
πππππ
.
.
Setelah mengantarkan Ayla kerumah mertuanya. Rian pun langsung berputar arah, keperusahaan Erlangga group.
Didalam perjalanan, tepatnya di lampu merah. Rian tidak sengaja melihat Bela bersama seorang pria yang Rian kenal. Karna mereka juga satu kampus.
Terlihat mereka sedang tertawa bersama dan terlihat jika mereka berdua begitu akrab. Tapi setahu Rian, bila berada di kampus. Mereka seperti tidak saling mengenal.
Kenapa ini seperti cerita dia dan Ayla saja. Pikir Rian merasa aneh. Bukannya Rian tidak ingin mengikuti mobil Bela dan lelaki itu. Tapi mobil mereka berlawanan arah.
Jadilah Rian kembali lagi ke niat awalnya, yang ingin keperusahaan menemui sekertaris Aldi. Yang memang sudah menunggu disana.
Dua puluh menit perjalanan, Rian sudah tiba di loby perusahaan. Yang disana sudah ada pengawal menunggu dan menyimpan mobilnya ke tempat parkiran khusus bagi orang-orang penting.
Rian tidak banyak bicara dan langsung masuk kedalam lift menuju tempat kantor nya berada.
Tiing..
Rian buru-buru keluar setelah pintu lift terbuka.
Kreeeek...
Rian membuka pintu ruangannya. Yang ternyata Aldi sudah duduk di sofa beserta laftop yang sedang menyala di hadapannya.
"Tuan muda sudah datang!" sapa Aldi lebih dulu.
"Heeem." Rian yang hanya berdehem seperti biasanya.
"Jadi apa kalian sudah menemukannya? tanya Rian tanpa basa-basi lagi.
"Sudah tuan. Mereka adalah orang-orang suruhan dari tuan Anton, direktur perusahaan Barclay." jawab Aldi menyakinkan.
"Apa,? kenapa mereka melakukannya! Kita tidak memiliki masalah dengan Barclay groub kan? ini sulit untuk dipercaya." seru Rian yang ikut duduk di hadapan Aldi.
"Iya, kita tidak memiliki masalah pribadi dengan mereka. Tapi menurut analisa saya, mereka pasti berniat menjebak anda dengan Nona Bela. Agar dia bisa menarik sahamnya di Sanjaya group."
Ucap Aldi santai, karena bagi Aldi, ini bukan masalah yang serius seperti yang Rian pikirkan.
"Ternyata dia sungguh licik sekali. Tapi kenapa tuan Sanjaya mau bekerja sama dengan orang seperti itu?" tanya Rian yang merasa jika calon mertuanya itu begitu bodoh.
"Entahlah, jika itu saya juga tidak tau tuan muda. Tapi sekarang apa yang harus kita lakukan kepada perusahaan asing itu? bukan kah perusahaan Erlangga juga sudah bekerja sama dengan perusahaan Barclay." Aldi mencoba mengingatkan Rian.
"Oh astaga! aku hampir melupakannya. Kamu cari tahu, siapa saja orang yang menempatkan saham nya di perusahaan Barclay. Kita beli saham mereka 2x lipat, agar kita bisa menguasai Barclay sepenuhnya."
"Karena mereka sudah berani bermain licik dengan kita." Rian berkata dengan sorot mata yang bisa membuat siapa saja merasa gemetar ditempat karena takut.
"Apa papa sudah tau semuanya?" tanya Rian memastikan, karena tidak mungkin jika papa nya tidak tau apa yang terjadi.
"Sudah tuan muda, tuan Heri sudah mengetahui. Sebelum saya memberitahu nya."
"Ya sudah kalau papa sudah tau. Kita tidak perlu menjelaskan nya lagi kalau begitu." seru Rian.
"Al, apa sahabat istriku yang sering bertemu dengan nya itu, adalah Vino Anderson?"
"Iya tuan, memangnya kenapa dengan tuan Vino?" Aldi yang kembali bertanya.
"Tidak ada, tapi apakah mereka berdua hanya bersahabat saja! Kenapa sepertinya dia begitu akrab dengan istriku." ucap Rian merasa jengkel bila mengingat komentar Vino pada postingan Ayla.
"Setahu saya, setelah menyelidiki semua sahabat Nona Ayla, tuan Vino sangat mencintai istri anda tuan. Dan saya harap, tuan bisa memberikan do'a terbaik untuk Nona Ayla dan tuan Vino." Peringat Aldi yang sudah menjelma menjadi kompor.
"Apa maksudmu! aku mendoakan hubungan mereka. Berani sekali kamu berbicara seperti itu padaku." marah Rian yang ingin melempar Aldi dengan dokumen di depannya.
βSedangkan Aldi bukannya takut mendapatkan ancaman itu, namun malah tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah, selesaikan saja pekerjaan mu. Karna aku akan ke Apartemen Andre dulu, sebelum menjemput istriku." pamit Rian yang sudah pergi lagi.
"Sejak kapan tuan muda memangil Nona istriku! apakah obat yang dia minum kemaren malam, juga sudah berhasil membuat otaknya bermasalah?" Aldi berbicara sendiri, sebelum handphone milik nya berbunyi.
π² Aldi : "iya, saya sudah menjalankan semuanya seperti rencana yang sudah kita buat."
π² Aldi : "Anda tidak perlu khawatir, kita akan membuat perusahaan mereka rata menjadi tanah. Baiklah, saya mengerti." Aldi mematikan handphone dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
******************
Ayla sedang berada dikamar nya.
Tok...Tok....
"Nak ini Bunda! apa Bunda boleh masuk?" panggil Bunda dari luar kamar.
"Iya Bun, masuk saja, pintunya tidak Ay kunci."
CEK..LEK...
Pintunya Bunda buka dengan perlahan. Lalu bunda pun menghampiri anaknya yang sedang duduk di sofa yang berada di dekat jendela kaca yang besar.
"Bunda! Ay kangen sama kalian semua." seru Ayla yang sudah dipeluk Bundanya yang berdiri di atas nya, karena Ayla masih duduk diatas sofa.
Tadi ketika Ayla datang, memang Bundanya sedang tidak ada dirumah. Karna Ayla memang tidak memberitahukan lebih dulu jika mereka akan kerumah orang tuanya.
"Bunda juga kangen kepadamu Nak! ada masalah apa? Heeem! coba ceritakan sama Bunda." tanya Bunda yang tahu jika putrinya memiliki masalah.
"Tidak ada Bun, Ayla baik-baik saja! apa Ayah dan paro juga sudah pulang?" tanya Ayla mengalihkan pertanyaan Bundanya.
"Sudah, Ayah dan adik mu sedang istirahat dulu. Kemana suamimu? apa kamu kesini sendiri!"
"Rian sedang keperusahaan dulu Bun, menemui sekertaris Aldi. Karena ada yang harus mereka selesaikan." jawab Ayla apa adanya.
Hanya saja Ayla tidak mengatakan jika Rian dan Aldi sedang mengurus masalah orang yang dengan sengaja memberi nya obat perangsang.
"Kalau begitu telpon lah dia. Suruh dia kembali sebelum makan malam. Bunda kekamar bunda dulu ya, kamu juga istirahat lah. Sepertinya wajah mu pucat, apa kamu sakit?"
"Tidak Bun, Ayla baik-baik saja. Bunda juga istirahat lah, Ayla juga akan menghubungi Rian." ucap Ayla sambil berjalan mengantar Bundanya kedepan pintu kamar.
Dan setelah menutup pintu kamar, Ayla kembali duduk disisi ranjang.
Lalu mengambil handphone untuk menanyakan Rian.
Calling..
π² Si π imut : "Halo Ri..! kamu dimana? apa sudah selesai?" tanya Ayla beruntun.
π² Rian : "Aku sedang di Apartemen Andre, ada apa? apa kamu perlu sesuatu!" jawab Rian di hadapan kedua sahabatnya.
Ya, Rian memang sedang berada di Apartemen Andre, karena tadi Andre sudah mengirim pesan kepadanya.
Padahal Andre sendiri baru tiba dari luar kota menemani Papa nya.
Ternyata tiba di sana Rian langsung di interogasi oleh sahabat nya itu. Karna Andre memang sudah tahu dari Nando. Jika Rian sudah menikah dengan Ayla.
π² Si π imut : " Tidak, hanya Bunda meminta mu pulang sebelum makan malam! apa kamu bisa?"
π² Rian : " Iya baiklah, aku akan pulang sebentar lagi." Rian menggakhiri panggilan nya.
"Lo kenapa menyakiti cewek sebaik Ayla Ri,! lo udah berdosa tau gak. lagian apa kurangnya Ayla, gue bener-bener heran sama lo." Kesal Andre yang terus saja mengoceh memarahi Rian.
Sementara Nando hanya diam saja. Karena dia sedang menahan agar dia tidak memberikan sahabatnya itu Bogeman mentah. Yang sudah menyakiti wanita sebaik Ayla.
"Tapi perasaan gak bisa di paksa Ndre. Kalian boleh nyalahin gue, karna kalian gak tau rasanya jadi gue. Gue juga gak mau menyakiti Ayla, tapi gue hanya cinta nya sama Bela. Gue gak punya pilihan." ucap Rian menguyar rambutnya kebelakang.
"Jika lo sampai menyia-nyiakan Ayla dan lebih memilih kekasih lo, maka jangan pernah nyalahin gue. Bila gue merebut Ayla dari lo." Nando yang terdiam dari tadi, akhirnya berbicara juga.
Mendengar perkataan Nando, Rian langsung menoleh dan memberikan tatapan mematikan.
"Sudah kalian berdua kenapa jadi seperti anak kecil. Makanya gue ngajak kalian bertemu disini, karna gue gak mau persahabatan kita hancur." imbuh Andre yang tumben berkata benar.
"Ri, sekarang lo pulang aja dulu. Bukannya mertua lo, nyuruh pulang! besok kita bicarakan lagi masalah ini. Dan gue harap lo ngambil keputusan yang gak akan membuat lo menyesal di kemudian hari." lanjut Andre lagi.
Dan Rian pun setuju, lalu berpamitan kepada kedua sahabatnya itu.
.
.
.
BERSAMBUNG.....