Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Hukum bermesraan.


🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


Setelah menghabiskan waktu hampir tiga jam. Rian baru bisa keluar dari ruang meeting, rapat semua para staf perusahaan Erlangga Group. Yang di ikuti oleh sekertaris Aldi dari belakang dengan beberapa dokumen penting di tangannya.


"Maaf Tuan muda, di dalam ada Tuan Andre," kata sekertaris Emi melihat bosnya sudah kembali.


"Andre!" ulang Rian memastikan karena sudah dalam dua bulan ini sahabatnya itu tidak berkunjung ke perusahaannya.


"Iya, benar tuan. Tuan Andre datang dari satu jam yang lalu." kata Emi menjelaskan.


Rian pun hanya mengangguk dan kembali lagi melanjutkan langkah kaki masuk ke dalam kantornya.


"Lama bener rapatnya? Udah kayak emak-emak kaum rebahan yang sedang ngerumpi aja." seloroh Andre begitu melihat pintunya terbuka. Rian tidak menjawab dia hanya melihat Andre dengan sorot mata tajamnya.


"Nggak usah delik-delik gitu, gue gak bakalan merinding liatnya." Andre langsung duduk karena tadi dia berbaring di atas sofa.


"Tumben Lo datang ke sini, ada apa? Gue kira Lo dah lupa jalan ke perusahaan, gue." kata Rian ikut duduk di sofa dekat Andre.


"Buset, Lo kalo ngomong suka bener. Gue kemaren-kemaren bukanya lupa jalan kesini, tapi sengaja ingin melupakan." ucap Andre yang suka bikin orang bertambah kesal bila mendengar dia berbicara.


"Maksudnya?" Rian menautkan alisnya keatas karena bingung dengan perkataan Andre.


"Maksudnya, gue emang sengaja menahan diri agar tidak datang kesini. Soalnya gue takut keceplosan ngomong di mana tempat istri, Lo." lelaki itu tersenyum karena sudah berhasil membuat Rian ingin melempar dia mengunakan bantal sofa.


"Dre, Lo bisa nggak sih jangan bikin orang emosi." Rian menurunkan lagi bantalnya dan menarik nafas panjang agar bisa meredakan rasa jengkel terhadap Andre.


"Sabar broo. Gue ini sedang melatih kesabaran, Lo. Sebentar lagi kan Lo mau punya anak, jadi harus sabar nggak boleh gampang emosi kayak gini."


"Tau, ah. Pusing gue ngeladeni orang setres." jawab Rian berjalan mengambil minuman di lemari pendingin yang ada disana. Sementara itu sekertaris Aldi duduk di sofa lain untuk memeriksa dokumen yang dia bawa tadi agar Rian tinggal menandatangani saja.


"Eh, Ri. Gue mau nanya nih." ucap Andre setelah Rian kembali duduk.


"Apa? Gue langsung punya perasaan nggak enak kalo Lo ngomong." seru Rian yang sudah bisa mengendalikan emosi menghadapi Andre setelah meneguk minuman dingin.


"Lo sudah punya nama apa belum buat si kembar?" tanya Andre dengan mode serius.


"Belum! Ya ampun Dre, gue hampir saja lupa kalo, Lo nggak nanya." Rian mengusap wajahnya kasar merasa dia sudah hampir melupakan hal yang sangat penting bagi kedua calon buah hatinya.


"Tu, kan. Makanya gue datang kemari untuk menanyakan itu. Lo dah suuzon aja sama gue." lelaki itu pun mengelengkan kepalanya.


"Habisnya, Lo suka bikin orang darting, Andre." ungkap Rian tersenyum karena terkadang mereka memang selalu suuzon pada Andre.


Padahal meskipun sahabatnya itu suka bicara asal, tapi terkadang suka ada benarnya juga. Dia sendiri saja bila bukan karena Andre maka tidak akan tau jika sudah lama mencintai istrinya.


"Mau Lo kasih nama siapa?' Andre pinda tempat duduk mendekati calon sang ayah yang sedang berpikir keras.


"Iih, apaan sih malah duduk mepet gini. Sana nanti kita dikira ada apa-apanya sama Emi." Rian mendorong Andre agar tidak menempel pada tubuhnya.


"Nggak liat kita gini aja Emi pasti sudah tau jika kita sudah ada apa-apanya.' Iya kan, Al?" kata Andre malah bertanya pada Aldi sedangkan yang ditanya hanya mengangguk saja karena dia tidak tau apa yang Andre tanyakan.


"Andre! Oh, astaga kenapa gue bisa punya temen kayak, Lo." Rian kembali menahan kesal.


"Aaiiis, emang Lo pikir gue mau bikin nama kelinci. Ini mau bikin nama keturunan gue, Andre! Masa iya dalam satu menit dah jadi. Orang bikinnya juga sampe berjam-jam." Rian tertawa karena sekarang balik dia yang menjahili temanya itu.


"Iya bikinnya emang lama, tapi Lo harus ingat, jika bukan karena Sanjaya yang ngasih obat perangsang, sampe sekarang mungkin Lo belum berani nyentuh istri, Lo." balas Andre sebelum dia kembali bertanya.


"Tapi Ri, gue denger dari Om Heri katanya sekarang Bela setres, ya?" tanya Andre serius.


"Hm, gue dengar sih, iya." jawab Rian cuek.


"Cuek benar! emang nya, Lo benar-benar udah nggak punya perasaan apa-apa lagi sama dia? Kalian sudah pacaran dua tahun lebih. Lo, Ri. Masa iya Lo sudah ngelupain cabe-cabean secepat itu?"


"Lah emang gue sudah nggak punya perasaan apa-apa lagi dari dulu juga. Mungkin karena kebodohan gue, makanya nggak langsung mutusin dia begitu menikahi istri, gue. Gue rasa dihari pernikahan gue sama Ayla, perasaan itu sudah ada. Hanya saja gue nggak sadar jika sudah jatuh cinta pada si imut." ucap Rian tersenyum membayangkan wajah imut istrinya.


"Benarkah? Lalu siapa yang kamu bilang, si imut?" tanya Ayla berjalan masuk membawa rantang makanan di tangannya.


"Sayang!" seru Rian berjalan mendekati Ayla lalu memeluknya.


"Kenapa kamu tidak mengabari aku lebih dulu jika akan kesini? Aku pasti akan turun kebawah untuk menyambut Istriku." ucap Rian seraya merangkul sang istri kearah sofa.


"Jika aku mengabari kamu lebih dulu. Maka aku tidak akan tau jika kamu sudah jatuh cinta pada, si imut. Sekarang ayo katakan siapa dia?" tanya Ayla meskipun dia sudah tau jawabannya. Sewaktu mereka masih tinggal bersama dulu dia memang sudah tau jika suaminya itu memberi nama dia, si imut di HP nya.


"Dia...Adalah ibu dari kedua calon anakku."


Cup...


"Tau saja jika aku sangat merindukanmu, pasti mama ya, yang menyuruh kamu datang ke perusahaan?" Rian tidak menjawab tapi dia malah mencium pipi cubi istrinya di hadapan Andre yang sudah bermuka masam.


"Wah, wah. Kita sudah di anggap ngontrak nih, Al.' Bermesraan di hadapan orang yang tidak memiliki pasangan, hukum nya pamer." selak Andre sebelum Ayla menjawab pertanyaan dari Rian.


"Makanya cari calon sana ajak Aldi. Diakan juga jomblo abadi sama kayak, Lo." Rian tidak menanggapi ucapan Andre karena sekarang wanita yang sedari tadi selalu dia rindukan malah datang sendiri menemui nya.


Sebetulnya tadi Ayla sudah tau dari Aldi jika Rian sudah selesai meeting. Namun, mungkin Rian akan terlambat pulang untuk makan siang bersamanya karena ada Andre. Dari sanalah datang ide dari mertuanya agar dia menyusul ke perusahaan.


Mama Sonya melakukan itu semua karena punya maksud tertentu. Dia sebetulnya sudah lama ingin menantunya itu datang keperusahaan. Agar semua orang tahu bahwa Ayla adalah menantu mereka. Wanita yang akan meneruskan menjadi Nyonya Erlangga setelah dia tiada. Akan tetapi waktu yang belum mengizinkan nya.


.


.


.


.


Hai...Hai...para raeder ku tersayang 🤗 Terimakasih sudah selalu setia membaca karya receh Mak author. Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya ya 😄


Like.


Vote.


Favorit.


Komen.


Dan hadiah nya, terimakasih.🙏😘😘😘