
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Apa kalian yakin akan berdua saja disini nya?" Bunda Mirna dan Mama Sonya kembali lagi bertanya untuk yang kesekian kalinya pada Rian dan Ayla.
Karna setelah Nando maupun yang lainnya pulang tadi. Rian mengatakan jika orang tua dan mertuanya untuk pulang saja. Dan tidak perlu ikut menunggu dirinya disana.
"Jika Ayla menurut saja Ma,! mana baik nya! Tapi apa yang dikatakan Rian benar! Bunda dan Mama lebih baik pulang saja. Biar Ayla yang menjaga Rian di sini." kata Ayla yang memang ingin orang tua mereka bisa istirahat di rumah.
"Lagian dari kemarin malam Bunda dan Mama tidak tidur kan! gara-gara menjaga kami. Sekarang Ayla sudah baik-baik saja. Jadi biar Ayla yang akan menjaga Rian disini." Ayla berkata seperti itu, karna tidak tega melihat orang tua mereka yang sudah terlihat letih.
"Iya Ma, Mama sama Bunda pulang saja berasama Papa dan Ayah. Sebentar lagi Aldi juga akan datang ke sini. Biar dia dan pengawal lainnya yang membantu berjaga disini." ucap Rian memperlihatkan pesan yang dikirim oleh Aldi. Agar kedua orang tua mereka percaya.
"Jika ada apa-apa, tentu Aldi akan menghubungi Papa dan Ayah. Lagian Rian juga sudah baik-baik saja. Inikan tinggal penyembuhan luka bekas operasi nya. Mama sama Bunda tidak perlu khawatir. Kami hanya tidak mau kalian ikut sakit. Gara-gara kurang istirahat"
"Ya sudah, jika begitu kami akan pulang sekarang. Bila ada apa-apa cepat hubungi kerumah ya!" Bunda Mirna yang memutuskan untuk pulang duluan.
Karna setelah di pikir-pikir, apa yang dikatakan anak dan menantunya itu benar. Apalagi di rumahnya Bunda Mirna meninggalkan Varo anak bungsunya, hanya bersama para pembantunya saja.
"Sonya, lebih baik kita pulang saja! Apa yang dikatakan mereka benar, kita juga butuh istirahat. Besok pagi-pagi baru kita kesini lagi. Kamu besok tidak perlu buru-buru. Biarkan aku yang duluan datang kesini, sekalian membawakan makanan untuk anak-anak kita." Bunda Mirna tersenyum, sambil menyentuh bahu Mama Sonya.
"Iya, benar juga ya Mir,! kita memang butuh waktu untuk istirahat. Jika kita sakit, lalu bagaimana kita bisa menjaga si kembar nantinya." ucap Mama Sonya tersenyum. Lalu dia kembali lagi berucap
"Kalau memang begitu, kami juga akan pulang sekarang! Besok jika kamu datang nya pagi, Aku yang agak siang. Biar kita bergantian saja bagaimana." ujar Mama Sonya bersemangat, membayangkan bila si kembar sudah lahir.
"Baiklah jika begitu kita pulang serempak saja." seru Bunda Mirna lagi.
Lalu dia berjalan mendekati Rian dan Ayla memberikan pelukan untuk mereka berdua.
"Sayang,! Bunda sama Mama pulang dulu ya! besok pagi-pagi Bunda akan membawakan makanan untuk kalian berdua. Ingat jangan tidur terlalu malam." pesan Bunda Mirna setelah melepaskan pelukannya. Lalu diapun melakukan hal yang sama pada menantunya itu.
"Nak, Bunda pulang dulu ya! kamu jangan banyak bergerak dulu. Luka mu belum kering. Selamat ya! akhirnya kamu bisa kembali lagi bersama putri Bunda." Bunda Mirna tersenyum bahagia saat mengatakan itu.
Karna memang Bunda Mirna maupun Ayah Ridwan, tidak pernah berpihak pada siapapun. Meskipun mereka tau perbuatan Rian itu salah.
"Terimakasih Bunda! semuanya berkat dukungan dari kalian juga. Sehingga Rian bisa mendapatkan istri dan anak Rian kembali." jawab Rian yang benar-benar merasa bersyukur memiliki mertua seperti mertuanya sekarang.
Dan setelah Mama Sonya dan Tuan Heri berpamitan pulang juga. Kini tinggalah Rian dan Ayla yang tersisa di ruangan itu. Karna Aldi sedang dalam perjalanan kesana.
"Sayang kamu sedang apa?" Rian terus saja memperhatikan istrinya dari atas ranjang.
"Aku sedang mengupas buah yang dibawa Kak Nando tadi. Tunggulah sebentar lagi, ini sudah mau selesai." Ayla tidak perduli suara berisik Rian yang terus menyuruhnya untuk mendekat ke ranjang.
Setelah selesai mengupas beberapa buah Apel yang masih segar. Ayla memasukan nya kedalam piring sedang. Tidak lupa Ayla juga meletakkan sendok garpu di dalam piring itu.
Baru setelah itu dibawanya ke arah ranjang tempat Rian sekarang. Dan diletakan di atas nakas yang ada di situ.
"Kamu mau tetap duduk seperti ini, atau kembali berbaring?" kata Ayla yang mau membantu Rian jika dia ingin berbaring.
Karna dari semenjak kedatangan Anita tadi sore, Rian sudah duduk. Hanya saja terkadang dia berganti posisi, agar merasa nyaman.
"Duduk saja, nanti baring nya sama kamu! Biar bisa sambil meluk" ucap Rian yang merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya.
Namun berbeda dengan Ayla, mendengar ucapan Rian. Tiba-tiba kedua pipinya terasa panas, bagaikan terkena sambal pecel lele.
"Pipi mu kenapa? Apa kamu malu mendengar nya?" Rian tertawa sambil dia mendekap tubuh Ayla dari belakang. Karna takut Ayla lari dari sana.
"Aku tidak apa-apa! sudah lepaskan aku, janga seperti ini. Nanti lukamu kembali berdarah. Duduk yang bagus, biar aku suapi makan buahnya!" ucap Ayla sengaja mencari alasan, Agar Rian tidak mengejeknya lagi.
Cup....
Rian mencium pipi Ayla dari samping, karna tidak tahan melihat pipi Ayla yang semakin memerah.
Lalu dengan perlahan, Rian membalikan tubuh Ayla agar kembali menghadap kearahnya.
"Sayang, aku tau mungkin kamu masih malu atau merasa canggung kepadaku. Meskipun hanya mendengarkan ucapan tidur bersama saja. Itu wajar! karna sudah hampir tujuh bulan kita berpisah. Maafkan aku sudah membuat perpisahan diantara kita. Namun percayalah satu hal. Aku bersungguh-sungguh mencintaimu. Aku akan sabar sampai kamu bisa menerima diriku seperti dulu lagi. Heeem....! kamu percaya kan, jika aku tidak main-main dengan cintaku ini." tangan Rian menghapus air mata Ayla yang menetes dengan sendirinya.
"Jangan menangis lagi, hatiku ikut sakit melihat air matamu. Aku sangat mencintaimu Istriku." ucap Rian menarik Ayla kedalam pelukannya.
Karna mendengar ucapa Rian, bukannya berhenti, tapi Ayla semakin menangis.
"Jangan menangis lagi, maafkan aku sudah menyia-nyiakan kalian. Aku hanya takut mereka mencelakai mu. Makanya aku masih bertahan dengan nya. Namun percayalah, sebelum itu, aku sudah lebih dulu mencintaimu." Rian pun yang tadinya ingin mendiamkan Ayla.
Malah sekarang ikut meneteskan air matanya juga, sambil mendekap tubuh Ayla di dalam dadanya. Sungguh rasanya Rian benar-benar merasa menyesal, karna diawal mereka menikah sudah menyakiti Ayla.
Menangis bahagia, itulah yang di rasakan oleh kedua pasangan yang sudah menikah selama lima belas bulan itu. Karna sekarang mereka berdua sudah tau, jika ternyata mereka saling mencintai.
"Apakah kamu tidak jadi ingin menyuapi aku? Entah mengapa sering memelukmu seperti ini, malah membuat perut ku jadi sering lapar. Apa mungkin menular dari kamu ya?" tanya Rian melongarkan pelukannya agar bisa melihat muka Ayla.
"Kenapa gara-gara aku? Aku kan tidak memiliki penyakit menular?" kata Ayla binggung, bercampur jengkel.
"O'ya! tapi ini buktinya, jika kamu punya penyakit. Perut mu sudah sebesar ini, tapi masih sering makan juga." Rian mengelus perut buncit Ayla.
Plaaak...
Tangan Rian yang di pukul oleh Ayla.
"Kenapa kamu marah sayang! aku kan hanya berkata mungkin." Rian tersenyum bukannya mengaduh kesakitan. Karna keisengan yang sering dia lakukan pada Ayla dulu. Sekarang tiba dengan sendirinya lagi.
"Enak saja kamu berbicara seperti itu, Ini bukan penyakit, tapi karna ulah perbuatan mu." Ayla menjadi emosi mendengar perkataan Rian. Bagaimana mungkin Rian mengatakan jika dia punya penyakit menular.
Cup....
Rian mencium bibir ranum Ayla lagi, karna memang sudah dari dulu dia ingin mencicipinya. Selama mereka menikah, Rian menikmatinya hanya ketika mereka membuat adonan untuk sikembar saja.
"Jangan marah! aku hanya bercanda. Jika kamu sedang marah, maka kamu semakin cantik. Lagian aku sangat bersyukur, karna perbuatan ku. Akhirnya bisa menghadirkan mereka berdua. Tapi anak kita nanti laki-laki semua atau perempuan ya, sayang!" Rian pun bergantian mencium perut Ayla.
BERSAMBUNG.....🤗
.
.
.
.
...Mereka berdua yang mesra-mesraan, kenapa gue jadi ikutan Laper ya....🤣 Eh salah! maksudnya Baver.😂...
Heem...! hari ini batas penilaian Giveaway ya kakak semuanya.
Karna insha Allah pada tanggal 11 akan di umumkan siapa pemenangnya. Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya. Dan jangan lupa untuk mamfir ke sebelah juga. Kasian bbg Devan masih anyep banget.😭😭🤧
Terimakasih Mak ucapkan pada kalian para raeder semuanya.😘😘😘