
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Di dalam kamar mandi, Ayla sedang membersihkan dirinya. Sedangkan Rian sudah keluar lebih dulu. Sebab Ayla sudah selesai membantu mengelap tubuhnya.
Jika saja Rian tidak sedang sakit, dan ada Bunda Mirna juga di luar kamar itu. Sudah bisa di pastikan, Rian akan sarapan Ayla pagi ini. Ketika mereka masih bersama dulu, Rian selalu menahan rasa ingin menikmati bibir ranum istrinya itu.
Dia menahanya karena menjaga persahabatan diantara mereka. Yang akhirnya istrinya itu, lebih dulu mengakui perasaannya terhadap Rian.
Jadi ketika sudah seperti sekarang, tentu saja Rian tidak akan melewatkan nya begitu saja. Seperti tadi, mereka berciuman sampai beberapa menit lamanya.
Rian melepaskan pangutan itu karena Ayla mendorong nya, dan mengatakan jika Bunda Mirna menunggu mereka di luar. Jadi mau tidak mau Rian harus mengakhiri percumbuan mereka.
Setelah keluar dari kamar mandi, Rian sudah tampil seperti anak muda yang ingin pergi berkencan.
Bagaimana tidak, dia hanya memakai baju kemeja berwarna Dongker yang berlengan pendek, lalu di padukan dengan celana jeans panjang.
"Selamat pagi Bunda!" Rian menyalimi tangan mertua perempuannya yang sedang duduk memegang ponsel karena dia baru saja memberitahu besanya, jika Rian sudah melepaskan infus di tangannya.
"Pagi juga Nak! kamu sudah selesai! kenapa tidak menunggu dokter Jeklin memeriksa mu lebih dulu? kamu membuat Bunda khawatir saja. Baru juga tiga hari di rawat, infusnya sudah kamu lepas." kata Bunda Mirna yang mengomel panjang kali lebar.
"Iya, maaf Bun! Rian tidak betah lama-lama di infus. O'ya apa ayah tidak kesini?" Rian bertanya setelah melihat mertua lelakinya tidak ada.
"Ayah masih kekantor dulu pagi ini, nanti siang, jika sudah selesai rapatnya, dia akan menyusul kesini. Bunda kesininya di antar sama Pak Ilham!" terang bunda Mirna, setelah mengatakan itu, beliau berjalan kearah ranjang untuk mengambil dua buah bantal tidur dan dibawanya ke arah sofa.
"Berdiri dulu, biar bunda taruh bantal ini di belakang punggung mu! kamu ini belum sembuh nak, jika kamu duduk terlalu lama seperti ini, tidak bagus pada jaitan luka nya nanti." ucap Bunda Mirna menyusun bantal di atas sofa yang Rian duduki tadi. Agar menantunya itu bisa bersandar di atas bantal-bantal yang sudah dia susun menjadi tumpukan kecil.
"Ini, sudah! duduklah agak menyender mengikuti bantal yang sudah bunda susun." kata Bunda Mirna yang sudah kembali duduk di atas sofa yang satunya lagi.
"Terimakasih bunda!" jawab Rian singkat, lalu dia mengikuti instruksi dari mertuanya tadi.
"Bunda benar! ternyata duduk seperti ini lebih enak." ucap Rian yang merasakan nyaman setelah duduk seperti itu.
Bunda Mirna yang mendengar pun hanya tersenyum kecil. Lalu tidak lama setelah itu, terdengar ada yang mengetuk pintunya dari luar. Sehingga Bunda Mirna dan Rian sama-sama menoleh kearahnya.
Tok...
Tok....
"Siapa? apa Mama mu sudah datang! cepat sekali! katanya tadi mau siang kesininya?" tanya Bunda Mirna pada Rian.
"Entahlah, bun! Rian rasa itu Aldi." jawab Rian yang memang sudah menduganya karena tadi dia hanya memberi Aldi waktu lima belas menit, untuk membawakan bubur yang di inginkan oleh Sang istri.
"Apa itu, Al?" tanya Bunda Mirna melihat tiga buah sangkik asoi yang di bawa oleh Aldi.
"Ini bubur pesanan Nona Ayla, Nyonya," jawab Aldi meletakkan bubur itu di atas meja yang Rian dan Bunda Mirna tempati.
"Ayla, ingin makan bubur? kenapa tadi tidak bilang dulu sama bunda? biar bunda bikin kan dari rumah!" Bunda Mirna melirik kearah Rian yang hanya diam saja.
"Tadi dia bilang nya ketika sedang di dalam kamar mandi, saat Ay, membantu Rian bun! katanya sangat ingin memakan bubur yang di jual arah kerumah kami." Rian menjawab karena tau jika ibu mertuanya sedang bertanya padanya.
"Dia itu memang lucu sekali, entah itu bawaan dari anak kalian atau memang karena dia tidak mau menyusahkan orang lain. Setiap di tanya ingin makan apa, Ayla selalu mengatakan jika dia tidak ingin makan apapun. Tapi ketika pertama kali kamu menemukan tempatnya di bawa oleh papa mu, dia punya banyak sekali keinginannya." Bunda Mirna tersenyum bahagia saat mengatakan itu.
Begitupun dengan Rian, mendengar cerita mertuanya, ada rasa bahagia dan bersalah bersamaan.
Dan Rian simpulkan juga, pasti istrinya itu tidak pernah mengeluh kepada siapapun tentang dia yang tidak bisa tidur karena pinggang nya yang sering terasa panas. Sebab jangankan mengeluh sakit, mengatakan ingin sesuatu saja istrinya tidak mau.
"Maafkan aku sayang! pasti selama ini, kamu menahan semuanya sendiri, jangankan mengatakan jika kamu susah tidur ataupun sakit. Mengatakan ingin makan apa saja kamu tidak mau, di tambah lagi kamu harus menanggung sakit hati kerena perbuatan ku. Ya Tuhan! ampuni dosaku! yang sudah menyakiti hati istri dan kedua anak ku!"
Ucap Rian di dalam hatinya, dan Rian sudah hampir meneteskan air mata, ketika mendengar pintu kamar mandinya terbuka.
Ceklek...
Ayla sudah keluar dengan memakai dres yang panjangnya sampai selutut. Dan dress itupun dipesan khusus oleh bunda dan mama mertuanya untuk wanita hamil. Agar Ayla merasa nyaman saat memakainya.
"Sayang kamu sudah selesai?" Rian bangkit dari duduknya lalu langsung berjalan dengan pelan menghampiri istrinya.
"Sayang, tolong maafkan semua kesalahanku!" ucap Rian setelah memeluk tubuh Ayla dan mencium berkali-kali pucuk kepalanya.
"Aku sudah memaafkan kamu sayang! kamu kenapa? lihatlah bunda dan sekertaris Aldi melihat kita." Ayla merasa bingung melihat Rian seperti itu.
Padahal saat Rian keluar tadi baik-baik saja. Tapi sekarang malah memeluknya dengan tiba-tiba, dan kembali lagi mengucapkan kata maaf.
"Maaf, karena aku tidak ada disaat kamu dan anak kita menginginkan sesuatu." Rian melepaskan pelukannya, lalu dia menunduk agar bisa sejejer dengan perut Ayla. Dan diapun berucap.
"Anak-anak papa, sekarang ayo kalian katakan, kalian ingin mama makan apa? biar papa wujudkan untuk kalian! mulai sekarang, papa tidak akan membiarkan mama kalian menahanya sendiri lagi. Hari ini juga, kita akan pulang kerumah Oma Sonya! agar papa bisa memasak Nasi goreng yang belum sempat papa wujudkan waktu itu."
Cup....
Rian mencium perut buncit Ayla dan juga mengelus nya. Rian tidak peduli dengan kehadiran ibu mertuanya dan Aldi di sana.
Bunda Mirna dan Aldi hanya tersenyum melihat perlakuan manis yang Rian tunjukkan untuk istrinya. Namun berbeda dengan orang yang sedang berdiri di depan pintu masuk.
Dia sudah berdiri disana di saat Rian baru memeluk Ayla karena mereka semua hanya pokus memperhatikan Rian, sampai-sampai tidak sadar jika pintunya diketuk dari luar.
BRRSAMBUNG.....🤗