
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Aauuhk! Sakit sekali, Kak." rintih Sari saat rasa sakit kembali terasa. Tadi memang sempat hilang sejenak. Namun, sakit yang sekarang lebih dari yang sebelumnya.
"Sayang bertahalah, Kaka mohon! Sebentar lagi para dokter akan datang memeriksa mu." Nando tidak kuasa menahan tangisnya, karena begitu mengkhawatirkan Sari yang terus mengaduh kesakitan.
"Sebentar lagi ya, Kakak mohon!" seru Pria tersebut ikut berkeringat sama seperti sang istri.
"Dokter, tolong bantu istri Saya." ucap Nando setelah melihat dokter muda itu sudah kembali bersama perawat nya.
"Tenang ya, Tuan. Kami akan memeriksa keadaan Nona nya dulu." dokter itupun kembali lagi memeriksa seperti tadi. Setelah nya dia kembali berdiri dan berkata pada perawat di belakangnya. "Pembukaannya sudah lengkap! Suster siapakan semua keperluan nya."
Tidak menunggu lama kedua perawat pun menyiapkan semuanya dan mulai mengarahkan Sari untuk mengikuti instruksi dokter tersebut.
"Ayo Nona tarik nafasnya lalu hembuskan seperti saat kita di kelas belajar ya." dokter mulai membantu Sari untuk mengeluarkan si buah hati.
"Aaakkh! Huh... huh..."
"Terus Nona, ini kepalanya sudah terlihat."
Selama Sari berjuang untuk mengeluarkan anak mereka. Nando terus melapalkan kata-kata cintanya. Sebetulnya Nando ingin istrinya melahirkan dengan cara operasi. Agar tidak merasakan sakit seperti saat ini. Namum, Sari bersih keras ingin melahirkan secara normal.
Di luar ruangan tersebut, sudah ada orang tua Nando dan kedua sahabatnya. Kalau orang tua Sari sendiri memang belum bisa datang malam ini karena mereka terpisah jarak yang jauh, yaitu beda ibu kota.
"Aaaagghkk!" kembali menjerit untuk mengeluarkan anaknya. Bagaimana istrinya menahan sakit, maka seperti itu pula Nando ikut meringis seolah-olah dia juga sedang merasakan sakit tersebut.
"Aaaakkkh! Sari kembali berusaha untuk yang kesekian kalinya.
"Sedikit lagi Nona, tarik nafas seperti tadi ya... jangan merasa tegang. Nona harus bisa tenang." itulah yang bisa dokter muda itu ucapkan.
'Kakak!" merasakan kontraksi yang kian terasa sakit, membuat Sari benar-benar menangis, meskipun sang suami selalu berusaha menghibur dengan cara Nando sendiri.
"eem... Aaaakkkh!" satu kali tarikan nafas Sari berusaha dengan sekuat tenaganya, sehingga langsung terdengar suara bayi menangis, karena dia sudah berhasil mengeluarkan anak mereka dengan sisa tenaga yang dia punya.
Oooeek... ooeeek...
Begitu sudah keluar suara bayi Nando dan Sari langsung mengema dalam ruangan bersalin tersebut. Sehingga tidak hanya mereka yang di dalam merasakan bahagia, Namun, di luar semua yang ikut menemani sampai perlukan.
"Om... Tante selamat ya, sepertinya bayinya sudah lahir." ucap Rian dan Andre memberikan selamat pada kedua orang tua Nando.
Di luar selain kedua orang tua Nando, ada Rian, Andre dan kedua Istri mereka. Sedangkan para anak-anak nya di tinggalkan bersama nenek mereka.
"Sayang... akhirnya Kak Nando dan Sari memiliki anaknya sendiri!" Ayla memeluk suaminya dengan meneteskan air mata bahagia. Bagaimana wanita tersebut tidak ikut bahagia, baik itu Sari ataupun Nando sudah seperti keluarganya sendiri.
Nando pun sama benar-benar mengangap Ayla adik perempuan. Sama seperti janjinya dulu yang akan selalu menjaga Ayla dan membuatnya bahagia walaupun bukan sebagai seorang suami.
"Iya aku juga ikut bahagia! Kamu tahu sendiri kan bagaimana Nando dan Sari menyanyagi anak kita, karena mereka ingin merasakan menjadi orang tua." ucap Rian ikut merasa terharu atas kelahiran anak sahabatnya.
"Ri... akhirnya sahabat kita memiliki anaknya sendiri. Gue, gue sampe mau nangis nih. Gue bahagia banget." berpelukan layaknya seperti dua orang pasangan kekasih. Sehingga Ayla dan yang lainnya tidak bisa menahan tawa.
Andre bukanya mau menangis tapi benar-benar sudah menangis dalam pelukan sahabatnya. Seolah-olah Rian menjadi bahu tempat dia bersandar. Soalnya saat memeluk istrinya tadi Andre bukanya menagis tapi malah kesempatan cuim muka istrinya sana, sini.
"Hei... udah jangan menangis seperti ini. Nanti ada yang melihat kita, gue nggak mau ya di bilang menyukai sesama jenis. Masa iya punya istri cantik malah di angurin." ucap Rian menyuruh Andre melepaskan pelukan mereka. Namum, dia sendiri juga masih terus memeluk sahabatnya.
"Ck, Lo nggak bisa banget jadi bahu ternyaman buat gue." mengerutuk dan melepaskan pelukannya lebih dulu. Lalu Andre melihat kearah sang istri dan meminta untuk di peluk oleh Pika istrinya.
"Sayang! Jangan tanyakan kenapa aku menagis. Suamimu ini hanya sedang merasakan bahagia." kembali lagi memeluk istrinya sendiri, karena kalau memeluk Rian malah takut juga bila ada yang bilang kalau mereka si tangan gemulai.
Saat mereka masih terharu senang, pintu ruangan terbuka dan terlihat Nando yang sudah duluan keluar dengan senyum bahagia. Sedangkan Sari dan baby lagi di bersihkan sebelum di pindahkan ke ruang perawatan salanjutnya.
Orang yang pertama di peluk oleh Nando adalah mamanya. Sungguh dia tidak menyangka begitu susahnya saat seorang ibu memperjuangkan untuk melahirkan yang sebagai mana di sebutkan berjuang antara hidup dan mati.
"Mama... maafin Nando selama ini tidak bisa membuat Mama bahagia. Tolong maafin semua kesalahan Nando yang sudah membuat Mama kecewa dan sedih. Nando minta maaf sama Mama dan juga Papa." ucap Nando memeluk tubuh sang mama untuk menyalurkan semua rasa yang sedang dia rasakan saat ini.
"Tidak Nak, kamu tidak pernah berbuat salah pada Mama dan begitu pula pada Papa mu. Selamat ya... Mama sangat bahagia akhirnya cucu Mama bertambah satu lagi dan sekarang Mama memiliki empat orang cucu." kata Mama tersenyum sambil menghapus air mata anaknya.
Selama ini kedua orang tua Nando memang sudah bahagia dengan adanya cucu angkat yang dulu nya hanya ada si kembar. Sekarang bertambah satu lagi anak dari Andre. Tidak tanggung-tanggung memang, semua anak dari sahabatnya. Nando jadikan anak dia semua.
"Terimakasih Ma! Nando sayang Mama sama Papa." ucap Nando sekarang bergantin memeluk papa nya.
"Pa, Nando akhirnya menjadi seorang ayah juga." mengadu saat berada dalam pelukan ayahnya juga.
"Iya, selamat ya, Nak. Do'a terbaik selalu Papa curahkan untuk kalian semua." balas sang papa yang ikut memeluk putra semata wayangnya.
Baru setelah itu dia melihat kearah Rian dan Andre yang melihatnya dengan tersenyum bahagia.
"Rian, Andre!" mereka bertiga pun langsung berpelukan. Sahabat yang tetap terjalin baik meskipun sudah bertahun-tahun lamanya. Mereka memiliki salah paham hanya saat Rian menyia-nyiakan Ayla istrinya. Bukan apa-apa Nando dan Andre marah karena mereka perduli pada Rian dan juga Ayla.
"Selamat ya, Nan. Akhirnya penantian kalian yang sudah bertahun-tahun berbuah manis. Kita ikut bahagia atas kalahiran anak pertama Lo." ucap Rian setelah mereka bertiga mengurai pelukannya.
"Terimakasih, kalian selalu mensupport gue sama Sari untuk selalu sabar." kata Nando dengan tulus.
"Kakak selamat ya, akhirnya kalian di berikan keturunan juga." ucap Ayla ingin menjabat tangan Pria yang baru saja mendapatkan gelarnya. Namum, siapa sangka Nando langsung memeluk salah satu perempuan yang dia sayangi.
"Terimakasih, Ay. Ini semua berkat dirimu juga yang selalu menguatkan Sari agar tidak pernah menyerah begitu saja." memeluk Ayla dengan erat dan tidak perduli kalau suami wanita tersebut sudah sibuk dari tadi.
"Nando! Lo apa-apaan sih pake meluk-meluk istri gue. Lepas gue marah ni." seru Rian bersungut yang tadinya terharu sekarang menjadi jengkel.
"Apaan sih, bucin amat." Nando pun melepaskan pelukannya pada Ayla dan kemudian menerima ucapan selamat juga dari istrinya Andre.
"Nan, anak Lo cewek atau cowok? tanya Andre yang baru sadar belum tahu jenis kelamin anak sahabatnya.
"Dia cowok sama seperti anak Lo. Akhirnya gue punya Nando Junior juga." jawab Nando dengan bangga.
"Wah kalau begitu kita hanya memiliki satu princes dong. Semuanya pada laki-laki, jadi Salsa nih yang enak punya tiga orang saudara laki-laki." timpal Andre lagi.
"Tentu! Salsa memang princes kita." Nando ikut membenarkan. Selama ini mereka memang jarang menyebut nama Salsa hanya namanya saja. Melainkan memangil nya princes.