Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Jalan-jalan.


🍁🍁🍁🍁🍁


.


.


Merasa dia di abaikan. Bela pergi begitu saja, karna jika tidak ada Rian dia mana berani menghadapi Nando. Jika sama Andre, dia sudah biasa bertengkar. Namun kalau sama Nando meskipun jarang berbicara, tapi sekali dia berbicara, maka akan sangat menyakitkan.


Jadinya Bela memilih tidak berurusan dengan mereka semua. Meskipun sebetulnya dia ingin sekali mengajak Ayla bertengkar.


Melihat Bela sudah pergi. Andre langsung menanyai Ayla.


"Apa kamu baik-baik saja Ay! tu cabe-cabean pengen banget rasanya gue kasih cabe lagi." ujar Andre yang sudah menghabiskan bakso nya.


"Aku tidak apa-apa kak, lagian Bela kan hanya menanyakan Rian. Itupun dia bertanya sama kakak. bukan padaku." jawab Ayla biasa saja.


"Sudah ayo kita pergi dari sini." ajak Nando berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Ayla. Yang langsung disambut baik juga oleh Ayla.


"Yaelah lo Nan, mentang-mentang mau mencalon jadi bapak si kembar gue tim sukses udah dilupain sebelum pemilihan." canda Andre asal-asalan.


Sehingga membuat Nando langsung mendelik kearah Andre. Karna dia takut jika Ayla salah paham padanya. Meskipun Nando mencintai Ayla, tapi dia tidak mau mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Dan untungnya lagi, disekitar mereka sudah tidak ada orang lain lagi. Jika sempat siswa ataupun siswi yang mendengar nya. Bisa-bisa kehamilan Ayla akan terbongkar.


"Ay, tolong jangan salah paham. Nih anak emang suka ngadi-ngadi." ucap Nando yang ingin menimpuk Andre dengan buku milik Ayla.


"Eh eh, gue bantuin lo Nan, main timpuk aja. gak tau apa ini kepala di bayar tiap tahun sama bokap gue." seru Andre berdiri dan bersembunyi di belakang tubuh Ayla.


Sehingga bukannya marah, tapi Ayla malah tertawa melihat pertengkaran mereka berdua. Karna Ayla juga tahu jika Andre sedang bercanda.


"Sudah kak jangan memukulnya lagi. Aku juga tahu, jika kak Andre hanya bercanda." Ayla melerai mereka berdua dan juga menarik tangan Nando untuk pergi dari sana.


Melihat Ayla bisa tersenyum seperti sekarang, Nando pun ikut senang melihatnya. Dan akhirnya mereka bertiga berjalan bersama dengan di selingi obrolan disepanjang jalan menuju ke kelas Ayla.


"Masuk lah, jika nanti kamu yang duluan keluar, tunggu saja kakak di mobil ya." pamit Nando setelah mengantar Ayla.


Dan Ayla juga langsung masuk menunggu Dosen nya datang, untuk menerangkan pelajaran mereka yang terakhir.


**************


Sore harinya di perusahaan Erlangga group.


Rian menyibukkan dirinya dengan bekerja. Agar apa yang sedang ada di dalam pikirannya sekarang, segera enyah.


Sampai-sampai Rian tidak mau menghidupkan handphonenya. Karna dia tahu pasti Bela akan sibuk menanyai keberadaan nya.


Namun semakin Rian menyibukkan dirinya. Maka semakin berseliweran pulalah bayangan Ayla dikepalanya.


Rian mengingat kembali beberapa hari yang lalu, ketika dia melihat jika ada panggilan tak terjawab dari Ayla. Setelah dia melihat handphone nya, ketika sudah berada di perusahaan Erlangga group.


Dan itu adalah panggilan pertama Ayla, dari semenjak Rian memblokir nomor nya.


Namun ketika Rian menghungi kembali, nomor Ayla tidak aktif. Lalu malam itu juga, Rian pulang ke rumah mereka. Tapi Ayla tidak ada dirumah. Jadi Rian mengira, jika Ayla pulang kerumah orang tuanya.


Dan malam itu pun Rian tidur dirumah, tidak pulang ke apartemen nya lagi. Karna sudah sangat lama Rian merindukan kembali kerumah mereka, Namun dia sudah terikat janji dengan kekasihnya.


Lalu kenapa sekarang Ayla berlaku dingin kepada nya, apa karna sekarang Ayla sudah berpacaran dengan Nando. pikir Rian menduga-duga.


Braaak....


"Apa yang salah dengan pikiran gue?" sentak Rian kembali melemparkan pas buga yang juga ada di atas meja.


Karna mendengar bunyi suara gaduh dan barang yang jatuh, membuat sekertaris Aldi masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu.


"Apa yang terjadi tuan muda!" tanya Aldi memperhatikan semua berkas-berkas penting yang sudah berserakan di atas lantai.


"Entahlah! aku juga tidak tahu." jawab Rian berdiri dari duduknya, yang tidak merasa, jika dirinya sudah kembali lagi menyusahkan sekertaris Aldi dan Emi.


Padahal sudah pasti mereka berdualah yang akan membereskan semua berkas-berkas itu.


"Apa Anda ada yang terluka tuan?" Aldi kembali bertanya, meskipun didalam hatinya sudah ingin memaki tuan mudanya itu.


Karna Aldi bisa menebak, jika ini semua pasti ada hubungannya dengan Nona muda nya. "Salah sendiri tidak pulang." Aldi mengerutuk didalam hatinya.


"Baiklah, jika Anda tidak apa-apa. Saya akan memangil Emi untuk membantu saya membereskan semuanya." Aldi yang sudah ingin berjalan membuka pintu.


"Kamu mau kemana?" tanya Rian cepat, seperti dia tidak mendengar apa yang Aldi katakan tadi.


"Saya akan memanggil Emi tuan muda." Aldi menjawab sedikit bingung. Karna bukankah tadi dia sudah mengatakan nya, gumam Aldi dengan suara didalam hatinya.


"Tidak usah, biar Emi saja yang membereskan semuanya. Kamu ikut aku saja, dan temani aku jalan-jalan." Rian mengambil jas kerjanya yang dia sampirkan di kursi kerjanya.


Gleeek..


Tanpa sadar Aldi menelan liurnya sendiri. karna mendengar ucapan tuan mudanya.


"Ayo kenapa kamu diam saja!" ucap Rian kesal. Karna dia sudah berjalan, sedangkan Aldi masih terbengong di tempatnya berdiri.


"Tapi tuan, kita ada pertemuan dengan perusahaan Barclay. Dan saya harus menemui beberapa klien kita, yang sudah mengajukan permohonan kerja sama." Aldi mencoba mencari alasan daptar kerjanya, agar dia tidak ikut serta jalan-jalan persi Rian sore ini.


Karna Aldi sudah tau jika dia berangkat sekarang. Maka besok pagi, pasti dia akan menjadi tumbal mengantikan pekerjaan tuan muda nya.


"Batalkan semuanya juga tidak masalah, aku ini CEO nya, sudah ayo." Rian memaksa seperti anak kecil.


Sehingga mau tidak maupun. Aldi ikut juga.


Saat melewati meja kerja Emi, Aldi meminta Emi untuk masuk keruangan kerja Rian. Agar segera dibereskan kembali seperti semula.


Tiba di parkiran. Rian duduk di kursi belakang, sedangkan Aldi disuruh menjadi sopirnya hari ini.


Lalu Aldi hanya mengikuti saja peritah dari tuan mudanya itu. Setelah lumayan jauh berada dari perusahaan Erlangga group. Barulah Aldi bertanya, karna Rian tidak kunjung berbicara. Malah Rian terlihat sibuk melihat warung makanan yang berjejer di pinggir jalan ibu kota.


"Maaf tuan muda, kita akan kemana?" Aldi akhirnya bertanya juga.


"Kita kemana saja yang penting jalan-jalan. Dan tolong kamu carikan penjual rujak dulu. Belikan dua, sepertinya enak jika dimakan disore hari seperti ini." ucap Rian masih memperhatikan warung-warung yang mereka lewati.


Dan tanpa di dugaannya, malah menangkap sosok Ayla dan Nando yang sedang membeli es krim.


Mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan.


"Kenapa mereka berada disini juga? apa yang sedang mereka lakukan Aldi." tanya Rian kepada Aldi yang hanya pokus mencari penjual rujak.


"Saya juga tidak tau tuan muda, tapi jika saya boleh berkata jujur, sepertinya mereka sedang berkencan." ucap Aldi dengan sengaja.


Padahal Aldi sudah tau jika Nona mudanya sedang jalan-jalan juga.