuhnya.
"Jangan takut cantik, malam ini kita akan bersenang-senang." lelaki itu menyalakan lilin yang mengandung obat perangsang nya.
"Brengsek! Aku tidak sudi bersenang-senang dengan mu," maki Ayla tidak tahu kalau lilin yang di hidupkan mengandung obat perangsang.
"Ha... ha... kita lihat saja sebentar lagi. Kamu sendiri yang akan memohon padaku agar memuaskan hasrat mu. Aku ingin lihat apa yang bisa ayah dan mertuamu lakukan setelah aku menodai mu." Dapid semakin tertawa penuh kemenangan.
"Ayah dan mertuaku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Apalagi suamiku, dia tidak akan pernah membiarkan orang mengangu istrinya." sergah Ayla percaya diri bahwa Rian pasti akan datang sama seperti saat dia diculik.
"Mari kita buktikan. Aku akan kekamar mandi untuk menyegarkan diriku agar bisa menyeimbangi permainan mu nanti." lelaki itu berlalu kekamar mandi karena tidak mau ikut menghirup aroma lilin yang sudah mulai tercium oleh nya.
Benar saja tidak sampai sepuluh menit setelah kepergiannya. Ayla sudah mulai merasa gerah dan tubuhnya mulai terasa ada yang mengelitik dengan manja. Sehingga tanpa dia sadari Ayla mulai melucuti pakaian bagian atas.
Dia mulai menurunkan resleting yang kebetulan terletak di bagian depan dadanya. "Ah kenapa menjadi panas seperti ini. Bukankah Ac nya sudah di nyalakan."
"Aaaghkk! Kenapa dengan tubuh ku? Apa jangan-jangan aku sudah di beri obat perangsang seperti Rian saat itu?" gumam Ayla yang belum hilang kendali sepenuhnya.
Lalu Ayla mulai melepaskan keseluruhan gaun yang di pakainya, yang tersisa hanyalah pakaian dalamnya saja. Dengan perlahan tapi pasti wanita itu mulai tidak ingat kalau Dapid masih berada di dalam kamar mandi. Dia sudah lupa bahwa sekarang dia sedang bersama laki-laki lain di kamar itu.