
πππππ
.
.
Di dalam ruang ICU. Dokter Jeklin dan para Dokter yang lainnya sedang berjuang untuk memberikan pertolongan kepada Rian.
Karna setelah Ayla keluar dari sana tadi. Entah mengapa, keadaan Rian mendadak drob. Untungnya Ayla tidak menyaksikan hal itu. Jika tidak, entah bagaimana keadaan Ayla sekarang.
"Pa, menggapa Dokter Jeklin dan yang lainnya belum juga keluar. Apakah terjadi sesuatu pada putra kita?" Mama Sonya tidak kuasa menahan kegundahan hatinya.
Sebab sekarang Rian berada di ruang ICU yang hanya di tempati oleh dirinya sendiri. Untuk menghindari orang luar mengetahui keadaan Rian yang sedang bertaruh nyawa antar hidup dan mati.
Karna pihak rumah sakit tau, siapa orang yang mereka tangani. Jadi tanpa mendapatkan perintah dari Tuan Heri pun, pihak rumah sakit Central Medika sudah tau apa yang harus mereka lakukan.
Makanya Mama Sonya tau, jika para dokter itu sedang menangani putra nya
"Putra kita pasti baik-baik saja Ma, dia pasti bisa bertahan. Jangan khwatir, Rian anak yang kuat." Tuan Heri menarik Mama Sonya kedalam pelukannya.
Untuk memberikan Mama Sonya kekuatan. Meskipun Tuan Heri sendiri, jauh lebih takut lagi bila terjadi sesuatu pada putranya.
"Tapi mereka sepertinya sibuk dari tadi. Mama takut terjadi sesuatu pada putra kita Pa. Apa yang harus kita lakukan, jika terjadi sesuatu pada putra kita. Bagaimana dengan putri dan cucu kita." Mama Sonya menangis pilu, memikirkan jika sampai terjadi sesuatu pada anaknya.
Bukan hanya dia dan Tuan Heri saja yang kehilangan putra mereka. Namun menantu dan kedua calon cucunya juga akan kehilangan Ayah mereka. Padahal mereka belum pernah bertemu sama sekali.
Sungguh rasanya Mama Sonya tidak sanggup, bila sesuatu yang buruk terjadi pada putranya.
"Suiiit...,! Jangan berpikiran seperti itu. Anak kita pasti bisa melewati masa kritis nya. Berdoa saja, agar ini hanya ujian sementara dari mak author." ucap Tuan Heri meletakkan jari telunjuk nya di bibir Mama Sonya.
Kedua pasangan baya itu, berusaha untuk saling menguatkan diri mereka masing-masing. Meskipun mereka berdua sudah tau, apa yang akan terjadi kemungkinan buruknya pada Rian.
"Sudahlah, kita hanya bisa berharap, semoga akan ada keajaiban yang terjadi pada putra kita Ma." seru Tuan Heri lagi penuh harap.
Walaupun Dokter yang menangani Rian sudah menjelaskan keadaan anak mereka. Namun Tuan Heri tetap berharap, akan ada keajaiban pada kesehatan putranya.
Tapi jika kemungkinan terburuknya terjadi. Mereka juga harus siap, apalagi sebagai kepala keluarga. Tuan Heri memiliki tanggung jawab yang besar.
Agar istri dan anak cucunya tetap baik-baik saja.
Ceklek....
Pintu ruang ICU kembali terbuka pelan. Dilihat dari raut muka Dokter Jeklin saat ini. Pasti keadaan Rian kembali memburuk.
"Bagaimana Dok? apakah keadaan putra saya kembali menurun?" tanya Tuan Heri, yang sedikit merasa takut mendengar jawaban dari dokter itu.
"Iya betul, Tuan Heri. Keadaan putra Anda kembali menurun. Padahal darah maupun yang lainnya sudah mulai setabil." keluh Dokter Jeklin, yang ikut merasa kecewa bila tidak bisa menyelamatkan nyawa pasiennya.
"Berdoa lah, semoga ada keajaiban untuk kesembuhan tuan muda Rian. Saya permisi dulu, jika ada perkembangan terbaru. Saya akan memberitahu kalian berdua lagi." Dokter Jeklin pamit pergi ke ruangan pribadinya.
"Baiklah...! Terimakasih Dokter. Kami akan selalu menunggu kabar baik dari Anda." Tuan Heri pun tidak bisa memaksa Dokter untuk menyelamatkan putranya.
Karna semua itu bukanlah kuasa Dokter. Meskipun harta mereka berlimpah ruah. Nyatanya keselamatan putranya, tetap tidak bisa di beli dengan uang mereka.
Setelah kepergian Dokter Jeklin. Tuan Heri dan Mama Sonya tetap menunggu di bangku yang ada di depan ruang ICU Rian.
Meskipun sudah ada kerabat maupun keponakan tuan Heri yang menawarkan ingin menjaga Rian. Namun tuan Heri, langsung menolak nya.
Karna dia ingin menjaga anaknya sendiri. Sedangkan sekertaris Aldi bertugas menjalankan perusahaan seperti biasanya.
Yang tahu Rian tertembak hanya pihak keluarga Erlangga dan Ridwan saja. Selebihnya kedua sahabat Rian sendiri. Yaitu Nando dan Andre. Dan orang luar yang mengetahui adalah pihak rumah sakit sendiri.
Berita ini memang sengaja disembunyikan, karna takut ada dari sesama rekan bisnisnya yang ingin mengambil keuntungan dari musibah yang menimpa Rian.
Sebab tidak mungkin jika mereka hanya berdiam diri saja, setelah mereka mengetahui keadaan putra Erlangga sedang kritis.
"Mama kembali istirahat dulu di kamar rawat Ayla ya? Biar Papa yang menjaga disini. Nando sudah mengirim pesan juga, katanya sebentar lagi dia akan kesini. Untuk membantu kita menjaga Rian." ucap Tuan Heri yang masih memeluk istrinya.
"Jika Mama sakit, siapa yang akan menjaga anak dan cucu kita nantinya. Sekarang ayo, biar Papa antar kesana." Tuan Heri melepaskan pelukannya.
Menyadari jika semua yang dikatakan oleh suaminya itu benar. Mama Sonya tidak menolak, dia langsung saja mengikuti Tuan Heri yang sudah menarik tangannya dengan lembut.
Sementara itu, Nando sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Karna dia tidak mungkin bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan benar. Bila orang-orang yang di sayanginya, masih dalam keadaan tidak baik.
Tdtdtdtddt....
π± Nando : "Iya sayang,! aku sedang dalam perjalanan menuju kerumah sakit. Keadaan adik perempuan ku, baik-baik saja. Dia hanya shok mengetahui keadaan suaminya. karna sampai sekarang Rian masih kritis." jawab Nando setelah mengangkat teleponnya.
π±Nando : "Jadi kamu ingin menyusul kesini? Oke, baiklah, nanti kabari sebelum kamu berangkat dari sana. Biar asisten ku menjemputmu di bandara. Sudah dulu ya, ini Om Ridwan mengirimku pesan. Aku takut terjadi sesuatu di rumah sakit" Nando langsung saja mematikan telepon nya.
Karna dia melihat pesan dari Ayah Ridwan. Yang menyuruhnya datang kerumah sakit.
Setelah membaca pesan itu, Nando langsung saja menambah kecepatan laju mobilnya.
**********
Di rumah sakit Central Medika.
"Sayang, kamu sudah sadar!" Ayla langsung menangis mendekap tangan Rian. Karna hanya tangan Rian saja yang bisa di dekap olehnya.
"Iya, aku sudah sadar. Terimakasih sudah mau memanggilku sayang. Aku benar-benar bahagia mendengarnya Ay." jawab Rian dengan susah.
Rian ikut mengengam jari tangan Ayla, meskipun terasa susah untuk dia melakukannya.
"Sayang...! maafkan aku, yang tidak bisa menepati janji ku padamu waktu itu. Aak..Aaku tidak kuat lagi, aku tidak bisa menjaga kalian lag." ucap Rian terhenti, karna pintunya terbuka dengan keras.
Rian dan Ayla menoleh kearah pintu. Ternyata yang datang adalah Nando.
"Rian, Lo udah siuman!" Nando berjalan kearah Rian dengan tersenyum bahagia.
"Nan... maafin gue. Gue pengen nitip anak dan istri gue, sama Lo lagi. Karna hanya Lo yang bisa menjaga mereka." kata Rian setelah Nando berada di dekatnya.
"Apa maksudmu Ri.. aku ingin kamu yang menjaga aku dan anak-anak kita. Bukan kak Nando." Ayla langsung menyelak ucapan Rian.
"Ay.., Ak.., aku tidak bi.. bisa lagi menjaga kalian. Karna waktu ku su.., sudah habis." Rian semakin susah untuk mengeluarkan ucapannya.
"Ri, Lo gak boleh ngomong gitu, Lo bisa menjaga Ayla da anak Lo." Nando ikut berbicara.
Rian mengelengkan kepalanya pelan. Sebab untuk berbicara dia sudah tidak kuat lagi.
Lalu dengan pelan, Rian mengambil lalu menyatukan tangan Ayla dan Nando diatas tubuhnya.
"Nan gue mundur.. gue ikhlas Lo menikahi istri gue. Gue titip istri dan anak gue ya...!" ucap Rian lagi dengan pelan.
Lalu dia menoleh kearah Ayla yang semakin menangis mendengar ucapannya.
"Sa.. Sayang....! maafkan Aku ya." Rian pun menutup matanya setelah mengucapkan itu.
BERSAMBUNG.....ππ€§
.
.
.
Mak author mau sembunyi dulu. Jadi tinggalkan jejaknya aja ya, gak usah nyariin Emak.ππππ
Terimakasih ππππ