Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Kerumah mertua.


🌿🌿🌿🌿🌿


.


..


"Tuan Anton, silahkan Anda selesaikan dengan sekertaris Aldi, karena saya akan pamit lebih dulu." ucap Rian sambil berlalu pergi.


Di dalam perjalanan pulang, Rian merasa gusar sendiri. Karena untuk bertemu Ayla rasanya begitu tidak karuan, antara gugup dan juga binggung sendiri.


Setalah melewati perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, mobil Rian sudah tiba di depan rumah mereka.


Namun Rian tidak langsung turun dan masih terdiam di dalam mobilnya.


"Apa yang harus gue katakan lebih dulu ya? apa harus minta maaf atau menanyakan apa yang terjadi tadi di kampus, kenapa dia pulang di antar oleh Nando, dan kenapa mobilnya malah di tinggal di kampus." tanya Rian kepada dirinya sendiri.


"Sial..! kenapa gue jadi gini sih." kesal Rian sambil memukul setir mobilnya.


Hingga setelah menghabiskan waktu beberapa menit di dalam mobilnya, Rian memutuskan untuk turun, karena bagaimanapun, dia tidak punya pilihan lain selain menemui Ayla.


Cek...lek.....


Suara pintu yang dibuka oleh Rian dari luar, namun ketika Rian masuk, tidak menemukan Ayla di sana. Lalu Rian melihat kearah meja makan dan Ayla tetap tidak ada disana. Karena tidak menemukan istrinya di tempat biasanya Ayla yang selalu menunggu kedatangannya, jantung Rian langsung berdebar tidak karuan, yang dia pun tidak tau perasaan apa itu.


Lalu, Rian langsung berjalan menuju kamar mereka yang berada dilantai atas. karena hanya itulah tempat harapannya, dan berharap jika apa yang ada didalam pikirannya itu tidak benar. Karena ketakutan terbesar Rian adalah jika Ayla pulang ke rumah orangtuanya sendiri.


Dengan tergesa-gesa Rian langsung membuka pintu kamar.


Braaak... Rian membuka pintu dengan cukup keras, sampai membuat Ayla yang sedang belajar pun menjadi kaget.


Begitu Ayla melihat kearah pintu, pandangan mereka pun bertemu, yang saling tatap bagaikan saling mengungkapkan perasaan apa saja yang ada dihati mereka berdua, entah perasaan marah ataupun rindu, karena sudah dari kemaren malam mereka tidak berhubungan ataupun bertegur sapa, meskipun hanya melalui handphone milik masing-masing.


Deg..... jantung keduanya seolah-olah sudah saling bertalu-talu, yang seakan-akan ingin keluar dari tempatnya.


"Heeeeem." suara Rian yang berdehem untuk menghilangkan rasa gugup dan lega nya secara bersamaan, karena ternyata Ayla masih berada di rumah mereka.


Rian pun berjalan dengan perlahan untuk mendekati Ayla yang masih diam di tempatnya.


"Aku kira, kamu tidak pulang kesini!" ucap Rian yang bertanya lebih dulu.


"Jika tidak pulang kesini, kemana lagi aku akan pulang?" jawab Ayla singkat.


"Maksut ku, bukannya tadi kamu pulang nya di antar oleh Nando, aku kira kamu akan minta diantar sama dia kerumah bunda." seru Rian yang merasa tidak enak mendengar ucapannya sendiri.


"Tidak, tadi Nando mengantarkan aku langsung kesini." ucap Ayla jujur, karena memang itulah kenyataannya, mendengar nya, Rian pun langsung kaget.


"Apa maksut mu? apa Nando tau jika kita tinggal bersama?" tanya Rian yang khawatir, jika dugaannya itu benar.


"iya, Nando tau jika kita tinggal bersama! bahkan dia juga sudah tau, jika kita berdua sudah menikah." seru Ayla lagi.


"Apa maksudnya mengetahui? apa kamu sengaja memberitahunya?" serkas Rian yang mulai kesal, karena dia mengira jika Ayla yang memberitahu Nando sahabatnya itu.


"Aku tidak mengatakan apapun kepada nya, tapi dia memang sudah tahu sendiri." ucap Ayla membela dirinya sendiri.


"Apa! jadi Nando juga sudah mengetahui pernikahan kita? lalu dia berkata apa kepadamu?" tanya Rian merasa was-was.


Mendengar nya, Rian hanya menguyar rambutnya kebelakang. Karena semakin banyak yang mengetahui pernikahan nya, maka akan semakin menyulitkan perceraian mereka nanti, apalagi setelah Rian mengetahui perasaan Ayla padanya.


"Rian..., maaf kan aku! karena sudah menyulitkan mu!" ucap Ayla yang merasa bersalah jika semua yang terjadi hanya karena kesalahannya sendiri.


Rian tidak menjawab nya dan hanya diam saja, melihat Rian hanya diam saja Ayla kembali lagi berbicara.


"Nando sudah pernah melihat kita satu mobil, yang kebetulan mobil kita waktu itu baru saja keluar dari rumah mama. Dia juga bilang, sering melihat mu pulang dari perusahaan, namun kamu mengendarai mobil yang berlawanan arah dari rumah mama, dari sanalah dia mulai curiga kepada hubungan kita."


Mendengarnya, Rian langsung menoleh lagi kearah Ayla.


"Sekarang kita harus bagaimana, semakin banyak yang mengetahui pernikahan kita, sama saja mempersulit perceraian kita nanti!" ucap Rian prustasi.


"Rian, apa tidak ada harapan untuk kita mempertahankan pernikahan kita? apa janji mu yang akan memberikan kesempatan kepada ku itu tidak bisa dipertimbangkan lagi?" tanya Ayla sedikit menuntut.


Rian tidak langsung menjawab, dan masih diam sampai beberapa saat.


"Baiklah, aku memang memberikan kamu kesempatan! tapi kamu jangan terlalu berharap, karena perasaan tidak bisa dipaksakan Ay! aku hanya mencintai Bela." ucap Rian menegaskan kembali.


"Heeeem! aku juga tidak akan pernah memaksa mu, jika memang kamu tidak bisa mencintai aku Ri...! jika memang batas waktunya sudah habis, maka aku duluan yang akan mengugat perceraian kita. Jadi kamu jangan khawatir, aku tidak akan memberatkan dirimu sendiri." seru Ayla menyakinkan, karena memang dia sudah memutuskan akan pergi dari kehidupan Rian, apabila Rian tetap tidak bisa menerima kehadirannya. meskipun sangat sakit meskipun hanya mengatakan saja.


"Oke! baguslah jika kamu bisa mengerti, aku harap kamu tidak mengingkari janji mu untuk yang kedua kalinya." setelah mengatakan nya, Rian langsung pergi membersihkan dirinya kedalam kamar mandi.


Karena apa yang ingin dikatakannya tadi ketika masih di dalam mobil, tidak sama setelah bertemu Ayla langsung.


Mendengar nya, Ayla hanya tersenyum simpul, meskipun dia sudah tau jawaban dari Rian, namun Ayla masih ingin mencobanya.


Setelah sadar dari lamunannya, Ayla bergegas menyiapkan pakaian untuk Rian seperti biasanya. Tak lama, Rian sudah keluar dari kamar mandi dan langsung mengambil pakaiannya.


Namun ada yang berbeda! Ayla tidak seperti biasanya yang selalu menghindar setiap dia habis mandi.


"Apa kamu sudah memasak?" tanya Rian untuk menghilangkan rasa canggung nya.


"Belum, ini baru jam setengah empat sore, aku kira kamu tidak akan kembali seperti tadi malam." sahut Ayla yang ingin Rian berkata jujur.


"Apa tadi malam kamu menginap di apartemen Bela?" tanya Ayla yang masih berpura-pura ingin tau.


"Apa maksutmu! mana mungkin aku menginap disana, tadi malam aku pergi ke BAR bersama Andre dan Nando. Lalu aku mabuk dan mereka mengantarkan aku ke apartemen kusendiri." jelas Rian sedikit tidak senang mendengar tuduhan Ayla.


Mendengarnya, Ayla tersenyum, karena Rian tidak berbohong dan mengatakan seperti yang Nando katakan kepada nya tadi.


"Kenapa kamu malah tersenyum? apa gara-gara terlalu mencintaiku membuatmu tidak waras." ucap Rian sambil menyentuh dahi Ayla dengan punggung tangannya.


Mendengar nya, Ayla pun langsung cemberut.


"Sudah jangan cemberut begitu, bagaimana aku akan jatuh cinta kepadamu, jika wajah mu dibuat tambah jelek." seru Rian yang sengaja mulai menjahili Ayla seperti biasanya. Entah mengapa, jauh dari Ayla dia merasa seperti ada yang kurang.


belum juga Ayla membalas ucapan Rian, namun Rian sudah lebih dulu menarik tangannya keluar dari kamar.


"Rian.., kamu mau membawa aku kemana?" tanya nya, sambil mengikuti Rian dari belakang.


"Kita akan kerumah mama, dan akan numpang makan malam disana." ucap Rian santai.


BERSAMBUNG.......