
🍁🍁🍁🍁🍁
.
.
Plaaak.......
Suara tangan Rian yang sudah melayang ke pipi Ayla.
"Ayla! aku baik kepadamu selama ini, karna aku merasa bersalah kepadamu. Karna aku sudah merenggut kesucianmu. Tapi bukan berarti aku mencintaimu." Rian yang berbicara seperti tidak merasa bersalah.
Deg.....
Mendengar ucapan Rian, dunia Ayla bagaikan gelap seketika. Sakit tapi tak berdarah itu ternyata benar Ayla rasakan sekarang.
Belum juga Ayla menjawab, nyatanya Rian sudah kembali berbicara.
"Jangan kamu kira karna kejadian waktu itu. Aku akan mencintaimu begitu saja, karna sampai kapanpun, itu tidak akan pernah terjadi. Aku hanya menganggap mu sebagai sahabatku Ayla, tidak lebih. Sebab wanita yang aku cintai hanyalah Bela. Kamu paham kan perkataan ku!" ucap Rian sebelum pergi meninggalkan Ayla di tepi meja makan.
Tempat tadi dia menampar Ayla. Namun ketika Rian baru berjalan beberapa langkah, Ayla kembali memanggil namanya.
Sehingga Rian menghentikan langkahnya. Dan mendengar kan, apa yang ingin Ayla ucapkan.
"Rian..! jika memang kamu hanya mengagap aku sahabatmu saja. Maka mulai saat ini, aku akan menjaga jarak denganmu. Aku tidak akan mengusik mu lagi. Aku akan berusaha untuk menguburkan perasaan ku yang memang sudah salah dari awal." kata Ayla yang berusaha untuk tidak meneteskan air matanya di hadapan Rian.
Tapi Rian tidak bicara sepatah katapun dan langsung pergi membawa mobilnya.
Setelah Rian pergi, air mata yang sudah Ayla tahan dari tadi, akhirnya lolos juga melewati pipinya yang sekarang terlihat lebih berisi dari sebelumnya.
"Ayla, kamu harus kuat! sekarang kamu harus bisa menatap hidupmu sendiri. Karna cepat atau lambat, perceraian ini tetap akan terjadi. Dan sekarang kamu tidak sendiri lagi. Ada anakmu yang membutuhkan kamu sebagai ayah dan ibunya." ucap Ayla sendiri untuk menguatkan dirinya dari rasa sakit yang sudah Rian berikan hari ini.
Bukannya tamparan dari Rian yang membuatnya sakit. Tapi hatinya lah yang sakit, bahkan sudah hancur berkeping-keping.
Ketika Ayla sudah merasa lebih baik, handphone milik nya yang dia letakkan di atas meja makan berdering. Ternyata yang menelponnya adalah Bundanya.
Untuk menanyakan putri dan menantunya sudah ada dimana. Karna Bunda Mirna, Paro dan ayahnya sudah tiba ditempat acaranya berlangsung.
Lalu Ayla beralasan jika dia akan datang terlambat. Karna Ayla hanya berangkat sendiri, sebab Rian tidak bisa ikut menghadiri acara ulang tahunnya. Karna Rian ada urusan di perusahaan yang mendadak.
Meskipun dari suara Bundanya terdengar kecewa kepada menantunya itu. Tapi Ayla berusaha untuk menyakinkan Bunda Mirna sebelum menutup telponnya.
Jadilah Ayla berangkat dengan mobilnya sendiri, karna Rian entah pergi kemana. Yang Ayla sendiri juga tidak tau.
Setelah menempuh perjalanan tiga puluh dua menit. Mobil mewah milik Ayla baru tiba memasuki area panti yang sudah di beri kursi tempat duduk anak-anak panti dan panggung untuk tempat Ayla memotong kuenya nanti.
Belum keluar Ayla dari dalam mobil. Ternyata mobil mewah milik Nando juga tiba di belakang mobilnya.
Sehingga Ayla buru-buru keluar untuk menyapa tamu yang dia undangan secara dadakan tadi malam. Yaitu Nando sahabatnya dan juga Rian.
"Kak Nando, kak Andre,! ternyata kalian berdua datang juga!" sapa Ayla yang tersenyum bahagia untuk menutupi luka yang sedang dia rasakan saat ini.
"Pertanyaan seperti apa ini. Tentu saja kakak akan datang di acara bahagiamu. Karna tidak ada yang lebih penting dari hari ini." jawab Nando sambil menarik hidung Ayla yang mancung.
Deg.....
Ucapan dari Nando, kembali lagi menyadarkan Ayla, jika dia memang bukan siapa-siapa buat Rian.
"Eh malah bengong! Rian mana Ay?" suara dari Andre membuat Ayla sadar dari lamunannya.
"Rian?" ucap Ayla mengulangi pertanyaan Andre padanya.
"Iya Rian mana? apa kalian tidak datang satu mobil?" tanya Andre kembali.
"Tidak, eh maksudku. Rian dia tidak akan datang, karna tadi sekertaris Aldi menelponnya dan menyuruh Rian datang keperusahaan. Sebab ada masalah yang tidak bisa dia selesaikan." ucap Ayla berbohong untuk menutupi masalah rumah tangganya.
Meskipun Andre dikenal sebagai playboy dan banyak bicara. Tapi Andre adalah orang yang sangat menghormati perempuan.
"Hei sudahlah! kita kesini buat merayakan ulang tahun Ayla. Bukan untuk mendengar kamu membicarakan Rian." kata Nando menyenggol lengan sahabatnya itu.
"Tapi Rian tidak akan bangkrut walaupun dia kehilangan tiga puluh tander besar Ndo..! kenapa hanya masalah perusahaan dia sampai tidak datang di acara penting istrinya." oceh Andre lagi, yang jika ngomong memang suka bener.
Sebelum Ayla bicara mengajak Andre dan Nando masuk. Bunda Mirna sudah lebih dulu datang menghampiri mereka di parkiran.
"Lo..! kenapa kalian tidak masuk? dan kenapa malah mengobrol disini, seperti didalam tidak ada tempat saja." ucap Bunda Mirna.
"Iya Bun, ini kami juga baru datang." jawab Ayla yang langsung memeluk Bundanya.
Setelah melepaskan rindunya terhadap sang Bunda. Ayla pun memperkenalkan Nando dan Andre kepada Bundanya.
"Bunda, kenalkan ini kak Nando dan kak Andre. sahabat Ayla dan juga sahabat Rian di kampus." Ayla yang berbicara sebelum Nando dan Andre memperkenalkan diri mereka.
"Hai Tante..! kenalin saya Andre dan ini sahabat saya Nando." ucap Andre yang lebih dulu menyalimi tangan Bunda Mirna.
Lalu bergantian dengan Nando, dia juga melakukan hal yang sama seperti Andre lakukan tadi.
"Terimakasih kalian sudah mau datang! karna kalian adalah teman Ayla dan nak Rian. Jadi jangan panggil Tante ya, pangil saja Bunda seperti nak Rian." ucap Bunda Mirna dengan tulus.
"Kami juga berterimakasih kapada Tan, eh maksud saya Bunda. Karna sudah mau menerima kehadiran kami berdua. Dan pantas saja Ayla cantik dan selalu bertutur kata dengan lemah lembut. Ternyata itu semua menurun dari Bunda." puji Andre seperti biasanya yang selalu berbicara benar.
"Kamu bisa saja nak,! sudah ayo masuk. Tidak baik terlalu lama berdiri disini." Bunda Mirna pun berjalan beriringan dengan merangkul bahu Ayla.
Akhirnya Nando dan Andre juga mengikuti Bunda Mirna dan Ayla dari belakang. Setibanya mereka di dalam, ternyata semuanya sudah berkumpul hanya menunggu si pemilik acaranya datang saja.
Ternyata disana juga sudah ada Vino dan Sari yang juga sudah ikut duduk bersama para pengurus dan anak-anak panti.
Melihat Ayla, Vino dan Sari langsung berdiri, lalu mereka memeluk Ayla secara bergantian.
Dan Ayla juga melakukan hal yang sama kepada Vino dan Sari. Yaitu memperkenalkan mereka kepada Andre dan Nando juga. Setelah Ayla menyapa adik dan sang ayah juga. Barulah mereka duduk ketempat masing-masing.
Taklama setelah itu, acara demi acara pun diselenggarakan. begitupun dengan Ayla yang memotong kue ulang tahunnya. Lalu acara yang terakhir adalah memberikan anak-anak panti bingkisan.
Jadi anak-anak panti berbaris rapi menunggu giliran mereka yang akan menerima hadiah itu langsung dari tangan Ayla satu persatu.
Untuk meminta do'a dari anak-anak itu. Agar yang berulang tahun mendapatkan kesehatan, umur panjang dan juga kebahagian.
"Terimakasih kakak." ucap salah satu anak-anak itu secara bergiliran.
"Terimakasih kakak, semoga kakak cantik selalu bahagia ya!" Do'a mereka lagi.
"Terimakasih kakak Ayla yang cantik, semoga kakak selalu diberikan kesehatan, umur panjang dan kesehatan pada anak-anak kakak nanti ya!" ucapnya mendo'akan Ayla dan anaknya.
Sehingga sontak saja Ayla langsung memegang perutnya yang masih rata. Dan mengucapkan terimakasih kembali.
"Mereka semua tidak memiliki sanak saudara hidup disini, anak-anak ini,! makanpun harus bergantung pada pengelola panti, mereka lebih menderita lagi tidak memiliki orang tua. Padahal mereka masih kecil-kecil, masih membutuhkan orang tuanya. Ternyata anak aku, jauh lebih beruntung dibandingkan mereka semua. Dia hanya tidak memiliki papanya saja. Tapi dia masih memiliki aku, dan kakek neneknya juga." Ayla berbicara dengan hatinya sendiri.
"Nak, ada apa sayang?" pertanyaan dari Bundanya membuat Ayla tersadar dari lamunannya.
"Agh..! tidak ada Bunda. maaf Ayla melamun." sesal Ayla sambil melihat para anak-anak panti yang sudah sibuk menunggu giliran mereka.
"Tidak apa-apa! sebaiknya kamu duduk saja ya! biar Bunda dan para sahabatmu yang memberikan kepada mereka. Bunda lihat, wajahmu pucat sekali sayang!" ucap Bunda Mirna seraya mengelus pipi putrinya.
Akhirnya Ayla pun menyetujuinya, lalu dia kembali duduk ketempat nya tadi. Dan memperhatikan anak-anak panti itu satu per satu, yang berjalan mengambil hadiah mereka.
"Sayang, kita bisa hidup tanpa papamu Nak..! kamu tidak sendiri, ada mama yang akan menjaga mu! maaf kan mama ya! karna terpaksa melakukan semua ini." tak terasa Ayla meneteskan air matanya, sambil kembali mengelus perutnya dengan sayang.
BERSAMBUNG.......