
πΏπΏπΏπΏπΏ
.
.
"Ay, tolong temani Mama dulu ya! aku akan menemui Papa, nanti, setelah itu baru kita pulang." ucap Rian sambil mengelus bahu Ayla, Ayla yang sedikit mengerti keadaan hanya mengangguk, karena dia tau, pasti ada hubungannya dengan mereka berdua.
Lalu Rian pun langsung pergi menemui papa Heri diruang kerja papa nya. Meskipun rasanya Rian tidak ingin menemui sang papa, tapi Rian tidak memiliki pilihan lain lagi. karena Rian yakin, pasti ada hubungan dengan pernikahannya.
Tok...Tok....!
"Masuk." titah Papa Heri dari dalam.
Ceklek..... Rian memutar kenop pintu dengan perasaan tak menentu, karena Rian sangat menghormati Papa nya. jadi Rian takut, jika mereka akan bertengkar, apalagi Papa Heri belum pernah seserius ini sebelum nya.
Begitu melihat Rian sudah masuk, Papa Heri langsung menyuruh nya untuk duduk di sofa. sedangkan Papa Heri sendiri, masih duduk di kursi kerjanya, lalu beliau pun berjalan sambil melemparkan sebuah amplop ke meja yang ada dihadapan Rian.
"Amplop apa ini pa?" tanya Rian belum mengerti.
"Buka saja, nanti kamu akan tau sendiri."
Dengan hati ragu, Rian langsung membuka amplop itu dengan perlahan. begitu terbuka, Rian sempat kaget melihat isi didalamnya.
"Bisa kamu jelaskan kepada Papa! apa maksut semua ini?" tanya papa penuh selidik, meskipun beliau sudah tau jawabannya.
"Pa! Rian bisa jelasin, semua ini tidak seperti yang Papa pikirkan." seru Rian merasa bersalah.
"Apa yang ingin kamu jelaskan! apa kamu akan mengatakan jika kamu sudah menyuruh Aldi mengurus perceraian kalian beberapa bulan lagi? apa Papa pernah mengajarkan kamu untuk tidak menghargai wanita! sehingga kamu masih bebas berkeliaran bersama kekasih mu, padahal kamu sudah memiliki istri?" sergah Papa Heri yang sudah mulai emosi, jika mengingat kelakuan putra semata wayangnya.
"Pa...! Rian minta maaf! tapi Rian mencintai Bela, bukan Ayla." Rian berucap dengan berani, karena sekarang semuanya sudah diketahui oleh Papa nya, dan tidak ada yang bisa dia tutupi lagi.
Apa lagi di dalam amplop yang diberikan Papa nya, adalah semua Poto dirinya, ketika bersama Bela. Maka sudah bisa dipastikan jika Papa Heri sudah mengetahui semua yang terjadi.
"Jadi.., kamu tetap akan berpisah dengan Ayla, setelah satu tahun pernikahan kalian?" Papa yang kembali bertanya.
"Iya, Rian minta maaf! sudah mengecewakan Papa dan Mama!" seru Rian merasa bersalah, yang sudah membohongi orang tuanya.
"Baiklah,! jika itu keputusan mu. Maka jangan pernah kamu menyesal, dan satu lagi, kamu jangan pernah menyentuh Ayla, apalagi sampai menghamilinya. karena jika itu sampai terjadi, maka Papa tidak akan pernah mengampuni mu." setelah mengatakan itu, Papa Heri langsung keluar duluan.
Entah mengapa, mendengar ancaman dari Papa Heri, membuat Rian langsung membayangkan muka Ayla yang selalu tersenyum kepada nya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? tapi aku tidak bisa melanjutkan pernikahan kami!" ucap Rian merasa prustasi.
Lalu Rian berdiri untuk pergi menemui Ayla dan Mama nya, yang tadi, dia tinggalkan di meja makan.
Namun, ketika Rian keluar, ternyata Ayla hanya sendiri di ruang keluarga, karena Mama nya sudah kembali kekamar untuk istirahat. Rian berjalan mendekati Ayla yang sedang duduk bersandar, sambil memainkan handphone milik nya. Lalu Rian langsung mengelus kepala Ayla dengan sayang.
Membuat Ayla mendongakkan kepalanya, karena merasa ada yang mengelus kepalanya.
"Apa sudah selesai?" tanya Ayla yang merasa penasaran.
"Sudah." jawab Rian singkat, karena dia sedang merasa tidak baik-baik saja.
"Apa kita menginap disini? atau pulang?"
"Pulang,! apa Mama sudah tidur?" tanya Rian kembali bertanya, untuk memastikan jika Mama nya sudah tidur.
"Iya, Mama kan harus banyak istirahat. Tadi aku sendiri yang mengantar Mama ke kamarnya, sebelum Papa kembali."
"Baiklah, kalau begitu kita langsung pulang saja! ayo." ajak Rian yang sudah kembali mengandeng Ayla.
Setelah nya, barulah Rian memutari mobilnya, dan masuk duduk disebelah Ayla.
"Apa kamu ingin sesuatu? biar sekalian, mumpung kita masih diluar." Rian yang bertanya, untuk menghilangkan rasa sunyi diantara mereka berdua.
"Tidak, kemarin aku sudah membeli semua keperluan kita." tolak Ayla cepat, karena Ayla tau, jika Rian sedang tidak baik-baik saja, Ayla bisa melihat dari muka Rian yang terlihat sangat lelah.
"Heeem! baiklah, kalau begitu kita langsung pulang saja ya.!" ajak Rian yang sudah menambah kecepatan mobil mewahnya, karena sekarang sudah pukul setengah sepuluh malam. Jadi jalanan juga sudah mulai sepi.
Hanya dua puluh tiga menit, mobil mereka sudah tiba didepan rumah minimalis tapi mewah, kediaman mereka berdua.
Rian memarkirkan mobilnya terlebih dahulu, setelah menurunkan Ayla didepan pintu rumah mereka. Dan Ayla pun langsung membukakan kunci rumah, karena mereka hanya tinggal berdua saja, tidak memekai ART maupun Satpam.
Setelah selesai memarkirkan mobilnya, Rian pun ikut menyusul Ayla yang sudah masuk leih dulu.
Cek..lek...! Rian membuka pintu kamar mereka, tapi tidak menemukan Ayla disana.
Karena Ayla langsung masuk ke kamar mandi untuk menganti pakaian dan membersihkan wajah nya terlebih dahulu.
Lalu Rian juga langsung menganti pakaian tidur nya, karena rasanya dia benar-benar sangat letih dan mengantuk, jadi ingin cepat-cepat tidur.
Ketika Ayla keluar dari kamar mandi, Rian pun sudah lebih dulu selesai menganti pakaiannya.
"Kamu sudah ingin tidur?" Ayla bertanya karena melihat Rian sudah berganti pakaian dan sudah duduk disisi ranjang king size tempat tidur mereka.
"Iya, aku sudah mengantuk! kemarilah, temani aku tidur!" ajak Rian yang menarik Ayla kedalam pelukannya.
Tentu saja Ayla langsung mengiyakan dan tidak menolaknya.
Bahkan Ayla malah tidur lebih dulu dari pada Rian, karena rasa nyaman dalam pelukan lelaki yang dicintainya, apa lagi tangan Rian sengaja mengelus kepalanya dengan pelan, sehingga tidak membutuhkan waktu lama, Ayla sudah terbuai ke alam mimpi.
"Kenapa kamu yang lebih dulu tidur, curang sekali! padahal aku yang ingin kamu temani agar bisa tidur." seru Rian sambil menaikkan selimut ditubuh Ayla.
Rian pun malah memandangi wajah Ayla yang berada di pelukannya.
"Kenapa aku baru sadar, kalau kamu itu cantik Ay! kamu juga gadis yang sangat baik, tapi sayangnya aku tidak mencintaimu! setelah kita bercerai nanti, aku pasti akan merindukan dirimu, maaf kan aku! yang tidak bisa memberikan hati ku untuk mu."
Rian berucap sambil mengeratkan pelukannya, entah kenapa, mendengar kata perpisahan yang dia ucapkan sendiri malah membuat hati nya menjadi sakit.
π
π
π
π
terimakasih atas dukungannya ππ
mohon maaf, jika masih banyak kata-kata yang salah.
jangan lupa untuk selalu memberikan.
like
komen
dan jika berkenan, sama hadiahnya π€ππ