
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Begitu Rian membuka pintu ruangannya dia di kagetkan dengan keberadaan Elin di depan pintu, wanita itu sudah berdiri disana kurang lebih lima menit.
"Elin apa yang sedang kamu lakukan?" pekik Rian karena merasa kaget dan juga hampir saja tubuhnya tersiram kopi panas apabila tubuh mereka berdua sampai bertabrakan.
"Saya... hanya ingin memberikan kopi ini Tuan muda."cicit Elin merasa aneh sendiri memangil Rian dengan sebutan tuan muda. Pasalnya saat mereka kuliah biasa saling menyebutkan nama. Meskipun ada beberapa orang yang menyebut nama Rian tuan muda, itu tidak akan lama karena Rian sendiri yang menyuruh menyebut nama saja tidak boleh ada embel-embel tuan mudanya.
"Saya masih mau keruangan rapat. Lain kali bila Saya tidak meminta kopi maka kamu tidak perlu repot-repot membuatnya." Rian berkata tidak suka disertai sorot mata tajam nya. Lalu setelah itu Rian langsung melangkah ingin pergi dari sana. Namum, Elin menarik jas kerja Rian untuk mencegahnya agar tidak pergi tapi...
Praaank...
Gelas kopi itu tumpah mengenai jas kerja Rian. Tau kalau wanita itu memegang jas nya Rian langsung saja mengibaskan dengan kasar, sehingga menyebabkan gelas kopi yang ada di tangan Elin terjatuh kelantai.
"Elin! Berani sekali kamu!" tunjuk Rian dengan emosi. Sudahlah dia tidak suka malah sekarang kopi panas itu mengenai pakaiannya.
"Agh Tuan muda tolong maafkan Saya. Saya tidak sengaja," seru wanita itu takut dan merasa bersalah.
Rian tidak menjawab ucapan maaf dari Elin tapi dia kembali lagi masuk kedalam ruangannya untuk menganti pakaian yang sudah kotor. Tidak mungkin seorang Presdir memakai jas bekas tumpahan kopi.
Untungnya di dalam kantor Rian terdapat kamar pribadi untuk istirahat bila dia lelah dan sudah tersedia juga beberapa pakaian kameja berserta jas nya apabila terjadi hal semacam ini.
Elin sendiri langsung membereskan bekas pecahan gelas kaca itu sebelum banyak karyawan lain tahu atas keberaniannya yang sudah berani memegang jas kerja Presdir Erlangga group.
"Aah gue terlalu cepat bertindak, seharusnya gue bisa menahan diri dan membuat Rian menjadi dekat sama gue. Bukanya malah menumpahkan kopi pada pakainya." Elin mengerutuk pada dirinya sendiri sudah bertindak dengan ceroboh.
"Gue harus cari cara lain, pokoknya selama masih kerja disini gue harus bisa mendapatkan Rian. Meskipun hanya menjadi pemanas ranjangnya." tekad Elin semakin yakin. Dia hanya tau kalau Rian sudah menikah, tapi tidak tau siapa wanita yang sudah berhasil merebut hati dan cinta Rian.
Braaak...
Elin yang tau Rian masih kesal kepadanya hanya menunduk takut seperti wanita polos pada umumnya. Padahal di dalam hatinya sangat ingin melepaskan pakaian di hadapan Rian, agar pria itu mau memaafkan kesalahannya dan mau menjadikan Elin simpanannya.
Dengan wajah kesalnya Rian kembali keruangan rapat karena dia sudah menjeda rapat itu lebih dari setengah jam. Bila saja tidak ada kejadian kopi tumpah maka sudah dari tadi dia kembali.
"Tuan muda Anda sudah kembali!" sekertaris Aldi langsung menarik kursi pimpinan yang di duduki oleh Rian. Bukan hanya sekertaris Aldi yang merasa heran melihat Rian berganti pakaian tapi juga semua orang yang ada di sana.
Di dalam pikiran mereka sudah Traveloka yang bukan-bukan tapi tidak berani buka suara. Apalagi melihat wajah sang pemimpi sedang tidak bersahabat. Selama rapat berjalan Rian tidak banyak bicara dia akan bersuara apabila ada yang tidak cocok dengan cara kerja perusahaan miliknya.
"Menurut Anda bagaimana Tuan Ardiaz?" tanya salah satu dari pengusaha itu setelah dia menjelaskan Misi dan pisi yang akan mereka terapkan.
"Baiklah Saya setuju saja asalkan tidak ada di antara perusahaan kalian yang melanggar aturan cara kerja perusahaan kami. Sebelum kita melanjutkan kerjasama yang baru, Saya akan mengingatkan kembali bahwa bagi perusahaan siapa saja termasuk perusahaan Erlangga Group sendiri, tidak boleh mengurangi semua data yang sudah Saya terapkan jika kalian tidak ingin perusahaan kalian gulung tikar." Rian berbica dengan tegas karena dia tau ada beberapa rekan kerjanya tidak mematuhi cara kerja Rian.
"Oke kami menyanggupi semua aturan dari Anda Tuan Ardiaz. Terimakasih sudah mau kembali bekerjasama untuk perusahaan kami." yang di jawab oleh salah satu dari mereka, karena sewaktu Rian menelpon istrinya tadi sekertaris Aldi sudah menjelaskan juga kalau Rian tidak suka ada yang bermain curang. Apalagi bila kecurangan itu merugikan orang banyak.
Begitu sudah mendapatkan persetujuan dari semuanya rapat hari ini pun berakhir setelah menghabiskan waktu hampir empat jam lamanya. Lalu semuanya mulai meninggalkan ruangan itu satu persatu. Tapi tidak dengan Rian, Andre dan sekertaris Aldi.
Andre yang sudah tidak tahan dari tadi akhirnya bertanya juga. "Ri, Lo kenapa sudah ganti baju lagi?"
"Baju sama jas gue terkena tumpahan kopi." dengan malas Rian menjawab pertanyaan Andre.
"Ko' bisa sih! tanya Andre tidak habis pikir. "Ya biasalah semua ini gara-gara Aldi." ucap Rian seraya mendelik melihat Aldi.
Sehingga Aldi yang tidak tau apa-apa langsung mengangkat kepalanya melihat kearah Rian dan Andre lalu diapun bertanya. "Apa Anda ingin kopi Tuan muda?" karena memang kata kopi saja yang di dengarnya tadi. Sebab Aldi sedang pokus pada laptop di depan matanya.
Mendengar jawaban Aldi sontak membuat Rian langsung bertanya seraya memijit pelipisnya yang mendadak menjadi pusing. "Aldi kamu sedang mengerjakan apa?" pria itu menahan geram sendiri.
"Saya sedang menggecek ulang data-data ini, Tuan muda. Tapi bila Anda ingin kopi Saya akan membuatkan nya atau Anda mau di buatkan oleh sekertaris baru kita." kembali bertanya karena memang tidak tau.
Andre yang mendengar hanya tersenyum karena dia tahu kalau sahabatnya itu sedang kesal, tapi entah pada siapa dia juga belum tahu." Al, Tuan muda mu sedang kesal jadi lebih baik suruh dia pulang menemui pawangnya." ujar Andre asal tapi langsung di benarkan oleh sekertaris Aldi.
"Tuan muda pekerjaan kita hari ini tidak terlalu sibuk. Tidak ada pertemuan dengan orang-orang penting lagi jadi Tuan muda lebih baik pulang menemui Nona Ayla." Aldi yang merasa Tuan mudanya memang sedikit berbeda langsung saja menyuruh agar Rian pulang duluan. Padahal Rian kesal karena ulahnya yang sudah menerima Elin bekerja di perusahaan Erlangga.